NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11.Respon tak diduga.

Suasana seketika menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan dan detak jantung yang berdegup kencang. Rama tertegun sepenuhnya, matanya terbelalak lebar karena tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Rasa kaget itu berubah menjadi rasa tidak nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya—ia, pria yang selalu dijaga jaraknya dan tidak pernah membiarkan wanita mana pun mendekat, kini justru dicium secara berulang kali oleh gadis yang baru saja berdebat sengit dengannya.

Namun, Ivy tidak berniat melepaskan diri. Baginya, setiap detik bibir mereka bersentuhan adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Di depan matanya, angka yang sempat berhenti di angka 22 terus bergerak naik perlahan namun pasti: 23, 24, 25… Setiap kenaikan itu terasa seperti napas baru yang diberikan kembali padanya, seperti pintu harapan yang terbuka lebar setelah sekian lama tertutup rapat. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan kehangatan yang menjalar bukan hanya dari sentuhan itu, melainkan dari kesadaran bahwa ia menemukan cara untuk menaklukkan kematian itu sendiri.

Namun, kesabaran Rama sudah mencapai batasnya. Dengan gerakan yang sedikit kasar namun tidak menyakiti secara berlebihan, ia mendorong bahu Ivy menjauh dari tubuhnya. Dorongan itu membuat keseimbangan Ivy terguncang, dan tubuhnya terjatuh dengan lembut ke atas tanah yang tertutup rerumputan kering.

“Nona Ivy!” seru Bibi Nora yang terkejut, segera bergegas mendekat dan menopang tubuh gadis itu agar bisa duduk dengan nyaman.

Sementara itu, Rama berdiri tegak, wajahnya memerah bukan karena malu, melainkan karena rasa kesal dan bingung yang bercampur menjadi satu. Ia mengulurkan tangan ke belakang tubuhnya, memerintahkan dengan nada dingin, “Larry, berikan sapu tangan.”

Larry yang masih tertegun dan matanya melotot melihat kejadian tadi segera bereaksi, mengeluarkan sapu tangan kain bersih dari saku jasnya dan menyerahkannya dengan tangan gemetar. Rama mengambilnya dengan kasar, lalu mengusap bibirnya berulang kali seolah sedang membersihkan sesuatu yang sangat mengganggu. Tatapannya yang tajam dan dingin langsung tertuju pada Ivy yang masih duduk di tanah, menatapnya seolah sedang menilai sesuatu yang sangat aneh.

“Kau gadis yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu!” bentak Rama dengan suara yang cukup keras, namun tidak sampai menarik perhatian warga yang sudah mulai beraktivitas di kejauhan. “Beraninya kau melakukan hal semacam itu padaku? Apa maksudmu sebenarnya? Apakah ini cara baru untuk menarik perhatian orang kaya? Atau sekadar lelucon yang tidak lucu?”

Namun, bukannya merasa takut, malu, atau meminta maaf seperti yang diharapkan Rama, justru yang keluar dari bibir Ivy adalah tawa yang lepas dan terdengar ceria. Ia menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar hebat karena tertawa, membuat kedua pria di depannya semakin bingung dan kesal.

Setelah puas menertawakan ekspresi wajah mereka, Ivy mengulurkan tangannya ke arah Bibi Nora untuk meminta bantuan berdiri. Begitu kakinya menapak kembali dengan kokoh, tanpa rasa takut sedikit pun ia melangkah mendekat lagi ke arah Rama, lalu dengan berani meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya erat-erat. Matanya bersinar terang, penuh semangat dan makna yang mendalam, seolah sedang memegang harta paling berharga di dunia.

“Kau… adalah powerbank pribadiku,” ucap Ivy dengan nada lembut namun penuh keyakinan, disertai senyum manis yang membuat siapa pun sulit untuk marah lama-lama.

Seketika itu juga, di depan matanya, angka yang tadinya 25 hari bergerak naik satu angka lagi menjadi 26 hari hanya dengan sentuhan tangan itu saja. Jantungnya melompat gembira—ternyata tidak hanya ciuman, sentuhan pun sudah cukup memberikan efek meski tidak sekuat kontak bibir.

Sikap agresif dan kata-kata yang tidak masuk akal itu membuat bulu kuduk Rama merinding. Ia menarik tangannya dengan keras hingga terlepas dari genggaman Ivy, lalu melangkah mundur dua langkah menjauh. Tatapannya kini penuh dengan pandangan curiga dan ngeri.

“Gila! Gadis ini pasti sudah gila!” gumamnya keras, lalu menoleh ke arah asistennya dengan nada tegas. “Larry, segera kemasi barang-barang kita. Kita pergi dari sini sekarang juga! Jangan biarkan dia mendekat lagi!”

Rama pun berbalik hendak melangkah pergi, namun suara Ivy yang memanggil namanya membuat langkah kakinya terhenti. Ia masih mengingat nama yang tertera pada kartu nama yang sempat diberikan Larry tadi, dan ia mengucapkannya dengan nada merdu dan sengaja dibuat terdengar jelas.

“Rama… Tuan Rama… Jangan pergi begitu saja! Aku menyukaimu, tahu?” seru Ivy dengan senyum yang makin melebar.

Mendengar kalimat itu, tubuh Rama seketika menjadi kaku. Jantungnya yang biasanya berdetak tenang dan teratur tiba-tiba berdebar lebih cepat dari biasanya, membuatnya merasa tidak nyaman dan bingung. Ia bukan pria yang mudah terpengaruh rayuan, namun cara Ivy mengatakannya dengan begitu polos dan penuh keyakinan membuatnya kehilangan keseimbangan batin. Saat ia melangkah lagi, kakinya justru terinjak batu kecil hingga hampir terjatuh, membuatnya terhuyung ke depan sebelum segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia membalikkan badan sebentar, menatap Ivy dengan tatapan paling tajam dan penuh amarah yang bisa ia keluarkan.

Namun, Ivy tidak gentar sedikit pun. Ia justru melambaikan tangan kanannya dengan riang, lalu meneriakkan kalimat yang membuat darah Rama terasa mendidih sekaligus membuat Bibi Nora menutup wajahnya karena malu sendiri.

“Hati-hati jalannya licin, Rama sayang! Sampai jumpa lagi ya!” teriak Ivy dengan suara lantang, lalu mengulanginya berkali-kali seolah sedang menyapa kekasihnya yang baru saja berpisah sebentar.

“Nona Ivy! Cukup, tolong hentikan! Apa yang kau katakan itu sangat tidak pantas didengar orang lain!” bisik Bibi Nora dengan wajah memerah, menarik lengan baju Ivy agar tidak terus berteriak.

Rama tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya memutar badan kembali dan berjalan secepat mungkin, bahkan hampir berlari sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangan, berusaha memblokir suara panggilan dan ejekan manja yang terus terdengar dari belakang. Di belakangnya, Larry mengikuti dengan langkah tergesa-gesa, kepalanya terus menoleh ke belakang melihat gadis aneh itu dengan tatapan penuh kebingungan. Ia sudah puluhan tahun bekerja sebagai asisten, namun baru kali ini ia melihat tuannya diperlakukan sedemikian rupa dan justru tidak bisa melawan dengan cara biasa.

Sementara itu, Ivy tetap berdiri di tempatnya, senyum kemenangan tak pernah lepas dari bibirnya. Ia menatap punggung Rama yang semakin menjauh dengan pandangan yang penuh perhitungan dan harapan. Di atas kepalanya, angka 26 hari itu terlihat jelas, bergerak perlahan namun tidak lagi terasa menakutkan seperti sebelumnya.

“Powerbank pribadiku… Tunggu saja, Rama Cahya. Mulai hari ini, kau tidak akan bisa lepas dariku lagi,” gumam Ivy pelan dalam hatinya, merasakan semangat baru yang membara di dadanya. Ia sudah menemukan kuncinya, dan tidak ada lagi yang bisa menghentikannya untuk terus hidup dan mendekati pria itu—entah apa pun caranya.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!