32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Sore itu terasa lebih tenang daripada biasanya. Mungkin karena Helda dan Nenek Ema sudah pulang. Mungkin karena Sean akhirnya meminta maaf. Atau mungkin karena untuk pertama kalinya sejak Vivi datang ke rumah ini, tidak ada perang terbuka yang sedang berlangsung.
Di halaman belakang, Yuan dan Saka sedang bermain bola. Ella sibuk meniup gelembung sabun. Lili berlari ke sana kemari sambil tertawa mengejar kupu-kupu yang bahkan tidak ada. Rumah itu penuh suara anak-anak. Namun tidak lagi terasa seperti medan perang.
Vivi duduk di bangku kayu teras belakang. Tangannya memegang segelas teh hangat. Hari ini melelahkan. Sangat melelahkan. Tetapi entah kenapa, hatinya terasa lebih ringan. Tak lama kemudian seseorang datang. Duduk di bangku sebelahnya. Tanpa diminta. Tanpa bicara. Sean. Mereka duduk berdampingan. Memperhatikan adik-adiknya bermain. Cukup lama. Sampai akhirnya Vivi tersenyum kecil. "Aneh."
Sean melirik. "Apa?"
"Biasanya kalau ada kamu, pasti ada rencana pemberontakan."
Sean langsung salah tingkah. "Aku nggak separah itu."
"Oh ya? Jadi tiga puluh dua calon istri sebelum aku gagal sendiri-sendiri?"
Sean pura-pura batuk. Vivi tertawa. Dan untuk pertama kalinya, Sean tidak merasa tertawa itu mengganggu. Beberapa menit berlalu. Lalu tiba-tiba Sean berkata pelan. "Aku memang sengaja mengusir mereka."
Vivi tidak terlihat terkejut. Karena sebenarnya ia sudah tahu. "Kenapa?"
Sean menatap lapangan kecil di depan rumah. Matanya mengikuti Lili yang sedang berlari. Lalu ia menjawab. "Karena aku harus menjaga mereka."
Vivi menoleh. Nada suara Sean beubah lebih dewasa melebihi usianya. "Menjaga siapa?"
"Adik-adikku." Jawaban itu keluar cepat. Tanpa ragu. Vivi diam. Membiarkan Sean melanjutkan. "Waktu Mama sakit..." Suara Sean mulai mengecil. "Aku pernah sendirian sama Mama." Angin sore berembus pelan. Tidak ada suara lain selain tawa anak-anak dari kejauhan. "Mama bilang..." Sean menelan ludah. "Kalau suatu hari Mama nggak ada..." Kalimatnya berhenti. Vivi tidak menyela. "aku harus menjaga adik-adikku." Akhirnya kalimat itu selesai juga. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Sean menunduk. "Aku janji sama Mama. Aku bilang aku akan jaga mereka."
Vivi merasakan dadanya sesak. Karena sekarang semuanya masuk akal. Semua kemarahan. Semua perlawanan. Semua rencana mengusir calon ibu tiri. Bukan karena Sean jahat. Bukan karena Sean nakal. Melainkan karena seorang anak kecil sedang berusaha menepati janji terakhir kepada ibunya. "Jadi kamu menganggap aku ancaman?" tanya Vivi lembut.
Sean mengangguk pelan. "Awalnya. Karena aku nggak tahu kamu."Ia memandang Yuan yang sedang tertawa bersama Saka. "Kalau ada orang baru datang, Terus dia jahat, Yang kena duluan pasti mereka."
Vivi menatap anak itu lama. Sepuluh tahun. Usia yang seharusnya dipenuhi permainan. Sepeda. Komik. PR sekolah. Bukan memikirkan keselamatan empat adiknya. "Sean. Menurutmu menjaga itu artinya apa?"
Sean berpikir. Lalu menjawab. "Memastikan mereka nggak terluka."
Vivi mengangguk. "Benar." Lalu ia tersenyum. "Tapi menjaga bukan berarti harus melakukannya sendirian. Mama kamu tidak menyuruhmu menjadi ayah. Tidak menyuruhmu menjadi ibu. Tidak menyuruhmu menjadi orang dewasa." Mata Sean perlahan membesar. "Mama cuma menyuruhmu menjaga adik-adikmu." "Dan kamu sudah melakukannya dengan sangat baik."
Untuk pertama kalinya, Sean merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Pengakuan. Bukan bahwa ia sempurna. Bukan bahwa semua tindakannya benar. Tetapi bahwa usahanya dilihat. Dan dihargai. Air mata perlahan menggenang di matanya. "Aku capek."Kalimat itu keluar begitu saja. Sangat pelan. Nyaris seperti bisikan. Namun Vivi mendengarnya.
"Aku tahu."
"Aku selalu harus mikir. Aku harus jaga Yuan. Aku harus jaga Saka. Aku harus jaga Ella. Aku harus jaga Lili." Suaranya mulai bergetar. "Kalau aku salah, aku takut Mama kecewa." Dan akhirnya Anak laki-laki yang selama ini menjadi pemimpin pemberontakan itu menangis. Bukan karena dimarahi. Bukan karena kalah. Melainkan karena sudah terlalu lama memikul beban yang bukan miliknya.
Vivi tidak langsung memeluknya. Karena ia tahu Sean bukan anak yang suka dipeluk. Ia hanya duduk di sampingnya. Tetap di sana. Tidak pergi. Setelah beberapa saat, Vivi berkata pelan. "Sean, mulai hari ini, kamu boleh berbagi tugas itu denganku." Sean menatapnya. "Aku nggak akan menggantikan Mama. Aku juga nggak akan mengambil posisi kamu." Vivi tersenyum hangat. "Tapi kalau tujuan kita sama. Menjaga Yuan, Saka, Ella dan Lili." Ia mengulurkan tangan. "Kita bisa jadi satu tim."
Sean menatap tangan itu cukup lama. Sangat lama. Lalu perlahan Anak yang selama ini menjadi bos kecil, pemimpin perlawanan, dan penjaga gerbang terakhir keluarga itu mengulurkan tangannya. Dan menjabat tangan Vivi.
Sore itu, untuk pertama kalinya sejak Vivi masuk ke rumah Baskara, Pemimpin pemberontak akhirnya menyerah. Bukan karena kalah. Melainkan karena akhirnya menemukan seseorang yang bersedia ikut memikul beban yang selama ini ia tanggung sendirian.
***
Tidak ada keajaiban yang terjadi dalam semalam. Sean tidak tiba-tiba menjadi anak paling penurut. Yuan tetap suka berdebat. Saka masih membuat kekacauan setidaknya sekali sehari. Ella masih sesekali menangis ketika merindukan ibunya. Dan Lili tetap menjadi bayangan kecil yang mengikuti Vivi ke mana pun. Namun perlahan, sesuatu berubah di rumah itu. Sejak percakapannya dengan Sean sore itu, suasana menjadi berbeda. Sean masih memanggilnya Tante Vivi. Masih menjaga jarak seperlunya. Tetapi tidak lagi menganggap Vivi sebagai musuh. Yang lebih penting lagi, ia tidak lagi memimpin operasi-operasi rahasia untuk mengusir ibu tirinya.
Suatu pagi saat sarapan, Saka tanpa sengaja menjatuhkan segelas susu ke lantai. Cairan putih itu langsung menyebar ke mana-mana. Saka membeku. Biasanya ia akan buru-buru menyalahkan Yuan. Atau bersembunyi.
Namun sebelum Vivi sempat berkata apa-apa, Sean berdiri. "Ambil kain pel."
Saka berkedip. "Hah?"
"Yang numpahin siapa?"
"Aku..."
"Ya sudah, bersihkan."
Vivi memperhatikan. Lalu tersenyum diam-diam. Karena dulu Sean akan membela adiknya apa pun yang terjadi. Sekarang ia mulai mengajarkan tanggung jawab. Persis seperti yang selama ini Vivi lakukan. Ketika mata mereka bertemu, Sean terlihat salah tingkah. "Apa?" tanyanya.
"Nggak apa-apa." jawab Vivi. "Aku cuma bangga." Sean langsung memalingkan wajah. Namun Vivi sempat melihat ujung telinganya memerah.
Perubahan berikutnya datang dari Yuan. Anak itu terlalu pintar untuk menerima seseorang hanya karena kata-kata. Ia membutuhkan bukti. Dan bukti itu datang sedikit demi sedikit. Saat Vivi tetap membantu tugas sekolahnya meski mereka sedang bertengkar. Saat Vivi membela Yuan ketika ditegur ayahnya. Saat Vivi duduk sampai larut malam membantu proyek sainsnya. Suatu malam Yuan berkata tanpa menoleh, "Kalau Tante pergi, tugas IPA-ku pasti jelek."
Vivi tertawa. "Itu pujian atau ancaman?"
"Pujian." Lalu setelah jeda panjang. Yuan menambahkan, "Mungkin." Bagi Yuan, itu sudah setara dengan pengakuan cinta.
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik