Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Xin Lan tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Sebuah prasasti besar menjulang, diukir dengan nama-nama pahlawan Sekte Teratai.
Xin Lan mendekat, matanya menyusuri barisan nama yang paling ingin ia temukan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya menemukan nama Liu Mei Lan terukir di salah satu sudut prasasti.
Air mata mulai menetes di pipi Xin Lan, membasahi debu yang menempel di wajahnya. Ia menyentuh nama ibunya dengan lembut, merasakan setiap lekukan huruf yang terukir di batu. Dengan hati yang bergetar, ia berlutut di depan prasasti itu.
"Ibu," kata Xin Lan dengan suara lirih, nyaris tak terdengar ,tercekat oleh emosi yang meluap-luap.
"Nona..."Tetua Jiang menunjuk sesuatu arah.
Xin Lan kembali tertegun, Melihat Sederet makam dengan nama yang terlihat familiar.
Xin Lan berjalan perlahan menuju makam keluarganya , yang terletak tidak jauh dari altar. Langkahnya terasa berat, Ia langsung berlutut di samping makam ibunya.
"Kami sudah mengevakuasi jenazah keluarga Liu setelah pembantaian," kata Tetua Jiang dengan nada hormat. "Namun, sayangnya, kami tidak menemukan tubuh Jenderal Liu dan bayi yang baru dilahirkan."
"Bayi?" tanya Xin Lan, dahinya berkerut.
"Iya, Nona Muda," jawab Tetua Jiang. "Jenazah Nona Liu Mei ditemukan di tengah puing-puing kediaman Marquis Liu yang terbakar. Dan..., dilihat dari kondisinya, Liu Mei baru saja melahirkan."
"Itu aku..." Spontan Xin Lan dengan lirih.
"Ya?" Tetua Jiang tampak bingung.
"Bayi yang lahir tepat saat tragedi pembantaian Keluarga Liu 18 tahun yang lalu itu aku," ucap Xin Lan sambil tersenyum, air mata masih membasahi pipinya.
"Ah... Ma... maafkan aku, Nona, aku tidak tahu," kata Tetua Jiang dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa," jawab Xin Lan. "Lagipula, seharusnya aku berterima kasih kepada kalian karena sudah memperlakukan keluargaku dengan sangat baik, bahkan di saat-saat terakhir hidup mereka."Ucap Xin Lan sambil mengusap Batu nisan Ibunya.
Tetua Jiang terdiam melihat nya.
"Sudah hampir malam ya...Sepertinya kita harus kembali," kata Xin Lan dengan nada berjanji, menatap makam keluarganya dengan penuh kasih.
Saat Xin Lan berbalik dan melangkah pergi, Tetua Jiang dan pamannya tiba-tiba melihat siluet Liu Mei Lan yang tersenyum lembut, seolah mengawasi putrinya dari kejauhan. Mereka berdua terdiam, terpaku oleh pemandangan itu.
Kenangan masa lalu tiba-tiba menyeruak dalam ingatan Tetua Jiang.
Flashback on.
"Shijie!" sahut Tetua Jiang Muda yang kala itu berusia 9 tahun bersemangat berlari menghampiri Guru sekaligus seniornya, memecah keheningan di antara mereka. "Saat anak ini lahir, bukankah seharusnya dia memanggilku paman seperguruan?" Matanya berbinar-binar membayangkan kehadiran seorang keponakan seperguruan yang bisa ia ajak bermain dan mengajari ilmu bela diri. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana ia akan memanjakan anak itu dengan berbagai hadiah.
paman Qin langsung memukul pelan kepala juniornya tersebut "Kau ini, Xiao Jiang, kakak ku itu ketua sekte!, seharusnya kau memanggilnya Nona besar! " ujarnya sambil menggelengkan kepala dengan senyum lembut sembari mencubit pipi Tetua Jiang dengan gemas, membuat pipinya semakin merona.
Feng Tianming, yang berdiri di samping Liu Mei Lan, merasa sedikit cemburu melihat keakraban istrinya dengan para juniornya. Ia merangkul Liu Mei Lan dengan posesif, seolah tidak ingin ada yang merebut perhatiannya. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan sayang, menunjukkan kepemilikannya. "Sudahlah, Mei'er, jangan terlalu menggoda mereka," ujarnya dengan nada bercanda, meskipun ada sedikit nada serius di dalamnya. "Nanti muridmu ini jadi lupa dengan latihannya dan malah mengejarmu."
"Aiya, Tianming, kau ini cemburu rupanya," goda Liu Mei Lan sambil mencubit pinggang suaminya.
"Siapa bilang aku cemburu?" elak Feng Tianming, meskipun wajahnya sedikit memerah.
Paman Liu yang umurnya sudah menginjak Remaja, ikut tertawa melihat tingkah laku pasangan itu. Ia merasa senang melihat kebahagiaan Liu Mei Lan dan Feng Tianming. Ia tahu bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan saling melengkapi, Walaupun ia terkadang masih tidak rela jika kakaknya menikahi pria tersebut.
Saat itu, langit sore berwarna jingga, menciptakan pemandangan yang indah dan menenangkan. Angin sepoi-sepoi bertiup lembut, membawa aroma bunga-bunga yang bermekaran di taman. Suasana di sekitar mereka terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Mereka berempat duduk bersama di bawah pohon rindang, menikmati kebersamaan dan saling berbagi cerita.
Liu Mei Lan tersenyum, tangannya mengelus perutnya yang mulai membesar. "Aku sangat bahagia dan bersemangat menyambut si kecil ini. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan."
Tetua Jiang mendekat dengan rasa ingin tahu.
"Xiao Jiang Kemarilah ,tempelkan tanganmu di sini." Ia menuntun tangan Tetua Jiang ke perutnya.
Setelah beberapa saat, Tetua Jiang merasakan sesuatu. "Ah! Aku merasakannya! Ada gerakan kecil di dalam sini!" serunya antusias.
Mendengar itu, Feng Tianming tiba-tiba menyahut dengan nada bangga, "Bagaimana?! Itu adalah hasil kerja kerasku!"
Seketika, wajah Liu Mei Lan memerah karena malu. Ia langsung memukul lengan suaminya. "Apa yang sedang kau katakan didepan Anak kecil!" bentaknya, berusaha meredam suaranya.
Feng Tianming meringis kesakitan sambil mengusap lengannya. "Aduh! Aku hanya bercanda, Sayang," ucapnya membela diri.
Paman Liu hanya bisa tersenyum canggung melihat interaksi pasangan itu. Mereka merasa sedikit salah tingkah, tetapi juga senang bisa berbagi momen bahagia dengan senior mereka.
Melihat yang hubungan mereka tampak kikuk, Paman Liu langsung berusaha mencairkan suasana.
"Ah, Kakak, Bagaimana keadaan Xiao Xinyu? Kenapa dia tidak ikut?"Tanya Paman Qin.
"Putraku sudah mulai mengikuti kelas, Jadi dia tidak bisa ikut"Ucap Feng Tianming.
Suasana kembali hangat dan akrab. Mereka melanjutkan obrolan tentang persiapan menyambut bayi, berbagi pengalaman, dan memberikan saran-saran yang berguna. Tetua Jiang merasa senang bisa menjadi bagian dari momen penting dalam kehidupan seniornya.
Flashback off
Kenangan itu terasa begitu indah dan menyakitkan pada saat yang bersamaan. Paman Qin dan Tetua Jiang merasa menyesal karena tidak bisa melindungi Liu Mei Lan dari bahaya.
Namun, mereka juga merasa lega karena bayi itu ternyata masih hidup dan sekarang telah kembali ke Sekte Teratai. Mereka berharap Xin Lan bisa membawa kembali kejayaan sekte ini, dan Mereka berjanji akan melakukan segala yang mereka bisa untuk membantu dan melindungi Xin Lan.
....
Setelah Xin Lan mengucapkan janji akan kembali lagi mengunjungi makam ibunya, ia kemudian berdiri tegak, menghapus air matanya dan berbalik meninggalkan makam keluarga Liu walaupun sesekali menoleh seolah tidak tega meninggalkan tempat itu. Paman Qin lantas menepuk pelan punggung atas Xin Lan sambil tersenyum , Xin Lan hanya membalasnya dengan senyum tipis.
suasana hening menyelimuti mereka. Pikiran Xin Lan masih dipenuhi dengan kenangan keluarganya yang telah tiada.
Tiba-tiba, Tetua Jiang yang bersemangat, memecah keheningan. "Nona Xin," panggilnya dengan nada riang, "mmm, Karena Anda adalah putri dari Liu Mei Lan Shijie, bukankah seharusnya kau memanggil ku paman seperguruan?" Matanya berbinar-binar membayangkan Xin Lan memanggilnya paman, merasa seperti mendapatkan keponakan baru.
Xin Lan tertegun mendengar ucapan Tetua Jiang. Pikirannya kosong seketika. Memanggil Pria besar ini paman? Itu terasa sangat aneh dan canggung. Ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini.
"Te...tetua Jiang ingin aku memanggil anda paman?" ucap Xin Lan dengan nada ragu, wajahnya memerah padam. Ia merasa seperti lidahnya kelu, sulit untuk mengucapkan kata itu. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Paman Qin hanya tersenyum melihat reaksi Xin Lan. Ia tahu bahwa hal ini pasti terasa aneh bagi Xin Lan, yang baru saja mengetahui identitasnya dan bertemu dengan mereka.
Xin Lan tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju pintu keluar makam.
Tetua Jiang menoleh kearah Paman Qin dengan ekspresi lucu. Paman Qin hanya menepuk jidatnya, merasa malu dengan kelakuan Juniornya ini, Ia tidak menyangka Tetua Jiang yang dikenal akan ketegasannya ternyata bisa juga bertingkah seperti anak kecil yang merengek.
"Sepertinya kau terlalu bersemangat," kata Paman Qin dengan sedikit menahan tawa.
"Sepertinya begitu," jawab Tetua Jiang sambil menggelengkan kepala. "Apa aku harus lebih sabar."
Tetua Jiang tidak henti-hentinya mengikuti Xin Lan dari belakang, menjaga jarak. Paman Qin memberitahu ke Tetua Jiang agar memberi Xin Lan waktu dan ruang untuk memproses semua ini. Namun Tetua Jiang masih terus berharap bahwa suatu hari nanti, Xin Lan akan memanggil nya Paman!
Saat mereka berjalan menuju pintu keluar makam, Xin Lan melihat kembali ke arah prasasti nama-nama pahlawan Sekte Teratai. Ia menatap nama ibunya, Liu Mei Lan, dengan tatapan penuh kasih sayang.
...
Sudah seminggu berlalu Namun Kekacauan kecil terus terjadi di Sekte Teratai.
"Ayolah, Xin'er," bujuk Tetua Jiang dengan nada merengek, "Panggil aku paman! Sekali saja, kumohon!" Ia memasang wajah puppy eyes, berharap Xin Lan akan luluh dengan kelucuannya.
Xin Lan langsung menarik tangannya dengan kasar, memasang ekspresi jijik yang kentara. "Aku sudah bilang aku tidak mau!" bentaknya, suaranya terdengar tajam dan menusuk. Ia mundur beberapa langkah, menjauhi Tetua Jiang.
Xin Lan hanya terdiam, memasang ekspresi wajah tidak nyaman dan tidak suka. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang kasar. Ia merasa sangat risih dengan permintaan Tetua Jiang.
"Lihatkan!" seru Tetua Jiang dengan nada riang, menunjuk Xin Lan dengan jari telunjuknya. "Dia semakin mirip dengan Mei Shijie saat cemberut seperti ini." Ia tertawa kecil, merasa gemas dengan ekspresi Xin Lan.
"Benar juga," timpal Tetua Li sambil tersenyum. "Ekspresinya sangat mirip dengan Senior saat ia sedang kesal." Ia menggelengkan kepala, merasa heran dengan kemiripan antara Xin Lan dan ibunya.
Xin Lan semakin merasa tidak nyaman mendengar godaan kedua tetua itu. Ia merasa seperti sedang menjadi bahan lelucon. Ia membuang muka, tidak ingin melihat wajah mereka. Ia merasa ingin segera pergi dari tempat ini.
Melihat Xin Lan yang semakin tidak nyaman, Tetua Jiang tidak menyerah. Ia justru semakin bersemangat untuk menggoda Xin Lan. Ia merasa gemas dengan ekspresi wajah Xin Lan yang cemberut dan kesal.
"Ayolah! Bayi kecilku! Panggil aku paman!" teriak Tetua Jiang yang masih bersemangat, mengejar Xin Lan yang berjalan semakin cepat. Ia melompat-lompat kecil, berusaha meraih tangan Xin Lan.
"Tidak!!!" teriak Xin Lan sambil berlari kecil, berusaha menjauhi Tetua Li, Ia merasa geli dan kesal dengan tingkah laku Tetua Jiang yang kekanak-kanakan.
Xin Lan , Menggunakan teknik langkah angin untuk menghindari Tetua Jiang.
Aksi kejar-kejaran kecil pun terjadi di sepanjang jalan sekte teratai, Xin Lan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari Tetua Jiang, sementara Tetua Jiang terus mengejarnya dengan semangat yang tak kunjung padam.
paman Qin hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah laku kedua orang itu. Ia merasa heran dengan energi Tetua Jiang yang seolah tidak ada habisnya. Ia juga merasa kasihan pada Xin Lan yang terus-terusan digoda oleh Tetua Jiang.
Para murid-murid Sekte Teratai yang berpapasan dengan mereka terbungkam melihat tingkah laku kedua tetua mereka yang dikenal tegas dan berwibawa. Mereka tidak percaya bahwa kedua tetua itu bisa bertingkah selucu dan seramai itu. Mereka saling bertukar pandang dengan ekspresi terkejut dan bingung.
"Terjadi lagi ya?" bisik seorang murid kepada temannya.
"Sepertinya aku sudah mulai terbiasa." jawab temannya sambil mengangkat bahu.
"Bukankah ini sudah seminggu ?" tanya murid yang lain dengan nada heran.
"Sepertinya semenjak kedatangan Nona Xin Lan, Para tetua terutama tetua Jiang menjadi orang yang berbeda ya." jawab temannya sambil menunjuk ke arah Xin Lan yang sedang berlari menghindari Tetua Jiang.
Para murid-murid itu sudah mengetahui bahwa Xin Lan adalah putri Ketua terdahulu . Mereka sudah mulai terbiasa Dengan tingkah para tetua mereka yang bisa bertingkah seperti itu saat bertemu Xin lan.
"Apa Nona Liu menolak lagi memanggil kedua Tetua itu paman?" tanya seorang murid dengan nada penasaran.
"Yah seperti biasanya." jawab temannya.
Sementara itu, aksi kejar-kejaran antara Xin Lan dan Tetua Jiang semakin seru. Xin Lan terus berlari dan menghindar, sementara Tetua Jiang terus mengejarnya sambil berteriak-teriak.
" Xin'er! Jangan lari dariku!" teriak Tetua Jiang dengan nada memohon. "Panggil aku paman sekali saja! Kumohon!"
"Tidak akan!" jawab Xin Lan dengan nada tegas. "Aku tidak akan pernah memanggilmu paman!"
Paman Qin menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Ia merasa lelah melihat tingkah laku juniornya itu.
.....
"Xin Lan! Panggil aku Paman sekali saja!"
Xin Lan menggigit bibirnya. 'Paman'? Tidak akan pernah! Tetua Jiang memang dikenal ambisius, tetapi ini sudah keterlaluan. Ia mempercepat larinya, matanya liar mencari jalan keluar. Karena terlalu fokus menghindari kejaran itu, ia tidak melihat sosok yang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!
Xin Lan kehilangan keseimbangan dan menabrak seseorang dengan keras. Ia jatuh terduduk, hidungnya terasa nyeri. "Aduh..." rintihnya pelan.
"Ma, maafkan aku! Aku—" Ucapan Xin Lan terhenti saat ia mendongak.
Di hadapannya berdiri seorang pria mengenakan Jubah berwarna hitam dengan sulaman biru yang rumit, menandakan statusnya yang tinggi. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan mata setajam elang. Pria itu menatapnya dengan ekspresi dingin.
Mata mereka bertemu.
Sesaat, waktu seolah berhenti.
.....
lanjut thor