❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Into The New World
Sinar matahari telah lama menghilang, berganti dengan cahaya bulan yang menerangi malam.
Para tamu satu per satu telah pulang. Keluarga Javier pun sudah kembali ke rumah mereka. Setelah seharian dipenuhi suara orang-orang yang datang silih berganti, rumah akhirnya kembali tenang.
Aku, Ayah, Ibu dan Javier kini duduk mengelilingi meja makan untuk makan malam.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari biasanya.
Ayah dan Ibu masih duduk berdampingan seperti biasa. Aku juga masih duduk di kursiku yang biasa.
Namun tetap saja ada sesuatu yang terasa berbeda.
Kini Javier duduk di sampingku.
Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar menyadari satu hal.
Aku sudah menikah.
Bukan besok.
Bukan minggu depan.
Tapi hari ini.
Aku benar-benar sudah menjadi istri seseorang.
"Kapan kalian pindah ke rumah baru?" tanya Ayah di tengah makan malam.
"Besok." jawabku.
Ibu yang sedang mengambil sayur langsung menoleh.
"Cepat banget. Kamu sudah nggak mau tinggal sama kita lagi, Nay?"
Aku tertawa kecil.
"Nggak gitu, Bu. Tapi kan sayang rumahnya udah dibeli terus nggak ditempati. Nanti malah ditempati penghuni lain."
"Lho kok gitu?" Ibu terlihat bingung. "Kan rumah itu sudah kalian beli. Ya nggak bisa asal ditempati orang lain."
Aku menahan senyum.
"Yang aku maksud bukan orang."
"Lalu?"
"Hantu."
Ibu langsung menggeleng sambil terkekeh.
"Ah, kamu itu bisa aja."
Aku tersenyum puas sementara Ayah hanya menghela napas pelan seolah sudah terbiasa dengan jawabanku.
"Javier, rumahnya sudah siap ditempati?" tanya Ayah.
"Sudah, Yah." jawab Javier.
"Perabotan, listrik dan yang lain sudah beres?"
"Sudah."
"Syukurlah."
Ayah mengangguk pelan sebelum menoleh ke arahku.
"Naya, jangan nyusahin Javier ya. Dan ingat, sekarang kamu sudah jadi istri."
"Iya, iya." ucapku cepat. "Aku nggak akan nyusahin dia. Lagian selama ini aku juga apa-apa sendiri."
Ibu yang sedari tadi diam tiba-tiba ikut menimpali.
"Javier, kalau Naya berbuat salah dimarahi saja. Dipukul juga nggak apa-apa."
Aku hampir tersedak.
"Ibu!"
Mereka semua menoleh ke arahku.
"Itu KDRT namanya. Ibu pengen aku kena KDRT?"
"Ya nggak sampai begitu juga." ucap Ibu membela diri.
"Tapi suami mukul istri tetap termasuk KDRT."
Aku masih mengomel pelan ketika Javier tiba-tiba membuka suara.
"Naya benar, Bu."
Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Dan saya tidak akan melakukan itu."
Nada bicaranya tenang seperti biasa.
"Saya tidak akan menyakiti Naya. Lebih tepatnya saya tidak akan memukul perempuan."
Aku terdiam.
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuatku sedikit terkejut.
Padahal seharusnya memang begitu.
Laki-laki tidak boleh memukul perempuan.
Namun mendengarnya diucapkan langsung oleh Javier tetap terasa berbeda.
"Wah..." Ayah tersenyum. "Sepertinya kita tidak salah pilih menantu, Bu."
"Iya." Ibu mengangguk setuju. "Benar."
Aku langsung memfokuskan diri pada makan malamku agar tidak perlu menanggapi pujian-pujian itu.
Setelah itu kami melanjutkan makan malam dalam suasana yang jauh lebih tenang.
Setelah makan malam selesai, aku dan Javier masuk ke kamarku.
Begitu pintu tertutup, aku langsung melepas jilbabku.
Rasanya lega sekali.
Aku menggantung jilbab itu di balik pintu lalu mengacak rambutku yang terasa sedikit lepek setelah seharian tertutup.
Saat berbalik, aku mendapati Javier masih berdiri di dekat pintu.
Ia sedang menatapku.
"Kenapa kamu lihat aku kayak gitu?" tanyaku.
Javier tampak sedikit tersadar.
"Kamu beda kalau nggak pakai jilbab."
Aku langsung mengernyit.
"Jelek ya?"
"Nggak."
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
"Cantik kok."
Aku terdiam beberapa detik.
Entah kenapa mendengar Javier mengatakan itu membuatku sedikit salah tingkah.
Padahal aku tidak membutuhkan pendapatnya.
Atau setidaknya itu yang ingin kupercaya.
"Apa sih." Aku memalingkan wajah. "Aku nggak butuh penghiburan sekarang."
"Aku nggak lagi menghibur kamu kok."
Aku mendecakkan lidah pelan lalu mengambil paperbag yang tadi diberikan Lila.
Mungkin isinya mukena.
Atau jilbab.
Atau barang lain yang lebih berguna.
Aku duduk di atas tempat tidur lalu mulai membuka kotak hadiah itu.
"Ini apa ya?"
Aku mengangkat kain yang ada di dalam kotak.
Lalu membeku.
Beberapa detik aku hanya menatap benda itu tanpa berkedip.
Itu bukan mukena.
Bukan jilbab.
Dan jelas bukan hadiah yang kubayangkan.
Lingerie berwarna dusty mauve dengan potongan pendek di atas lutut. Bagian atasnya memiliki detail menyerupai sayap kupu-kupu dengan garis leher rendah. Tali tipis di kedua bahunya membuat pakaian itu terlihat ringan dan feminin.
Astaga....
Dengan kecepatan yang bahkan membuatku sendiri terkejut, aku langsung memasukkannya kembali ke dalam kotak dan menutupnya rapat-rapat.
Lalu aku melirik Javier.
Javier melirikku.
Dia lihat.
Astaga.
Dia benar-benar lihat.
Aku langsung berdiri, membawa kotak itu ke lemari dan memasukkannya kembali ke dalam paperbag seolah benda itu adalah barang terlarang.
Setelah memastikan paperbag itu tersimpan rapi di dalam lemari, aku berjalan menuju meja rias.
Ponselku tergeletak di sana.
Aku mengambilnya lalu langsung mencari nama Lila di daftar kontak.
Lila harus bertanggung jawab atas semua ini.
Tanpa berpikir dua kali, aku menekan tombol panggil. Bahkan sebelum sambungan tersambung, emosiku sudah lebih dulu naik.
—Halo, Nay. Ada apa nih malam-malam nelepon? Bukannya kamu mau—
"야! 미친년! (Hei! Dasar sinting!)”
Di sudut mataku, kulihat Javier sedikit terkejut.
Mungkin ini pertama kalinya dia melihatku berteriak seperti itu.
—Eh kok kamu gitu sih, Nay?
"Kamu kasih aku kado apa, hah?"
—Oh... kamu udah buka kado dari aku, ya?
"Ya jelas udah lah!"
—Gimana? Suka nggak?
"야.... (Hei...) Kamu pikir aku cewek apaan pakai baju kayak gitu?"
—Lho itu kan baju dinasnya seorang istri.
Aku memejamkan mata sejenak.
Sumpah, kalau Lila ada di depanku sekarang mungkin sudah kulempar dengan bantal.
"Itu kalau nikahnya karena cinta."
—Ah nanti kalian juga saling cinta kok.
"아니야! (Nggak!)”
—Jangan gitu, Nay. Masa depan kan nggak ada yang tahu.
"그래도 아니야. 우리는 서로 좋아하지 않을 것이다. (Meskipun begitu, nggak. Kami nggak akan saling suka.)”
Aku mendengar Lila tertawa kecil.
—Kita lihat saja nanti.
Sebelum dia sempat menambah kalimat lain, aku langsung mematikan sambungan telepon.
Kesal.
Benar-benar kesal.
Aku meletakkan ponsel di atas meja rias lalu menghela napas panjang.
Kulihat Javier masih berdiri di tempatnya.
"Kenapa dari tadi kamu di situ?" tanyaku.
Javier mengangkat sebelah alisnya.
"Terus aku harus di mana?"
Aku terdiam.
Ya juga sih.
Ini kamarku.
Tapi malam ini juga kamar Javier.
Atau setidaknya untuk sementara.
"마음대로 해. (Terserah kamu.)”
Javier terlihat bingung.
"Apa?"
"Up to you."
Aku langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara kursi yang bergeser.
Aku menoleh sekilas.
Javier duduk di depan meja rias.
"Teman kamu agak lain ya."
Aku langsung tahu siapa yang dia maksud.
"Lupain."
"Apa?"
"Lupain kalau kamu pernah lihat baju tadi."
Javier terlihat menahan senyum.
"Lila juga..." Aku menghela napas. "Bisa-bisanya kasih kado kayak gitu. Padahal nggak akan aku pakai juga."
"Mungkin sekarang nggak."
Aku langsung menoleh.
"Tapi suatu hari nanti mungkin bakal dipakai."
Aku spontan bangun dan duduk.
"Apa maksud kamu?"
"Bukan apa-apa."
"Kamu mau kita..."
"Nggak."
Jawaban Javier keluar cepat.
"Bukan kita."
Aku mengernyit.
"Terus?"
"Kamu kan maunya kita cerai."
Aku terdiam.
Javier mengucapkannya dengan tenang.
Seolah itu hal yang biasa.
Padahal sejak awal memang itu rencanaku.
Aku dan Javier menikah.
Lalu suatu hari nanti berpisah.
Bukankah itu yang selama ini kuinginkan?
"Kemungkinan setelah kita cerai nanti kamu ketemu laki-laki yang kamu cintai." lanjut Javier. "Terus menikah sama dia. Jadi bajunya bisa dipakai."
Aku tidak langsung menjawab.
Entah kenapa dadaku terasa aneh.
Aneh sekali.
Biasanya aku tidak pernah mempermasalahkan rencana itu.
Tapi mendengar Javier mengatakannya secara langsung membuatku tidak nyaman.
Lebih tidak nyaman dari yang seharusnya.
"Nay..."
Aku tersentak.
"Hah?"
"Kok malah bengong sih?"
Aku langsung menggeleng.
"Nggak apa-apa."
Aku kembali merebahkan tubuh.
"Udah malam. Aku mau tidur."
Kamar mendadak hening.
Baru saat itulah aku menyadari satu masalah besar.
Aku dan Javier akan tidur di kamar yang sama.
Aku melirik sekeliling kamar.
Sayangnya, kamarku tidak punya tempat lain untuk tidur selain tempat tidur ini.
Aku menggeser tubuhku sedikit ke tengah tempat tidur.
"Tidurlah di sini."
"Hah?"
Aku menoleh.
Javier terlihat benar-benar terkejut.
"Tidur di sini." ulangku.
"Kamu serius nyuruh aku tidur satu kasur sama kamu?"
"Iya."
Aku mengangkat bahu.
"Mau gimana lagi? Aku nggak punya kasur lantai. Masa kamu langsung tidur di lantai? Kan dingin."
Hening sejenak.
Aku mulai merasa kalimatku terdengar aneh.
"Tapi kalau kamu nggak mau ya udah."
Aku langsung memiringkan tubuh menghadap tembok.
Beberapa detik berlalu.
Lalu kasur bergerak pelan.
Javier naik ke atas tempat tidur.
Jantungku mendadak berdetak sedikit lebih cepat.
Ini pertama kalinya aku tidur satu kasur dengan laki-laki.
"Ini pertama kalinya aku tidur satu kasur sama perempuan." ucapnya pelan.
Aku menatap tembok di depanku.
"Ini juga pertama kalinya aku tidur satu kasur sama laki-laki."
Setelah itu kami kembali diam.
"Mas..."
"Hm?"
"Aku udah berbesar hati nyuruh kamu tidur di sini. Jadi tolong jangan macam-macam."
Aku mendengar Javier tertawa kecil.
"Aku bukan cowok brengsek yang memanfaatkan kesempatan."
Entah kenapa aku merasa sedikit lega mendengarnya.
"Makasih."
"Sama-sama."
Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhku.
"Selamat malam."
"Selamat malam."
Lampu kamar dimatikan.
Kegelapan langsung memenuhi ruangan.
Aku memejamkan mata, berusaha tidur.
Namun entah kenapa aku justru semakin sadar bahwa hanya beberapa sentimeter dariku ada seseorang yang kini berstatus sebagai suamiku.
Aneh.
Sangat aneh.
Pagi ini aku masih Naya yang biasa.
Dan sekarang aku tidur satu kasur dengan Javier.
Hidup memang benar-benar tidak bisa ditebak.
Dengan pikiran itu, aku akhirnya perlahan terlelap.