Qiarra dan Queen Gallagher adalah kembar identik yang sangat dekat satu sama lain. Hingga mereka berusia 25 tahun, dan sudah menjadi dokter, salah satu rekan bisnis opanya ingin menjodohkan cucunya dengan salah satu dari si kembar. Sang cucu bernama Jupiter Samudra Prawira jatuh cinta dengan Qiarra tapi Queen lah yang jatuh cinta pada Samudra. Saat menikah, Queen menggantikan Qiarra yg tidak mencintai Samudra. Usai pernikahan, Qiarra terbang ke Hokkaido dan menjadi dokter di desa nelayan disana. Qiarra tidak mau Samudra mencarinya dan memakai nama depannya, Nabila. Di desa itu Qiarra bertemu dengan nelayan bernama Kaito Yamada yang tidak suka melihat gadis bule tapi jago bahasa Jepang itu menjadi dokter disana. Dua orang keras kepala itu akhirnya jatuh cinta.
Sementara Samudra merasa dibohongi karena bukan Qiarra yang menikah dengannya, marah besar. Samudra hendak menceraikan Queen tapi gadis itu meminta agar mereka menikah selama enam bulan dulu.
Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkuak
Qiarra membaca tawaran bekerja di Jepang, membuatnya penasaran. Sudah lama dirinya ingin pergi dari London karena ingin suasana baru dan tidak tergantung dengan keluarganya.
"Kamu kenapa?" tanya Queen sambil duduk di sebelah Qiarra.
"Ada tawaran kerja di Jepang. Aku pengen kesana," jawab Qiarra.
Queen mengernyitkan dahinya. "Kamu mau ke .... Jepang?"
Qiarra mengangguk. "Sekalian cari suasana baru lah."
Queen tersenyum. "Siapa tahu kamu ketemu jodoh disana."
Qiarra tertawa. "Nggak lah. Nanti modelan Opa Shohei. Plenger!"
Queen memeluk lengan Qiarra. "Kalau kamu pergi, semoga saat itu, aku sudah bersama dengan pasangan aku ya."
"Samudra?" tanya Qiarra.
Queen mengangguk. "Kamu tidak tertarik sama dia kan?"
Qiarra menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu sama dia cocok kok."
Queen tersenyum. "Memang tipe kamu seperti apa?"
Qiarra tampak berpikir. "Mirip Mas Gami kalee ya. Mas Gami itu cool ganteng dan misterius."
"Kamu suka pria Asia?" Queen tidak heran karena mereka kembar dan selera sama tapi beda karakter.
"Iya. Kalau jodohku memang orang Asia Tenggara atau Timur, ya Alhamdulillah." Qiarra menatap Queen. "Jika Samudra jodohmu, berbahagialah."
Queen mengangguk. "I will."
***
Hubungan Queen dan Samudra semakin dekat hingga akhirnya setelah tiga bulan bersama, Samudra memberanikan diri menemui Billy. Tentu saja Billy menerima dengan senang hati kedatangan Samudra.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Samudra?" tanya Billy.
"Saya ingin berhubungan serius dengan Qiarra, Oom Billy," jawab Samudra.
"Qiarra?" tanya Billy bingung. "Kamu pacaran sama Qiarra?"
"Iya Oom." Samudra menatap Billy dengan perasaan kaget. "Apa ada masalah?"
"Tunggu." Billy menghubungi Qiarra. "Sayang, kamu bisa ke ruangan Daddy?"
Tak lama Qiarra pun datang dan dia tersenyum sopan ke Samudra. "Halo Mas," sapa Qiarra menyapa Samudra seperti biasa Queen lakukan.
"Halo Qiarra. Aku sudah bertemu dengan Oom Billy. Aku mau minta izin bisa serius sama kamu," balas Samudra.
Qiarra melongo. "Bersamaku?"
"Iya. Kan kita sering bersama beberapa bulan terakhir ini dan kita menikmati hari-hari yang menyenangkan bukan?" lanjut Samudra.
Qiarra bisa meraba apa yang dimaksud Samudra. Jadi selama ini Queen memakai namaku? Samudra mengira Queen adalah aku? Apa Samudra naksir aku? Tapi Queen yang naksir dia.
Qiarra ingin mengatakan yang sebenarnya tapi dia tahu, adiknya akan patah hati dan bisa runyam karena Queen tidak sekuat dirinya.
"Mas Samudra, bolehkah aku bicara dengan Daddy dulu? Aku ada ... pasien gawat," pinta Qiarra.
"Pasien gawat?" tanya Billy bingung.
Qiarra mengangguk. "Boleh Mas Samudra. Setengah jam?"
Samudra mengangguk. "Oke. Nanti aku tunggu makan siang." Pria itu berpamitan dan Qiarra menunggu sampai Samudra pergi.
Billy menatap Qiarra yang tampak gelisah.
"Ada apa Qia?" tanya Billy.
"Daddy, bukan aku yang berkencan dengan Samudra. Tapi Queen," jawab Qiarra.
"Queen? Tapi Samudra tadi bilang kamu yang kencan dengan dia. Bahkan Samudra pengen serius sama kamu," ujar Billy bingung.
"Daddy, Samudra memang naksir aku tapi aku nggak tertarik sama dia. Queen yang naksir Samudra. Sepertinya Queen mengaku sebagai aku. Jadi Samudra mengira aku lah selama ini yang bersamanya," jawab Qiarra.
Billy pun terduduk di kursinya. "Ya Allah, kok jadi ruwet begini?"
"Daddy lebih baik bertanya pada Queen. Jujur, aku kasihan pada Samudra karena dibohongi Queen."
Billy lalu menghubungi Queen, meminta putrinya datang ke ruangannya.
***
Queen berjalan ke ruang kerja ayahnya dan melihat Samudra duduk di kursi tunggu sambil membuka laptopnya.
"Mas Samudra?" sapa Queen.
"Eh? Halo Queen. Aku baru saja bertemu dengan Qiarra di dalam," senyum Samudra.
Queen melongo. "Qiarra di dalam?"
"Iya. Kamu ada apa ke ruangan Oom Billy?"
"Dipanggil Daddy. Sebentar ya Mas." Queen pun masuk ke dalam ruang kerja Billy.
Di dalam, Billy menatap tajam ke arah Queen. "Queen, jujur sama Daddy. Apakah selama ini kamu pergi berkencan dengan Samudra Prawira memakai nama Qiarra?"
Queen memucat lalu dia menoleh ke arah Qiarra. "Apakah Mas Samudra tahu?"
"Belum," jawab Qiarra singkat.
"Queen?" Suara Billy yang dalam, membuat Queen mengkerut.
"A .. Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan Queen!" perintah Billy.
"Mas Samudra suka Qia tapi aku suka Mas Samudra. Qia bilang kalau dia tidak tertarik dan ... aku boleh mendekati Mas Samudra. Karena Mas Samudra mengira aku Qia ... Ya aku ikuti alur ...." Queen menatap takut-takut ke ayahnya.
"Kamu bisa mikir nggak sih? Itu cucu rekan bisnis Daddy dan Opa! Bagaimana jika mereka menarik dananya! Bukan soal duitnya, tapi nama baik Opa kamu!" bentak Billy.
Queen terkejut karena ayahnya yang kalem bisa marah besar.
"Kamu kok tega memainkan perasaan tulus Samudra? Mikir Queen! Bagaimana perasaannya dibohongi kamu selama ini!" lanjut Billy.
Queen menunduk sementara Qiarra tidak berani menyentuh adiknya karena sudah pasti dia kena semprot ayahnya juga. Qiarra tahu dia terlalu melindungi Queen selayaknya kakak perempuan.
"Daddy ... Aku sayang Mas Samudra," rengek Queen.
"Tapi kamu tidak jujur dari awal, Queen! Sudah begini saja, panggil Samudra. Kita harus jujur dari awal! Kalau Samudra masih mau sama kamu sebagai Queen, ya bagus. Tapi kalau Samudra menolak kamu dan tetap sama Qia, kamu harus legowo!" putus Billy.
***
"Jadi... selama ini yang selalu bertemu denganku..." suaranya bergetar. "Bukan Qiarra?"
Queen menundukkan kepala. Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung.
"Bukan," jawabnya lirih. "Itu aku."
Samudra memejamkan mata, mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantamnya.
"Kenapa?" tanyanya pelan, tetapi penuh amarah. "Kenapa kalian membohongiku?"
Queen menggigit bibirnya.
"Awalnya hanya menggantikan Qiarra sekali. Tapi setelah itu... aku tidak sanggup menghentikannya. Aku... jatuh cinta padamu."
Keheningan memenuhi ruangan.
Samudra menggeleng pelan. Semua tawa, semua kenangan, semua percakapan yang ia kira dibangun bersama Qiarra ternyata berasal dari Queen.
"Aku merasa seperti orang bodoh."
"Aku tahu." Queen menangis semakin keras. "Maafkan aku."
Samudra menatapnya lama, lalu menghela napas panjang.
"Aku memang menyukai perempuan yang kukenal selama ini. Tapi hubungan itu dibangun di atas kebohongan."
Ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Queen.
Beberapa langkah di belakang mereka, Qiarra berdiri dengan wajah datar.
Samudra mengalihkan pandangan kepadanya.
"Kalau begitu... aku akan memilihmu, Qiarra. Kaulah yang sejak awal dijodohkan denganku."
Qiarra mengangkat wajahnya. Tidak ada senyum, tidak ada rasa bahagia.
"Aku akan menerima hubungan ini."
Samudra sedikit lega. Namun kalimat berikutnya membuat dadanya sesak.
"Tapi jangan berharap aku mencintaimu."
Samudra terdiam.
"Aku melakukan ini karena kerja sama bisnis keluarga kita. Ayahku membutuhkan kemitraan dengan keluargamu. Itu saja."
"Tidak ada perasaan sedikit pun?" tanya Samudra lirih.
Qiarra menggeleng. "Tidak."
Jawaban singkat itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.
Di sudut ruangan, Queen menutup mulutnya agar isaknya tidak terdengar. Ironisnya, wanita yang benar-benar mencintai Samudra harus kehilangan pria itu, sementara wanita yang dipilih Samudra justru tidak memiliki cinta sedikit pun untuknya.
Samudra menatap Qiarra dengan tatapan kosong.
"Mungkin... seiring waktu kau akan belajar mencintaiku."
Qiarra hanya menjawab singkat. "Jangan berharap terlalu tinggi."
Ucapan itu membuat suasana semakin dingin.
Queen akhirnya berbalik meninggalkan ruangan. Setiap langkah terasa berat, seolah membawa seluruh harapan yang telah hancur. Dia sadar bahwa kebohongannya telah menghancurkan kesempatan untuk bersama pria yang dicintainya.
Sementara Samudra berdiri di antara pilihan yang telah dia buat dan kenyataan pahit yang harus dia terima yaitu memilih perempuan yang tidak mencintainya, sedangkan perempuan yang mencintainya telah kehilangan kepercayaannya. Ketiganya terjebak dalam kisah yang dipenuhi penyesalan, kewajiban, dan cinta yang datang pada waktu yang salah.
Pilihan yang sangat pelik!
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kamu pasti akan sangat menyesal Sam
Alhamdulillah semua keluarga mendukungmu queen
cepat sembuh ya queen, gapai bahagiamu lagi dengan laki-laki yang tulus menyayangimu
dukungan keluarga ke Queen smg bs menjadi penyemangat utk sembuh dan ingat hati yg gembira adalah obat
dan akhirnya keluarga pun tau Qia ada di furubira yg amaze nya mlh pada gatau itu ada di mana, sama nek aku 🤭 soale kalo di Osaka ntar gampang cepet ketahuannya 😆😆
untung aku bacanya pagi habis sarapan
coba kalo belum, bisa nggak jadi sarapan aku😭😭😭😭
kamu kuat queeny😓😓
kira kira Jodoh Queen ada yang baru atau masih Samudera yang pikirannya cupet , Mbak Hana ?