NovelToon NovelToon
Labuhan Hati Sang Alpha

Labuhan Hati Sang Alpha

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Manusia Serigala / Ruang Ajaib
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."

Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.

Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.

Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KECURIGAAN XAVIER

Ceklekk

Sosok Pangeran Xavier masuk dengan wajah yang terlihat sedikit kelelahan namun tetap memasang senyum jahil khasnya, diikuti oleh Pangeran Raymond yang berjalan tegap di belakangnya.

"Wah, asyik sekali, sepertinya ada yang sedang membicarakan kami di sini," ucap Pangeran Xavier, langsung mengambil posisi duduk di kursi santai dekat jendela tanpa permisi.

"Kak Xavier! Masuk kamar perempuan itu ketuk pintu dulu kenapa sih! Dasar tidak sopan!" teriak Ara langsung melemparkan bantal kecil ke arah kakaknya.

Xavier dengan lincah menangkap bantal tersebut, lalu tertawa puas melihat wajah adiknya yang memerah karena kesal.

"Galak sekali, Princess, padahal kami ke sini mau membawakan kabar baik," ucap Xavier, menaik-turunkan alisnya misterius.

Raymond menggelengkan kepala melihat kelakuan Xavier, lalu melangkah mendekat ke arah ranjang tempat ibu dan adiknya duduk.

"Ayah sudah selesai diperiksa oleh tabib istana lagi, Bella. Kondisinya sudah jauh lebih stabil, besok pagi, beliau bahkan sudah diizinkan untuk sarapan bersama kita di ruang makan utama," ucap Pangeran Raymond tenang dan berwibawa.

Mendengar kabar itu, rasa cemas yang sejak kemarin menggelayuti dada Ara seketika menguap.

"Benarkah, Kak? Wah, syukurlah! Berarti ramuan herbal yang kemarin Bella selipkan di teh Ayah benar-benar bekerja dengan baik!" seru Ara, senang.

"Ramuan herbal? Jadi teh pahit yang Ayahanda keluhkan tadi sore itu buatanmu, Bella? Astaga, pantas saja beliau sempat mengira tabib istana ingin meracuninya," goda Xavier sambil terbahak-bahak.

"Itu obat herbal alami, Kak Xavier! ilmu pengobatan yang aku pelajari ini jauh lebih praktis daripada obat tabib istana yang cuma bikin mengantuk!" bela Ara berapi-api, hampir saja keceplosan menyebutkan latar belakang jiwanya yang berasal dari dunia modern.

Ratu Soraya, Xavier, dan Raymond hanya bisa saling berpandangan sambil tersenyum.

Bagi mereka, meskipun Ara kadang mengeluarkan istilah-istilah aneh yang tidak mereka mengerti, kegalakan dan keceriaan adiknya inilah yang paling mereka rindukan di istana.

"Ya sudah, yang penting sekarang Ayah sudah membaik, kamu harus menghabiskan makananmu, Bella, lalu segera tidur, besok kita semua harus berkumpul," perintah Raymond tegas namun penuh perhatian.

"Iya, Kak Raymond cerewet," jawab Ara malas, namun tetap meraih mangkuk sup nya.

Setelah ibu dan kedua kakaknya keluar dari kamar dan menutup pintu, suasana kamar kembali menjadi sunyi.

Ara meletakkan sendoknya kembali, nafsu makannya mendadak menurun lagi, dia berjalan menuju jendela besar kamarnya, menatap hamparan langit malam Kerajaan Costa yang dipenuhi bintang.

Tangan Ara kembali meraba liontin batu amber di balik pakaiannya, pikirannya melayang jauh kembali ke gubuk kecil di perbatasan.

"Ian... rumah kita berantakan karena kakak-kakakku. Apa kamu sudah kembali? Kamu pasti marah sekali ya saat melihatnya?" gumam Ara pelan pada kegelapan malam.

Ara menghela napas panjang, dahi indahnya bersandar pada kaca jendela yang terasa dingin, pikirannya benar-benar bercabang, di satu sisi, dia sangat lega karena kondisi ayahnya, sudah membaik, tapi di sisi lain, bayangan sosok Lucian, suami rahasianya, tidak bisa hilang begitu saja dari kepalanya.

"Kalau Ian pulang dan melihat gubuk kami kosong, apa dia akan mencari ku? Atau dia mengira aku diculik?" bisik Ara lagi, perasaannya campur aduk antara rindu dan takut.

Tok

Tok

Tok

Tiba-tiba, suara ketukan pelan kembali terdengar dari pintu kamarnya. Ara terlonjak kecil, buru-buru mengubah ekspresi galau di wajahnya sebelum berbalik.

"Siapa?" tanya Ara, memastikan.

"Ini Kakak, Bella," ucap Xavier di balik pintu.

Ara berjalan mendekat lalu membuka pintu kamarnya sedikit.

Ceklekk

"Ada apa lagi, Kak? Kan tadi Kak Raymond sudah menyuruhku tidur," tanya Ara, menatap kakak sulungnya.

Xavier tidak langsung menjawab, dia justru menyelonong masuk dan kembali menutup pintu dengan rapat, membuat Ara mengernyitkan alisnya heran.

"Kenapa muka mu ditekuk begitu? Masih kesal soal pagar kebun kubis mu?" tanya Xavier sambil berjalan mendekati meja kecil, melihat mangkuk sup Ara yang baru berkurang beberapa sendok.

"Tuh, kan, makanannya cuma diaduk-aduk saja. Kamu sakit, Bella?" tanya Xavier, khawatir.

"Aku tidak apa-apa, Kak, cuma kenyang saja," bohong Ara, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Lagipula, kenapa Kakak balik lagi ke kamarku diam-diam begini?" tanya Ara, malas.

Xavier mengubah ekspresi wajahnya menjadi agak serius, sebuah pemandangan yang cukup langka bagi pangeran yang biasanya selalu bercanda itu, dia menatap adiknya dengan pandangan menyelidik.

"Kakak cuma merasa ada yang aneh denganmu sejak kami menjemputmu di perbatasan kemarin," ucap Xavier, nadanya merendah.

Jantung Ara mendadak berdesir cepat, dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kepanikan.

"Aneh bagaimana maksud Kakak? Aku kan memang begini dari dulu," jawab Ara, ketus.

"Kakak sempat memeriksa area sekitar gubuk mu sebelum kita pergi, di sana ada jejak kaki pria, Bella, yang ukurannya cukup besar," ucap Xavier, menetap adik nya penuh selidik.

"Oh, itu... itu pasti jejak kaki pemburu," jawab Ara cepat.

"Gubukku kan dekat hutan perbatasan, Kak. Sering ada pemburu yang mampir untuk meminta air minum atau sekadar lewat," lanjut Ara, meyakinkan.

Xavier memicingkan matanya, menatap lekat-lekat ke arah adiknya, mencoba mencari kebohongan di sana.

"Pemburu? Tapi jejaknya rapi seperti orang yang terlatih, Bella, kamu yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari kami?" tanya Xavier, curiga.

"Tentu saja tidak! Untuk apa aku berbohong?" jawab Ara, memalingkan wajahnya ke arah lain agar Xavier tidak bisa membaca tatapan matanya.

"Sudahlah, Kak, aku mengantuk sekali, lebih baik Kakak keluar sekarang sebelum aku berteriak dan mengadu pada Kak Raymond kalau Kakak menggangguku," ucap Ara, mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah, baiklah, Princess, kakak keluar," ucap Xavier, mengalah.

"Tapi ingat ya, kalau ada masalah apa pun di luar sana, kamu harus bicara pada Kakak, jangan disimpan sendiri," lanjut Xavier, menepuk lembut kepala adik nya.

"Iya, sana keluar," usir Ara, mendorong pelan punggung kakaknya menuju pintu.

Begitu Xavier keluar dan pintu kembali tertutup rapat.

"Hampir saja..." gumam Ara, memegangi dadanya yang berdegup kencang.

Dia benar-benar harus ekstra waspada mulai sekarang, kakak-kakaknya bukanlah orang bodoh yang bisa dibohongi dengan mudah.

Jika sampai mereka tahu bahwa putri bungsu Kerajaan Costa telah menikah diam-diam, taruhannya bukan hanya keselamatannya, tapi juga keselamatan Lucian di luar sana.

Ara berjalan kembali ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk namun terasa asing baginya.

Sambil menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran emas mewah, tangan Ara meraba kembali batu amber di balik kerah gaunnya, rasa hangat dari batu itu perlahan memberikan sedikit ketenangan di hatinya yang sedang gundah.

"Tunggu aku sedikit lagi, Ian, aku pasti akan mencari cara untuk mengirim kabar kepadamu," bisik Ara, sebelum akhirnya perlahan memejamkan matanya.

1
kaylla salsabella
sama Ian kalah jauh si Zain🤣🤣🤣
IG : hofi03_skrniii: beda kelasss🐺💅🏻
total 1 replies
Eka Haslinda
aduuhhh.. lanjut lg thoorr.. up banyak2 🤭🤭
Eka Haslinda: gasssss
total 2 replies
Astiana 💕
hAis kasian Abang Lucian🤣
kaylla salsabella
bukan menangis ketakutan Ian tapi... nangis binggung🤭🤭🤭
IG : hofi03_skrniii: nah bener 😆
total 1 replies
ryuka
araaa kanu mending jujurr 🤭🤭🤭🤭
kaylla salsabella
hayooo kok dia " nya mau di jodohkan🤣🤣
kaylla salsabella
cara nya gimana🤔🤔
kaylla salsabella
pasti si raja
kaylla salsabella
ayo mine cepat sehat mine
kaylla salsabella
makin seru
IG : hofi03_skrniii: gak sabar liat Ara ketemu mertua nya 😁
total 1 replies
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣 panik kan... kan🤣🤣🤣🤣
Ayu Oktaviani
jumpa lagi thor ,aq mmpir di karya baru mu,😘
IG : hofi03_skrniii: kakak terimakasih yaaa
love you 🫶🏻
total 1 replies
Gaishan Ahzar
payah c Lucian lemah jg...bukanya buru2 nyari bukti kelakuan c Michelle malah makin kejebak kan jdinya,,
ryuka
ayoo Iaann kamu harus semangat nyari laki2 itu.. kakek juga mantan raja tapi malh ga bijak iikkhhh
IG : hofi03_skrniii: nyebelin banget kannn😣
total 1 replies
kaylla salsabella
itu lady lady gagak gak kapok"
kaylla salsabella
nah lo
kaylla salsabella
wah pasti bakal kalang kabut nih si Ian
Gesang
lanjuuuut👍
IG : hofi03_skrniii: siap sayanggg 🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
akhirnya nyampe juga
Pa Muhsid
eh tor baru inget di bab ini nasib Lucius kakaknya jasmine gimana yang berburu sampai di ujung negeri
kaylla salsabella: mungkin sudah nikah sama nona pemburu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!