Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguras harta : 31
Bi Isa membekap mulut, matanya berembun. “Semoga nyonya Helyara sehat selalu, dilindungi Tuhan.”
“Aamiin,” sahut Helyara. “Selama masa percobaan tiga bulan, gaji kalian masih empat juta rupiah, tetapi apabila kinerja bagus, dan bisa diandalkan, serta dapat dipercaya, saya tambahi jadi 6 juta rupiah.”
“Nyonya serius? Itu duit semua kan bukan daun?!” Sinta memekik. Belum pernah dia memegang uang lima ratus ribu, malah sekarang dijanjikan gaji 6 juta rupiah.
Bi Isa mencubit lengan putrinya. “Yang sopan, Sin! Dia majikan mu!”
Sinta menangkupkan kedua tangan, meminta maaf sungguh-sungguh. Menganggukkan kepala berulang kali.
Senyum tipis Helya tersungging, mengangguk memaklumi, tidak diambil hati.
Ponsel lama Helyara berdering, nama suamiku memanggil.
Diangkatnya malas-malasan, dalam hati penuh dendam.
“Sayang, kamu masih lama gak pulangnya? Mas kangen,” suaranya terdengar lemas menahan rindu.
Helya beranjak dari sofa empuk. Suasana hatinya kembali memburuk bak awan mendung menggantung dibawah langit. Dia melangkah sedikit jauh, tidak nyaman bersandiwara di depan banyak orang.
“Sayang, cintaku ….” rengek Alandi minta diperhatikan.
“Ya, Mas. Aku lagi sibuk bantuin tiup balon biar anak-anak panti senang,” dustanya sambil memutar bola mata muak.
“Mas iri sama mereka, selalu membuatmu lupa suami. Kamu jam berapa pulang? Tadi Mas telepon ke rumah, kata Mama belum pulang. Sekarang hampir jam 4 sore loh Helya?”
Helyara mengetatkan rahang, teringat perkataan dokter obgyn, petugas laboratorium, lalu cepat-cepat menggeleng kepala mengusir amarah menggumpal mencapai ubun-ubun.
“Mungkin agak malam, Mas. Mobil juga masih dipinjam salah satu pengurus panti, aku —”
“Kok dikasih? Nanti lecet gimana?”
Sekarang Helya baru percaya jika Alandi benar-benar panik daripada saat tadi mencoba merayunya.
“Tinggal bawa ke bengkel ketok magic,” jawabnya ketus.
“Buang-buang duit itu, Helyara,” suaranya turun satu oktaf, menekan.
“Sesekali menghamburkan uang untuk menyenangkan orang yang tepat kan gapapa, Mas. Lagian bersedekah sama anak panti itu balasannya surga. Investasi akhirat,” dia menjawab dengan suara menahan kekesalan.
“Kamu marah, Sayang?” ia menaruh curiga, suara istrinya sedikit ketus.
“Lagi capek, tapi hati senang, puas.”
“Kasihan nya istri kesayangan mas Alan. Cepat pulang ya cantik, nanti tak pijat. Love you sayang.”
Buku hukum tengah dipegangi, diremat kuat. “I love you too, suamiku. Sudah ya, Mas. Gak enak sama lainnya.”
Tanpa menunggu balasan, Helya matikan sepihak sambungan ponsel.
‘Kalian mau buat aku gila, kan? Akan ku tunjukkan kegilaan seorang Helyara Utomo!’
Dikembalikan buku ke barisan rapi rak almari tinggi. Helya mengatur napas, melembutkan ekspresi wajah, baru dia berbalik dan langsung bertemu tatap dengan pria duduk di kursi balik meja kerja.
Wajah Helyara langsung kaku, senyumnya seperti joker merah. Cepat-cepat melangkah ke sofa bergabung dengan lainnya.
Abi Sakta Haujan terlihat biasa saja, melanjutkan memeriksa laporan sang rekan perihal informasi baru saja terkumpul.
Bi Isa dan Sinta diantar lagi ke stasiun kereta oleh karyawan kantor firma hukum. Mereka berkejaran dengan sang waktu, jangan sampai utusan Alandi lebih dulu sampai menjemput.
Helya sendiri tidak berselera makan nasi Padang yang dipesankan Yudis, perutnya masih terasa kram efek melepas IUD, dan juga perasaan kacau.
Saatnya membahas informasi terkini perihal keluarga Alandi.
Abi Sakta Haujan, dan Yudistra membentuk tim khusus menyelidiki sampai ke kampung halaman Ganira. Para rekan mereka saling melaporkan melalui sambungan ponsel.
Sebuah foto menyentak kesadaran Helyara, darahnya berdesir hangat dengan gemuruh mendobrak dada.
“Ini hunian Ganira dan Sapto?” suaranya rendah, menghilangkan sebutan sopan.
“Iya, Ibu. Pembangunannya tinggal tahap finishing. Ditaksir sudah menghabiskan dana sebesar dua ratus juta rupiah,” terang Yudis.
Dipandangi lekat-lekat bangunan batu bata tingkat dua, belum diplester. Rumah itu jauh dari kata sederhana, tapi mewah.
Berbeda sekali dengan hunian lima tahun lebih yang lalu kala dia masih jadi menantu disayang, dibawa pulang ke kampung halaman Alandi.
“Informasi apalagi yang didapatkan, Pak?” ia harus tegar, hari ini benar-benar penuh kejutan.
“Zanaya dan Wandi sudah pindah dari komplek perumahan subsidi ke hunian lebih besar memiliki tiga kamar tidur, dan tingkat dua,” Yudis menyebutkan alamat rumah baru kakak iparnya Helyara.
Abi Sakta menjatuhkan tumpukan lembaran foto di atas meja, lalu dia duduk di sofa tunggal.
Helya sambar potret sebuah hunian nyaman, terletak di komplek perumahan aman kelas menengah.
“Ini pembeliannya cash atau kredit?”
“Kredit. Perbulan 9 juta rupiah, dengan tenor cukup panjang sepuluh tahun lamanya, masih berjalan tiga tahun angsuran telah dibayarkan,” imbuh Yudis.
“Terus sawah dan warung sembako ini kepunyaan Ganira?” Helya memperhatikan dua foto — hamparan sawah ditanami padi sudah menguning siap dipanen, dan warung menjual bahan pokok kebutuhan sehari-hari.
“Iya. Lokasinya masih satu desa dengan hunian sedang dibangun,” ujar Sakta.
“Mereka sukses besar merampok, menguras hartaku,” ia mendengus lalu terkekeh sumbang.
“Tapi gimana bisa secepat itu terkumpul dana buat bangun rumah, beli sawah, dan memiliki toko kelontong? Seberapa besar penghasilan toko Emas Utomo yang sebenarnya?” Sepasang alis Helya hampir bertemu, dia berpikir keras.
Dahulu, dirinya tidak pernah mau tau pendapatan usaha keluarganya. Lain dengan mendiang Utomo, sedari remaja sudah mempelajari seluk beluk bisnis perhiasan.
“Dari dua toko tersebut, menurut mantan pegawai yang juga orang kepercayaan keluargamu, keuntungan bisa mencapai 120 juta perbulan. Kadang lebih jika sedang ramai pembeli,” Sakta Haujan berhasil berkomunikasi dengan seseorang yang difitnah oleh Alandi.
Helya mengurut pelipisnya. “Apabila sebanyak itu, sepertinya aneh kalau cuma investasi tak seberapa?”
“Karena hasil rampasan dibagi-bagi, dan bagian paling banyak dinikmati Alandi yang tengah mempersiapkan hunian nyaman, satu wilayah dengan kakaknya,” Yudis menjawab.
“Kamu harus lihat ini.”Berkas lain di dorong mendekati wanita masih sibuk memijat pelis sambil memandangi beberapa lembar foto.
Sudut mata Yudistra berkerut, bibirnya berkedut, dia menangkap kejanggalan dari menghilangkan panggilan formal, seolah sudah ada sesuatu terlewati olehnya.
Namun Yudis belum berniat bertanya apalagi menggoda, masih fokus pada pemecahan masalah serius ini.
“Jadi, status Rianti adalah anak sulung Sapto dari pernikahan pertama, dan dia seorang sarjana akuntansi, sudah memiliki keluarga yang tinggal di kampung. Lantas, motifnya setuju bermain peran apa?”
Helya meremas foto keluarga wanita yang sebelumnya diduga selingkuhan Alandi, ternyata mereka saudara kandung beda ibu.
“Butuh uang untuk tambahan modal usaha budidaya ikan air tawar yang tengah digeluti suaminya,” Yudis berucap.
“Tugas dia dalam konspirasi itu adalah; memancing emosimu, merusak suasana hati, mengacaukan pikiran jernih diganti dengan prasangka liar agar mempercepat reaksi zat berbahaya bekerja, supaya ....” Abi Sakta menatap lekat manik bergetar Helyara.
.
.
Bersambung.
sukuriiinnn..ketahuan yaaahhh..kalo habis maen kuda²an sama SiAlan....
pas ini untuk menyerang memojokkan
tapi gas tipis2 Heelll
blm waktunya membantai habis
aku suka..aku suka...
injek sekuat tenaga, Hel...
klo bisa, aku bantuin nginjeknya dah 🤭