Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Samuel menoleh ke belakang dan melihat Azka yang kini berdiri tepat di belakang nya.
"Apa yang kau lakukan di sini tuan muda? Nona Naya sudah kembali ke mobil dan dia meminta aku untuk mengajak mu kembali ke hotel," jelas Azka menatap wajah Samuel yang kelihatan tidak seperti biasanya, bos muda nya itu terlihat sangat kebingungan.
"Ayo kita pulang," jawab Samuel yang kemudian melangkah kan kaki nya meninggalkan Azka, dia berjalan ke arah mobil tanpa sepatah kata lain nya yang harusnya dia ucap kepada Azka.
"Mengapa semua orang aneh sekali? Apa kota ini bermasalah sehingga menghipnotis para pengunjung luar untuk bersikap gila? Tapi mengapa aku tidak merasakan nya? Malah aku yang jadi gila karena mereka berdua sudah lah!" kesal Azka yang kemudian melangkah kan kaki nya menuju mobil, menyusul Naya dan Samuel yang sudah duluan masuk ke dalam mobil.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di hotel, Naya dan Samuel masih saling tidak berbicara, meskipun hati Samuel kini mulai semakin penasaran dengan Naya, dia tidak ingin memulai obrolan sedikit pun.
Sampai mereka masuk ke dalam kamar masing-masing dan mereka masih dalam keadaan saling diam.
"Jika benar itu Naya, selama ini yang sudah aku lakukan kepada nya, aku rasa cukup keterlaluan," batin Samuel sambil menatap Naya yang saat itu sudah merebahkan tubuh nya di atas sofa dan kemudian memejamkan mata.
Malam semakin larut, Samuel masih saja tidak bisa memejamkan mata nya, bayangan luka yang ada di punggung Naya terus terbayang di benak nya.
"Apa aku harus bertanya dengan nya lagi?" batin Samuel menatap sendu ke arah Naya yang tentunya sudah tertidur lelap.
Perlahan Samuel turun dari ranjang nya, dia berjalan mendekati Naya. Menatap wajah damai Naya yang sedang tidur membuat Samuel tidak tega membangunkannya, dia terlihat sangat lelah, entah lelah karena cobaan hidup nya atau karena apa, yang jelas Samuel mulai menaruh perhatian terhadap Naya sejak lama.
"Kau sangat cantik, bahkan ketika memejamkan mata mu." Samuel menyingkirkan pelan rambut yang menutupi pipi Naya.
Dari sini lah perasaan itu mulai muncul, bayangan masa lalu membuat Samuel sadar bahwa Naya bukan lah seorang wanita jahat, seperti yang ada dalam pikiran nya.
"Aku sudah tidak membencimu, tapi aku malu untuk mengatakan yang sebenarnya, aku mulai khawatir jika kau dekat dengan laki-laki lain, aku tau itu perasaan cinta, tapi aku cukup bodoh untuk mengakui nya, aku malu dengan diriku sendiri yang sudah banyak menghina bahkan menginjak-injak harga diri mu," ucap Samuel sungguh mengakui kesalahannya setelah tau bahwa Naya adalah gadis kecil pemberani yang pernah melindungi nya tanpa rasa takut.
"Ternyata Tuhan memang tidak pernah salah mengatur semua ini, Naya dulu aku pernah berjanji saat kecil jika aku bertemu lagi dengan mu saat dewasa aku akan menikahi mu, namun sayangnya aku malah hampir menikahi kakak mu, untungnya Tuhan punya cara untuk membuat aku tidak mengingkari janji ku," ucap Samuel lagi.
Samuel sangat merasa bersalah, saat mengingat bagaimana perilaku nya terhadap Naya, dia sudah menghina, menyiksa dan menjadikan Naya budak di rumah padahal itu adalah wanita yang menyelamatkan dirinya dari perundungan sampai melukai diri sendiri.
Malam itu, Samuel yang mengantuk pun akhirnya tertidur di bawah sofa tempat Naya tidur.
Pagi pukul 06.00
"Huaaam," Naya mengusap mata dengan keadaan yang masih tertutup sempurna, dia membalikkan badannya, bermimpi kalau saat ini dia sedang tidur di kasur besar yang empuk.
Bukh ...
Tubuh Naya seketika menggelinding dari sofa dan jatuh tepat di atas tubuh Samuel yang pada saat itu Samuel masih tertidur lelap.
"Astaga, sakit sekali ..." ucap Samuel membuka mata nya dan melihat Naya yang kini sudah berada di atas tubuh nya dengan rambut urak-urakan seperti singa.
Naya yang setengah sadar pun seketika kaget mendengar keluhan Samuel sementara dirinya sama sekali tidak merasa sakit kecuali kaget.
"Tu-tuan muda!" kaget Naya menatap Samuel tak habis pikir, dia pun melirik sekeliling ruang kamar tersebut mengira kalau dia sedang tidur di ranjang namun ternyata tidak sama sekali.
Hal ini pun membuat Naya sadar kalau bukan dia yang pindah tempat tidur, melainkan Samuel sendiri yang tidur di bawah tempat tidur nya.
"Rambut mu menusuk mata ku, perih sekali," ucap Samuel menyadarkan Naya dari rasa heran nya.
Naya buru-buru bangkit dari tubuh Samuel dan kemudian merapikan rambut coklat nya yang terurai seperti singa itu. Ia pun kembali duduk di atas sofa dan menaikkan dua kaki nya juga.
"Apa yang tuan lakukan di bawah sana?" tanya Naya mulai memberanikan diri untuk bertanya.
Samuel yang mendengar itu bangun dan duduk sambil mengucek-ngucek mata nya dan menatap Naya.
"Aku tidak nyaman tidur di ranjang, jadi aku tidur di sini, apa itu masalah untuk mu?" tanya Samuel tidak mengakui apa yang sebenarnya dia lakukan tadi malam.
"Hah?" kaget Naya tidak percaya dengan ucapan Samuel.
Tentu saja Naya tidak bisa mempercayai nya, karena mana mungkin Samuel bisa merasa tidak nyaman tidur di ranjang dan malah berpindah ke bawah samping sofa.
"Kau tidak percaya?" tanya Samuel lagi.
"Bukan begitu, tapi aneh, tempat lain kan masih banyak, kenapa harus di dekat sini?" ucap Naya sambil menunjuk bawah sofa.
"Terserah kau saja, aku mau mandi, siang ini kita akan pulang," ucap Samuel berusaha menghindari pertanyaan lain dari Naya.
Samuel pun berdiri dari duduknya dan kemudian berjalan kembali ke ranjang sambil membuka jam tangan nya.
"Tunggu-tunggu, seperti nya tadi malam aku bermimpi, mimpi itu sangat indah, tapi kok seperti nya sedikit nyata ya?" celetuk Naya sambil memegang dagunya dan berfikir keras untuk mengingat mimpi nya tadi malam.
Deg ... Jantung Samuel terasa ingin berhenti berdetak mendengar ucapan Naya barusan, dia khawatir kalau Naya tau tadi malam dia mengamati Naya yang sedang tidur sambil bicara banyak.
"Ah sudah lah, seperti nya aku sudah lupa dengan mimpi itu," ucap Naya lagi dan kemudian mulai membereskan tempat tidur nya.
Samuel yang awalnya gemetar pun seketika lega bercampur geram dengan Naya yang hampir membuat dia terkena serangan jantung.
"Kemasi barang-barang mu, siang ini kita akan kembali, jadi jangan sampai ada yang ketinggalan, oh iya bantu aku siapkan baju juga bereskan barang-barang ku juga," perintah Samuel kepada Naya sebelum dia mengambil langkah besar masuk ke dalam kamar mandi.
"Bukan nya kita akan pulang besok?" ucap Naya melihat sekeliling kamar namun pintu kamar mandi baru saja di tutup menandakan lawan bicara nya sudah tidak mendengarkan lagi apa yang dia ucapkan barusan.
"Kemasi barang-barang mu jangan sampai ketinggalan bla bla bla," ucap Naya dengan nada mengejek. Dia mengulang apa yang di ucapkan Samuel tadi dengan ejekan dan terlihat sangat kesal.
Namun Naya adalah seorang istri yang cukup patuh dengan suaminya, dia pun mengemasi seluruh barang-barang dan menyiapkan satu set pakaian untuk Samuel.
"Seperti nya dia sedikit ramah, ada apa ya? Apa dia merasa bersalah karena tadi malam tidak sopan kepada ku?" batin Naya sambil membereskan barang-barang nya.
Sementara itu Samuel yang berada di dalam kamar mandi.
"Tuhan mengapa Kau membuat takdir serumit ini?" kesal nya sambil bercermin di cermin yang ada di dalam kamar mandi tersebut.
Kedua nya kini larut dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu ...
"Arghhh, uang sudah habis, minuman ku sudah habis semuanya sudah habis, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk makan dan minum?" ucap Bu Rona mengamuk.
Terlihat rumah yang berantakan dengan botol minuman keras yang berserakan di mana-mana. Akibat stres karena di tinggal suami dan anak kesayangan, Bu Rona kini menjadi wanita pemabuk dan penjudi, dia menjual semua barang-barang berharga nya untuk membeli minuman dan main judi.
"Anak sialan, ya anak sialan lah yang bisa memberikan aku uang, dia kan menikah dengan Samuel karena menggantikan Aurel putri kesayangan ku, seharusnya dia memberikan aku banyak uang karena dia sudah hidup enak sekarang berkat Aurel," ucap Bu Rona seketika ingat dengan Naya dan bermaksud untuk memeras Naya.
Bu Rona menyeringai lebar ketika ingat bahwa dia masih punya Naya yang kini sudah menikah dengan keluarga kaya, dia berfikir kalau dia minta banyak uang kepada Naya itu tidak masalah.
"Ya, besok aku akan datang ke rumah nya, aku akan membuat dia iba dan memberikan aku banyak uang," ucap Bu Rona yang kemudian disusul tawa nya yang mengelegar.
Tidak pernah merasa sayang dengan Naya karena baginya Naya adalah anak yang sial, karena itu lah Bu Rona tidak pernah mengakui Naya sebagai anak nya, namun dia tidak pernah sadar jika dirinya lah yang sial, kecelakaan sepuluh tahun yang lalu di sebabkan oleh dirinya, dia yang begitu egois menyuruh ayah nya Naya untuk tetap bekerja dalam keadaan sakit, ayah Naya pun menurutinya dan bekerja seharian penuh lalu setelah itu menjemput Naya pulang dari sekolah.
Namun saat di perjalanan, ayah pun merasa kepalanya sangat pusing dan semakin pusing, sehingga motor yang di kendarai nya kehilangan kendali dan mereka pun kecelakaan di tengah suasana hujan yang deras.
Bu Rona pun dengan kejam nya menyalahkan Naya atas kejadian itu, padahal Naya sama sekali tidak bersalah dan dia tidak lah sial atau menyebabkan kepergian sang ayah.
Semua itu di lakukan Bu Rona agar kejahatan nya tidak ada yang tau, dia sudah memaksakan seseorang yang sedang sakit untuk bekerja dan itu suami nya sendiri.
"Tapi bagaimana aku tau alamat tempat tinggal anak sialan itu sekarang? Dia sudah benar-benar tidak peduli kepada ku setelah menikah, menelpon aku atau mengunjungi pun dia tidak pernah," ucap Bu Rona mulai mengotak-atik ponsel nya.
Dia masih saja tetap memaki Naya meskipun Naya tidak ada di depan mata nya, ini lah yang di namakan manusia egois yang selalu merasa tertindas dan selalu merasa paling benar.
Bersambung ....
🤣❤️