"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Perjalanan menuju ke rumah Mita sebelum berangkat ke Ungaran, menjadikan Lingga terus berpikir terkait ucapan ayah dan ibunya. Kata suka, tertarik, bahkan cinta itu jelas asing baginya. Tak sekedar asing dati segi ucapan namun juga asing dari segi perasaan.
Lingga melirik ke arah Mita, dia lalu mengerutkan alisnya sendiri. "Nggak kok, nggak ada perasaan kayak yang dibilang Ayah dan Ibu," ucapnya dalam hati.
Lingga kemudian fokus mengemudi, dan hanya sekitar satu jam lebih sedikit mereka pun sampai ke rumah Mita.
"Aku nyari makanan dulu ya, Mit. Ini udah mau gelap juga. Sekalian aku mau Sholat magrib di masjid depan," kata Lingga setelah menurunkan Mita dari mobilnya.
"Siap Pak, nanti kalau udah selesai saya kabari," jawab Mita.
Lingga menganggukkan kepalanya lalu kembali mengemudikan mobilnya. Bisa saja dia menumpang sholat di rumah Mita, namun Lingga tak ingin keberadaannya memperburuk situasi. Para tetangga pasti belum tahu drama yang terjadi pada rumah tangga Mita, dimana kemunculan Lingga pasti akan menimbulkan salah paham.
Pikiran Lingga tentu benar adanya, tapi Mita bukan wanita yang tidak peka akan hal tersebut. Ketika turun dari mobil, Mita tak segera masuk ke dalam rumah. Lebih dulu dia pergi ke tempat ketua RT setempat. Mita merasa harus menjelaskan apa yang saat ini dialami oleh dirinya.
"Ya Allah, begitu Mit. Jadi kamu mau pisah sama suami mu? Pantesan dari kemarin Erdio gedor-gedor rumahmu. Lha kan aneh, masa suami nggak tahu istrinya pergi kemana. Lha kenopo to Mit, kok sampai mau pisah gitu?"
"Ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan bersama. Lebih tepatnya saya yang nggak bisa terus bersama dengan dia, Pak. Intinya jika pernikahan ini dilanjutkan, hanya akan menjadi kedzaliman. Dan satu pak, itu pria yang bersama saya sekarang adalah atasan saya di tempat kerja. Beliau membantu saya mengambil pakaian karena kemarin Erdio sempat mengancam saya."
"Astagfirullah."
Mita tak bisa berbicara lebih banyak dari itu. Dia juga tak mau mengungkapkan tentang perselingkuhan Erdio dan Medi. Biar saja mereka tahu dengan sendirinya. Mita selalu percaya bahwa bangkai yang disimpan rapat, pasti akan tercium juga.
"Ya wes nduk, semoga semua urusan mu lancar ya. Jadi ini kamu udah mulai kerja lagi ya?"
"Iya benar Pak, saya mulai kerja lagi. Dan kemungkinan rumah itu kosong. Saya ada rencana mau dikontrakkan, tapi nanti dulu saja setelah semuanya beres."
Pak RT setempat mengangguk-anggukkan kepala. Dia tentu tahu bahwa Mita sudah tak memilik siapapun. Tapi dia ingat bahwa Mita memiliki adik dan juga ibu meski mereka semua adalah saudara tiri. Semenjak Mita tidak berada di sana, dua orng itu juga tidak berada di sana juga.
Kening Pak RT berkerut, dalam pikirannya terbit sebuah pemikiran liar. Namun Pak RT memilih diam, jika apa yang dipikirkannya benar, maka sangat wajah Mita memilih untuk meninggalkan rumah tersebut.
"Semoga urusan kamu lancar ya Mit," ucapnya sambil tersenyum kecil. Ucapan itu sungguh tulus dari dalam hatinya.
"Terimakasih banyak, Pak. Saya permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mita bernafas lega, dia sungguh bisa tenang untuk meninggalkan tempat ini sekarang. Sebenarnya hatinya masih merasa sedikit mengganjal setiap kali melihat rumahnya itu. Rumah yang diawal ditinggal dengan kasih sayang, menjadi rusak karena perselingkuhan yang dilakukan oleh suami dan adik tirinya.
"Ya baiklah, semua itu ayo jadikan kisah lalu. Aku yakin mulai sekarang ini semua akan baik-baik saja,"ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Semangat itu mengalir dalam tubuhnya, semangat untuk bisa kembali hidup dengan baik.
"Mit."
Degh!
Ketika hendak masuk ke rumah, tangan dan langkah Mita berhenti saat mendengar orang yang memanggilnya. Tanpa melhat pun dia tahu siapa pemilik suara itu.
"A-akhirnya aku nemuin kamu Mit. Apa kamu tahu Mit, aku kangen banget sama kamu. Sumpah, aku kangen Mit. Kemarin, kemarin aku mau nyamperin kamu ke perusahaan tempat mu bekerja. Tapi, tapi aku nggak dapet izin cuti. Aku beneran nggak nyangka aku bisa nemuin kamu di sini Mit. Setiap hari aku selalu ke sini berharap kamu ada, dan sekarang kamu bener-bener ada. Aaah aku kangen Mit. Aku kangen banget sama kamu."
Ucapan Erdio nampak tulus, matanya bahkan berkaca-kaca menahan tangis. Seolah dirinya sungguh sangat menantikan pertemuan ini.
Tapi Mita tidak memiliki perasan apapun. Dia sama sekali tidak memiliki keinginan yang sama dengan Erdio. Bahkan Mita merasa sangat membenci pertemuan ini.
"Mau apa lagi kamu, Erdio? Jangan ganggu aku lagi, karena nggak lama lagi kita bener-bener bukan siapa-siapa lagi. Dan maaf aja, aku sama sekali nggak seneng ketemu sama kamu."
Jegleer
Erdio terkejut mendengar ucapan enggan dari Mita. Dia tidak menyangka bahwa Mita akan berkata demikian.
"Jangan Mit, jangan ceraikan aku. Aku mohon Mita, cabut gugatan itu. Aku masih sangat mencintai kamu Mita. Ah iya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan. Ini soal Medi, ya sekarang Medi udah nggak hamil. Dia keguguran, jadi Mita kita nggak perlu cerai. Nggak ada yang akan ganggu hubungan kita lagi."
Mata Mita membulat sempurna. Bukan karena mendengar tentang gugurnya kandungan Medi, melainkan sikap Erdio yang sama sekali tidak memiliki rasa bersalah. Lihatlah, pria itu tampak sangat senang ketika membicarakan soal Medi yang mengalami keguguran.
"Gila," ucap Mita lirih. Dia sungguh tak habis pikir, mengapa Erdio bisa menjadi seperti ini.
Pria yang dulu lembut, berhati baik, dan bahkan sangat mencintainya itu seolah berubah menjadi pribadi yang kejam dan tak punya simpati sama sekali. Perubahan Erdio sangat drastis, dan semakin membuat Mita takut dengan pria itu.
"Aku nggak peduli. Terserah mau seperti apa Medi, bukan lagi jadi urusanku. Sekarang, aku dan dia tak punya hubungan apapun, dan itu juga berlaku buat mu juga, Erdio. MAri kita jalani hidup kita masing-masing tanpa saling menganggu," ucap Mita tegas.
Meski Mita dengan begitu terang-terangan menolak Erdio, namun pria tersebut agaknya tidak bisa menerima. Dengan berani, Erdio Mencekal tangan Mita dan mencengkeramnya dengan begitu erat.
"Nggak Mita, aku nggak akan pernah bisa lepasin kamu. Kamu adalah istriku, sampai kapanpun kamu adalah istriku."
"Hah dalam mimpimu, Erdio. Karena sejak kamu bergelung panas dengan Medi, maka sejak itu kamu tak pantas menyandang status sebagai suamiku. Hidupku terlalu berharga untuk hidup bersama dengan bajingann seperti mu. Jadi LEPAS!"
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,