Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan di Makam Pedang Kuno
Aroma darah busuk yang menyengat bercampur dengan bau karat besi tua menusuk rongga hidung Lin Ye dengan sangat kejam.
Angin malam yang sedingin es berhembus kencang melewati tebing-tebing curam dan membawa suara lolongan aneh yang mengerikan.
Lin Ye tiba-tiba membuka kedua matanya dengan terbelalak lebar seolah baru saja ditarik paksa dari dasar neraka.
Napasnya tersengal-sengal dengan hebat sementara dadanya naik turun dengan liar di tengah udara yang beracun ini.
Ia langsung terbatuk keras hingga memuntahkan segumpal darah hitam pekat yang berbau busuk ke atas tanah yang lembab.
Kedua tangannya yang kurus kering dan gemetar hebat meraup tanah berlumpur yang dipenuhi oleh serpihan tulang belulang.
Rasa sakit yang teramat luar biasa tiba-tiba meledak di dalam kepalanya seperti ribuan jarum beracun yang ditusukkan secara bersamaan.
Ia mengerang tertahan sambil menggertakkan giginya kuat-kuat hingga rahangnya terasa hampir retak menahan penderitaan tersebut.
Keringat dingin sebesar biji jagung terus mengucur deras membasahi dahi dan punggungnya yang hanya dibalut pakaian compang-camping.
Kuku-kuku jarinya menancap semakin dalam ke telapak tangannya sendiri hingga meneteskan darah segar yang hangat.
Ingatan dari dua jiwa yang berbeda kini bertabrakan dan menyatu secara brutal di dalam lautan kesadarannya.
Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya telah mati di dunianya yang lama dan kini bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama.
Pemuda malang ini dulunya adalah seorang murid pelataran luar dari Sekte Pedang Surgawi yang sangat tersohor di Benua Awan Ilahi.
Namun, nasib baik tidak pernah berpihak pada pemilik tubuh asli ini sejak ia kehilangan kedua orang tuanya.
Dantian miliknya telah dihancurkan dengan kejam oleh seorang tuan muda sombong dari pelataran dalam hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil.
Tanpa adanya dantian, ia menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna dan kehilangan seluruh kemampuannya untuk berkultivasi.
Setiap hari, tubuh kurus ini harus menerima pukulan, tendangan, dan berbagai hinaan yang merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia.
Puncaknya terjadi malam ini ketika dua orang penjaga makam memukulinya hingga tewas hanya karena ia tidak sengaja menumpahkan arak murahan mereka.
Tubuh tak bernyawanya kemudian dilemparkan begitu saja ke dasar Jurang Kematian yang merupakan tempat pembuangan mayat dan pedang patah milik sekte.
Lin Ye perlahan melepaskan cengkeraman tangannya dari tanah berlumpur saat rasa sakit di kepalanya mulai mereda secara bertahap.
Sepasang mata hitamnya yang dulunya memancarkan keputusasaan kini berubah menjadi sedingin bongkahan es abadi di puncak gunung utara.
Ia menatap lekat-lekat pada tumpukan mayat busuk dan ribuan pedang berkarat yang berserakan di sekelilingnya di bawah cahaya bulan yang redup.
Kebencian yang sangat mendalam dan aura membunuh yang kental perlahan memancar dari setiap pori-pori kulitnya.
Ia bersumpah dalam hatinya bahwa ia akan membalas setiap tetes darah dan rasa sakit yang telah diderita oleh tubuh ini hingga tuntas.
Di saat tekadnya baru saja bulat, sebuah suara mekanis yang sangat dingin dan tidak memiliki emosi bergema jelas di dalam benaknya.
"Mendeteksi fluktuasi jiwa yang memenuhi syarat dan aura kematian yang sangat pekat di sekitar inang."
"Sistem Pengendali Hantu sedang melakukan proses inisialisasi awal ke dalam lautan kesadaran inang."
"Satu persen... lima puluh persen... seratus persen."
"Sistem Pengendali Hantu telah berhasil diaktifkan dan terikat secara permanen dengan jiwa inang Lin Ye."
Mata Lin Ye sedikit melebar karena terkejut sebelum akhirnya ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman sinis yang sangat mengerikan.
Ia sudah sering membaca tentang hal seperti ini di kehidupan masa lalunya dan kini takdir telah memberikannya senjata terkuat untuk membalikkan keadaan.
Sebuah layar panel transparan yang memancarkan cahaya biru redup tiba-tiba muncul di depan pandangannya.
Layar itu menampilkan status tubuhnya yang sangat menyedihkan dengan tulisan merah menyala yang berkedip-kedip.
"Status Inang: Cacat Total, Dantian Hancur, Tingkat Kultivasi Nol, Sisa Umur Tiga Hari Jika Racun Mayat Tidak Segera Dibersihkan."
Lin Ye mendengus dingin saat membaca statusnya karena ia tidak merasa gentar sedikit pun dengan kondisi tubuhnya yang sekarat.
Suara mekanis itu kembali bergema untuk memberikan informasi lanjutan yang sangat krusial bagi kelangsungan hidupnya.
"Sistem ini memungkinkan inang untuk menangkap, mengendalikan, dan mengevolusi jiwa-jiwa penasaran menjadi pasukan Jenderal Yin."
"Mendeteksi jutaan jiwa penasaran di dalam Jurang Kematian yang siap untuk dipanen oleh inang kapan saja."
"Misi Pemula Diaktifkan: Bertahan hidup dari malam pertama di Jurang Kematian dan bunuh dua penjaga makam yang telah membuang inang."
"Hadiah Misi Pemula: Pil Pemulihan Dantian Tingkat Rendah dan Peningkatan Kapasitas Jiwa."
Mata Lin Ye langsung berbinar tajam saat melihat hadiah misi yang bisa memperbaiki fondasi kultivasinya yang telah hancur.
Ia berusaha untuk bangkit berdiri namun kedua kakinya yang terluka parah bergetar hebat dan hampir membuatnya kembali jatuh tersungkur.
Ia segera menggertakkan giginya dan menopang tubuhnya yang lemah dengan sebuah gagang pedang berkarat yang tertancap di dekatnya.
Napasnya terasa berat namun tekad di matanya menyala semakin terang mengalahkan kegelapan malam di jurang tersebut.
Di kejauhan, tepat di atas tebing jurang yang tidak terlalu tinggi, terdengar suara tawa kasar dari dua orang pria.
Lin Ye mendongakkan kepalanya perlahan dan menatap ke arah sumber suara dengan tatapan mata layaknya seekor serigala yang kelaparan.
Dua orang pria berseragam penjaga sekte tampak sedang duduk bersandar di sebuah batu besar sambil menenggak arak dari kendi tanah liat.
Wajah mereka memerah karena mabuk dan mata mereka menyiratkan kekejaman yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Pria yang bertubuh gemuk tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang sambil menepuk pundak temannya yang berwajah penuh bekas luka.
"Hei Kakak Wang, apakah kau pikir sampah cacat itu sudah dimakan oleh anjing liar di dasar jurang sana?"
Pria berwajah luka yang dipanggil Wang itu mendengus jijik sambil mengusap sisa arak di mulutnya dengan punggung tangannya.
"Biarkan saja dia membusuk di sana karena sampah seperti dia hanya menghabiskan jatah makanan sekte kita setiap harinya."
"Membunuhnya adalah sebuah kebaikan agar dia tidak perlu lagi merasakan penderitaan hidup di dunia ini."
Wang kembali tertawa keras sambil melemparkan sebuah tulang daging sisa ke arah jurang dengan gaya yang sangat arogan.
Di dasar jurang, Lin Ye mencengkeram gagang pedang berkaratnya semakin erat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol keluar.
Setiap kata hinaan yang diucapkan oleh kedua penjaga itu terdengar sangat jelas di telinganya dan membakar amarahnya.
Ia menoleh ke samping dan melihat sesosok mayat murid sekte luar yang kondisinya masih relatif utuh dan belum terlalu membusuk.
Lin Ye segera memberikan perintah pertamanya kepada sistem dengan suara serak yang dipenuhi oleh kebencian mendalam.
"Sistem, ekstrak jiwa dari mayat di sebelah kiriku ini dan ubah dia menjadi roh bawahanku yang pertama!"
Suara mekanis sistem langsung merespons perintahnya dengan sangat cepat tanpa ada jeda sedikit pun.
"Perintah diterima, memulai proses ekstraksi jiwa penasaran tingkat rendah."
Sebuah pusaran angin hitam tiba-tiba muncul dari telapak tangan Lin Ye dan menyelimuti mayat murid tersebut dengan sangat cepat.
Suhu udara di sekeliling Lin Ye seketika anjlok drastis membuat genangan darah di bawah kakinya membeku menjadi lapisan es tipis.
Kabut hitam pekat perlahan keluar dari mulut, mata, dan telinga mayat itu lalu berkumpul di udara membentuk sebuah bayangan humanoid.