Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Wanita yang sedari tadi dihindari Zaky akhirnya menangkap siluet pria itu di sudut kafe. Begitu matanya melihat Zaky sedang merangkul erat seorang wanita lain, emosinya seketika bergejolak hebat. Dengan langkah angkuh dan rahang mengeras, ia berjalan cepat menghampiri meja mereka.
"Zaky... Kamu... Kamu di sini?" tanya wanita itu dengan suara bergetar menahan amarah. Sepasang matanya menatap tajam dan penuh kebencian ke arah Arumi yang refleks menundukkan kepalanya, enggan terlibat dalam drama kosmetik kota metropolitan ini. "Siapa wanita udik di sampingmu ini?!"
Zaky sama sekali tidak gentar. Pria itu justru menyunggingkan senyum tenang yang mematikan, lalu semakin mempererat rangkulannya di bahu Arumi.
"Tentu saja wanita di sampingku ini adalah calon istriku," jawab Zaky mantap tanpa keraguan sedikit pun. Ia kemudian melirik Arumi dengan tatapan lembut buatan. "Kenalkan, ini Arumi. Dan Sayang... perkenalkan, wanita ini adalah salah satu rekan bisnisku, namanya Nona Violeta."
Mendengar kata calon istri, dadanya Violeta laksana dihantam palu godam. Dengan napas memburu dan terpaksa menjaga gengsinya, Vio mengulurkan tangannya ke arah Arumi. Arumi sempat ragu dan menatap jemari berkutek merah menyala itu dengan enggan. Namun, belum sempat Arumi memutuskan, Vio sudah lebih dulu menyambar tangan Arumi dengan kasar.
Set!
Vio mencengkeram telapak tangan Arumi dengan sangat kuat, bermaksud menyalurkan amarahnya dan mengintimidasi wanita yang dianggapnya sebagai saingan. Arumi yang bisa merasakan rasa sakit dan niat buruk dari cengkeraman Vio tidak tinggal diam. Di balik penampilannya yang santun, Arumi bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas begitu saja.
Arumi membalas tatapan Vio, lalu perlahan namun pasti, ia membalas cengkraman tangan itu dengan remasan yang tak kalah kuat dan mengunci. Kekuatan tangan Arumi yang tak terduga itu seketika membuat wajah Violeta berubah memerah padam akibat menahan rasa sakit yang amat sangat di telapak tangan dan jarinya.
Violeta buru-buru menarik tangannya kembali dengan sentakan kasar sebelum harga dirinya runtuh. Tak mau kalah begitu saja, wanita tidak tahu malu itu malah langsung menghempaskan tubuhnya, duduk dengan sengaja di kursi kosong tepat di hadapan Zaky dan Arumi.
"Kebetulan sekali aku baru saja tiba di Jakarta dari perjalanan bisnis," ujar Vio dengan nada ketus, matanya menyipit penuh selidik ke arah Arumi. "Sejak kapan kau berhubungan dengan Zaky? Aku tidak pernah melihatmu di kalangan kami."
Bukannya Arumi yang menjawab, Zaky justru langsung menyambar pembicaraan, menutup celah agar kebohongan mereka tidak terbongkar.
"Dia itu cinta pertamaku, Nona Violeta," jelas Zaky dengan nada suara yang sengaja dibuat bangga. "Dulu kami memang sempat berpisah karena suatu hal, namun kini kami dipertemukan kembali oleh takdir. Bukankah itu yang namanya jodoh? Bukankah begitu, Sayang?" tanya Zaky kemudian, menoleh ke arah Arumi sambil mengeratkan rangkulannya secara posesif.
Merasa sangat tidak nyaman dan risi dengan sandiwara dadakan ini, Arumi berusaha menggeliat kecil, mencoba melonggarkan posisi duduknya agar tidak terlalu menempel pada dada bidangnya Zaky. Namun sia-sia, kekuatan lengan Zaky jauh lebih besar dan mengunci tubuhnya dengan sempurna.
Violeta yang mendengar penjelasan telak dari Zaky seketika merasa harapannya untuk mendapatkan sang CEO tampan telah pupus total. Rasa malu dan dongkol bercampur menjadi satu di dadanya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Vio bangkit berdiri, meraih tas mewahnya, lalu pergi meninggalkan restoran dengan langkah kaki yang dihentakkan keras ke lantai sebagai bentuk kekesalannya.
Begitu sosok Violeta menghilang di balik pintu kaca luar dan situasi dirasa sudah benar-benar aman, Arumi langsung menyentak kuat tangan Zaky dari bahunya. Ia buru-buru menggeser posisi duduknya hingga mentok ke ujung sofa, menjauh sejauh mungkin dari pria itu.
Arumi memalingkan mukanya yang memerah padam ke arah lain. Di balik wajah kesalnya, ia sebenarnya merasa sangat takut, takut jika Zaky sempat mendengar suara debaran jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang secara abnormal akibat kedekatan fisik mereka yang terlampau intim tadi.
*
*
Selesai makan malam yang penuh ketegangan di restoran mewah tadi, keheningan kembali menguasai kabin Lamborghini putih milik Zaky. Arumi yang kelelahan setelah seharian mengajar les dan menguras emosi, tanpa sadar terlelap dalam perjalanan.
Ketika deru mesin mobil sport itu akhirnya meredam dan berhenti total, Arumi mengerjapkan matanya. Ia tersentak kaget dan langsung menegakkan posisi duduknya. Namun, begitu melihat pemandangan di luar jendela, dahinya berkerut dalam. Ia mengenali betul gang sempit yang berada tepat di depan moncong mobil Zaky. Ini adalah area kontrakan tempat tinggalnya.
Arumi menoleh ke arah Zaky dengan tatapan penuh selidik dan keheranan. Seingatnya, selama seminggu ini ia memang sering menumpang mobil Zaky karena insiden ojek online yang mogok, tetapi tumpangan itu selalu bertujuan ke sekolah, bukan pulang ke kontrakannya. Ia bahkan belum pernah sekalipun memberi tahu alamat rumahnya pada pria itu.
'Bagaimana bisa Zaky tahu persis di mana aku tinggal?' batinnya penuh tanda tanya. Namun, Arumi memilih menahan pertanyaannya karena telanjur canggung.
"Selamat malam, Rum. Selamat beristirahat," ujar Zaky lembut. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Arumi, menatap lekat wajah wanita yang sangat dirindukannya itu dengan binar mata yang hangat.
Dari balik gorden jendela samping rumah kontrakan yang sedikit terbuka, sepasang mata Ayu tampak mengintip interaksi manis tersebut. Ayu yang sudah tahu rahasia masa lalu mereka langsung menangkupkan kedua tangan di pipinya.
"Hadeuh... sepertinya hubungan mereka berdua semakin membaik nih. Syukurlah!" bisik Ayu seorang diri sambil tersenyum bahagia.
Di dalam mobil, Arumi buru-buru membuka pintu untuk memutus kontak mata dengan Zaky. "Hati-hati...!" ujarnya dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan.
Tanpa menanti balasan Zaky, Arumi setengah berlari menuju kontrakannya. Begitu masuk, ia langsung menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, dan menyandarkan punggungnya di sana. Arumi mengusap dadanya yang bergemuruh hebat, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Ya ampun, kenapa jalan takdir malah membuat aku dan Zaky semakin akrab begini sih? Ini salah!" batinnya berkecamuk.
Sementara di luar, Zaky keluar dari mobilnya sejenak. Ia tersenyum lebar melihat siluet bayangan Arumi dari celah bawah pintu luar yang membuktikan bahwa wanita itu masih berdiri menyandarkan tubuh di balik pintu. Zaky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sangat bahagia karena pertahanan Arumi perlahan mulai goyah.
Mansion Tanuwijaya
Di saat yang bersamaan, suasana di ruang keluarga mansion Tanuwijaya terasa jauh lebih dingin. Nyonya Maya duduk di sofa megah, menatap kedua cucu kembarnya yang sedang asyik bersantai. Wanita tua itu mulai menyusun siasat untuk mendoktrin pikiran Azzam dan Azzura demi menjauhkan Arumi.
"Azzam, Azzura... Nenek mau tanya sesuatu,"ucap Nyonya Maya dengan nada suara yang dibuat seserius mungkin. "Jika seandainya Papah kalian memutuskan untuk menikah lagi, apakah kalian berdua setuju?" tanyanya penuh selidik.
Azzura mengalihkan pandangannya dari ponsel, lalu mengedikkan bahu.
"Tergantung, Nek...!" jawabnya singkat.
"Tergantung apa, Azzura?" tanya sang Nenek, memajukan tubuhnya karena penasaran.
"Tergantung Papah menikahnya sama siapa, Nek!" timpal Azzam ikut menyambar pembicaraan.
Mendengar jawaban cucu-cucunya, hati Nyonya Maya semakin diselimuti kecemasan. Ia sadar betul kehadiran Arumi sebagai wali kelas mulai membawa pengaruh besar bagi anak-anak. Ia takut jika dibiarkan, kedua cucunya justru akan merestui hubungan Zaky dengan wanita masa lalunya itu. Sebelum hal itu terjadi, Nyonya Maya mulai meracuni pikiran mereka.
"Kalau menurut pengamatan Nenek sih ya... rata-rata wanita zaman sekarang yang mau menikahi duda beranak dua seperti Papahmu itu tidak tulus. Wanita itu pasti hanya mengincar harta kekayaan Papahmu saja," ujar sang Nenek dengan raut wajah yang dibuat prihatin untuk meyakinkan si kembar.
Nyonya Maya menjeda kalimatnya, menatap lekat mata cucunya bergantian. "Setelah wanita itu berhasil menguasai Papahmu dan mendapatkan hartanya, Nenek yakin... dia akan menendang kalian berdua, bahkan juga Nenek, keluar dari rumah ini!"
Deg!
Kata-kata Nyonya Maya langsung menghantam benak polos kedua remaja itu.
"Hah? Serius, Nek? Kok aku jadi takut ya kalau Papah menikah lagi dan salah mencari pasangan," ujar Azzura, wajahnya mendadak pias dan diliputi rasa khawatir.
Azzam yang mendengar hal itu langsung menatap adiknya dengan sorot mata yang tak kalah serius. "Sebaiknya kita jangan biarkan Papah menikah lagi, Ra... Bagaimana menurutmu?"
"Sepertinya begitu, Kak. Aku tidak mau nantinya Papah dimanfaatkan dan dikecewakan oleh istri barunya," jawab Azzura dengan begitu polosnya.
Begitu pula dengan Azzam, keduanya dengan sangat mudah terpengaruh oleh kata-kata sang nenek, sosok yang memang sudah merawat dan membesarkan mereka sejak masih bayi setelah ibu kandung mereka tiada.
Melihat respons ketakutan dari kedua cucunya, Nyonya Maya menyunggingkan senyum kemenangan yang samar.
'Bagus... selagi kalian berdua terus menentang Ayah kalian untuk menikah lagi, maka tidak akan ada celah sedikit pun bagi wanita itu untuk masuk ke dalam keluarga Tanuwijaya. Jangan pernah bermimpi kau bisa menjadi menantu dan nyonya di rumah ini, Arumi!' ucap Nyonya Maya penuh kemenangan di dalam batinnya.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣