Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. SBR
...~•Happy Reading•~...
Mata Gevaro tidak beralih dari Valeri. "Saya sudah ingatkan saat pertama tiba di sini, tapi kau menganggap sepi peringatan saya. Malah kau tambah berulah dengan lakukan tindakan picik dan licik." Gevaro berkata dengan rahang yang mengeras.
"Yang lain mau katakan sesuatu, lebih baik katakan sekarang." Gevaro beralih menatap tajam Bu Telli dan Mobei, mereka diberi kesempatan untuk membela diri.
Semua terdiam dalam ruangan dengan jantung berdetak lebih kuat. Terutama Valeri, Bu Telli dan Mobei. Mereka seakan sedang menunggu keputusan hakim di ruang sidang.
"Baik, kalau tidak ada yang mau berbicara. Jangan ada yang mengatakan apa pun setelah ini." Gevaro memberi peringatan lewat kata dan tatapan dingin.
"Kalian sudah bekerja lama di sini, dipercaya oleh perusahaan, hingga diberi tanggung jawab dan jabatan. Tetapi kalian bekerja seperti di rimba belantara." Gevaro menatap Valeri, Bu Letti dan Mobei. Dia berbicara sebagai pimpinan sebelum membuat keputusan.
"Kalian tidak memikirkan perusahaan dalam ambil keputusan. Hanya ambisi pribadi yang kalian utamakan. Orang kecil yang sudah di bawah, malah diinjak oleh pikiran dangkal dan kerdil."
"Kalian harus belajar dari nol, cara membangun sinergi yang sehat dalam bekerja. Pak Satrio, segera eksekusi keputusan saya saat kembali ke ruang kerja." Gevaro berkata tegas.
"Siap, Pak." Satrio berlaku sigap, setelah tahu yang terjadi dengan bawahannya.
"Mereka bertiga dikasih SP3 dan di pindahkan ke pabrik sebagai tempat untuk merenungi yang dilakukan. Semoga suasana pabrik bisa membersihkan hati nurani mereka dari saling sikut untuk mencapai tujuan."
"Evaluasi kinerja mereka di pabrik setiap minggu. Jika perilaku tidak berubah dan bikin onar lagi, apa yang dituduhkan kepada Pak Andri, lakukan kepada mereka."
"Siap, Pak." Ucap Satrio sambil mencatat keputusan Gevaro. Dia mengerti tuduhan Valeri tentang pemecatan Andri.
"Pulihkan lagi nama baik Janet dan kembalikan ID cardnya." Keputusan Gevaro sebagai tanda bahwa Janet tidak jadi dipecat.
Sontak Janet melihatnya dengan mata berkabut. Pikirannya tertuju pada masa lalu. Keputusan Gevaro sangat bertolak belakang dengan tindakan Devan padanya. 'Apa dia sudah menyadari kesalahannya dan mau memperbaiki dengan keputusan ini? ' Tanya hati Janet.
"Terakhir, Pak Satrio lakukan penyelidikan terhadap foto dan video yang dibilang sebagai bukti Janet bekerja sama dengan pihak lawan. Jika itu adalah bukti rekayasa, pecat dengan tidak hormat pihak yang menyiapkan bukti itu." Keputusan Gevaro bagaikan suara halilintar di siang hari.
Valeri hampir tidak bisa bernafas. Bu Letti dan Mobei tertunduk lemas dan tidak berani saling melirik mendengar keputusan Gevaro. Bu Letti menahan diri dengan memegang kuat lutut, agar tidak bergetar. Padahal dia sudah gatal bibir untuk melabrak Valeri.
"Kalian bertiga silahkan tinggalkan ruangan. Tunggu keputusan tertulis di tempat masing-masing." Jensen mengambil alih setelah melihat isyarat Gevaro yang kembali berdiri dan berjalan ke jendela untuk menurunkan tensi emosinya.
Gestur tubuh keras Gevaro yang berdiri sambil bertolak pinggang membuat Janet tercengang. Sesuatu yang tidak pernah dia lihat pada Devan. Sehingga hatinya menciut dan tidak berani berpikir dan mengatakan sesuatu.
Valeri, Bu Letti dan Mobei tidak berani pamit kepada Gevaro. Mereka segera keluar saat Jensen membuka pintu. "Ini yang anda katakan sebagai tangan kanan boss?" Bisik Bu Letti dengan gigi gemerutuk setelah berada di luar ruangan.
Valeri tidak menanggapi pertanyaan Bu Letti. Dia memandang tempat kerjanya yang nyaman. 'Apa yang akan aku kerjakan di pabrik?' Hatinya membara oleh rasa dendam ingat Janet.
Bu Letti menyadari telah salah membaca arah angin. Dia tidak mengira, justru Janet yang dipercayai oleh CEO. 'Dipindahkan ke pabrik? Aku kira akan pensiun di tempat ini.' Rasa penyesalan memenuhi hatinya.
Mobei ingat keluarganya dengan hati sedih. Dia berharap ada sedikit belas kasihan pimpinannya saat menempatkan dia di pabrik.
~▪︎▪︎
Setelah ditinggal dengan pimpinan, Janet menunduk diam menunggu perintah. "Janet, tunggu di sini. Nanti ada yang membawa ID cardmu." Ucap Satrio yang sebelum keluar.
"Terima kasih, Pak." Ucap Janet pelan. Hatinya belum bisa mencerna semua yang terjadi, karena keputusan datang bertubi-tubi.
Satrio menyadari, Janet sedang terpukul, sebab tangannya terus memilin. "Sekarang Pak Andri bekerja di mana?" Satrio coba mengeluarkan Janet dari rasa syoknya.
Janet mengangkat wajah. "Driver mobil online, Pak." Ucap Janet dan kembali menunduk.
"Syukur, beliau masih bisa kerja." Satrio berdiri. "Titip salam hormat saya pada beliau." Ucap Satrio lagi. Hal itu jadi perhatian Gevaro dan Jensen.
Janet ikut berdiri. "Terima kasih, Pak. Akan saya sampaikan." Ucap Janet sopan dan hormat.
Setelah Satrio keluar, Gevaro berbalik menatap Janet yang sedang berdiri dan bingung. Karena Jensen tidak mengatakan apa pun padanya. Dia mau keluar, tapi diminta tunggu oleh Satrio untuk diberikan ID card baru.
"Pak Jensen, bilang Pak Satrio tidak perlu mencari sekretaris baru. Tempatkan Janet sebagai sekretaris." Perintah Gevaro setelah berpikir lama saat Janet bicara dengan Satrio.
"Tidak bisa, Pak." Ucap Janet tiba-tiba sebelum Jensen menjawab. Hal itu membuat Gevaro dan Jensen menatap dia tanpa berkedip.
"Apa yang tidak bisa?" Gevaro bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Tidak bisa jadi sekretaris, Pak. Jangan perlakukan saya seperti ini." Air matanya hampir jatuh. "Saya memilih dipecat saja, Pak." Janet tidak bisa menahan gemuruh di dadanya.
"Mengapa tidak bisa jadi sekretaris saya?" Jensen langsung melihat pimpinannya yang menaikan nada suara.
"Maaf, Pak. Saya cuma lulusan SMA. Jadi saya menolak dalam keadaan sadar. Tahu diri, Pak. Saya pulang saja, Pak." Janet sudah tidak kuat berdiri.
"Saya memutuskan ini, tidak melihat CVmu?" Gevaro mencegah Janet melangkah. "Akademikmu tidak menjadi acuan keputusan saya. Kalau mau sekretaris selayaknya tugas seorang sekretaris, saya tidak butuh. Karna sudah ada Pak Jensen yang lakukan semuanya."
"Yang saya butuhkan darimu, sekretaris yang berattitude dan bisa dipercaya. Kau paham?" Gevaro bertanya serius.
"Bapak percaya sama saya? Apa saya tidak salah dengar?" Janet bertanya sambil menunjuk dadanya. 'Dulu tidak percaya aku bilang sedang hamil, bahkan menuduhku selingkuh dan mengusirku. Sekarang cuma karna sekretaris itu, dengan ringan mengatakan percaya padaku.' Bisik hati Janet yang mulai penuh.
"Apa saya salah menilaimu?" Gevaro menjawab dengan pertanyaan. Namun dia terkejut melihat Janet menatapnya dengan wajah memerah, menahan tangis.
"Sejak awal saya meminta anda membuat minuman kami, bukan suatu permintaan asal. Anda tidak sadar, saat mantan sekretaris itu membawa minuman buatanmu ke sini dan saya minta anda membuangnya?" Gevaro mengingatkan.
Dia tidak melanjutkan tentang instingnya yang bisa merasakan dan membedakan sifat seseorang. Sehingga dia tidak melibatkan Valeri dalam lakukan tugas penting perusahaan atau yang bersifat pribadi.
Janet tidak menjawab. Masa lalu saat diusir Devan dalam keadaan hamil kembali merasuk hatinya. 'Aku butuh kepercayaanmu saat itu, bukan sekarang setelah aku sudah bisa menanggung semuanya dengan keluarga baruku.' Janet menjawab dalam hati.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...