NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

"Tante Dira, cepat nyalakan lagi laptopnya! Kita tidak punya waktu banyak!"

Leo melompat dari kursinya, menarik-narik ujung kaus Dira dengan panik yang jarang sekali ia tunjukkan. Wajah tembamnya yang biasa dipenuhi cengiran kini tampak tegang, sepasang mata bulatnya bergerak gelisah menatap pintu utama suite hotel yang masih tertutup rapat.

Dira yang masih syok menatap layar laptop yang sudah mati, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Tidak mau, Leo! Kamu tidak baca pesan terakhir dari Devran tadi? Dia bilang dia tahu lokasi kita! Kalau kita nyalakan lagi, dia bisa melacak kita dalam hitungan detik!"

"Justru kalau mati, kita tidak bisa mengecoh mereka, Tante!" seru Leo, suaranya meninggi, mencoba memberikan penjelasan taktis dengan logika jeniusnya.

"Om seram itu pasti sudah menyuruh pasukan robot IT-nya untuk melacak jembatan sinyal yang Leo buat tadi. Kalau Leo tidak buat jalur tipuan sekarang, mereka akan langsung sampai ke pintu kamar ini!"

"Tapi bagaimana caranya, Leo? Tante benar-benar takut!" Dira meremas jemarinya yang dingin, menatap keponakannya dengan pandangan campur aduk antara takjub dan ngeri.

"Buka saja laptopnya, biar Leo yang urus semuanya! Cepat, Tante!" tekan Leo, menepuk permukaan meja makan dengan tidak sabar.

Dira menarik napas dalam-dalam, akhirnya menyerah pada desakan bocah lima tahun itu.

Dengan tangan yang gemetar, ia menekan tombol daya laptop kantornya kembali. Layar monitor berkedip, menampilkan logo pemuatan sistem operasi yang terasa berjalan sangat lambat di tengah situasi genting ini.

"Ayo, cepat... cepat..." gumam Leo, bersiap dengan jemari mungilnya di atas papan ketik.

Begitu sistem menyala sempurna, sebuah notifikasi peringatan siber langsung muncul di sudut kanan bawah layar, menandakan adanya aktivitas pemindaian eksternal yang sangat agresif yang sedang mencoba menembus protokol keamanan hotel.

"Astaga, Leo! Mereka sudah mulai melacak kita!" pekik Dira, menunjuk garis indikator merah yang bergerak naik di layar.

"Tenang, Tante. Mereka baru sampai di gerbang luar jaringan lokal hotel," sahut Leo, ekspresi wajahnya mendadak berubah menjadi sangat tenang dan fokus, sebuah replika sempurna dari pembawaan Devran Adhitama saat menghadapi krisis di dunia bisnis.

"Mereka pikir mereka bisa menangkap Leo dengan mudah. Kakek guru di Swiss sudah mengajari Leo cara membuat umpan balik yang paling merepotkan."

"Apa yang mau kamu lakukan, Sayang?" tanya Dira, ikut menahan napas di samping Leo.

"Leo akan meminjam alamat rumah orang lain untuk dipakai sebagai topeng," ujar Leo sambil tersenyum misterius, jemarinya mulai menari dengan kecepatan yang tidak masuk akal di atas papan ketik.

Sret... sret... sret...

 "Hmm, siapa ya yang bagus jadi topengnya? Ah! Tante baju merah yang mukanya galak di kantor tadi saja! Siapa namanya tadi, Tante Dira?"

"S-Siska? Siska Lorenza?" Dira mengerjapkan mata, bingung dengan arah pemikiran keponakannya.

 "Memangnya kamu tahu alamat rumahnya?"

"Leo tidak perlu tahu alamat rumahnya secara fisik, Tante. Leo cuma perlu mencari nomor identitas digital jaringan internet yang terdaftar atas nama keluarga Lorenza di Jakarta."

 "Tunggu sebentar. Leo cari di basis data publik. Nah, ketemu! Ini dia, IP privat kediaman utama keluarga Lorenza di kawasan Menteng." Leo terkekeh geli, menekan tombol Enter dengan ketukan yang mantap.

"Leo, jangan bilang kamu mau..."

"Iya, Tante! Leo akan memindahkan seluruh jejak digital peretasan tadi, lalu menempelkannya di modem internet rumah Tante penyihir itu."

"Jadi, saat pasukan IT Om seram melacak sisa kode tadi, mereka akan melihat seolah-olah serangan siber itu dikendalikan langsung dari kamar rumah Siska!" jelas Leo panjang lebar, matanya berbinar penuh kemenangan saat garis indikator merah di layarnya perlahan berbelok arah dan menjauh dari koordinat Hotel Grand Inna.

"Astaga... kamu benar-benar iblis kecil yang jenius, Leo!" Dira menutup mulutnya, tak tahu harus menangis atau tertawa membayangkan kekacauan yang akan terjadi setelah ini.

Sementara itu, di pusat kendali siber lantai dasar Adhitama Tower, suasana tampak sangat tegang.

 Lima orang ahli IT tingkat tinggi dengan seragam khusus sedang duduk di depan monitor raksasa yang menampilkan grafik pemindaian global. Di belakang mereka, Devran Adhitama berdiri tegak dengan kedua tangan disembunyikan di dalam saku celana, didampingi oleh Reno yang memegang komputer tablet.

"Bagaimana perkembangannya? Apakah kalian sudah berhasil mengunci lokasi Kamar 902 Hotel Grand Inna?" tanya Devran, suaranya terdengar datar namun sarat akan tuntutan yang mutlak.

Kepala tim IT, seorang pria paruh baya bernama bagus, menyeka keringat dingin di dahinya sebelum menjawab.

 "M-maaf, Tuan Besar. Sesuatu yang aneh baru saja terjadi pada sistem pelacakan balik kita."

"Aneh bagaimana, Bagus? Jangan berbelit-belit," potong Reno tegas, melirik ke arah Devran yang alisnya mulai bertaut rapat.

"Sinyal infiltrasi dari Hotel Grand Inna mendadak lenyap total dua menit yang lalu, Tuan," jelas Bagus dengan suara bergetar, menunjuk ke arah grafik siber yang tiba-tiba berubah arah.

"Namun, saat kami mencoba menelusuri sisa-sisa paket data yang tertinggal di server inti kita, kami menemukan bahwa IP dari hotel tersebut ternyata hanyalah sebuah re-routing atau jalur samaran berlapis."

Devran melangkah maju satu langkah, matanya menyipit tajam menatap layar monitor raksasa. "Lalu, di mana titik akhir murni dari peretas itu?"

"Sistem kecerdasan buatan kita baru saja berhasil melakukan enkripsi total dan mengunci lokasi aslinya, Tuan Besar," ujar Bagus. J

emarinya mengetik beberapa perintah di papan ketik hingga sebuah peta satelit Jakarta muncul dan memperbesar sebuah kawasan perumahan elite di pusat kota.

 "Titik koordinat murninya bukan di hotel... melainkan berasal dari jaringan internet privat di kediaman utama keluarga Lorenza di kawasan Menteng."

"Apa?!" Reno tersentak kaget, matanya melebar menatap layar. "Kediaman keluarga Lorenza? Itu... itu rumah Nona Siska, Tuan Besar!"

Suasana di ruang kendali siber seketika menjadi sunyi senyap. Para staf IT tidak berani mengeluarkan suara, menyadari bahwa pelacakan ini baru saja menyeret nama calon tunangan sang Tuan sendiri ke dalam skandal spionase korporat.

Devran tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Tatapan mata elangnya menatap lurus ke arah titik merah yang berkedip di atas peta rumah Siska.

Perlahan, ingatan Devran kembali pada kejadian di koridor beberapa jam lalu, di mana Siska datang memaki Alana dan membawa-bawa nama dokumen masa lalu. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Lorenza Group baru-baru ini menderita kerugian besar akibat beberapa tender mereka yang kalah dari Adhitama.

Sebuah kesimpulan baru yang dingin dan mematikan mulai terbentuk di dalam benak Devran.

"Tuan Besar, apakah mungkin... Nona Siska sengaja menggunakan isu tentang Ibu Alana di bandara semalam sebagai pengalih perhatian?" bisik Reno penuh selidiki.

"Dia tahu Anda sedang melacak peretas itu, jadi dia sengaja membuat keributan di kantor hari ini untuk menyembunyikan fakta bahwa tim IT pribadinya sedang mencoba menyusup ke server data rahasia kita?"

"Siska selalu menjadi wanita yang serakah dan bodoh, Reno," sahut Devran, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es yang paling pekat, memancarkan aura kemarahan yang sangat mengerikan.

"Dia tidak terima karena aku mengabaikannya selama lima tahun ini. Dan sekarang, dia berani menyusup ke server pribadiku untuk memata-matai jadwal kerjaku dan mencari tahu rahasia restorasi interior kita?"

Devran sama sekali tidak menyangka bahwa ini semua adalah hasil kerja tangan mungil anak laki-lakinya yang berusia lima tahun di kamar hotel.

 Di mata Devran, kejeniusan Leo siber yang ia lihat sekilas tadi terasa terlalu kompleks jika tidak didukung oleh peralatan canggih dari firma luar, sesuatu yang sangat mungkin disewa oleh keluarga Lorenza untuk memata-matainya.

"Lalu, apa perintah Anda selanjutnya, Tuan Besar?" tanya Reno, bersiap mencatat instruksi.

"Apakah kita harus mengirim tim hukum untuk menggeledah rumahnya?"

"Tidak perlu tim hukum," jawab Devran dingin, senyum sinis terbit di sudut bibirnya yang tegas.

 "Hubungi kepala divisi pengadaan sekarang juga. Batalkan seluruh kontrak pasokan baja dan material dari Lorenza Group yang bernilai tiga ratus miliar sore ini. Katakan pada ayahnya, tindakannya membiarkan putrinya memata-matai Adhitama Group adalah deklarasi perang bisnis denganku."

"Baik, Tuan Besar. Segera saya laksanakan," sahut Reno dengan takzim, tahu betul bahwa nasib keluarga Lorenza akan hancur berantakan dalam hitungan jam akibat kemarahan pria di depannya.

"Dan Reno," panggil Devran lagi saat asistennya hendak berbalik.

"Ya, Tuan?"

"Siapkan mobil pengawal. Aku sendiri yang akan pergi ke rumah Siska sekarang juga untuk menyelesaikan urusan spionase bodoh ini dengan wanita itu," perintah Devran, matanya berkilat penuh dengan kepastian yang kejam.

Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Lorenza di Menteng, Siska sedang duduk di ruang tamunya dengan wajah yang masih merah padam menahan amarah. Ia terus-menerus melemparkan bantal sofa ke lantai, mengutuk nama Alana berulang kali.

"Sialan! Wanita jalang itu benar-benar merusak segalanya!" bentak Siska pada dirinya sendiri, napasnya memburu.

"Devran berani mempermalukanku di depan umum demi membela desainer kelas rendah itu! Aku tidak akan melepaskanmu, Alana! Aku akan mencari cara untuk menyingkirkanmu lagi dari Jakarta seperti lima tahun yang lalu!"

BRAAK!

Pintu depan rumah mewah itu mendadak terbuka dengan hantaman keras dari arah luar. Siska tersentak kaget, langsung berdiri dari sofanya dengan kemarahan yang baru.

 "Siapa yang berani merusak pintu rumahku...."

Kalimat Siska terhenti di udara. Seluruh keberaniannya menguap seketika saat melihat sosok tegap Devran Adhitama melangkah masuk dengan aura kemarahan yang begitu pekat, dikawal oleh empat orang pria berbadan kekar bersetelan hitam di belakangnya.

"D-Devran?" Siska terbata-bata, wajahnya mendadak pucat melihat tatapan mata elang Devran yang tampak ingin membunuhnya saat itu juga.

"Kamu... ada apa kamu datang ke rumahku dengan cara kasar seperti ini, Sayang? Aku... aku masih marah padamu soal kejadian di kantor tadi, tapi kalau kamu datang untuk minta maaf..."

"Tutup mulutmu, Siska Lorenza," potong Devran, suaranya sangat rendah namun bergaung penuh ancaman yang membuat bulu kuduk Siska berdiri.

Devran melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Siska, lalu melemparkan sebuah tablet digital ke atas meja kaca di antara mereka dengan kasar hingga menimbulkan bunyi berdentang nyaring.

Di layar tablet itu, terpampang grafik pelacakan IP internet rumah Siska yang terhubung langsung dengan server inti Adhitama Group.

"Apa... apa maksud dari gambar-gambar ini, Devran?" tanya Siska bingung, ia benar-benar tidak paham dengan kode siber yang tertera di sana.

"Jangan berlagak bodoh di depanku, Siska!" bentak Devran, membuat Siska tersentak mundur hingga terduduk kembali di sofa.

 "Tim IT pribadimu baru saja melakukan peretasan paksa ke server rahasia Lantai 45 Adhitama Tower dari dalam rumah ini! Kamu menggunakan isu tentang Alana untuk mengalihkan perhatianku, sementara kamu mencoba mencuri data utilitas siber milik perusahaanku, kan?!"

"Peretasan? Mencuri data?" Siska menggelengkan kepalanya dengan panik, air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya yang dilapisi riasan tebal.

"Demi Tuhan, Devran! Aku tidak tahu apa-apa tentang komputer atau peretasan! Aku seharian ini hanya berada di kamar sejak pulang dari kantormu! Aku bersumpah aku tidak melakukannya!"

"Jejak digital tidak pernah berbohong, Siska," sahut Devran dengan nada dingin yang teramat kejam, menolak untuk mempercayai satu patah kata pun dari wanita yang sudah terbukti memiliki tabiat licik di masa lalu itu.

"Kamu telah menyentuh batas kesabaranku yang paling akhir. Hari ini, Lorenza Group resmi kehilangan seluruh hak kerja sama dengan Adhitama Mega Holding."

 "Dan jika aku menemukan satu saja data perusahaanku yang bocor ke publik, aku pastikan ayahmu dan kamu sendiri yang akan membusuk di dalam penjara."

"Devran, tidak! Tolong dengarkan aku dulu! Ini pasti fitnah! Ini pasti jebakan dari wanita jalang Alana itu!" teriak Siska histeris, mencoba meraih ujung jas Devran untuk memohon, namun salah seorang pengawal Devran dengan cepat menghalangi langkahnya dengan tegas.

"Jangan pernah menyebut namanya lagi dengan mulut kotormu itu, Siska," bisik Devran, memberikan tatapan penghinaan terakhirnya sebelum akhirnya membalikkan tubuh tegapnya untuk keluar dari rumah itu.

 "Urusan kita sudah selesai. Nikmati hari-hari terakhir kebangkrutan keluargamu."

Devran melangkah keluar dengan langkah besar, meninggalkan Siska yang menangis meraung-raung di atas lantai ruang tamunya, meratapi kehancuran instan keluarganya tanpa pernah mengetahui bahwa seluruh petaka ini bermula dari kejutan kecil yang dikirimkan oleh seorang bocah lima tahun bernama Leo dari sebuah kamar hotel.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!