NovelToon NovelToon
ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

ISTRI YANG DISINGKIRKAN DI HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Di hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta, dia justru disingkirkan dari hidup mereka.

Ketika seorang istri setia berharap mendapat kejutan di hari ulang tahun pernikahannya, yang ia terima justru pengkhianatan dari orang-orang yang paling ia percayai.

Suami yang berubah. Pelakor yang datang tanpa rasa bersalah. Serta ibu mertua dan ipar yang mendukung semuanya.

Akankah ia bertahan demi rumah tangganya?

Atau memilih pergi dan membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa mereka?

Siapkan hati kalian, karena kisah ini akan menghadirkan banyak air mata, kemarahan, penyesalan, dan tentunya balas karma yang memuaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Perempuan yang Pernah Diperjuangkan

Tidak sampai satu jam setelah percakapan telepon itu berakhir, seorang perempuan muda berpenampilan rapi memasuki toko. Ia memperkenalkan diri sebagai Rani, asisten Bu Elsa. Di tangannya terdapat sebuah map cokelat yang berisi berkas-berkas penting.

"Assalamu'alaikum, Mbak Arini."

"Wa'alaikumussalam. Silakan masuk, Mbak!"

Rani duduk di kursi yang telah disediakan, lalu membuka map tersebut.

"Ini, Mbak, berkas gugatan cerainya yang harus ditandatangani." Rani menyodorkan setumpuk dokumen ke hadapan Arini.

Dengan tenang, Arini menerima berkas itu. Tatapannya menyusuri setiap lembar demi lembar. Ia membaca seluruh isi dokumen dengan saksama. Sesekali ia mengangguk kecil, memastikan tidak ada satu pun poin yang terlewat. Wajahnya tampak tenang, jauh dari keraguan.

Setelah selesai membaca, Arini menarik napas panjang. "Baik, saya tandatangani, Mbak."

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengambil pulpen yang tersedia di atas meja, lalu membubuhkan tanda tangannya pada setiap halaman yang diperlukan. Goresan tinta itu terasa seperti garis penutup atas dua tahun kehidupan rumah tangga yang selama ini ia perjuangkan sendirian.

Rani tersenyum tipis sambil merapikan kembali berkas-berkas tersebut. "Hari ini juga saya akan mendaftarkannya ke Pengadilan Agama."

"Baik, Mbak. Lebih cepat lebih baik." Arini menyerahkan kembali map yang telah lengkap dengan tanda tangannya.

"Kalau begitu saya pamit dulu."

"Iya, Mbak. Terima kasih."

Rani berdiri, berpamitan kepada seluruh karyawan, lalu meninggalkan toko. Pintu kaca kembali tertutup perlahan. Suasana mendadak terasa sunyi.

Arini masih duduk di kursinya. Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja. Pandangannya kosong menatap ke luar jendela, seolah pikirannya sedang berjalan jauh menembus waktu.

Dua tahun. Hanya dua tahun. Begitu singkat, tetapi meninggalkan luka yang begitu panjang.

Tanpa sadar, sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang pahit ketika ingatannya melayang pada pertemuan pertama dengan Galang, dua setengah tahun yang lalu.

Saat itu, hidup terasa begitu sederhana.

***

Hari itu adalah hari Sabtu menjelang sore. Langit Bandung tampak cerah setelah sejak pagi diselimuti mendung tipis. Arini baru saja selesai berbelanja kain untuk kebutuhan butik yang baru dirintisnya. Bagasi mobilnya penuh gulungan kain dengan berbagai warna dan motif.

Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba terdengar suara pelan dari arah roda depan.

Duk... duk... duk...

Arini mengerutkan dahi. "Kenapa, ya?"

Ia memperlambat laju mobilnya hingga akhirnya berhenti di pinggir jalan yang cukup sepi. Begitu turun, ia langsung memeriksa kondisi ban.

"Oh, ya Allah..."

Ban depan sebelah kiri benar-benar kempes.

Arini menghela napas panjang. Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Jalan itu cukup lengang. Bengkel terdekat pun tidak terlihat. Ia memang mengenal daerah itu, tetapi lokasi bengkel masih cukup jauh untuk ditempuh dengan ban seperti itu.

"Aduh... gimana, ya? Aku nggak bisa pasang ban serepnya."

Saat itulah suara sebuah sepeda motor berhenti di belakang mobilnya.

Seorang pria mengenakan jaket hitam dan helm full face turun dari motornya.

"Permisi, Mbak."

Arini menoleh. Pria itu membuka helmnya. Wajahnya bersih, kulitnya sawo matang, dengan senyum ramah yang langsung memberi rasa tenang.

"Kenapa mobilnya, Mbak?"

"Bannya kempes, Mas. Kebetulan sekali jauhnya dari bengkel."

"Oh begitu."

Pria itu melirik ban yang sudah rata. "Ada dongkraknya, kan?"

"Ada, Mas."

"Oke, keluarkan aja dongkraknya, biar saya bantu."

"Wah... nggak apa-apa, Mas? Takut merepotkan."

"Nggak kok. Kebetulan saya juga lagi nggak buru-buru."

Arini mengeluarkan dongkraknya, lalu pria itu juga membantu mengeluarkan ban serepnya. Setelah itu dia langsung bekerja dengan cekatan.

Ia memasang dongkrak pada posisi yang tepat, mengendurkan baut roda sebelum mengangkat mobil, lalu mengganti ban yang bocor dengan ban serep. Gerakannya begitu terampil, menandakan ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu.

Sementara itu, Arini hanya berdiri di samping sambil sesekali membantu mengambilkan peralatan.

"Mas sering ganti ban sendiri, ya?" tanyanya.

Pria itu terkekeh pelan. "Ya, lumayan sering. Dulu waktu kuliah saya kerja di bengkel, jadi saya sering mengganti ban bocor."

Tak sampai lima belas menit, ban serep sudah terpasang rapi.

"Nah, selesai."

Arini mengembuskan napas lega.

"Alhamdulillah... Terima kasih banyak, Mas. Kalau nggak ada Mas, saya benar-benar bingung."

"Sama-sama."

Arini membuka dompetnya. "Ini buat beli kopi, Mas."

Pria itu langsung menggeleng sambil tersenyum. "Nggak usah, Mbak. Saya ikhlas bantu."

"Tapi..."

"Nggak apa-apa. Anggap aja saya lagi nolong saudara."

Jawaban sederhana itu membuat Arini tersenyum. Sudah lama ia tidak bertemu seseorang yang menolong tanpa mengharapkan imbalan.

"Kalau begitu... setidaknya saya boleh tahu nama Mas?"

"Oh iya, saya Galang."

"Arini."

Galang kemudian mengeluarkan ponselnya. "Kalau nanti ban aslinya sudah ditambal, jangan lupa dipasang lagi, ya."

"Iya."

"Oh ya... siapa tahu suatu saat Mbak butuh bantuan lagi. Boleh tukeran nomor?"

Arini sempat terdiam beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa pria di hadapannya bukan orang yang patut dicurigai. Pembawaannya sopan, bicaranya santun, dan sejak tadi menjaga sikap.

"Boleh."

Mereka pun saling menyimpan nomor telepon masing-masing.

Sebelum pergi, Galang masih sempat berpesan,

"Hati-hati di jalan, Mbak Arini!"

"Iya, Mas Galang. Sekali lagi terima kasih."

Galang mengenakan kembali helmnya, lalu melaju meninggalkan tempat itu.

Arini memperhatikan motor itu hingga menghilang di tikungan.

Entah mengapa, pertemuan yang sangat singkat itu meninggalkan kesan hangat di hatinya.

Beberapa hari kemudian, Galang mengirimkan pesan singkat hanya untuk memastikan apakah Arini sudah sampai rumah dengan selamat hari itu. Percakapan sederhana itu perlahan berubah menjadi kebiasaan. Mereka saling bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan impian masing-masing.

Hari demi hari berlalu. Intensitas komunikasi mereka semakin sering. Sesekali Galang mengajak Arini menikmati secangkir kopi sepulang kerja atau makan malam sederhana di akhir pekan. Arini merasa nyaman berada di dekatnya. Galang selalu menjadi pendengar yang baik, sosok yang sabar, dan pandai membuatnya tertawa.

Tak butuh waktu lama hingga benih-benih cinta tumbuh di antara keduanya. Beberapa bulan setelah mereka menjalin hubungan, Galang mulai membicarakan masa depan.

"Rin, aku nggak mau hubungan kita jalan tanpa arah. Aku ingin menikah sama kamu."

Ucapan itu membuat Arini terdiam. Ada rasa bahagia yang memenuhi dadanya, tetapi di saat yang sama muncul kegelisahan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

"Mas... sebelum melangkah lebih jauh, ada sesuatu yang harus kamu tahu."

Galang menatap Arini dengan lembut. "Apa pun itu, aku ingin mendengarnya langsung darimu."

Arini menarik napas panjang. "Aku memang tahu siapa orang tuaku." Galang menatapnya dengan penuh perhatian. "Tapi mereka sudah meninggal dunia saat aku masih kelas dua SD."

Suara Arini mulai bergetar.

"Setelah mereka meninggal, aku sempat berpikir akan tinggal bersama keluarga besar. Ternyata... tidak ada satu pun yang bersedia merawatku."

Matanya mulai berkaca-kaca, seolah kembali menjadi anak kecil yang kehilangan tempat pulang.

"Akhirnya aku diserahkan ke panti asuhan. Di sanalah aku dibesarkan sampai dewasa."

Galang terdiam. Dadanya terasa sesak membayangkan seorang anak kecil yang baru kehilangan kedua orang tuanya, lalu harus menerima kenyataan bahwa tidak ada keluarga yang mau menerimanya.

"Jadi... sejak kelas dua SD kamu tinggal di panti?"

Arini mengangguk pelan. "Iya. Untungnya pengurus panti sangat baik. Mereka menyekolahkanku sampai lulus. Bahkan aku dibolehkan sampai kuliah. Aku kuliah sambil kerja. Setelah bekerja, aku mulai mandiri dan membangun usahaku sendiri."

Arini tersenyum tipis, tetapi senyum itu menyimpan luka yang begitu dalam. "Itulah sebabnya aku tidak punya keluarga yang bisa menyambut keluargamu nanti."

Galang kembali menatap Arini. "Rin, dengarkan aku!" Arini mengangkat wajahnya. "Aku mencintaimu bukan karena siapa keluargamu, tapi karena siapa dirimu. Kamu perempuan yang kuat, mandiri, pekerja keras, dan berhati baik. Masa lalumu tidak mengurangi sedikit pun rasa cintaku."

Air mata Arini akhirnya jatuh. "Terima kasih, Mas."

Beberapa minggu kemudian, Galang datang ke rumah Bu Khadijah, ibu panti yang sudah dianggap ibunya. Galang datang bersama kedua orang tuanya untuk menyampaikan niat baik melamar.

Suasana awalnya berlangsung hangat. Arini menyambut mereka dengan ramah. Hidangan yang disiapkannya pun sederhana, tetapi menunjukkan ketulusan.

"Maaf, Nak Arin ini anak pertama ya?" Tanya Bu Sumarni kepada Arini. Saat itu Bu Khadijah sedang ke dalam rumah.

Arini menundukkan kepala sesaat. "Maaf, Bu. Ayah dan ibu saya sudah meninggal sejak saya masih kecil. Bu Khadijah ini adalah pengganti orang tua saya. Beliau yang mengasuh sejak saya ditinggal kedua orang tua saya. Beliau adalah pemilik panti asuhan yang di seberang itu."

Arini menunjuk sebuah panti yang ada di sebrang rumah Bu Khadijah.

Bu Sumarni tampak terkejut. "Kalau saudara? Om, tante, atau keluarga yang lain?"

Arini tersenyum pahit. "Ada, Bu. Tapi... dulu tidak ada yang bersedia merawat saya. Sejak masuk panti, hubungan kami juga sudah tidak pernah terjalin lagi."

Ruangan seketika menjadi sunyi. Bu Sumarni hanya mengangguk pelan, tetapi dalam benaknya mulai muncul berbagai pertimbangan.

Sepulang dari rumah Arini, Bu Sumarni mengajak Galang berbicara.

"Galang, Ibu sebenarnya masih ragu."

"Kenapa, Bu?"

"Ibu kasihan sama Arini. Dia anak baik. Tapi menikah itu bukan cuma menyatukan dua orang. Kalau dia tidak punya keluarga yang mendampingi, bagaimana nanti?"

Galang menatap ibunya dengan tenang.

"Bu, memang keluarga kandungnya tidak membesarkannya. Tapi justru itu yang membuat Arini menjadi perempuan yang kuat."

"Ibu hanya khawatir."

"Yang perlu kita nilai adalah akhlaknya, Bu. Bukan siapa yang membesarkannya."

Bu Sumarni masih diam. Galang melanjutkan,

"Bayangkan, Bu. Waktu kelas dua SD dia kehilangan ayah dan ibunya sekaligus. Setelah itu, tidak ada keluarga yang mau merawatnya. Tapi dia tidak tumbuh menjadi orang yang pendendam. Dia justru tumbuh menjadi perempuan yang pekerja keras, mandiri, dan baik hati. Bukankah itu menunjukkan bahwa dia memiliki hati yang luar biasa?"

Perlahan wajah Bu Sumarni mulai melunak.

"Ibu juga melihat dia sopan."

"Iya, Bu. Dan aku yakin dia akan menjadi istri yang baik."

Bu Sumarni mengembuskan napas panjang.

"Kalau memang itu pilihanmu... Ibu akan merestui."

Senyum lega langsung menghiasi wajah Galang.

"Terima kasih, Bu."

Beberapa hari kemudian, Bu Sumarni kembali menemui Arini.

"Nak, Ibu memang sempat banyak berpikir. Tapi setelah melihat ketulusanmu dan mendengar cerita hidupmu, Ibu yakin kamu perempuan yang kuat. Semoga kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Galang."

Air mata Arini mengalir tanpa bisa ditahan.

"Terima kasih, Bu. Saya akan menjaga Mas Galang dan menghormati Ibu seperti ibu saya sendiri."

Saat itu, Arini benar-benar percaya bahwa akhirnya ia telah menemukan keluarga yang akan menerimanya tanpa memandang masa lalunya.

_________________________________

Hai Readers jangan lupa mampir ke novel aku yang lainnya ya!

Rahasia Masa Lalu Suami dan Sang Ipar (sudah tamat).

Ditalak Sesaat Setelah Akad (sudah tamat)

Benang Putus Karena Cinta Pertama. (Up)

Oh iya jangan lupa beri masukan dan kritikan yang membangun yah, biar makin semangat up novelnya. Terimakasih 🙏🏼🙏🏼🙏🏼

1
Arin
Untung ada Hana yang suka rela mau membantu Arini untuk menghadapi keluarga benalu si Galang
Heni Setiyaningsih
novel ini alur ceritanya lambat ya Thor, dah sampai bab 31 gk ada tindakan yang tegas dr Arini. Jadikan Arini sosok yg tegas,tdk menye" danjgn mau di tindas💪
Arin
Betul itu idenya Hani..... Jual rumahmu. Malah kalau bisa jual sama orang yang punya kuasa atau orang yang punya bekingan. Jadi pas mau ambil rumah yang sudah di beli, mereka akan mengerahkan anak buahnya buat ambil tuh rumah.
Neneng Yensiana
buat apa Arini banyak yg lebih baik buat Galang dan ibunya TDK berkutik sebar video dan foto pernikahannya SM mayang
Heni Setiyaningsih
terimakasih udah double up
sehat terus dan semangat Thor 😍💪💪💪
Arin
Dasar benalu-benalu.... gak pingin kehilangan kenyamanan pingin mempertahankan Arini. Untuk kebutuhan biologis yang diandelin si Mayang..... dasar laki-laki serakah.
Ma Em
Bu Sumarni dan Galang tdk mau bercerai dgn Arini bkn karena Galang msh cinta dgn Arini tapi hdp Bu Sumarni dan Galang takut hdp nya susah karena tdk ada dukungan materi dari Arini .
Heni Setiyaningsih
dasar orang gila..... stres
Arin
Laki-laki egois ingin menang sendiri. Kalau dirimu tidak mau menceraikan Arini, tenang Arini punya bukti perselingkuhan mu dan pernikahan mu dengan Mayang. Tanpa persetujuan darinya..... Mau maju gak mau ceraikan Arini, mungkin Arini tutup mata dengan melaporkan mu sebagai pegawai ASN pasti kena sanksi karena poligami mu. Atau laporkan polisi kasus perselingkuhan.... tinggal pilih Galang yang mana???
Arin: aku dukung itu
total 2 replies
Arin
Hidup mu sekarang berantakan karena datangnya istri kedua mu. Memang ada ya istri yang mau menampung dan melayani madunya di rumah miliknya sendiri??? Yang ada itu bodoh....
Kalau istri lebih mandiri punya apa-apa sendiri ya mending pisah daripada cuman diperalat keluarga suami.
Cha Libra
udh ke 4 kli bkin Novel tpi smua fl lom ada yg badas terllu d bkin lemot ...sllu pelakor d depan
Ma Em
Si Galang dan keluarga nya yg benalu msh saja menyalahkan Arini bkn nya sadar Galang susah akibat keputusan nya yg sdh menikah lagi
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Rose//Rose//Rose//Rose/
Heni Setiyaningsih
kurang banyak Thor up nya 😍💪
Arin
Nyalahkan Arini terus.... dirimu saja yang gak bisa jaga mata. Udah punya istri masih aja ngelirik Mayang malah ajak nikah sekalian. Mentang- mentang udah berpenghasilan sendiri. Tapi seharusnya sadar duitmu cukup gak buat dirimu, Arini belum lagi ibumu, Vera, terus keponakan mu yang tiap bulan minta jatah uang jajan???
Arin
Ini salah satu laki-laki tidak bersyukur. Udah punya istri Arini yang punya usaha sampingan. Malah ingin nambah istri lagi. Sekarang pusingkan??? Dulu untuk hidup aja masih nombok, sekarang ketambahan lagi beban hidup hadeuh. Makanya jangan cuma mikir enaknya doang.... dipikir punya istri lagi enak yang ada nambah pengeluaran buat hidup juga kan???
Lee Mba Young
Kl arini berani laporin galang berarti dia hebat👍.
tp kl gk berani laporin berarti wanita lemah. mkne pantes di injak injak lemah sih. kasian kl punya anak ntar kl Ada apa apa ma anaknya pasti suruh ngalah walau bener. bukan mncerminkan wanita badas😄🔥
Lee Mba Young
lebay lemah. laporkan. itu lah kenapa km di hina di injak injak krn km perempuan lemah.
lbih bagus laporin beres.
kymlove...
terlalu lemah.... terlalu baik... harusnya sat set rebut kembali semua yang memang milikmu, dan kasih pelajaran semua orang yang menzolimi mu... nunggu karna Tuhan, kelamaan🤧
kymlove...: bener... tinggal balas dendam aja, dan ambil kembali yang emang udah jadi haknya, malah masih mikir dan debat sama hatinya sendiri, malah ikhlas dan nunggu karma Tuhan yang entah kapan terjadinya!!!! goblok emang!!
total 2 replies
Cha Libra
bkin arini tegas thour ambil smua mlik Arini dri benalu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!