SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 SANG MALAIKAT KECIL KEMBALI MENYELAMATKAN GENDIS
🕒🕒🕒🕒🕒🕒🕒
Singkat cerita...
3 bulan telah berlalu...
Pak Diki dan Bu Fitri dikenal oleh lingkungan barunya di Cirebon ini, dengan status sebagai pengusaha warung makan yang sukses. Dan hal itu terlihat karena mulai dikenal luasnya warung makan milik mereka.
Tak tanggung-tanggung, di lingkungan barunya ini, Pak Diki dan Bu Fitri langsung membuka 4 cabang warung makan. Dengan jarak antar warung makan yang agak berjauhan. Dan juga letaknya yang selalu berada di pinggir jalan raya serta di lokasi-lokasi strategis. Dengan mudah warung makan mereka mendapatkan banyak pelanggan.
Tentu, hal itu juga semakin membuat pundi-pundi kekayaan pesugihan mereka semakin mengalir deras...
Dengan hasil setiap hari yang semakin bertambah, Pak Diki dan Bu Fitri bisa langsung membeli mobil dengan merk dan harga yang mahal. Juga mereka berdua bisa membeli barang-barang yang cukup mewah untuk sekelas pengusaha warung makan seperti mereka.
Namun...
TANPA PERNAH MEREKA INGAT...
SEMUA ITU MEMBUAT SOSOK MAKHLUK GHOIB PESUGIHAN AKAN SEMAKIN MENJERAT NYAWA MEREKA SENDIRI...
CEPAT... ATAU LAMBAT...
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳
Pagi ini, Gendis sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah...
Gendis keluar dari dalam kamarnya, dengan memakai seragam baju berwarna putih, dan rok berwarna merah, serta dengan sebuah tas berwarna pink. Tak pernah lupa juga tongkat lipatnya yang selalu menjadi mata ke tiga di setiap langkahnya.
Karena kamar Gendis berada di lantai dua rumah barunya ini, ia harus selalu berjalan dengan perlahan dan penuh hati-hati, menuruni anak tangga dari lantai dua itu untuk sampai di lantai satu.
Meskipun sudah tiga bulan ia tinggal di rumah barunya ini, Gendis masih harus selalu berhati-hati melangkah antar lantai rumahnya, dan juga antar ruangan rumahnya ini.
Ketika ia sudah sampai di teras rumah, tiba-tiba Bapaknya yang ternyata sedang bersantai, berkata...
"Mau dianterin sama Bapak Gak?" tanya Pak Diki sambil bersantai meminum secangkir kopi panas, ditemani dengan rokoknya.
Sontak, sedikit kaget Gendis mendengar suara Bapaknya itu.
"Ah... Emmm... Gak usah Pak, aku bareng aja sama Salsa." jawab Gendis.
"Ssssss... Huuuuufffff..." suara hisapan rokok Pak Diki, sambil menatap wajah anaknya yang buta itu.
"Oooh gitu... Emangnya kenapa kamu gak mau dianter sama Bapak?" tanya Pak Diki.
"Enggak, gak apa-apa." jawab Gendis sedikit ketus.
"Kan malah lebih enak naik mobil sama Bapak, dari pada kamu harus naik sepeda butut punya teman kamu itu!" ucap Pak Diki.
Entah, ucapan sang Bapak itu justru membuat hati Gendis merasa dihina. Padahal sepeda itu bukan miliknya.
"Loh-loooh... Kenapa kamu malah keliatan marah gitu sama Bapak, hah?" ucap Pak Diki lagi, sambil berjalan menghampiri anaknya itu.
Gendis tak menjawab Bapaknya itu, justru ia terlihat memalingkan wajahnya dari sang Bapak. Genggaman tangannya di tongkat juga terlihat semakin erat, menahan rasa kesal.
"Heh, dengerin Bapak ya..." ucap Pak Diki, kali ini sambil menggenggam dagu anaknya dengan agak keras.
Gendis pun wajahnya dipaksa menatap wajah sang Bapak.
"Bapak sekarang udah punya banyak uang, udah punya mobil, udah bisa kasih apapun yang kamu mau! Tolong dong, kamu hargai usaha Bapak!" kata Pak Diki dengan nada bicara yang mulai kesal akan tingkah Gendis.
Lagi-lagi, Gendis tak menjawab. Ia hanya menatap wajah Bapaknya itu dengan mata putihnya. Sambil menahan sedikit rasa sakit atas genggaman tangan Bapaknya itu di dagu Gendis.
"Kenap sih? Kamu kok malah kayak makin jauh sama Bapak? Emang kamu pikir selama ini kamu hidup sama siapa hah?!" tambah Pak Diki.
"Kamu tuh harusnya bersyukur! Bisa punya orang tua yang kaya seperti Bapak!" ucap Pak Diki lagi.
Gendis mulai cepat napasnya, mulai cepat detak jantungnya. Gendis takut akan mendapatkan perlakuan kasar lagi dari Bapaknya itu.
"Heh!! Jawab!! Jangan diem aja kamu!!" sedikit membentak Pak Diki.
Akhirnya...
Gendis pun memberanikan diri untuk menjawab...
"Iya!! Bapak sekarang udah kaya!! Bapak punya banyak uang!! Tapi, semua uang Bapak itu haram!! Semuanya haram!!" jawab Gendis dengan sedikit membentak Bapaknya itu.
"Hah?? Apa?? Berani kamu ngomong itu lagi?? Dasar kamu... Anak---"
Belum sempat Pak Diki selesai berkata, Gendis segera memotong bicara Bapaknya itu dengan semakin berani...
"ANAK CACAT!! IYA!! AKU ANAK CACAT!! ANAK GAK TAU DIUNTUNG!! ITU KAN YANG MAU BAPAK BILANG?!"
Bentak Gendis, dengan matanya mulai berkaca-kaca...
"OOOH... KAMU SEKARANG UDAH MAKIN BERANI SAMA BAPAKMU SENDIRI YA?!"
Seketika Pak Diki tampak mengangkat tangan kirinya, hendak menampar Gendis!
Tapi, bersamaan dengan itu...
"GENDIIIS... AYO BERANGKAAAT..." teriak Salsa dari depan pagar rumah.
Sontak, Pak Diki tak jadi menampar anaknya itu. Langsung ia menoleh ke arah Salsa di depan pagar sana.
Dan dengan cepat, Gendis melepas genggaman tangan Bapaknya itu dari dagunya, dan segera berlari lurus ke arah Salsa.
"Loh?! Gendis!! Hati-hati!! Jangan lari Gendis!!" teriak Salsa saat melihat Gendis yang berlari.
Dan untungnya, karena Gendis sudah hafal jalan lurus menuju gerbang rumahnya itu, ia sama sekali tak tersandung atau menabrak apapun.
.....
.....
.....
Pak Diki masih berdiri di teras rumah...
Sambil bertolak pinggang dia...
Menatap Gendis yang langsung naik di jok belakang, dan berlalu meninggalkan rumah dibonceng oleh Salsa...
Namun, dengan hati yang sudah tertutup energi gelap kekayaan pesugihan itu, ia berkata sambil meludah...
"DASAR ANAK BAJINGAN!! MASIH UNTUNG BUKAN KAMU YANG JADI TUMBAL... CUIHH!!!!"
😆😆 lanjut kak👍👍👍