Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Paling Bodoh di Dunia
"Ibu Ashela," panggil Elvano, kali ini suaranya terdengar lebih lembut, kehilangan nada otoriter yang biasanya ia gunakan.
Ashela tersentak, ia sedikit menunduk agar Elvano tidak melihat matanya yang berair. "I-iya, Dok?"
"Kondisi Leo cukup kompleks. Operasi yang akan saya lakukan nanti bukan sekadar menambal lubang, tapi juga merekonstruksi jalur pembuluh darah ke paru-parunya. Ini akan memakan waktu lama dan membutuhkan masa pemulihan yang disiplin," jelas Elvano. Ia berhenti sejenak, menatap Ashela yang tampak gemetar.
"Tapi saya ingin Anda tahu satu hal yaitu saya akan memberikan segalanya untuk Leo. Saya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya." seru Elvano dengan penuh tekad.
Ashela tertegun. Ia memberanikan diri sedikit mendongak, menatap mata Elvano melalui celah tipis di balik maskernya. Ada ketulusan di sana. Ada sebuah janji yang seolah-olah pribadi, bukan sekadar janji dokter kepada pasien.
"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," bisik Ashela dengan suara yang serak.
"Apakah Anda sudah makan?" tanya Elvano tiba-tiba, sebuah pertanyaan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.
Ashela menggeleng pelan. "S-saya tidak lapar, Dok." jawab Ashela gugup.
Elvano mengerutkan dahi. "Anda harus makan. Jika Anda tumbang, siapa yang akan menjaga Leo setelah operasi nanti? Leo butuh ibunya yang kuat." Elvano menoleh ke arah perawat yang berdiri di dekat pintu.
"Suster, tolong antarkan Ibu ini ke kantin staf. Katakan pada bagian katering untuk memberikan menu lengkap atas namaku. Pastikan dia makan sampai habis." ucap Elvano.
"Tidak perlu, Dok... saya bisa sendiri..." Ashela menolak dengan panik. Ia tidak ingin berhutang budi lebih banyak lagi, apalagi melalui perhatian pribadi seperti ini.
"Ini perintah medis, bukan tawaran sosial," potong Elvano dengan nada tegas namun tidak kasar.
"Silakan ikut perawat. Saya yang akan menjaga Leo selama sepuluh menit ini." serunya lagi tanpa bisa dibantah.
Ashela tidak punya pilihan selain menurut. Saat ia berjalan keluar, ia sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Elvano, sang dokter jenius yang sombong itu, kini sedang duduk di kursi kecil di samping ranjang Leo.
Pria itu tampak sedang memeriksa monitor dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan kaku yaitu seolah tidak terbiasa namun tulus mengusap tangan kecil Leo.
Setelah Ashela pergi, Elvano kembali fokus pada data medis di hadapannya. Ia tidak memikirkan tes DNA atau hal-hal bersifat administratif.
Baginya, Leo adalah teka-teki medis yang harus ia pecahkan. Penyakit Leo adalah tantangan intelektual sekaligus emosional yang belum pernah ia temui.
Ada sebuah anomali pada katup trikuspid Leo yang sangat jarang terjadi. Elvano terus memutar model 3D jantung Leo di tabletnya, mencoba mencari celah untuk sayatan yang paling minim risiko. Ia begitu tenggelam dalam pikirannya hingga ia tidak menyadari Yudha masuk ke ruangan.
"Dokter, Anda melewatkan rapat dewan direksi pagi ini." bisik Yudha hati-hati.
"Batalkan semuanya," jawab Elvano tanpa menoleh. "Katakan pada mereka aku sedang menghadapi kasus rujukan kritis yang tidak bisa ditinggalkan."
"Tapi Dokter, ini hanya satu pasien hibah..." ucap sang asisten terpotong melohat tatapan Tuan nya itu.
Elvano mendongak, matanya berkilat tajam yang membuat Yudha segera bungkam.
"Pasien ini bukan hanya. Dia adalah prioritas utamaku sekarang. Ada sesuatu pada anak ini, Yudha... aku merasa jika aku gagal menyelamatkannya, aku akan kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah bisa kukembalikan seumur hidupku." tegas Elvano entah mengapa dia begitu tidak suka dengan ucapan Yudha tadi.
Yudha terdiam. Ia belum pernah melihat Elvano seobsesif ini pada seorang pasien sejak bertahun-tahun lalu. Ia melihat bagaimana Elvano terus-menerus menyesuaikan dosis obat di layar monitor Leo dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia.
Sore harinya, Elvano kembali ke bangsal Leo setelah menyelesaikan satu operasi ringan lainnya. Ia melihat Ashela sedang duduk di lantai di samping tempat tidur Leo, tertidur dengan posisi duduk dan kepala bersandar di tepi ranjang. Wanita itu tampak sangat kelelahan.
Elvano berdiri diam di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu. Ia melihat ketegaran seorang ibu yang tidak memiliki apa-apa selain anaknya. Muncul rasa hormat yang mendalam di hati Elvano.
Selama ini ia dikelilingi oleh orang-orang yang mengejar harta dan jabatan, namun wanita di depannya ini sedang berjuang untuk sesuatu yang jauh lebih murni.
Ia mendekat dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Ashela. Ia mengambil selimut cadangan dari lemari medis dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyampirkannya ke bahu Ashela.
Ashela sedikit bergerak dalam tidurnya, namun tidak terbangun. Ia menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Elvano sedikit membungkuk, mencoba mendengar.
"Maaf... maafkan aku..." gumam Ashela dalam mimpinya.
Elvano mengernyit. Maaf untuk apa? Mengapa wanita ini tampak membawa beban rasa bersalah yang begitu besar? Namun, ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain. Ia hanya ingin fokus pada kesembuhan Leo.
Ia menatap wajah Leo sekali lagi. Di bawah cahaya lampu sore yang temaram, kemiripan itu semakin tidak masuk akal. Hidung itu, garis bibir itu... Elvano merasa seolah ia sedang melihat dirinya sendiri yang sedang sakit.
'Aku tidak tahu siapa ayahmu, Leo.' batin Elvano sambil menatap bocah itu.
'Tapi dia adalah pria paling bodoh di dunia karena telah meninggalkanmu dan ibumu yang sehebat ini. Jika aku adalah ayahmu, aku tidak akan pernah membiarkan kalian menderita di tempat sejauh itu.' gumamnya dalam hati.
Tanpa ia sadari, tangannya mengepal. Ada amarah yang muncul terhadap pria anonim yang telah meninggalkan Ashela dan Leo. Sebuah amarah yang ironis, karena ia tidak tahu bahwa pria bodoh yang ia maki dalam hati itu adalah dirinya sendiri.
Elvano akhirnya berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah yang mantap. Besok adalah hari penentuan. Ia akan melakukan operasi besar itu. Ia akan mempertaruhkan reputasinya sebagai dokter jenius demi nyawa bocah dari Sukabumi ini.
Bukan karena Leo adalah darah dagingnya bahkan dia belum tahu tentang kebenarannya, tapi karena ada sebuah ikatan batin yang telah menarik jiwanya yang dingin kembali ke permukaan kemanusiaan melalui kehadiran seorang anak bernama Leonardo.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
Sampai di bab ini, bagaimana ceritanya nihhhh?
Seru gak yaaaa, boleh komen.
Jangan lupa follow akun author ya biar kalian tidak ketinggalan sama cerita-cerita author lainnya, Favoritkan cerita ini, vote, binatang nya juga yaaaaa.
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa biar tambah semangat buat nulisnya yaaaa
...🥕🥕🥕...
...JANGAN LUPA FOLLOW...
...IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
kok el gk peka,atau ingin mencari tau siapa leo sebenarnya...😡
karna biasanya perempuan menggunakan logika dari pada perasaan...
asyilla cobalah menggunakan hati mu untuk leo
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...