NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga yang Harus Dibayar di Ujung Malam

Damar mengeluarkan amplop cokelat dari saku bajunya, lalu meletakkannya di tangan Kinasih. “Kakak sudah berusaha sekuat tenaga. Pinjam ke rekan kerja, menjual barang-barang yang masih bisa dijual, dan mengambil semua tabungan yang tersisa… cuma terkumpul 25 juta saja, Kin. Masih kurang 25 juta lagi. Kalau sampai besok pagi belum ada, dokter bilang nyawa Ibu bisa terancam…”

Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa semangat yang masih tersisa di hati Kinasih. Ia menatap kakaknya yang terlihat sangat tak berdaya, lalu teringat pada tawaran yang sempat ia tolak mentah-mentah tadi.

Pikirannya berpacu kacau. Lima puluh juta… seratus juta… Cukup untuk menyelamatkan nyawa Ibu. Kalau ini satu-satunya jalan, apa lagi yang bisa aku pilih? Harga diriku bisa aku perbaiki nanti, tapi kalau Ibu pergi, dia nggak akan pernah kembali lagi.

Kinasih menggigit bibirnya hingga terasa perih, lalu menatap Damar dengan tatapan yang sudah terlihat berbeda, penuh keputusan pahit.

“Kak, izinin Kinasih keluar sebentar ya. Kinasih mau coba pinjam uang ke teman lama yang mungkin bisa bantu. Percayain Kinasih, Kinasih pasti dapat uangnya malam ini juga,” ucapnya berusaha terdengar tegas, padahal suaranya nyaris pecah.

Damar mengangguk pasrah, tak punya pilihan lain selain mengizinkan. “Hati-hati ya, Kin. Kakak tunggu di sini.”

Begitu keluar dari rumah sakit, Kinasih langsung menekan nomor Riska dengan tangan gemetar hebat. Saat telepon terhubung, suaranya keluar lirih dan bergetar.

“Ris… saya setuju. saya mau terima tawaran itu.”

Di ujung sana, Riska terdiam sesaat sebelum menjawab lembut, “Bagus Kin, kamu sudah mengambil keputusan terbaik. Tunggu sebentar ya, aku hubungi dia sekarang.”

Tak sampai lima menit, Riska menelepon kembali. “Dia setuju, Kin. Uangnya langsung dibayar penuh di muka begitu kamu sampai. Ini alamat hotelnya, kamar nomornya juga sudah aku kirim lewat pesan. Dia tunggu kamu sekarang juga.”

Setelah menutup telepon, Kinasih berjalan terhuyung menuju apotek terdekat. Dengan wajah tertunduk malu, ia membeli obat pencegah kehamilan, lalu meminumnya segera di sudut jalan yang sepi. Air matanya menetes membasahi pipi saat ia menelan pil itu.

Aku lakukan ini supaya nggak ada jejak yang tersisa. Supaya nanti kalau semuanya selesai, aku bisa berpura-pura semuanya nggak pernah terjadi… maafkan aku, Ayah, Ibu… maafkan kehormatan ini yang harus aku korbankan,batinnya hancur berkeping-keping.

Ia naik taksi menuju alamat yang diberikan, sampai akhirnya tiba di depan pintu kamar hotel mewah itu. Detak jantungnya berpacu tak karuan, telapak tangannya basah oleh keringat dingin. Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu itu pelan sekali.

Tok… tok… tok…

Suara langkah kaki terdengar dari dalam, lalu pintu itu terbuka perlahan.

Seketika seluruh darah di tubuh Kinasih terasa membeku, napasnya tercekat, dan matanya melotot tak percaya. Wajahnya memucat total seolah baru melihat hantu.

Di balik pintu itu berdiri sosok yang sangat ia kenal, gagah, tampan, dengan tatapan yang selama ini membuatnya tersipu dan berdebar kencang.

Itu adalah Kenan Aditya Hartmann. Kakak dari sahabatnya sendiri, Amara. Pria yang pernah tersenyum manis dan memujinya dengan tulus, kini berdiri di sana mengenakan kemeja santai yang terbuka sedikit di bagian leher, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dimengerti, campuran keterkejutan, nafsu yang terpendam, dan rasa kemenangan yang samar.

Kenan juga sempat tertegun sebentar melihat gadis yang muncul di depannya, lalu senyum miring yang menggoda dan penuh kekuasaan terukir jelas di bibirnya. Ia membuka pintu lebar-lebar, memberi jalan masuk.

“Ternyata kamu yang dikirimkan, Kinasih… Ayo masuk. Kita punya waktu tiga hari penuh hanya berdua saja,” bisiknya rendah, suara beratnya terasa menggema di telinga Kinasih yang kini sudah tak sanggup bergerak maupun mengeluarkan suara apa pun.

Dunia gadis itu seolah runtuh dan berputar hebat. Di saat ia merasa paling rendah dan terpojok, orang yang menemukannya justru adalah pria yang selama ini diam-diam mulai mengisi hatinya.

Kinasih masih tertegun kaku, seolah seluruh nyawanya melayang melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata, antara rasa malu yang memuncak dan keterkejutan yang tak terkira. Ia hendak mundur, tapi tubuhnya terasa lemas tak berdaya.

Kenan menghela napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak hebat yang melanda seluruh tubuhnya. Tatapannya yang tadinya tajam kini berubah menjadi penuh kesusahan. Ia mengulurkan tangan perlahan, lalu menjelaskan dengan suara berat dan terbata.

“Kinasih… dengarkan aku baik-baik. Aku tidak berniat menjebak atau mempermalukanmu. Tadi siang aku dijebak oleh saingan bisnisku sendiri. Mereka memasukkan obat perangsang yang sangat kuat ke dalam minumanku. Kalau efeknya tidak segera disalurkan, dokter bilang dampaknya bisa fatal, bisa merusak organ tubuh bahkan sampai membahayakan nyawaku sendiri.”

Napaskannya sudah mulai memburu, suaranya terputus-putus menahan keinginan yang membara. “Aku tahu ini tidak adil buat kamu. Aku tahu kamu datang ke sini karena butuh uang, dan kamu sudah mempertaruhkan harga dirimu sendiri. Tapi jika kamu bersedia menemaniku melewati masa ini, aku tidak akan memberimu seratus juta… melainkan dua ratus juta rupiah. Cukup untuk biaya operasi ibumu, bahkan lebih dari cukup untuk menutupi segala kebutuhanmu ke depannya.”

Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Kinasih. Demi nyawa ibunya, ia tak punya pilihan lain. Dengan mata yang berkabut oleh air mata, Kinasih hanya bisa mengangguk perlahan, suaranya lirih bergetar. “Aku… aku mengerti, Kak. Aku bersedia.”

Senyum lega terukir di bibir Kenan, tapi tak lama kemudian napasnya memburu hebat, efek obat itu menyerang kembali dengan dahsyatnya. Tatapannya berubah menjadi penuh nafsu yang meledak-ledak, sulit sekali dikendalikan.

Ia melangkah cepat mendekat, menarik tubuh Kinasih ke dalam pelukan eratnya. Tanpa ragu lagi, bibir Kenan mendarat di bibir Kinasih, menciumnya dalam, liar, dan penuh hasrat yang terpendam.

“Ahhh… hhh…”desahan pelan lolos dari mulut Kinasih, terkejut dan bingung dengan sentuhan yang membakar kulitnya.

Kenan mendorong tubuh gadis itu perlahan hingga terbaring lembut di atas ranjang empuk, sementara dirinya membungkuk di atasnya. Dengan gerakan tergesa tapi tetap berusaha hati-hati, ia membuka kancing bajunya satu per satu hingga tubuh kekar dan berototnya terlihat sepenuhnya. Kinasih menatapnya dengan dada berdebar kencang, wajahnya memerah padam hingga ke telinga, napasnya terengah menahan rasa malu dan rasa takut yang bercampur jadi satu.

“Hhh… Kak Kenan…”suaranya bergetar memanggil pelan.

Kenan tak menjawab, ia kembali menunduk mencium leher halus Kinasih, turun ke bahu, lalu perlahan membuka setiap helai pakaian yang menutupi tubuh mungil itu. Saat kulit putih lembutnya tersentuh udara, Kinasih menggigil hebat, napasnya tersengal-sengal.

“Ahhh… hhh…,”desahannya makin keras saat Kenan menjilat dan mencium setiap lekukan tubuhnya dengan penuh gairah.

Saat Kenan mulai mencoba menyatu dengannya untuk pertama kali, rasa sakit yang tajam dan perih langsung menusuk ke seluruh tubuh Kinasih. Matanya terbelalak, dan ia mendesah keras menahan rasa perih yang luar biasa.

“Aduhhh… Sakit… hhh… Kak… sakit sekali…”desahannya tersendat-sendat, bibirnya tergigit kuat menahan air mata yang ingin tumpah.

Kenan langsung berhenti sejenak, napasnya memburu berat sambil menahan keinginannya sendiri. “Hhhh… maaf… sayang… sabar ya… hhh…” desahannya terdengar parau dan penuh pengendalian. Ia segera menggerakkan tangannya dengan lembut di bagian paling sensitif tubuh Kinasih, membelai dan merangsangnya agar otot-ototnya yang tegang bisa rileks.

Gerakan tangannya membuat rasa sakit itu perlahan berubah menjadi sensasi hangat, geli, dan nikmat yang asing namun terasa memabukkan. Desahan Kinasih berubah, tak lagi kesakitan, melainkan lembut dan bergetar menahan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.

“Ahhh… hhh… Kak… begitu… ahhh…”suaranya terdengar lirih, menggeliat pelan mengikuti sentuhan Kenan.

Merasa tubuh Kinasih sudah benar-benar rileks dan basah sempurna, Kenan pun mencoba memasukkan dirinya kembali, kali ini sangat perlahan, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya menyatu sepenuhnya tanpa rasa sakit lagi, hanya ada rasa hangat dan pas yang membungkus keduanya.

“Hhhh… enak sekali… Kinasih… hhh…”desah Kenan terasa berat dan dalam, matanya terpejam menikmati kehangatan tubuh gadis itu.

Kenan mulai bergerak perlahan di awal, mengikuti irama yang membuat Kinasih nyaman. Namun seiring makin kuatnya efek obat yang menyerang tubuhnya, gerakannya makin lama makin cepat, makin dalam, dan makin liar. Setiap hentakannya menimbulkan sensasi nikmat yang meledak ke seluruh urat nadinya.

Desahan mereka bersahutan memenuhi seluruh ruangan itu:“Ahhh… Kak kenan… hhh… makin dalam… ahhh… nikmat sekali…” desah Kinasih makin keras dan panjang, suaranya memuncak mengikuti setiap dorongan tubuh Kenan.“Hhhh… iya… sayang… begini kan… ahhh… kau sangat ketat dan hangat… hhh…” balas Kenan dengan suara parau, napasnya terengah-engah di leher Kinasih.

Gerakan Kenan makin cepat dan kuat, tubuh mereka beradu hebat seolah tak ingin berpisah lagi. Keduanya lupa segalanya, lupa kesedihan, lupa rasa malu, hanya tersisa kenikmatan yang memabukkan dan menghanyutkan.

Hingga akhirnya, dengan satu hentakan terakhir yang paling kuat dan dalam, keduanya merasakan puncak kenikmatan yang meledak dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Ahhhhhh… Kakkk kenan…”teriak Kinasih mendesah panjang seolah jiwanya terlepas sejenak.“Hhhhhhh… Kinasihhhh…” desah Kenan melengking parau, tubuhnya menegang sepenuhnya sebelum akhirnya melemas perlahan di atas tubuh Kinasih.

Keduanya terbaring terengah-engah, napas mereka masih memburu dan tercampur satu sama lain, berkeringat, dan terasa begitu dekat, seolah malam itu bukan sekadar transaksi, tapi awal dari ikatan yang takkan pernah bisa diputuskan selamanya.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!