Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 16.
Ruang briefing masih hening setelah Kikan masuk, para trainee otomatis duduk lebih tegak. Kikan berdiri di depan ruangan bersama kepala akademi dan beberapa instruktur. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tenang.
"Selamat pagi semua," ucapnya ramah.
"Pagi," jawab para trainee hampir bersamaan.
"Saya ingin tau sesuatu, di angkatan ini... siapa trainee dengan nilai dan poin terbaik sejauh ini?"
Beberapa trainee langsung saling melirik.
Sementara itu kepala instruktur membuka tablet di tangannya. Di layar terlihat daftar nama pada trainee pilot lengkap dengan profil dan foto mereka. “Untuk saat ini, ada dua nama yang selalu berada di posisi teratas."
Kikan mengangkat alisnya. "Siapa?"
"Kataleya dan Kaisar." Kepala Instruktur menyodorkan tablet pada Kikan.
Saat kedua nama itu disebut, ruangan sedikit riuh. Rafi dan Viola tampak tidak senang.
Kikan melihat layar tablet, lalu memandang ke arah barisan tengah. Matanya berhenti pada Kaisar dan Leya yang duduk berdampingan.
"Apa itu kalian?"
"Ya." Jawab Leya.
"Tapi angka di laporan belum cukup," ucap Kikan.
Instruktur sedikit bingung. "Maksud Anda?"
"Saya ingin melihat langsung kemampuan mereka," Kikan mengembalikan tablet pada kepala Instruktur. "Segera siapkan pesawat, kita terbang sekarang."
Ruangan seketika ramai.
Kikan masih menatap ke arah Leya dan Kaisar. "Kalian berdua keberatan?"
"Tidak." Leya menggeleng.
Kaisar juga langsung berdiri, "Tentu saja tak masalah."
Namun sebelum semua orang bergerak keluar ruangan, sebuah suara terdengar dari arah pintu.
"Maaf saya terlambat, saya akan ikut."
Semua orang menoleh, Arkana berdiri di dekat pintu dengan seragam Instruktur. "Saya salah satu instruktur di sini, saya akan mengawasi."
"Silahkan." Kikan hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian di hanggar, sebuah pesawat latih sudah siap di runway. Leya duduk di kursi pilot, kaisar di co-pilot. Sementara Arkana duduk di kursi belakang pilot sebagai instruktur pengawas, dan Kikan duduk di kabin kecil di bagian belakang.
Mesin mulai menyala, suara mesin pesawat memenuhi hanggar.
"Checklist," kata Leya singkat.
Kaisar langsung membaca. "Battery on?"
"On."
"Fuel?"
"Checked."
Proses berjalan cepat dan rapi, Arkana memperhatikan dari belakang. "Kecepatan kalian, lumayan."
"Sudah biasa." Kaisar tak menoleh saat menjawab
Beberapa menit kemudian pesawat mulai meluncur di runway.
"Take off," kata Leya.
Pesawat naik perlahan ke udara. Di kabin belakang, Kikan memperhatikan semuanya dengan tenang.
Awalnya penerbangan berjalan lancar. Namun setelah beberapa menit, Arkana mulai berbicara lagi. "Altitude terlalu cepat."
“Masih dalam batas aman." Kata Leya tanpa mengalihkan fokusnya, ia tetap melanjutkan dan tidak memperdulikan peringatan Arkana.
Arkana mendengus, "Kau hanya trainee, dengarkan Instrukturmu!"
"Semua angka normal." Kaisar akhirnya menoleh ke belakang dan menatap Arkana tajam.
"Diam! Kau bukan instruktur!" Balas Arkana dengan nada tinggi.
Suasana di kokpit mulai tegang, Leya menarik nafas pelan. "Kita fokus saja."
Namun beberapa waktu kemudian, alarm kecil berbunyi. Angin di ketinggian membuat pesawat sedikit goyang. Kikan di belakang langsung menegang di sandaran kursi.
"Turunkan hidung pesawat!" Arkana memerintah dengan suara keras.
"Belum perlu," Leya kembali menolak.
"Turunkan sekarang!"
Kaisar menatap panel instrumen. "Crosswind, masih bisa kita stabilkan.“
"Kalian berdua terlalu percaya diri!" Arkana mulai marah.
Namun Leya sudah mengambil alih kontrol sepenuhnya, tangannya bergerak cepat di kontrol. Pesawat sempat berguncang cukup keras, Kikan memegang kursinya lebih erat. Beberapa waktu terasa tegang, lalu perlahan pesawat kembali stabil. Suara mesin kembali tenang.
Di kokpit, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.
"Nice!" Kaisar menoleh ke arah Leya dengan senyum bangga.
Leya hanya tersenyum kecil. Sementara di kabin, Kikan juga ikut tersenyum. Sekarang dia mengerti, kenapa kakaknya bisa tertarik pada Leya.
Tak lama kemudian, pesawat mendarat dengan mulus. Roda menyentuh runway dengan halus, pesawat berhenti di hanggar. Kikan berjalan turun dari tangga pesawat, dia melihat ke arah Leya yang sedang melepas headset.
"Kemampuanmu bagus," katanya singkat pada Leya.
"Terima kasih," jawab Leya.
Setelah semua turun, para staf langsung mendekat untuk mengambil alih pesawat.
Arkana berdiri tak jauh dari sana, wajahnya terlihat sangat buruk. Karena ia menolak mengakui, jika kemampuan Leya masih sama hebatnya seperti dulu.
Kaisar berjalan menjauh ke sisi hanggar, tak lama Kikan menyusul.
"Kau sengaja datang tanpa bilang padaku?" Tanya Kaisar dengan suara pelan pada adiknya.
Kikan melipat tangannya, "Kalau aku bilang-bilang dulu, keseruannya nanti hilang."
“Kikan, kau sebenarnya mau ngapain?" Kaisar mulai tak sabar.
Kikan lalu menatap ke arah Leya yang sedang berbicara dengan instruktur lain. Ia tersenyum kecil. "Sebagai adikmu, aku harus tau wanita seperti apa yang kau taksir.“
"Kau bukan Mama, nggak ada hak untuk merestui." Kaisar mendengus.
Kikan tertawa pelan. "Bang, santai saja. Aku cuma bercanda. Siapa pun wanita yang nanti bang Kaisar pilih, itu hak-mu. Sama sepertiku, nantinya... aku berhak memilih pria yang kuinginkan.“
Dia lalu sedikit mendekat ke arah kakaknya, "Tapi serius, mata abang bagus. Kau dapat wanita hebat, jangan sampai lepas."
Kaisar akhirnya menghela nafasnya.
"Tapi tahan dulu, sampai dia cerai. Nanti Abang disebut pebinor lho..."
“Aku nggak perduli," jawab Kaisar santai.
Kikan mencibir. "Cih! Kau sudah bucin."
Wanita itu berbalik badan, dan berjalan pergi sambil tertawa geli.
Sore itu akademi mulai sepi, para trainee satu persatu pergi. Leya berdiri di pinggir parkiran sambil melihat ke arah mobilnya yang terparkir.
“Masih nggak bisa?" Tanya Kaisar yang baru keluar dari gedung Akademi.
Leya menggeleng. "Tadi pagi masih bagus, sekarang malah nggak mau nyala."
Kaisar menatap ke arah mobil tua milik wanita itu. "Bawa ke bengkel."
"Besok saja, sekarang aku cuma mau cepat pulang. Kasihan Arsen, udah nungguin aku beli cake kesukaannya."
Kaisar membuka pintu mobilnya sendiri. "Ya udah, aku antar. Sekalian aku juga mau jumpa anakmu."
Leya sempat ragu sebentar, lalu mengangguk.
Tak lama mobil Kaisar sudah melaju keluar dari area akademi. Perjalanan biasa saja, Leya bersandar sambil melihat keluar jendela mobil.
Sampai tiba-tiba, mobil melewati sebuah kafe di pinggir jalan. Leya yang tadinya tidak terlalu memperhatikan, mendadak menenggakkan badan. Matanya terpaku ke arah teras kafe, disana duduk seorang pria yang sangat ia kenal. Di depan pria itu, ada seorang wanita. Keduanya terlihat santai, bahkan seperti tertawa.
Perut Leya seperti ditarik oleh sesuatu, tanpa sadar kenangan lama menyerangnya. Hari ketika ia melihat Arkana bersama wanita lain.
“Nggak mungkin..." lirihnya.
"Ada apa?" Tanya Kaisar sambil melirik wanita itu.
Tiba-tiba Leya berseru keras. “Kai! Stop!"
Kaisar mengerem mendadak, ia menepikan mobil. Belum sempat dia bertanya lagi, Leya sudah membuka pintu dan turun.
“Leya!"
Namun Leya sudah berjalan cepat menuju kafe. Kaisar menghela nafas, lalu memarkirkan mobilnya lebih dulu dengan benar.
Diluar kafe, ayah Leya masih duduk bersama wanita itu. Mereka terlihat akrab, dan Leya berhenti beberapa meter dari mereka.
"Enggak..." dadanya naik turun, menahan emosi. "Ayah nggak mungkin khianati Ibu."
Matanya mulai memanas, "Ayah tahu rasanya aku dikhianati, jadi nggak mungkin Ayah..."
Langkah Kaisar berhenti tepat di samping Leya, dia mengikuti arah pandangan wanita itu. Sontak tubuhnya terpaku, matanya membesar.
"Mama..."
Leya menoleh, wajahnya penuh kebingungan. "Mama?"
“Ya, dia—"
Sebelum kalimat Kaisar selesai, Ayah Leya dan ibunya Kaisar sudah menoleh ke arah mereka.
Ayah Leya berdiri setengah terkejut. "Leya..."
"Kai..." sementara Mama Kartika juga membeku.
Leya menatap Mama Kartika, matanya membesar. "Tante..."
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁