Arabelle Vasillo kabur dari rumah demi membuktikan bahwa dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan keluarga. Dengan waktu satu tahun sebagai taruhan, ia membuka warung sarapan sederhana dan berusaha menjalani hidup biasa.
Namun, hidup tenangnya berakhir saat tanpa sengaja memecahkan kaca mobil Nathan Pradipta Anderson, seorang duda kaya dan berpengaruh yang memiliki tiga anak super nakal, Elang, Theo, dan Alya.
Dari satu kesalahan kecil, Arabelle justru terjebak dalam kehidupan keluarga Anderson yang penuh kekacauan, rahasia, dan konflik. Bisakah Arabelle bertahan menghadapi duda dingin dan tiga anak nakalnya, atau justru mereka akan mengubah hidupnya selamanya?
"Menikah denganku dan jadi ibu tiri dari ketiga anakku, maka hutangmu ku anggap lunas,"
Arabelle, hanya tersenyum menanggapi ucapan Nathan, tetapi Arabelle justru tak punya pilihan lain, semenjak hidup mandiri semua kartunya dan fasilitasnya telah dia serahkan pada keluarganya.
"Oke, deal! Setahun tidak lebih!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Waktu berlalu cukup cepat. Jam dinding ruang keluarga kini menunjukkan pukul empat sore. Rumah Anderson yang sebelumnya penuh kekacauan akhirnya kembali bersih.
Lantai mengilap, tepung sudah tidak terlihat. Genangan air sudah hilang, dan tiga pelaku utamanya terlihat kelelahan. Theo menjatuhkan pel ke sudut ruangan.
"Akhirnya selesai..."
"Aku mau tidur." Keluh Alya.
Elang bahkan tidak menjawab. Ia langsung berjalan menuju sofa empuk yang selama ini menjadi tempat favoritnya.
Theo dan Alya mengikuti. Ketiganya hampir bersamaan menjatuhkan tubuh ke sofa.
"Berhenti!" Suara Arabelle menggema. Ketiganya langsung membeku di tempat. Theo memejamkan mata, Elang memijat pelipis.
Alya mendongak ke langit-langit.
"Apa lagi sekarang?"
Ara berdiri tidak jauh dari mereka sambil melipat kedua tangannya. Tatapannya pertama tertuju pada Theo.
"Kamu!"
Theo langsung curiga.
"Apa?"
Ara menunjuk bajunya.
"Bajumu basah,"
Theo melihat dirinya sendiri. "Oh iya."
Ia masih setengah basah karena insiden ember tadi.
"Terus?"
"Pergi mandi,"
Theo langsung mengeluh. "Aku capek."
"Mandi!"
Nada Ara tidak berubah. Lalu jarinya berpindah ke Alya.
"Dan kamu..."
Alya langsung mengernyit.
"Aku kenapa?"
"Kamu masih penuh tepung."
Alya melihat bajunya dan memang masih ada sisa tepung di sana-sini.
"Pergi mandi,"
Lalu Ara menoleh ke Elang.
"Dan kamu juga."
Elang mengangkat alis.
"Aku?"
"Iya."
"Aku tidak terkena apa-apa."
Ara menunjuk bajunya.
"Ada debu, pergi mandi."
Ara lalu melanjutkan, "Semuanya harus mandi..."
Ketiganya diam.
"Pelayan akan menyiapkan makan malam. Dan sebelum mandi..." Ara menunjuk tangga.
"Tidak ada yang keluar kamar. Kalian mengerti?"
Theo langsung mengangkat tangan.
"Tidak,"
Elang menutup wajahnya. Sementara Alya mendesah panjang. Kemudian Elang akhirnya bersuara.
"Kenapa sih?"
Ara mengangkat alis.
"Kenapa apa?"
"Kenapa kamu suka sekali mengatur-ngatur kami?" Nada suara Elang jelas menunjukkan kejengkelannya. Theo dan Alya langsung mengangguk setuju.
Ara justru tertawa kecil dan kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya, kamu."
Ara tersenyum manis.
"Namaku Arabelle."
Mereka bertiga diam.
"Umur dua puluh tujuh tahun. Dan sekarang..."
Ara melirik Mohan. "Pak Mohan."
Mohan yang sedari tadi menonton langsung mengerti. Ia mengeluarkan sebuah buku kecil dari map yang dibawanya.
Lalu memperlihatkannya.
"Buku nikah."
Mata Theo membelalak, Alya membelalak dan Elang membelalak.
Ara melanjutkan dengan santai.
"Aku sekarang ibu tiri kalian."
Lalu Theo bergumam pelan.
"Ayah benar-benar membawa monster ke dalam rumah."
"Apa katamu?" Ara langsung menoleh.
Theo membeku.
'Sial! kedengaran!'
Ara menyipitkan mata. Kemudian tersenyum tipis.
"Kamu..."
Theo langsung mundur selangkah.
"Kamu yang menyumpahiku sial tujuh turunan, kan?"
Wajah Theo langsung berubah, Ara menunjuk dirinya sendiri.
"Sekarang..." Lalu menunjuk Theo.
"Kamu akan menikmati karmamu."
Theo langsung panik.
"Ayah!" Teriaknya keras. "Aku nggak mau wanita gi—"
Elang langsung menutup mulut Theo sebelum kalimat itu selesai. Mata Elang membelalak, Theo meronta-ronta.
"Mmmmphhh!"
Ara mengernyit curiga.
"Dia mau bilang apa?"
Elang tersenyum kaku.
"Tidak ada."
Theo masih berusaha melepaskan diri.
"Mmmphhh!"
"Tidak ada." Ulang Elang cepat.
Kemudian ia menyeret Theo menuju tangga.
"Ayo mandi,"
Theo masih mencoba berontak.
"Mmmmphhh!"
"Mandi..."
"Kak!" Panggil Alya.
"Mandi, Alya."
"Kak Elang!"
"Mandi!"
Alya yang melihat itu langsung memilih jalan aman.
"Aku mandi sendiri." Lalu gadis itu buru-buru naik ke lantai dua. Takut menjadi korban berikutnya.
Dalam hitungan detik, ruang keluarga mendadak sepi. Hanya tersisa Arabelle dan Mohan.
Mohan memperhatikan tangga yang baru saja dilalui ketiga bersaudara itu. Lalu menatap Ara.
"Nyonya Ara."
"Hm?"
"Saya rasa Tuan Nathan akan segera pulang."
Ara mengangguk santai.
"Bagus."
Mohan tersenyum tipis. "Tuan pasti senang melihat rumah setenang ini."
Ara tertawa kecil, sementara di lantai atas Theo masih berteriak dari balik tangan Elang.
Ketiga anak Anderson merasa kedatangan ibu tiri baru mungkin adalah awal dari bencana yang sesungguhnya. Arabelle memperhatikan tangga yang baru saja dilewati ketiga anak tirinya.
Ara langsung menggeleng pelan.
"Dasar anak-anak manja."
Mohan yang mendengar itu hanya tersenyum tipis. Selama bertahun-tahun bekerja untuk Nathan, ia belum pernah melihat ada orang yang berani berbicara seperti itu tentang Elang, Theo, dan Alya. Biasanya orang-orang justru segan pada mereka.
Namun, Arabelle berbeda Mohan melihat jam tangannya.
"Nyonya Ara."
"Hm?"
"Saya harus menjemput Tuan Nathan."
Ara mengangguk. "Silakan..."
"Sampai nanti."
"Sampai nanti, Pak Mohan."
Tak lama kemudian Mohan meninggalkan rumah. Kini Arabelle berdiri sendirian di ruang keluarga. Beberapa pelayan berdiri mematung, mereka masih belum tahu harus bersikap seperti apa kepada istri baru majikan mereka.
Ara menatap mereka.
"Kalian sudah mulai menyiapkan makan malam?"
Salah satu pelayan menggeleng.
"Belum, Nyonya..."
Ara langsung berpikir sejenak, lalu berkata,
"Kalau begitu saya yang tentukan menunya."
Para pelayan langsung saling pandang. Biasanya menu ditentukan koki atau Nathan. Namun, kini mereka mengangguk.
"Baik, Nyonya..."
Ara mulai menyebutkan satu per satu.
"Nasi, ikan dan sayur,"
Para pelayan terdiam, Ara mengernyit.
"Kenapa?"
Salah satu pelayan berdehem.
"Ehm..."
"Katakan apa yang salah ..."
"Tuan muda dan Nona muda tidak terlalu suka sayur."
Ara langsung mengangkat alis.
"Tidak suka?"
Pelayan itu mengangguk.
"Tuan Theo biasanya memilih daging."
"Tuan Elang juga..."
"Nona Alya sering tidak menghabiskan sayurnya."
Ara terdiam beberapa detik. Lalu berkata santai,
"Pantas..."
Para pelayan bingung.
"Pantas apa, Nona?"
Ara menyandarkan tubuh ke sofa.
"Pantas bodoh semua."
Para pelayan langsung membeku, mulut mereka terbuka. Namun tidak ada yang berani menjawab.
Ara melanjutkan tanpa rasa bersalah.
"Sayur itu penting. Vitamin penting. Otak juga perlu nutrisi."
Para pelayan buru-buru menunduk. Takut ketahuan menahan tawa.
Ara menunjuk ke arah dapur.
"Siapkan sayur bayam bening."
Salah satu pelayan langsung pucat.
"Nyonya..."
"Hm?"
"Tuan Elang sangat membenci bayam."
Ara mengangkat alis.
"Lalu?"
"Terakhir kali kami membuat bayam..."
Pelayan itu menelan ludah.
"Tuan Elang tidak makan malam."
Ara tampak tidak terkesan.
"Oh..."
Pelayan itu berharap Ara berubah pikiran. Namun harapan itu langsung hancur.
"Kalau begitu masak lebih banyak."
Para pelayan membeku.
"Nyonya..."
"Bayam bening..."
"Tapi—"
"Bayam,"
"Tuan Elang—"
"Bayam," ulang Ara tidak mau dibantah.
Pelayan itu menyerah. Ara kemudian menunjuk dapur.
"Cepat..." Nada suaranya tidak keras.
"Cepat!" Teriak Ara saat melihat pelayan masih diam.
Kali ini seluruh pelayan langsung tersentak.
"Baik, Nyonya!"
Mereka buru-buru berlari menuju dapur. Dalam hitungan detik dapur yang tadinya tenang langsung ramai. Ara memperhatikan mereka pergi. Lalu duduk santai di sofa, tanpa mengetahui bahwa di lantai dua Elang baru saja selesai mandi tidak tahu kalau ibu tirinya sedang menyiapkan makan malam yang dia benci.
"Kita liat siapa yang malam ini akan menolak untuk makan," kata Ara santai.
Dr bab pertama ngakak mulu bacanya 🤣🤣🤣