Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.
Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.
Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.
Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.
Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.
Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU
Langkah kaki keempat orang itu terasa begitu terseok-seok saat melewati pintu gerbang rumah mewah milik Papa tiri Hanif. Langit sore yang mulai berubah temaram seolah ikut menggambarkan kehancuran yang sedang mereka rasakan. Angin sore berembus pelan, mengirimkan rasa dingin yang langsung menusuk ke tulang melalui pakaian brokat ungu mereka yang masih setengah basah akibat semprotan air dari Hanum beberapa jam lalu.
Ibu Rahma berjalan di paling depan dengan tatapan mata yang kosong. Air matanya sudah mengering, meninggalkan bekas garis-garis putih di pipinya yang keriput. Di dalam genggaman tangan kanannya yang gemetar, wanita tua itu meremas selembar logam kecil yang terasa begitu dingin. Sebuah kunci rumah.
Itu adalah satu-satunya kunci yang tersisa di dalam tasnya, kunci dari sebuah rumah masa lalu yang sudah sangat lama dia lupakan. Rumah sederhana peninggalan almarhum suami pertamanya Ayah kandung Hanif. Ibu Rahma sendiri bahkan sudah tidak bisa mengingat dengan pasti seperti apa bentuk dan kondisi bangunan itu saat ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak pernah menginjakkan kakinya ke sana, sejak dia berhasil mengubah nasibnya setelah dipungut dan dinikahi oleh Papa tiri Hanif.
Dulu, sesaat setelah mereka menikah dan pindah ke rumah mewah, Papa tiri Hanif sebenarnya sempat menawarkan diri untuk mengirimkan pekerja guna merawat dan merenovasi rumah sederhana tersebut. Beliau berniat agar rumah masa kecil Hanif itu tetap kokoh dan layak huni. Namun, kala itu Ibu Rahma menolak dengan sangat angkuh. Bagi Ibu Rahma yang baru saja mencicipi kekayaan, rumah sederhana itu adalah simbol kemiskinan dan masa lalu kelam yang harus dia kubur dalam-dalam. Dia tidak ingin mengingat kembali masa-masa di mana dia harus berhemat demi membeli beras.
Bahkan, Ibu Rahma sempat bersikeras untuk menjual rumah dari pernikahan pertamanya itu agar bisa mendapatkan uang tunai instan untuk berbelanja barang-barang mewah. Namun, lagi-lagi berkat kebaikan dan ketegasan Papa tirinya Hanif, niat busuk itu berhasil digagalkan. Kala itu, sang papa tiri berkata dengan bijak namun tegas bahwa rumah tersebut tidak boleh dijual karena merupakan hak mutlak milik Hanif sebagai anak kandung dari almarhum suami pertamanya. Berkat teguran itulah, Ibu Rahma akhirnya mengurungkan niatnya dan membiarkan rumah itu terbengkalai begitu saja.
Dan kini, roda berputar dengan begitu kejam. Rumah yang dulu dianggapnya sebagai tempat sampah dan aib masa lalu, justru menjadi satu-satunya tempat bernaung yang tersisa di atas bumi ini bagi dirinya dan anak kesayangannya.
Mereka berjalan menyusuri trotoar jalan raya setelah keluar dari kompleks perumahan elit itu karena mobil mewah Hanif sudah disita oleh Tian. Di bawah temaram lampu jalan yang mulai menyala, Ibu Sarah tidak bisa lagi menahan kekesalan yang sudah menumpuk di dadanya sejak berada di ruang tamu tadi.
"Heh, Hanif! Kamu benar-benar penipu, ya!" omel Ibu Sarah dengan suara cemprengnya yang melengking tinggi, memecah keheningan jalanan. Dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya yang lecet akibat sepatu hak tinggi. "Kamu bilang kamu pria kaya raya! Kamu bilang ibumu punya bisnis besar dan rumah mewah! Tapi apa yang kami dapat hari ini?! Kami disiram air seperti kucing kurap di rumah istri tuamu, lalu diusir seperti pengemis di rumah ibumu sendiri! Menantu macam apa kamu ini?!"
Mendengar anak kesayangannya diomeli secara kasar di pinggir jalan, ego Ibu Rahma yang sedang terluka langsung tersulut. Dia menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya dengan cepat, lalu menatap Ibu Sarah dengan tatapan mata yang berapi-api.
"Heh, jaga mulutmu ya, perempuan tua!" balas Ibu Rahma tidak kalah sengit, menunjuk wajah Ibu Sarah dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Jangan berani-beraninya kamu menyalahkan anak saya! Hanif jadi begini itu karena anakmu yang kegatalan! Kalau bukan karena anakmu yang menggoda Hanif sampai minta dinikahi hari ini, posisi Hanif di mata papanya dan Hanum tidak akan hancur seperti ini! Anakmu itu pelakor! Dia perempuan pembawa sial yang menghancurkan kekayaan anak saya!"
Kata pelakor yang keluar dari mulut Ibu Rahma seketika membuat Sarah yang sedari tadi hanya menangis, langsung mendongakkan kepalanya. Wajah cantiknya yang berantakan kini mengeras, dipenuhi oleh rasa tidak terima yang luar biasa. Dia melangkah maju, melepaskan pegangan ibunya, lalu menantang tatapan mata ibu mertuanya sendiri.
"Pelakor?! Ibu bilang aku pelakor?!" suara Sarah meninggi, bergetar menahan amarah dan rasa malu yang mendalam. "Jaga bicaramu ya, Bu! Yang mengejar-ngejar aku selama ini itu anak Ibu! Mas Hanif yang bilang kalau dia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Hanum selain urusan anak! Mas Hanif yang berjanji akan menjadikanku ratu di rumah lantai tiganya!"
Sarah mengusap air matanya dengan kasar, dadanya naik turun karena emosi yang meluap-luap. "Aku ini baru satu hari jadi istri Mas Hanif! Pernikahan kami baru berjalan beberapa jam, dan aku bahkan belum merasakan bagaimana rasanya malam pertama sebagai sepasang suami istri! Jangankan malam pertama, menyentuh fasilitas mewah saja belum sempat! Tapi dengan mudahnya Ibu sekarang melabeli aku sebagai pelakor setelah semua kekacauan ini?! Di mana hati nurani Ibu?!"
"Memang kamu pelakor! Perempuan mana yang mau dinikahi secara siri kalau bukan karena mengincar harta?!" teriak Ibu Rahma kembali, mengabaikan tatapan beberapa pejalan kaki yang mulai memperhatikan pertengkaran mereka di pinggir jalan. "Kamu itu hanya serakah, Sarah! Sekarang setelah tahu anak saya tidak punya apa-apa, kamu mau cuci tangan?!"
"Cukup!!! Cukup, Bu! Sarah, diam!!!"
Hanif akhirnya berteriak di tengah-tengah mereka, memijat pelipisnya yang terasa sangat pening seolah mau pecah. Teriakannya berhasil membuat Ibu Rahma dan Sarah terdiam sejenak, meskipun napas mereka masih memburu karena emosi.
Hanif menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya di tengah situasi yang sangat kacau ini. Dia menatap Sarah yang berdiri di depannya dengan pakaian yang setengah basah dan wajah yang berantakan.
Bagaimanapun juga, Hanif sadar bahwa nasi sudah menjadi bubur.
Penyesalannya terhadap Hanum tidak akan mengubah kenyataan bahwa di depan hukum agama saat ini, Sarah adalah wanita yang sudah sah menjadi tanggung jawabnya.
Hanif melangkah mendekati Sarah, lalu memegang kedua pundak istri mudanya itu, mencoba menatap matanya yang bengkak.
"Sarah... dengarkan aku," ucap Hanif dengan nada suara yang melunak, mencoba menjadi penengah. "Semua ini sudah terjadi. Kita tidak bisa memutar waktu kembali. Sekarang, aku mau tanya kepadamu mengenai hubungan kita saat ini... mau dilanjutkan atau seperti apa?"
Sarah terdiam, memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap mata Hanif.
Hanif mengeratkan cengkeramannya di pundak Sarah, suaranya kini terdengar lebih tegas dan menuntut. "Bagaimanapun kondisinya sekarang, kamu harus ingat satu hal, Sarah. Kamu ini adalah istriku saat ini. Kamu sudah menerima maharku, dan kamu sudah sah menjadi bagian dari hidupku. Jadi, kamu wajib ikut ke mana pun aku pergi, termasuk ke rumah lama ibuku."
"Tidak bisa! Tidak bisa begitu!" Ibu Sarah langsung memotong dengan cepat, merangsek maju dan menepis tangan Hanif dari pundak anaknya. Wanita paruh baya itu berdiri di depan Sarah seolah-olah menjadi perisai. "Aku tidak akan membiarkan anakku hidup melarat di rumah sederhana yang entah seperti apa bentuknya! Sarah ini cantik, dia berhak mendapatkan pria yang lebih baik daripada laki-laki pecundang seperti kamu, Hanif!"
Ibu Sarah kemudian berbalik, menatap Sarah dengan pandangan menuntut. "Sarah! Dengar kata Ibu! Lebih baik kamu minta cerai saja sekarang dari Hanif! Cari pria lain yang benar-benar kaya, bukan pria penipu yang modalnya hanya meminjam harta milik istri tua dan papa tirinya! Ayo kita pulang ke rumah kita sendiri!"
"Minta cerai?!" Hanif membelalakkan matanya, rahangnya kembali mengeras, dan tatapan matanya mendadak berubah menjadi gelap. Ego lelakinya seketika tersentil mendengar kata cerai diucapkan oleh ibu mertua barunya.
Hanif melangkah maju, memperpendek jarak dengan Ibu Sarah dengan aura yang mengintimidasi. "Aku tidak akan pernah menceraikan Sarah! Ibu pikir pernikahan ini adalah mainan yang bisa dibubarkan begitu saja setelah Ibu tahu aku tidak punya uang?!"
Bagi Hanif, diceraikan oleh Hanum adalah sebuah pukulan telak bagi finansialnya, namun diceraikan oleh Sarah di hari yang sama akan menjadi kehancuran total bagi harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Terlebih lagi, ada satu alasan mendasar yang membuat Hanif menolak keras ide perceraian itu.
Hanif melirik ke arah tubuh Sarah yang terbalut pakaian brokat basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini selalu menggoda iman Hanif hingga dia nekat berselingkuh dari Hanum. Jujur, di dalam lubuk hatinya, Hanif tentunya tidak terima jika harus berpisah begitu saja. Dia belum merasakan tubuh Sarah sama sekali. Sejak prosesi akad nikah siri yang terburu-buru tadi siang hingga kekacauan yang terjadi di rumah Hanum dan rumah papanya, mereka belum memiliki waktu berdua sama sekali untuk menuntaskan hasrat mereka.
Mau bagaimana pun, Hanif tetaplah seorang laki-laki biasa yang memiliki nafsu biologis yang besar. Dia sudah mengorbankan segalanya rumahnya, fasilitasnya, bahkan hubungan baik dengan papa tirinya demi bisa memiliki Sarah seutuhnya. Jika sekarang dia harus melepaskan Sarah begitu saja tanpa pernah mencicipi keindahan tubuh wanita muda itu, maka Hanif akan menganggap dirinya sebagai pria paling bodoh di atas muka bumi ini.
"Sarah adalah istriku dan dia akan tetap ikut bersamaku sore ini!" tegas Hanif dengan suara bariton yang berat dan tidak bisa dibantah, matanya menatap tajam ke arah Sarah, mengunci pandangan wanita muda itu agar tidak berani membantah keputusannya. "Kita akan pergi ke rumah lama sekarang juga!"
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....