"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.1 Permintaan Nenek Lusi
Di sebuah ruang tengah yang cukup mewah itu terlihat lampu kristal yang sedang menggantung di atas plafon ruangan yang memancarkan sinar temaram.
Di atas sebuah kursi kayu tunggal yang berukuran besar dan penuh ukiran klasik bak singgasana raja itu duduk seorang Nenek tua yang masih memancarkan aura kecantikannya meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
Nenek Lusi adalah pemegang hak tertinggi di dalam keluarga Wijaya, semua aset keluarga masih di bawah kewenangannya.
Di depan nenek Lusi duduk seorang pria yang berumur sekitar tiga puluh lima tahunan, Dia adalah Daren cucu laki-laki satu-satunya dari anak perempuan Nenek Lusi yang bernama Siska.
Daren di beri kewenangan oleh Nenek Lusi untuk mengurus perusahaan keluarga Wijaya dan segala bentuk aturan ataupun kebijakan dari perusahaan yang di pegang Daren masih dalam pengawasan Nenek Lusi sebagai owner nya.
Daren menatap Neneknya penuh selidik karena tidak biasanya Nenek Lusi memanggil dirinya secara mendadak seperti ini.
Sepertinya ada sesuatu yang yang sangat penting yang akan Nenek utarakan padanya, Tapi tentang apa? Masalahnya perusahaan juga dalam kondisi aman-aman saja lantas apa yang membuat Nenek memanggil dirinya sekarang ini. Berbagai macam pertanyaan bermunculan di kepala Daren.
Dan ternyata Nenek Lusi ingin menjodohkan Daren dengan Nadia gadis yang sudah menyelamatkan Nenek Lusi dari sebuah insiden kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Nenek Lusi.
"Nenek tidak sedang bercanda, Daren," suara Nenek Lusi terdengar tenang, namun sarat akan otoritas yang tidak bisa dibantah. "Pernikahanmu dengan Nadia adalah harga mutlak jika kamu ingin memegang kendali penuh atas seluruh aset dan suksesi bisnis utama keluarga."
Daren mendengus sinis, Senyum dingin tersungging di bibirnya " Hanya karena dia pernah menyelamatkan Nenek dari kecelakaan itu terus Nenek menganggap dia gadis yang baik dan patut untuk di jodohkan dengan aku," ucap Daren pada Nenek Lusi dengan nada kesal.
"Dia bukan hanya gadis yang baik, Tapi dia juga mempunyai hati yang tulus, Dia bukan gadis yang glamour seperti gadis-gadis di sekelilingmu yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang," Nenek Lusi menatap Daren tajam sampai menembus manik matanya.
"Di jaman sekarang ini mana ada yang tulus Nek, Apalagi yang akan di nikahkan dengannya itu adalah seorang yang kaya raya seperti aku ini, Jelas saja dia mau dan pastinya akan memanfaatkan pernikahan ini untuk mengincar harta," Daren mulai berprasangka buruk pada Nadia gadis yang akan di jodohkan oleh Nenek Lusi padanya itu.
"Pikiran mu itu terlalu kotor Daren, Nenek bisa melihat dan merasakan sendiri kalau Nadia itu adalah gadis yang benar-benar tulus dia tidak memandang harta," Nenek Lusi masih membela Nadia.
"Pokoknya aku tidak mau Nek! Nenek kan tahu aku sudah punya Elsa, Dia pacar aku dan hanya dia yang akan aku nikahi, bukan gadis kampung itu!" kembali nada suara Daren naik satu oktaf saking kesalnya pada Neneknya yang masih memaksanya untuk menikah dengan Nadia.
"Elsa. Justru dialah yang punya niat tidak baik padamu Daren, Dia hanya memanfaatkan kekuasaan kamu dan kekayaan yang kamu miliki untuk kepentingan dirinya sendiri."
Daren menatap tajam ke arah Nenek Lusi sambil menunjukkan wajah tidak sukanya karena Neneknya sudah menjelekkan Elsa di depan dirinya.
"Elsa wanita yang berpendidikan dan dari keluarga yang terhormat juga, Jadi tidak pantas kalau Nenek menjelekkan Elsa seperti itu," Daren mulai terpancing emosi.
Nenek Lusi tersenyum tipis mendengar pembelaan Daren tentang pacarnya itu, Kemudian Nenek Lusi berbicara lagi pada Daren.
"Pernikahanmu dengan Nadia adalah harga mutlak jika kamu ingin memegang kendali penuh atas seluruh aset dan suksesi bisnis utama keluarga," Nenek Lusi kembali mengulang perkataannya pada Daren yang masih keras kepala.
Sontak mata Daren mendelik seolah akan keluar dari cangkangnya saat mendengarkan ucapan Neneknya itu.
"Tapi Nek. Apa istimewanya dia...! Dia itu bukan gadis yang berpendidikan seperti Elsa dan dia juga bukan gadis yang berasal dari keluarga terpandang, lantas apa yang bisa di banggakan dari dia," Daren mengerutkan kedua alisnya menatap tajam ke arah Nenek Lusi.
Daren akan terus mempertahankan hubungannya dengan Elsa karena dia tahu keluarga Elsa adalah pemilik bisnis yang ternama di kota selatan dan jika dia menikah dengan Elsa sudah pasti akan semakin memperkuat dan memperluas perusahaan yang sedang di pegangnya saat ini.
Tapi di satu sisi dia juga tidak mau kehilangan warisan dari Neneknya, Tapi syarat yang di ajukan Nenek Lusi sangat tidak masuk akal sekali.
Daren terdiam cukup lama, Dia berusaha keras untuk menemukan jawaban yang tepat dengan cara tidak menikah dengan gadis pilihan Neneknya itu.
"Bagaimana Daren?" Nenek Lusi menatap Daren yang masih berdiri di dekat jendela besar menatap keluar halaman.
Daren kembali mendengus kesal dan menatap dingin ke arah Neneknya yang masih duduk dengan tenang di atas singgasana nya itu.
"Aku sudah menyetujui pertunangan ini, Nek. Aku akan memakai cincin itu di depannya nanti," kata Daren dengan nada suara yang teramat dingin, hampir seperti robot. "Tapi jangan harap aku akan memberikan hatiku pada gadis pilihan Nenek itu."
Nenek Lusi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang menyimpan sejuta makna. "Kita lihat saja nanti, Daren."
Daren tak menghiraukan ucapan Nenek nya itu kalau bukan karena warisan dia pun tak sudi menerima tawaran Nenek Lusi untuk bertunangan dengan Nadia gadis pilihan Neneknya itu.
"Aku pergi dulu, pekerjaan kantor masih banyak," Daren segera melangkah keluar pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol.
Nenek Lusi kembali tersenyum memperhatikan Daren yang keluar dari ruangan itu dengan wajah penuh kekesalan. Dia tahu betul sifat cucunya itu.
"Aku tahu Nadia adalah gadis yang sangat baik, Dia bukan gadis matre yang gila harta."
Terlihat bibik yang sedang membawa nampan kecil yang berisi secangkir teh hangat dan sedikit kue yang di letakkan di sebuah piring kecil.
Bibik berjalan mendekat ke arah tempat duduk Nenek Lusi. kemudian bibik membungkukkan badannya di samping meja besar yang ada di depan kursi kayu yang saat ini masih di duduki oleh Nenek Lusi.
Bibik mengambil teh dan kue dari nampan kecil yang di bawanya tadi dan meletakkannya satu persatu di atas meja itu.
"Silahkan nyonya," bibik mempersilahkan Nenek Lusi untuk menyantap kue dan teh hangat yang baru di buatnya itu.
"Ya."
Kemudian bibik itupun keluar dari ruang tengah itu meninggalkan Nenek Lusi sendiri. Nenek Lusi kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengambil teh hangat itu lalu dia menyesap teh hangat itu secara perlahan.
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang