Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Hancur
Hari-hari berikutnya menjadi mimpi buruk yang tidak kunjung usai bagi Rahman.
Bukan lagi sekadar grafik yang merosot atau laporan kerugian yang memerah. Ini adalah kehancurannya.
Teleponnya tidak berhenti berdering. Namun, bukan lagi dari klien yang ingin menjalin kerja sama melainkan, dari mereka yang satu per satu menarik
"Maaf, Pak Rahman. Kami tidak bisa melanjutkan kontrak kerjasama kita."
"Kami harus mengamankan posisi perusahaan kami sendiri."
"Kerja sama ini kami batalkan."
Satu per satu membatalkan kerjasama tanpa pengecualian.
Rahman berdiri di tengah ruang kerjanya dengan ponsel yang masih di tangannya. Namun, tidak ada lagi yang bisa ia hubungi untuk ia mintai tolong. Semua pintu, tertutup.
"Bimo!" panggilnya dengan suara berat.
Pria itu masuk dengan wajah tegang. "A-ada apa, tuan?"
Rahman menelan ludah, seolah kata-kata berikutnya terlalu pahit untuk diucapkan. "Semua mitra kita... menarik diri." Ia terdiam sejenak, lalu menatap Bimo penuh harap yang tersisa. “Bagaimana dengan Atma Group?"
Bimo terdiam sejenak dengan kepala menunduk. "Maaf, tuan. Atma Group... juga membatalkan kerja sama, Tuan."
Rahman membelalak, dadanya sesak seolah ada sesuatu yang menghantam dadanya, keras.
"Atma Group juga?" lirihnya
"Iya, Tuan. Dan... Para karyawan menuntut gaji yang tertunggak dan juga pesangon mereka," ucap Bimo.
Hening.
Rahman tertawa kecil namun, tidak ada kebahagiaan di dalamnya.
"Hebat," gumamnya pelan. "Semua pergi di saat yang bersamaan. Dan, karyawan ku juga menuntut ku."
Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi, menatap kosong ke depan. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya rencana, tidak ada strategi dan jalan keluar. Yang ada hanyalah kehancuran yang terlalu cepat.
Malam harinya, Rahman pulang dengan langkah berat. Rumah besar yang dulu terasa megah, kini terasa asing baginya.
Dyah langsung menghampirinya, dengan wajah penuh rasa cemas, saat melihat Rahman masuk dengan langkah gontai.
"Man, bagaimana?" tanyanya.
Rahman tidak langsung menjawab. Ia melepaskan jasnya, meletakkannya sembarang.
"Kenapa kau diam saja, Man? Bagaimana dengan perusahaan?" suara Dyah mulai meninggi. "Masih bisa diselamatkan, kan?"
Rahman akhirnya menatap ibunya dengan wajah lesu dan tatapan kosong.
"Tidak."
Satu kata namun, cukup menghancurkan segalanya.
Dyah mundur selangkah. "Ti-tidak bagaimana maksudmu, Man?"
"Semua sudah selesai, Ma. Kita bangkrut sekarang."
"Tidak mungkin!" Dyah menggeleng cepat. "Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan perusahaan."
Rahman tertawa pahit. "Kalau aku tahu caranya, aku tidak akan pulang dengan wajah seperti ini."
Hening
Dyah terduduk di sofa. Tangannya gemetar. "Semua... Habis?"
Rahman tidak menjawab. Namun, diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya
Dyah memegang kepalanya, frustasi. Napasnya memburu. "Ini tidak mungkin. Tidak mungkin!"
Di sudut lain, Camila berdiri dalam diam. Sejak tadi ia mendengar semuanya ucapan Rahman. Ia tidak bersuara, juga tidak bereaksi. Namun, matanya jelas tidak menunjukan adanya rasa khawatir maupun sedih. Tapi, hanya perhitungan.
Ia mengepalkan tangannya erat, lalu berbalik perlahan menuju kamar.
Begitu pintu tertutup, ia langsung membuka lemari dan laci. Tangannya bergerak cepat mengambil uang tunai, perhiasan dan barang berharga lainnya.
Semua ia kumpulkan tanpa ragu dan memasukkan nya kedalam tas. Wajahnya tetap tenang namun, gerakannya terburu-buru, takut Rahman memergokinya.
"Bodoh," gumamnya pelan.
Ia berhenti sejenak, menatap cermin. Wajah cantik itu masih sama. Namun senyumnya, berbeda.
"Aku tidak mau jatuh miskin."
Selama ini, ia menunggu kesempatan untuk masuk ke keluarga Wijaya. Ia mendekati Rahman kembali, mengambil hati ibu dan putri pria itu. Dengan begitu, akan mudah baginya mengambil posisi Mela.
Semua berjalan lancar. Ia menikmati kemewahan milik keluarga Wijaya. Dan, investasi itu adalah jalan tercepat untuk memperbesar semuanya.
Namun, ternyata semua tidak seperti yang ia harapkan. Investasi gagal, dan perusahaan juga bangkrut. Semuanya runtuh dan, ia tidak punya alasan untuk bertahan.
"Setidaknya, aku sudah dapat bagianku."
Ia membuka pintu kamar. Mengintip sebentar ke arah ruang tamu.
Di sana, Rahman masih duduk diam dan, Dyah masih terisak. Tidak ada yang memperhatikan. Dan, ini kesempatan sempurna baginya keluar tanpa sepengetahuan siapapun.
Ia berjalan pelan, tanpa suara dan rasa ragu. Ia membuka pintu lalu, keluar sebelum kembali menutupnya.
Dia berjalan cepat menuju gerbang. Bahkan, satpam hanya diam saat melihatnya. Ia menyetop taksi yang melintas dan terdiam sejenak, menatap rumah tersebut.
"Selamat tinggal, Rahman," batinnya. Setelahnya, ia bergegas pergi, meninggalkan Rahman dalam kehancuran.
***
Pagi itu, rumah keluarga Wijaya terasa sunyi. Namun, bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menekan.
Rahman duduk di ruang tamu, masih dengan pakaian semalam. Matanya terpejam, kepalanya terasa berat. Entah, jam berapa ia tertidur di sana.
Semalaman ia tidak berhenti memikirkan kerugian, utang, perusahaan, dan nama baik yang hancur.
"Man, bangun!" suara Dyah terdengar lemah, membangunkannya.
Rahman mengeryit, membuka matanya perlahan.
"Kenapa kamu tidur di sini?"
"Maaf, Ma. Aku ketiduran," ucapnya.
Dyah menghela napas. Lalu, tatapannya naik ke arah lantai atas. "Camila mana?"
Rahman terdiam. Ia baru sadar sejak semalam tidak melihat wanita itu.
"Mungkin masih di kamar," jawabnya singkat. Namun entah kenapa, dadanya terasa tidak nyaman. Ia berdiri, melangkah cepat menuju lantai atas.
"Camila!" panggilnya tapi, tidak ada jawaban. Ia membuka pintu kamar.
Kosong, tempat tidur masih rapi.
Rahman melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan. Ia membelalak melihat lemari terbuka dan isi di dalamnya hilang. Bahkan, laci juga kosong.
Rahman membeku. "Tidak!" lirihnya. Ia berbalik cepat, membuka laci lain, memeriksa lemari tempat ia menyimpan barang berharga. Namun, semuanya kosong.
Napasnya mulai memburu. "Camila!" teriaknya lebih keras. Ia turun kembali ke bawah dengan rahang mengeras
"Ada apa, Man?" tanya Dyah dengan wajah panik.
Rahman tidak langsung menjawab. Ia berjalan cepat ke arah brankas kecil di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat membukanya.
Klik!
Rahman membuka brankas tersebut dan ... kosong.
Rahman terdiam beberapa detik. Lalu, ia tertawa pahit. "Hahahaha!"
Dyah yang berdiri tidak jauh darinya terlihat khawatir. "Man?" suaranya bergetar.
Rahman menutup brankas itu perlahan. "Dia pergi, Ma."
Dyah mengernyit. "Siapa?"
"Camila, siapa lagi?" ucapnya dengan nada meninggi. "Dan, dia bawa semua yang tersisa."
Tubuh Dyah langsung limbung, nyaris jatuh jika saja tangannya tidak meraih bufet di sampingnya
"Tidak mungkin!" lirihnya
"Tidak mungkin bagaimana, Ma? Semua sudah jelas. Uang, perhiasan dan barang berharga yang tersisa, semua hilang," sahut Rahman datar. "Siapa lagi yang mengambilnya kalau bukan Camila."
Akhirnya, tubuh Dyah merosot ke lantai. Kepalanya menggeleng pelan, masih tidak percaya.
"Tidak!! Itu tidak mungkin," lirihnya.
Rahman menghela napas panjang, mencoba meredam amarah di dadanya. Sejak awal, harusnya ia menyadari semua tanda yang sudah ada.
Bagaimana cara Camila bicara? Bagaimana cara wanita itu meyakinkannya dengan begitu sempurna.
Rahman bangkit, menuju ruang tamu dan mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Camila, menekan tombol panggil. Namun sayangnya, nomor tersebut tidak aktif.
Rahman mencoba sekali lagi. Dan, hasilnya masih sama.
Rahman menghela napas panjang. Ia membuka aplikasi lain. Mencari transaksi terakhir. Dan di sana, jelas tertera beberapa penarikan besar, transfer. Dan, pergerakan dana yang tidak ia sadari sebelumnya.
"Hebat! Ternyata, dia sudah merencanakan semua ini sebelumnya," gumamnya geram.
Dyah mencoba bangkit, lalu menghampiri Rahman dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
"Apa yang kita lakukan sekarang?"
Tidak ada jawaban.
Dyah melihat putranya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dan saat ini, kenyataan akhirnya menampar mereka.
Camila tidak pernah menjadi penyelamat. Ia adalah badai yang datang, merusak, lalu pergi membawa sisa-sisanya.
Rahman menjatuhkan diri ke sofa. Tatapannya kosong.
Semua yang ia bangun selama bertahun-tahun, hancur dalam waktu singkat. Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kehilangan uang. Tapi, ia telah ditipu oleh wanita yang ia cintai. Wanita yang ia pilih untuk menggantikan Mela.
Tangannya mengepal erat namun, tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia sudah tidak punya apa-apa lagi.
yg duda aja pada nikah Ama gadis pede² aja tuh, Ngapain janda harus insecure /CoolGuy/
emng klo janda gak boleh gituuu klo sama Bujang?? /CoolGuy/
aq bnc ms ll... igt tu
dan kalau rahman cinta, dia tdk akan melupakan mela saat dia.membangun keluarga bahagia dengan camila.
ingat..pesona mela itu tdk bisa membuat rahman jatuh cinta pd mela. mungkin dia menjadikan mela istri dlu karna dino adalah saingannya dan rahman memiliki ambisi..menjadikan mela sebagai pertandingan..siapa yg menang mendapatkan mela..makanya dia dengan mudah berpaling pd camila karna dia sadar yg dia inginkan wanita seperti camila. dari fisik sampai perlakuannnya sedangkan mela? meski mela baik tapi tdk memungkin seorng pria jatuh cinta dan tdk berlaku pd rahman.