Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Topeng Hampa
Arena Akademi Langit Biru dipenuhi oleh ribuan penonton. Sorak-sorai, teriakan, dan desas-desus menciptakan kebisingan yang memekakkan telinga. Di tribun VIP, para tetua duduk dengan wajah serius, sementara Direktur Feng mengamati dari kursi utamanya dengan tatapan tak terbaca.
Di tengah arena berpasir putih, dua sosok berdiri berhadapan.
Di sisi kiri, Lin Fan. Jubah biru mudanya berkibar pelan diterpa angin panas siang hari. Wajahnya tenang, tangannya tergantung rileks di sisi tubuh. Tidak ada senjata. Tidak ada sikap kuda-kuda defensif. Ia hanya berdiri, seolah-olah sedang menunggu teman untuk mengobrol.
Di sisi kanan, Gu Yichen. Sosok misterius itu mengenakan jubah hitam polos. Topeng kayu setengah wajahnya menutupi hidung dan mulutnya, hanya menyisakan sepasang mata gelap yang dalam. Di punggungnya, guci bambu tua tergantung, tertutup rapat. Ia tidak memegang senjata apa pun. Tangannya terlipat di depan dada, posturnya santai namun waspada.
"Duel pertama! Lin Fan dari Kota Qingyun melawan Gu Yichen dari Klan Kabut!" teriak wasit, seorang instruktur tingkat menengah.
"Aturan standar: Kalah jika pingsan, menyerah, atau keluar dari lingkaran arena. Mulai!"
Sorakan meledak. Sebagian besar penonton bersorak untuk Gu Yichen, sang misteri. Hanya segelintir—termasuk Bao Da, Zhang Wei, dan Mei Ling—yang bersorak untuk Lin Fan.
Li Tianhao duduk di barisan depan, tersenyum sinis. "Gu Yichen belum pernah menunjukkan kekuatannya. Lin Fan akan hancur dalam lima detik."
Tetua Wang mengangguk puas. "Anak itu terlalu percaya diri. Berdiri tanpa senjata melawan Gu Yichen? Itu bukan keberanian. Itu kebodohan."
Di arena, Gu Yichen akhirnya bergerak. Atau lebih tepatnya, ia tidak bergerak. Aura di sekelilingnya tiba-tiba menjadi berat, seolah-olah udara di sekitar Lin Fan berubah menjadi lem kental.
Kekuatan Jiwa, pikir Lin Fan. Dia menyerang mentalku sebelum fisik.
Tekanan itu nyata. Bagi siswa biasa, ini akan menyebabkan pusing, mual, dan kepanikan. Tapi bagi Lin Fan, yang jiwanya telah ditempa oleh pengalaman hidup sebagai Kaisar selama ribuan tahun, tekanan ini terasa seperti angin sepoi-sepoi.
Lin Fan tersenyum tipis. "Teknik Ilusi Kabut, ya? Bagus untuk menakut-nakuti anak kecil. Tapi bagiku, ini hanya gangguan visual."
Gu Yichen sedikit terkejut. Matanya menyipit di balik topeng. Lawannya tidak terpengaruh sama sekali.
"Menarik," suara Gu Yichen terdengar serak, seperti gesekan batu kering.
"Kau melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain. Tapi bisakah kau melihat apa yang tidak ada?"
Tiba-tiba, Gu Yichen menghilang.
Bukan bergerak cepat. Ia benar-benar lenyap dari pandangan mata telanjang. Posisinya menjadi kabur, seolah-olah ia menyatu dengan bayangan-bayangan di lantai arena.
Penonton bergumam bingung. "Di mana dia?"
"Apa itu teknik teleportasi?"
Lin Fan menutup matanya.
Mata fisik bisa dibohongi. Tapi getaran tanah tidak bisa.
Dengan Persepsi Hampa, Lin Fan merasakan perubahan tekanan udara yang sangat halus di sebelah kanannya. Ada jejak Qi dingin yang meninggalkan residu di pasir.
Di sana.
Lin Fan tidak menoleh. Ia justru mengangkat kaki kanannya dan menendang kosong ke arah ruang hampa di sebelahnya.
BAM!
Suara benturan keras terdengar. Tubuh Gu Yichen materialisasi tiba-tiba, terpental tiga meter ke belakang setelah tertendang tepat di perutnya. Topengnya sedikit miring.
Keheningan melanda arena.
Lin Fan membuka matanya. "Kau menggunakan ilusi optik berbasis refraksi cahaya. Cerdik. Tapi kau lupa bahwa setiap gerakan membutuhkan perpindahan massa. Dan massa selalu meninggalkan jejak."
Gu Yichen berdiri perlahan, merapikan topengnya. Untuk pertama kalinya, nada suaranya kehilangan ketenangannya. "Kau... siapa sebenarnya kau?"
"Seseorang yang tidak suka ditebak-tebak," jawab Lin Fan datar.
Gu Yichen mendesah pelan. Ia melepaskan guci bambu dari punggungnya. "Baiklah. Jika ilusi tidak berhasil, mari kita coba realitas."
Ia membuka tutup guci itu.
Tidak ada senjata keluar. Tidak ada asap beracun. Yang keluar adalah... debu abu-abu halus.
Debu itu menyebar cepat, membentuk awan tipis di seluruh arena. Penonton di barisan depan mulai batuk-batuk.
"Debu Pemati Rasa!" teriak salah satu tetua di tribun. "Itu bahan terlarang untuk turnamen siswa!"
Tetua Wang segera berdiri.
"Tenang! Itu bukan racun mematikan. Hanya bubuk herbal yang menyebabkan mati rasa sementara pada kulit. Masih dalam batas aturan 'non-lethal'."
"Lanjutkan duel!"
Lin Fan menyadari efeknya segera. Kakinya terasa kesemutan. Tangannya mulai kehilangan sensasi sentuhan. Jika debu ini menyentuh kulit telanjang, ia akan lumpuh total dalam hitungan detik.
Gu Yichen tersenyum di balik topengnya. "Sekarang, coba rasakan jejakku lagi, Lin Fan. Saat kau tidak bisa merasakan tanah di bawah kakimu."
Ia kembali menghilang ke dalam awan debu. Kali ini, Lin Fan tidak bisa mengandalkan getaran tanah karena kakinya sendiri mati rasa.
Ini adalah jebakan sempurna.
Namun, Lin Fan tidak panik. Ia ingat prinsip dasar alkimia: Setiap zat memiliki titik lemah.
Debu Pemati Rasa bekerja dengan menempel pada kelembapan kulit. Jika kulit kering total, debunya tidak akan menempel.
Lin Fan menarik napas dalam, mengumpulkan Qi api di Dantiannya. Ia tidak mengeluarkannya sebagai serangan. Ia menggunakannya untuk memanaskan pori-pori tubuhnya dari dalam, menguapkan semua keringat dan kelembapan di kulitnya dalam sekejap.
Tubuhnya menjadi panas kering seperti batu bara.
Ketika Gu Yichen muncul dari balik debu, mencoba menepuk bahu Lin Fan untuk melumpuhkannya, tepukan itu hanya mengenai kulit yang kering dan panas. Debu itu terpental, tidak menempel.
Lin Fan menangkap pergelangan tangan Gu Yichen dengan cengkeraman besi.
"Kau lupa satu hal," kata Lin Fan dingin. "Api membakar kabut. Dan kekeringan menolak lumpur."
Dengan gerakan cepat, Lin Fan membanting Gu Yichen ke tanah. Sebelum Gu Yichen bisa bereaksi, Lin Fan sudah menempatkan ujung jarinya di tenggorokannya.
"Menyerah," perintah Lin Fan.
Gu Yichen terdiam. Matanya menatap Lin Fan dengan campuran kekaguman dan kekalahan. Ia menyadari bahwa lawan ini tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga memiliki pengetahuan luas yang melampaui usianya. Setiap triknya telah diantisipasi dengan logika yang sederhana namun efektif.
"...Aku menyerah," kata Gu Yichen pelan.
Wasit segera maju.
"Pemenang: Lin Fan!"
Sorakan gemuruh pecah. Kali ini, bahkan pendukung Li Tianhao pun terdiam kagum. Lin Fan baru saja mengalahkan misteri terbesar angkatan ini tanpa mengeluarkan satu pukulan pun yang berlebihan.
Lin Fan membantu Gu Yichen berdiri. "Pertarungan yang bagus. Teknik ilusimu sangat halus. Jika aku tidak punya pengalaman dengan elemen api, aku mungkin sudah kalah."
Gu Yichen menatapnya lama.
"Kau menyembunyikan banyak hal, Lin Fan. Tapi ingat... di dunia ini, ada hal-hal yang tidak bisa dibakar oleh api. Atau dirasakan oleh tanah."
Ia mengambil gucinya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
Lin Fan menatap punggungnya yang menjauh. Ia merasa ada peringatan terselubung di kata-kata itu. Tapi sekarang, ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Di tribun VIP, Tetua Wang menggigit bibirnya hingga berdarah. Rencana awalnya gagal total. Lin Fan tidak hanya menang; ia menang dengan cara yang membuatnya terlihat cerdas dan berwibawa. Reputasinya semakin naik.
Li Tianhao mengepalkan tinjunya di bawah meja.
"Sialan! Dia semakin berbahaya."
Direktur Feng, di sisi lain, tersenyum tipis. "Anak itu... dia tidak bertarung seperti siswa. Dia bertarung seperti master yang sedang mengajar. Sangat menarik."
Lin Fan turun dari arena, disambut oleh Bao Da dan Zhang Wei yang bersorak gembira.
"Hebat, Boss!" teriak Bao Da.
"Kau membuatnya kelihatan bodoh!"
"Bukan bodoh," koreksi Lin Fan.
"Hanya kurang persiapan. Jangan remehkan Gu Yichen. Dia sengaja menahan diri. Aku yakin dia belum menggunakan kekuatan sejatinya."
Zhang Wei mengangguk serius.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku," kata Lin Fan, menatap ke arah babak berikutnya di papan pengumuman,
"pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Dan lawan selanjutnya... jauh lebih kasar daripada Gu Yichen."
Nama di papan itu berkedip:
Babak Kedua: Lin Fan vs Li Tianhao.
Undian itu memang telah dimanipulasi. Tetua Wang memastikan Lin Fan bertemu dengan rival terkuatnya di babak kedua, berharap kelelahan setelah melawan Gu Yichen akan membuat Lin Fan mudah dikalahkan.
Tapi mereka lupa satu hal: Lin Fan tidak lelah. Baginya, duel tadi hanyalah pemanasan ringan.
Dan sekarang, ia siap menghadapi badai petir Li Tianhao.