Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Cepat, Periksa Cctv!
Tepat sebelum tubuh Keyla menghantam lantai, sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya. Dengan satu sentakan kuat, tubuh mungil itu ditarik ke atas, mendarat tepat di dada bidang yang keras.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini?!" seru Dominic antara amarah dan khawatir.
Napas pria itu memburu, matanya yang tajam menatap Keyla yang masih terpejam dengan tubuh gemetar hebat.
Keyla merasa jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Ia membayangkan kepalanya pasti sudah berdarah jika Dominic tidak datang tepat waktu.
"Tuan..." lirihnya pelan dan suaranya nyaris hilang.
"Gadis kecil! Apa kau mendengar ku?!" Dominic mengguncang bahu Keyla, menuntut jawaban.
Keyla tersentak, matanya yang berkaca-kaca menatap wajah Dominic yang hanya berjarak beberapa sentimeter. "Aku... aku haus dan air minum di kamar habis. Jadi, aku terpaksa ke dapur sendiri."
Dominic mencoba meredam emosinya. Ia segera menarik Keyla ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan gadis itu menenangkan diri dari syok yang baru saja dia alami. "Bukankah kau takut gelap? Kenapa keluyuran sendiri tanpa membangunkan ku?" tanyanya datar.
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu, Tuan," bisik Keyla.
Tanpa banyak bicara, Dominic memapah Keyla naik kembali ke atas. "Lampu! Nyalakan semua lampu!" teriaknya pada pelayan yang mulai bermunculan karena kegaduhan itu.
Seketika, mansion itu terang benderang.
Fokus Dominic kini tertuju pada anak tangga tempat Keyla terpeleset tadi. Ia berjongkok, menyentuh sisa cairan yang nampak mengkilap di bawah cahaya lampu.
Dominic mendekatkan jarinya ke hidung, lalu mengernyit. "Minyak?" gumamnya dengan rahang mengeras. "Dari mana ini berasal?!" Ia menoleh pada seorang pelayan wanita yang berdiri menunduk ketakutan di dekat tangga.
"Maafkan saya, Tuan. Saya yang salah karena teledor. Tapi sungguh, saya tidak tahu kalau ada minyak tumpah di sana," ucap pelayan itu dengan terbata-bata bahkan sebelum Dominic sempat melontarkan pertanyaan.
"Periksa CCTV! Sekarang!" perintah Dominic tanpa ampun.
"Tapi Tuan, lampu tadi sempat padam sebentar. Apakah CCTV bisa merekam dalam gelap?" tanya pelayan itu ragu.
Dominic berdiri, tatapannya seolah bisa menembus jantung pelayan itu. "Kubilang periksa CCTV, ya periksa! Jangan membantahku jika kau masih ingin bekerja di sini!"
Mereka bergegas menuju ruang monitor. Petugas keamanan yang berjaga langsung gemetar melihat tuannya datang dengan aura membunuh.
Keyla mengikuti dari belakang, ia merasa tidak enak hati karena sudah membuat keributan.
"Tuan, anda tidak perlu marah-marah seperti ini. Aku baik-baik saja, bukan? Mungkin itu hanya tumpahan yang tak sengaja," ucap Keyla mencoba meredakan amarah Dominic.
Dominic berbalik, menatap Keyla lekat. "Ini bukan masalah kau baik-baik saja atau tidak. Jika ada seseorang yang sengaja menyabotase tempat ini, terutama berniat mencelakai, maka dia harus dihukum!"
Keyla terdiam. Ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan pria yang sudah dikuasai insting pelindung seperti ini.
Tak lama, petugas CCTV memutar rekaman beberapa menit sebelum kejadian.
Di sana yang sedikit buram karena inframerah itu, terlihat seorang pelayan sengaja menyiramkan sesuatu dari botol ke anak tangga, lalu menghilang ke arah dapur.
"Kena kau!" gumam Dominic dengan tangan terkepal erat hingga buku jarinya memutih. "Panggil dia! Bawa penghianat itu ke hadapanku sekarang juga!"
Seorang petugas keamanan berlari untuk mencari pelayan tersebut. Namun, lima menit kemudian, ia kembali dengan wajah pucat pasi.
"Tuan... pelayan yang ada di rekaman itu... dia ditemukan di gudang belakang."
"Bawa dia kemari!" geram Dominic.
"Dia... dia sudah tewas, Tuan. Mulutnya berbusa, sepertinya dia meminum racun setelah melakukan aksinya," lapor petugas itu dengan gemetar.
"Apa kau bilang?! Tewas?!" Dominic menendang kursi di dekatnya hingga hancur.
Dominic tahu ini bukan kecelakaan. Ini adalah pembunuhan berencana yang gagal, dan pelakunya telah memutus jejak dengan cara paling pengecut.
*
*
Sementara itu, di dalam sebuah mobil mewah yang melaju kencang menuju bandara...
"Hahaha! Rasakan! Pasti saat ini dia sedang terkapar di dasar tangga atau mungkin sudah tidak bernyawa!" Clara tertawa puas, membayangkan Keyla bersimbah darah karena jebakan minyak yang ia rancang melalui pelayan bayarannya.
Clara merasa menang. Rencananya begitu sempurna. Ia pergi ke Paris, memiliki alibi yang kuat, sementara musuhnya lenyap.
"Apa yang kau tertawakan, hmm?" tanya seorang pria yang duduk di sampingnya.
Pria bernama Damian itu mulai menciumi leher Clara dengan penuh tuntutan. Sedangkan tangannya merayap masuk ke balik jubah mahal Clara.
"Hentikan, Damian! Geli!" Clara tertawa kecil sembari mendorong bahu pria itu.
"Kau marah karena aku baru datang? Aku ada di sini sekarang, Sayang. Mari kita bersenang-senang sebelum kau terbang," ucap Damian serak. Ia menarik dagu Clara, menye-sap bibirnya dengan rakus sebelum kembali beralih ke leher jenjangnya.
"Aku ada pemotretan penting setelah sampai di Paris, jadi jangan berani-berani meninggalkan bekas di mana pun yang bisa dilihat kamera!" ancam Clara, meski ia membiarkan Damian terus membelainya.
Damian adalah mantan kekasih Clara sebelum ia menikah dengan Dominic demi kekayaan Fredrick.
Dulu, Clara sempat memutuskannya, namun Damian terus mengejar dan memberikan apa yang tidak bisa diberikan Dominic, kepuasan di ranjang tanpa menuntut seorang anak.
Dominic terlalu sibuk dengan bisnis gelapnya dan ambisinya memiliki pewaris tanpa memikirkan impian Clara.
Itulah yang membuat Clara selalu kembali pada pria ini setiap kali ia merasa bosan atau kesal pada suaminya.
"Kenapa tak menjawabku? Tadi kau menertawakan siapa?" tanya Damian di sela ciumannya.
"Adik tiriku. Istri kedua suamiku yang menjijikkan itu," jawab Clara dengan penuh kebencian.
"Keyla maksudmu?" Damian menghentikan gerakannya sejenak, menatap Clara dengan dahi berkerut.
"Ya. Siapa lagi?"
Damian terdiam, tatapannya berubah menjadi kosong sesaat. "Bagaimana bisa Keyla menikah dengan Dominic dan jadi istri keduanya? Bukankah dia masih sangat muda?"
"Jangan bahas dia! Dia hanya sampah yang sebentar lagi akan dibuang selamanya," ketus Clara, menarik kepala Damian kembali ke lehernya. "Sekarang, buat aku melupakan semua kekesalanku malam ini."
Damian menurut, tapi pikirannya kini melayang jauh. Ada sebuah rahasia yang tidak diketahui Clara tentang hubungannya dengan Keyla.
"Aku akan menemuinya nanti," batin Damian.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃