NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Berawal Dari Percakapan Itu

Raya baru saja keluar dari kamar ibunya dengan langkah pelan. Di tangannya, ada piring dan gelas yang tadi ia gunakan untuk menyuapi sang ibu. Hatinya sedikit lega—setidaknya, setelah sejak semalam menolak makan, akhirnya ibunya mau menerima walau hanya lima suap.

Lima suap yang terasa seperti kemenangan kecil… di tengah duka yang begitu besar.

Namun kelegaan itu tak benar-benar utuh.

Wajah ibunya masih sama—pucat, kosong, dan dipenuhi air mata yang jatuh tanpa suara. Tidak ada percakapan, tidak ada respon. Hanya diam… dan tangis yang seakan tak pernah habis.

Raya menelan ludah, menahan sesak di dadanya.

Ia berjalan menuju dapur, berniat membersihkan piring. Tapi langkahnya terhenti begitu mendengar suara-suara dari dalam.

Suara yang tak asing. Suara keluarga.

Namun isi pembicaraannya… membuat tubuh Raya membeku.

"Emang si Kamil itu brengsek ya, laki-laki gak bertanggung jawab. Harusnya setelah viral kemarin itu mikir, bahkan mau minta maaf sama keluarga kita. Karena akibat perbuatannya, Raya jadi janda, Kak Santoso meninggal. Eh bukannya sadar, ini malah ngomong kayak gitu lagi, keterlaluan.”Suara Om Doni terdengar penuh amarah.

"Iya, laki-laki tertolol yang pernah aku temui,” sahut Om Irwan, tak kalah geram.

"Ini viral lagi lho, Mas. Hujatan demi hujatan dia terima. Moga menyesal,” sambung Tante Alya.

"Emang dia laki-laki gila. Kalau emang gak setuju dengan perjodohan itu, bilang. Bukan malah dilanjutkan. Jadi aja viral. Rasain tuh dihujat sejagat raya,” suara Tante Irma terdengar bergetar, antara marah dan kesal.

Raya berdiri di ambang pintu dapur. Tangannya yang memegang piring terasa dingin.

Viral lagi…?

Jantungnya berdetak lebih cepat. Tanpa sadar, ia melangkah masuk.

"Apa yang viral, Tan?”

Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.

Sejenak, suasana mendadak hening.

"Eh Ray… gimana, Kak Rahma mau makan?” Tante Irma buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Raya tersenyum tipis, meski matanya menyimpan lelah.

"Alhamdulillah mau, Tan. Walaupun hanya lima suap.”

"Alhamdulillah…” sahut mereka hampir bersamaan.

Namun Raya tidak berhenti. Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain.

"Yang viral apa, Tan? Pernikahan aku kemarin ya?”

"Iya…” jawab Tante Irma pelan.

Raya mengangguk kecil. Lalu ia menarik napas, mencoba menguatkan diri.

"Terus yang viral satunya lagi apa? Barusan aku dengar…”

Kalimatnya menggantung. Ruangan kembali sunyi.

Om Doni dan Om Irwan saling pandang. Tante Irma menunduk. Tante Alya menggigit bibirnya pelan.

Seakan tak ada yang benar-benar siap menjawab.

"Itu…” akhirnya Om Doni bersuara, ragu.

"Percakapan si Kamil… sama temannya di kantor.”

Raya terdiam.

"Ngomongin apa?” tanyanya lagi, suaranya lebih pelan kali ini.

"Katanya… dia gak mau minta maaf,” jawab Tante Alya hati-hati.

"Karena dia melakukan itu atas kesadarannya sendiri.”

Setiap kata terasa seperti jarum. Menusuk… perlahan… tapi dalam. Raya tidak langsung merespon. Ia hanya menunduk, menatap lantai dapur yang dingin.

Di dalam dadanya, ada sesuatu yang runtuh lagi. Bukan karena talak itu. Bukan karena statusnya yang berubah begitu cepat. Tapi karena kenyataan bahwa… lelaki yang pernah berdiri di hadapannya sebagai suami itu… bahkan tidak merasa bersalah.

Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah.

Hanya… kesadaran.

Raya mengangkat wajahnya. Ada kilau air mata di matanya, tapi tidak jatuh. Ia tersenyum. Senyum yang tipis… namun penuh luka.

"Gak apa-apa, Om… Tan…”

Semua mata tertuju padanya.

"Kita serahkan aja ke Allah,” lanjutnya lirih.

"Karena Dia-lah sebaik-baik pemberi balasan.”

Suasana kembali hening. Namun kali ini, heningnya berbeda. Bukan lagi karena ragu,tapi karena tak ada yang mampu menyangkal keteguhan yang baru saja mereka lihat.

Raya menoleh, lalu melangkah menuju wastafel.

Air mengalir, membasahi piring di tangannya.

Namun di balik itu—ada hati yang sedang belajar menerima. Ada luka yang belum sembuh… tapi mulai diajak berdamai.

Dan di luar sana dunia mungkin masih sibuk membicarakannya. Masih sibuk menghakimi. Masih sibuk menyebarkan cerita. Tapi di dalam rumah itu—seorang perempuan sedang berusaha bangkit…

Meski perlahan, meski tertatih, meski… sendirian.

Setelah mencuci piring dan gelas, Raya masuk lagi ke dalam kamar. Dia masih enggan berbincang terlalu lama dengan saudara-saudaranya yang masih ada tinggal di rumah. Dia lebih tenang dengan menyendiri di kamarnya, yang sekarang sudah kembali normal, tanpa hiasan.

Raya duduk di ujung ranjang. Pikirannya melayang pada kejadian 3 bukln yang lalu, sehari setelah dirinya diwisuda sebagai Sarjana Ekonomi.

"Ray, sini Nak. Ada yang mau ayah dan ibu sampaikan." Pak Santoso memanggil Raya yang saat itu sedang membaca novel di luar.

"Iya Yah." Tanpa banyak bertanya, Raya bangkit dan menutup novelnya.

"Duduk Nak!" Bu Rahma tersenyum menatap putrinya yang menghampiri mereka.

"Gini, Ray." Pak Santoso membuka pembicaraan. "Rencana kamu selanjutnya setelah wisuda ini apa?"

"Raya mau melamar-lamar kerja aja Yah. Raya kan mau jadi wanita karier."

"Bagus cita-citamu, Nak. Tapi gak ada kepikiran untuk menikah dulu? Setelah menikah masih boleh lho jadi wanita karier." Pak Santoso menatap putrinya yang sedikit terkejut dengan perkataan ayahnya.

"Ih ayah gimana sih? Mau menikah sama siapa? Raya kan belum punya calon?"

"Kalau misalnya ada orang yang melamarmu, Raya mau?"

"Ya, Raya harus lihat dulu lah orangnya Yah, baik nggak? Dia mau nerima Raya yang segini adanya nggak? Namanya rumah tangga kan harus bener-bener selektif Yah, karena itu kan untuk seumur hidup. Emang kenapa ayah tiba-tiba ngomong tentang ini?" Raya balik menatap ayahnya.

"Ini, kamu tahu kan Om Hasan dan Tante Aida, itu sahabat ayah dan ibu waktu SMA. Dia kan punya anak udah cukup umur lah untuk menikah, 27 menjelang 28 tahun katanya. Kemarin mereka meminta ayah, bagaimana kalau menjodohkan Kamil dan kamu. Ayah dan ibu sih nggak meng-iya-kan, ini kan tergantung kamu. Gimana, mau gak dikenalkan sama Kamil?"

Raya tidak langsung menjawab, dia menarik nafas dulu.

"Boleh-boleh aja, kenapa nggak? Aku dikenalkan sama siapapun gak masalah, Yah."

"Kalau dia cocok dan mau menikahimu gimana?"

"Kalau dia baik aku sih gak masalah, asal dia mau menerima aku dan keluarga kita apa adanya, ya gak apa-apa."

"Bener Ray?" Pak Santoso terlihat senang.

"Iya Yah."

"Iya Ray, ibu lihat sih, dia orangnya baik, sudah mapan, kerjaannya baik, wajahnya juga ganteng, nyari yang gimana lagi? Masalah nanti setelah nikah kamu mau kerja, tinggal bilang aja, pasti dia mengizinkan." Bu Rahma ikut berbicara.

"Kalau masalah cinta, seiring waktu juga akan tumbuh Ray." Bu Rahma menambahkan.

"Iya Yah, Bu. Kalau menurut ayah ibu baik, aku sih ikut aja. Aku percaya, mana ada orang tua yang mau menjerumuskan anaknya? Pasti semua mau melihat anaknya bahagia. Iya kan?"

"Iya Ray, pasti itu." Bu Rahma menatap putrinya sambil tersenyum manis.

"O ya, kalau gak ada halangan, mereka akan ke sini akhir pekan ini. Perkenalan."

"Iya Yah." Raya mengangguk.

Raya menghela napas panjang, mengingat kembali bagaimana semuanya bermula dari percakapan sederhana itu—percakapan yang dulu terasa biasa saja, tapi kini justru menjadi awal dari luka terbesarnya.

Saat itu, dia tidak pernah menyangka bahwa keputusan yang diambil dengan penuh kepercayaan pada orang tua, justru akan membawanya pada kenyataan yang begitu pahit.

Raya memejamkan mata.

Bayangan akhir pekan itu kembali terputar jelas di kepalanya. Hari di mana untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Kamil.

Rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Bu Rahma sejak pagi sudah sibuk di dapur, sementara Pak Santoso beberapa kali keluar masuk rumah memastikan semuanya siap.

Raya sendiri duduk di kamar, menatap pantulan dirinya di cermin. Dia tidak tahu harus merasa apa.

Gugup? Iya.

Penasaran? Juga iya.

Tapi yang paling kuat… adalah perasaan pasrah.

"Ray, mereka sudah datang!” suara Bu Rahma terdengar dari luar kamar.

"...Iya Bu.”

Raya berdiri perlahan. Tangannya sempat merapikan ujung bajunya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat langkahnya mendekati ruang tamu.

Begitu sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti sejenak.

Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja rapi, postur tegap, dan wajah yang—harus diakui—menarik. Di sampingnya, sepasang orang tua yang terlihat hangat dan ramah.

"Itu Kamil, Nak,” bisik Bu Rahma pelan.

Raya mengangguk kecil. Semua mata kini tertuju padanya.

"Assalamu’alaikum,” ucap Raya pelan, mencoba tersenyum.

"Wa’alaikumussalam,” jawab mereka hampir bersamaan.

Kamil menatapnya sekilas. Tatapan yang datar, sulit dibaca. Tidak ada senyum hangat seperti yang dibayangkan Raya. Hanya… sekadar sopan.

Dan entah kenapa, sejak tatapan pertama itu, ada sesuatu di hati Raya yang terasa… tidak sepenuhnya tenang.

Namun saat itu, dia memilih untuk mengabaikannya.

Raya membuka matanya perlahan.

Langit-langit kamarnya kembali menyambut pandangannya. Sunyi. Sepi. Sama seperti hatinya sekarang.

"Harusnya… aku lebih peka waktu itu,” gumamnya lirih.

Air matanya kembali menggenang. Dulu dia percaya—cinta bisa tumbuh. Tapi nyatanya, tidak semua pernikahan memberi kesempatan bagi cinta untuk hidup.

Beberapa… justru mematikannya, bahkan sebelum sempat bersemi.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Salsa Billa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 biar prosesnya gk ribet ya thor
total 2 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!