NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: tamat
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Matahari Surabaya siang itu terasa ganas, memantul dari aspal kampus mewah tempat Bianca kuliah. Di sisi jalan yang dipenuhi mobil-mobil premium, sebuah SUV hitam berhenti dengan elegan. Di balik kemudinya, Raditya—atau Rio, identitas samar yang sedang ia kenakan—duduk santai sambil memutar-mutar kacamata hitam di jarinya.

Kaos hitam polos, celana kargo gelap, dan topi warna hitam yang sudah usang menutupi kepalanya membuatnya tak tampak seperti pewaris Mahardika Group. Tampilan itu justru membuatnya terlihat seperti pria biasa yang sedang berjuang di kota besar. Tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilan itu, ia adalah pria dengan aset miliaran dan masa depan perusahaan raksasa di pundaknya.

Ponselnya bergetar.

Bianca: “Rio, jemput aku di depan gedung desain. Cepetan.”

Nada bicara gadis itu bahkan lewat pesan tertulis tetap terdengar manja dan arogan.

Rio—Raditya—menghela napas pelan. “Baik, Non Bianca.”

Ia memasang kembali kacamata hitamnya, menyalakan mesin, dan memajukan mobil beberapa meter. Tak perlu menunggu lama, Bianca muncul dari gedung jurusan desain interior dengan dua temannya di kiri dan kanannya.

Bianca, dengan gaun mini putih berpotongan fit, tas tangan bermerk BV, dan rambut panjang berombak yang tertata sempurna, berjalan seperti runway model, meninggalkan aroma parfum mewah yang menusuk hidung bahkan dari jarak beberapa meter.

Di sampingnya, Sarah dan Deta—dua gadis dengan pakaian tak kalah modis—mengikuti dengan wajah yang sama-sama menyombongkan diri.

Begitu pintu mobil terbuka, Bianca masuk tanpa menatap Rio sedikit pun.

“Ke Pakuwon Mall. Aku pengin makan sushi dan belanja beberapa barang. Kamu ikut masuk ya. Bawain belanjaan kita. Nanti aku kasih tips, lumayan buat kamu.” tuturnya angkuh.

Rio hanya tersenyum tipis. “Baik, Non.”

Sarah menyikut Deta. “Baru lihat? Supir barunya Bianca.”

Deta mencuri pandang ke arah Rio dari kaca spion tengah. “Ganteng, sumpah. Kelas banget buat ukuran supir.”

Bianca tertawa pendek, terdengar meremehkan. “Iya cakep. Tapi ya tetep aja, supir.”

Dua temannya terkekeh.

Rio mengerling sekilas, ekspresi datarnya nyaris tidak berubah. Dalam hati, ia mencatat kalimat Bianca. Menarik… Gadis itu tidak menyembunyikan sifat aslinya, bahkan di depan orang baru.

Sarah bersandar di kursinya, mencondongkan tubuh ke depan. “Mas, namanya siapa?”

“Rio, Non.” jawab Raditya sopan.

“Semoga betah ya jadi supirnya Bianca,” goda Sarah.

Deta menimpali sambil tertawa lebih keras. “Iya, soalnya banyak yang nggak betah, tau. Paling cuma tahan seminggu!”

“Eh kalian berdua nyolot banget!” Bianca memukul pelan bahu temannya.

Rio tersenyum kecil. “Semoga saya bisa bertahan lama, Non.”

Jawabannya membuat ketiganya tertawa lagi, namun hanya Rio yang tersenyum sambil menatap jalan, menyembunyikan pikiran yang jauh lebih rumit daripada sekadar menjadi supir baru.

**

Pakuwon Mall seperti biasa dipenuhi cahaya terang, musik pop Korea mengalun dari berbagai toko. Para pengunjung berpapasan, sebagian besar berpakaian stylish. Surabaya benar-benar kota dengan ritme cepat dan gaya hidup mencolok.

Bianca memimpin langkah dengan percaya diri, seperti sebuah kompas glamor yang menentukan arah tiga gadis itu berjalan.

“Rio! Ini bawain,” perintah Bianca saat ia menyerahkan tas belanja pertama. Dan itu menjadi awal dari puluhan tas lain.

Dalam waktu kurang dari satu jam, Rio sudah menenteng lebih dari lima belas kantong belanja bermerek. Dari sepatu, skincare premium, dress baru, hingga aksesoris.

Yang membuat Rio sedikit terperangah adalah: Bianca tidak terlihat menimbang harga. Dia hanya menunjuk, mencoba sepersekian menit, lalu membeli.

Uang jelas bukan masalah. Tapi gaya hidupnya… benar-benar berbeda dengan Kirana, kakaknya.

Kirana—yang ia lihat malam itu—sederhana, halus, tapi matanya punya cahaya yang sulit dijelaskan.

Rio mengingat kembali ucapan papinya semalam. "Papi merasa Kirana itu… ada sesuatu yang berbeda."

Entah kenapa, kalimat itu terus berputar di kepala Raditya, bahkan saat ia sedang memanggul belanjaan sang adik itu.

Mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran Jepang terkenal di lantai tiga. Interiornya remang hangat, dipenuhi meja kayu dan aroma gurih khas kaldu ikan.

Bianca memilih meja untuk bertiga bersama sahabat-sahabatnya, sementara Rio duduk di meja terpisah—persis di belakang mereka. Dan ia bisa mendengar banyak hal dari tempat itu.

Deta menyendok sashiminya. “Bi, bener kamu diundang ke rumah keluarga Mahardika kemarin?”

Bianca meneguk ocha dinginnya dengan manja. “Iya lah. Kamu kira aku ngebohong?”

Sarah membuka mulut lebar-lebar. “Bukan cuma diundang, Ta. Dia dijodohin sama anaknya! Coba bayangin! Pewaris Mahardika Group!”

Deta menjatuhkan sumpitnya. “Gila sih! Itu jackpot terbesar dalam hidup! Bi, selamat ya! Kamu bakal jadi nyonya raja properti!”

Bianca tersenyum sombong, wajahnya berbinar. “Belum tentu lah. Kan belum resmi.”

Sarah menggeleng. “Lah, dia udah nggak punya calon lain. Terus juga kamu cantik, modis, cocok banget sama image keluarga kaya.”

Deta ikut menimpali. “Iya! Kamu tuh paket lengkap buat jadi sosialita kelas atas.”

Bianca memajukan bibirnya. “Ya jelaslah siapa yang nggak mau nikah sama pewaris Mahardika Group? Kalo aku jadi istrinya Raditya Mahardika, kalian berdua bakal aku ajak liburan keliling dunia gratis. Shopping pun tinggal ambil.”

Tawa mereka meledak.

Rio meremas ujung celananya di bawah meja. Ada perasaan aneh—bukan marah, tapi seperti tersengat sesuatu yang tidak nyaman. Mendengar namanya disebut seperti sebuah barang mewah yang bisa dimiliki, dijadikan tiket hidup serba glamor.

Sarah melanjutkan, “Eh, Bi. Kamu udah ketemu cowoknya?”

Bianca mendecak. “Belum. Katanya dia lagi di luar negeri urusan bisnis. Sayang banget sih! Aku cuma lihat fotonya yang dipajang di rumahnya. Ganteng parah! Kayak aktor Korea.”

“Kamu pasti cocok banget!” Deta menimpali.

Rio menurunkan pandangan, menyembunyikan senyum miris. Ia mendengar semuanya. Tentang bagaimana Bianca memandang perjodohan itu seperti tiket kemenangan, bukan hubungan manusia.

Dan ia juga sadar: Bianca tidak ada niatan menyembunyikan kesombongannya.

Suara Bianca kembali terdengar, lebih pelan namun jelas.

“Aku harus dapetin dia, Sarah. Nggak boleh gagal. Mama pun udah dukung. Kalo aku nikah sama Raditya… hidupku bakal selesai di level paling tinggi.”

“Terus gimana sama Mbak Kirana?” tanya Deta.

Bianca mendengus. “Mbak Kirana mah beda dunia. Dia terlalu serius, kerja mulu, dan nggak suka hal-hal mewah. Aku heran bagaimana dia bisa sukses padahal dia nggak modal penampilan. Tapi ya itu, dia punya otak. Dia cocoknya sama pria sukses tapi kalem… bukan pewaris kaya yang butuh pasangan glamor.”

Rio menajamkan pendengaran. Itu pertama kalinya Bianca menyebut kakaknya dengan nada… iri? Atau meremehkan? Sulit ditebak.

Sarah menatap Bianca geli. “Tapi kamu yakin bisa bersaing? Maksudku… keluarga Mahardika itu bisnisnya elegan. Mereka pasti nyari yang pinter juga.”

Bianca tersenyum sinis. “Makanya aku harus jadi yang terbaik. Aku cantik, fashionable, sosialita. Orang-orang kayak keluarga Mahardika bakal suka yang kayak gitu.”

Rio menahan napas sebentar. Narasi hidup Bianca sengaja sangat mencolok, kontras sekali dengan Kirana yang ia lihat malam itu. Kirana yang tenang, lembut, dan berkelas tanpa berusaha.

Bianca melanjutkan dengan nada yang membuat alur makin memanas.

“Dan supir baruku ini…” matanya melirik Rio dengan tatapan menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Lumayanlah buat dilihatin orang. Tampangnya enak diliat. Cocok buat aku yang nggak mau punya supir jelek.”

Sarah dan Deta cekikikan.

Rio hanya tersenyum sopan, meski dalam hati ada rasa tidak nyaman.

Setelah selesai makan siang, mereka lanjut belanja. Bianca mengarah ke toko parfum. Deta dan Sarah langsung mencoba beberapa tester. Bianca mengangkat satu botol, lalu menyerahkannya pada Rio.

“Pegangin ini.”

Rio mengangguk. Tapi tiba-tiba, Bianca mendekat, tangannya menyentuh pergelangan tangan Rio sedikit terlalu lama.

“Rio, kamu pakai parfum nggak?” tanyanya dengan nada genit terselubung.

Sarah langsung mencubit lengan Bianca, membisikkan, “Eh Bi! Jangan bilang kamu…”

Bianca langsung mendorong bahu Sarah. “Halah! Aku cuma nanya.”

Rio mengangkat alis dalam hati. Apakah Bianca mulai menunjukkan ketertarikan… hanya karena tampang Rio? Ironis sekali, mengingat siapa dia sebenarnya.

**

Saat mereka sampai di parkiran, Rio membuka pintu bagasi dan mulai menyusun semua belanjaan.

Bianca berdiri sambil memainkan kunci mobilnya, lalu melirik Rio.

“Rio,” panggilnya, suaranya melembut secara mencurigakan.

Rio menoleh. “Iya, Non Bianca?”

“Kamu tadi dengerin obrolan kita di restoran nggak?” matanya menyipit meneliti.

Rio menatap langsung ke matanya. “Saya hanya duduk, Non. Nggak bermaksud dengerin.”

Bianca mengepalkan bibirnya, seolah tak percaya.

Sarah memanggil Bianca dari jauh, “Bi! Cepetan! Ada promo di Sephora!”

Bianca menoleh sebentar, lalu kembali pada Rio.

“Kalau kamu lihat atau denger hal yang nggak perlu kamu tau… simpen sendiri ya.” Nadanya mengandung peringatan samar.

Rio kembali tersenyum tipis.

“Tenang saja, Non. Saya cuma supir.”

Dan untuk pertama kalinya, Bianca menatap Rio cukup lama—lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di matanya. Ketertarikan? Kecurigaan? Atau… keduanya?

Bianca akhirnya berbalik sambil berkata pelan, hampir tak terdengar.

“Bagus.”

Tiga gadis itu masuk kembali ke mall untuk belanja lanjutan.

Dan Rio berdiri sendirian di parkiran, bersandar pada mobil, membiarkan angin panas Surabaya menyapu wajahnya.

Matanya menerawang kosong. Mungkin besok akan lebih menarik dan yang pasti… Hari ini hanyalah awalan dari permainan besar yang baru saja dimulai.

***

1
SisAzalea
so,air minum tadi bagaimana sih?
SisAzalea
Haris hanya takut kerana Kirana sudah punya pembela, apalagi sekarang Aditya sudah menunjukkan taring nya.
Siti Aisyah
pernikahan hanya sekali...jd jgn salah pilih jg...👍❤️
SisAzalea
ohhh..mungkin sengaja ya
SisAzalea
kalau sampai terlupa ganti jam nya ,gimana rio?
Tuti Rumyati
Terima kasih sudah menghibur, ceritanya sangat bagus, sukses selalu
Tirrr
bagus
Anisa92
lama kisahnya, terlalu mendetil jd agak bosan. pdhal rame
Anisa92
auuuu... culik aku mas😄😄
Sri Widjiastuti
sekuriti nya lg ngopi nii
Sri Widjiastuti
mahasiswi bodo.. begitu g bisa paham. sdh dikadih tau mama reva.. perhiasan apa saja & punya siapa yg disimpan?? kebanyakan dandan jd lola🤭🤭
Sri Widjiastuti
asisten gunawan gimana ni? saksi pengalihan harta qanita??
Marina Tarigan
orang kau sakiti terus menerus dgn ketamakanmu Rrva Bianka bertukar 360 # seumur hidup dan 15 thn semoga kamu masih hidup vera dan kau Bianca masa bahagiamu habis renungkan perbustanmu selama ini kasar sombong arogan menghina tak tanggung2 kejinya berubahlah masih ada waktu yg lebih baik nantinya dlm peri laku.mu
Marina Tarigan
pak Haris juga orang tua yg sangat baik tapi sedikit kurang perhatia di rtgga sendiri demi ambisi ayah mengejar dunia padahal setiap hari bpk lihat bagaimana Vera memperlakukan Kirana setiap hari didepan bpk sendiri menghina berucap kasar thdp Karina demi ambisi ayah trdp barang dunia yg menyesatkan tapi untung kirana ttp ayah adalah ayah terbaik masih ada hari esok memperbaiki semuanya Kiran dan Raditia ttp akan menjaga ayah kedelannya
Sri Widjiastuti
sdh dikasih bukti Raditya kan??
Sri Widjiastuti
fuh si haris segitu bodohnya jd bapak
Sri Widjiastuti
disini nih yg bikin anehh😇😇😂
Sri Widjiastuti
mahasiswi sinting yakk🤣🤣 makanya Raditya ogah
Arkan Nuril
mau donk jadi Kirana 😍😍😍😍
Su Kocer
ngeweknya ga di up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!