NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Hukum Rimba di Ujung Dermaga

Brak!

Benturan keras kembali mengguncang kabin Rolls-Royce hitam saat Barra sengaja menjepit bodi SUV pengejar ke arah dinding pembatas beton. Ban mobil berdecit hebat di atas aspal basah, menciptakan kepulan asap karet yang pekat di bawah guyuran gerimis. Di depan mereka, papan peringatan batas ujung dermaga barat Sentosa sudah terlihat, disusul oleh hamparan gundukan pasir darurat dan laut lepas yang gelap.

"Tahan posisi!" teriak Barra.

Dengan presisi seorang pengemudi taktis profesional, Barra memanfaatkan momentum gesekan. Tepat sebelum mobil mereka menghantam gundukan pasir dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam, ia memutar kemudi secara ekstrem dan menarik rem tangan mekanis darurat yang terhubung ke gardan belakang.

Ciiiiaaat!

Bodi belakang Rolls-Royce berputar horizontal, menghantam tumpukan pasir penahan secara menyamping. Hantaman itu meredam daya dorong secara drastis, membuat mobil mewah tersebut berhenti dengan aman di tengah gundukan pasir. Namun, mobil SUV pengejar yang terjepit di sisi luar tidak memiliki keberuntungan yang sama. Tanpa ruang untuk menghindar, SUV itu menghantam pembatas besi dengan kecepatan penuh, terpelanting di udara sebelum akhirnya jatuh terbalik di atas beton dermaga dengan suara dentuman logam yang memekakkan telinga.

Di dalam kabin belakang Rolls-Royce, Reynald perlahan melepaskan dekapannya. Ia memastikan tubuh Nadia tidak mengalami cedera sedikit pun sebelum menatap keluar jendela dengan mata elang yang dipenuhi hawa membunuh.

"Barra, amankan area," perintah Reynald dingin sembari membuka pintu mobil.

Nadia melangkah keluar di samping Reynald, merapikan blazernya yang sedikit kusut. Angin laut yang dingin menerpa rambutnya, namun tatapannya jauh lebih dingin saat melihat asap mengepul dari mobil SUV yang terbalik beberapa meter di hadapan mereka.

Dua orang pria berbaju hitam merangkak keluar dari pecahan kaca mobil SUV dengan tubuh yang berdarah-darah. Sebelum mereka sempat meraih senjata yang terjatuh di atas beton, moncong pistol taktis milik Barra sudah terlebih dahulu mengunci kening mereka.

"Jangan bergerak jika Anda masih ingin melihat matahari besok pagi," ucap Barra dengan nada tanpa emosi.

Reynald melangkah mendekati salah satu eksekutor yang mengerang kesakitan, lalu menginjak dadanya dengan sepatu pantofel mahalnya hingga pria itu terbatuk darah. "Siapa yang menyuruh kalian? Arthur Chen?"

Pria itu bungkam, menahan sakit dengan rahang mengetat. Nadia berjalan mendekat, menatap sang eksekutor dari atas dengan senyuman miring yang sangat kejam. Ia berjongkok, lalu mengambil ponsel milik eksekutor yang tergeletak di atas beton. Layarnya masih menampilkan panggilan aktif dengan kontak bernama 'C-Global Management'.

Nadia menekan tombol pengeras suara, lalu mendekatkan ponsel itu ke mulutnya. "Tuan Chen, jika Anda ingin melenyapkan seseorang, pastikan Anda menyewa orang yang memiliki kompetensi lebih tinggi daripada sistem pengereman mobilku."

Hening sejenak di seberang telepon, sebelum terdengar helaan napas berat dari Arthur Chen. "Nona Chelsea... Anda benar-benar penuh dengan kejutan. Tapi ini Singapura, dan kecelakaan kecil di dermaga tidak akan mengubah hasil tender besok pagi."

"Oh, tentu saja akan mengubahnya, Tuan Chen," balas Nadia dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk. "Saat kita berbicara sekarang, tim IT siber Reynald Group bersama otoritas kepolisian Singapura sedang menggerebek peladen cadangan perusahaan Anda atas bukti sabotase siber dan percobaan pembunuhan terencana. Rekaman CCTV di lobi aula konvensi saat orangmu memotong selang rem kami... sudah berada di tangan Kejaksaan Agung Singapura."

Mendengar hal itu, suara napas di seberang telepon seketika menegang. "Kau... kau menjebakku sejak awal?!"

"Dunia ini adalah papan catur, Tuan Chen. Dan Anda baru saja melangkah ke dalam kotak eksekusiku," ucap Nadia dingin sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Ia melempar ponsel tersebut ke laut, membiarkannya tenggelam bersama sisa-sisa rencana kotor Arthur.

Suara sirine mobil polisi Singapura perlahan mulai terdengar membelah keheningan dermaga dari kejauhan. Barra dengan cepat memborgol kedua eksekutor tersebut untuk diserahkan sebagai bukti hukum yang sah.

Reynald berbalik menatap Nadia, lalu menarik pinggang gadis itu mendekat ke dalam pelukannya. Rasa cemas yang sempat ia sembunyikan kini menguap, digantikan oleh rasa kagum yang teramat dalam. "Taktik yang luar biasa, Chelsea. Kamu benar-benar membiarkan dirimu menjadi umpan hanya untuk mendapatkan bukti hukum mutlak demi menumbangkan kekuasaan Arthur dalam satu malam."

Nadia menyandarkan telapak tangannya di dada bidang Reynald, menatap kerlip lampu pelabuhan yang kini terasa seperti miliknya. "Di duniaku yang lama, aku belajar bahwa untuk menangkap monster, kita harus berpura-pura menjadi mangsa yang lemah. Arthur Chen sudah selesai. Besok pagi, Kirana-Latief Group secara resmi akan mengumumkan kemenangan tender internasional ini."

Reynald mengecup bibir Nadia sekilas dengan kehangatan posesif yang penuh janji. "Dan besok malam, kita akan kembali ke rumah untuk merayakan kemenangan mutlakmu, Tunanganku."

Nadia tersenyum menawan, meresapi kemenangan internasional pertamanya. Namun, di balik rasa puas tersebut, matanya melirik ke arah kegelapan laut. Ia tahu, Arthur Chen hanyalah pion besar di luar negeri. Misteri tentang The Watcher yang mengirimkan pesan teks peringatan dan syal biru di kamarnya masih menjadi teka-teki besar yang harus ia pecahkan begitu ia menginjakkan kaki kembali di tanah air.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!