Seorang ilmuan jenius yang meninggal di usia muda akibat kelelahan, karena memiliki tubuh yang lemah. Tidak disangka jiwanya merasuk pada seorang pria desa yang hidup sebagai petani miskin.
Orang tua baru saja mati dan dia mendapatkan jatah tanah warisan paling sedikit?
Dikenal orang yang pasif karena tidak pernah melawan?
Namun dia tidak mengeluh, dengan melihat tubuhnya yang kuat dan sehat saja dia sudah sangat bersyukur.
[ Selamat! Kamu telah terikat pada sistem Sugar Daddy ]
"Ha?!"
Dengan sistem yang aneh ini, Lin Chen mendadak menjadi Sugar Daddy zaman kuno.
"Suami, carilah istri lagi... Kami tidak kuat, huhuhu..." Istri pertama mengumpulkan keberanian nya dan menyuarakan suara hati para istri.
***
Kembali lagi di cerita author RAS(BY/AR)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Baiklah tuan, selamat atas pernikahan anda. Semoga kamu menyangi istri-istrimu dan dapat bertanggungjawab dengan mereka"
Ucap petugas itu sekedar berbasa-basi namun benar-benar tulus, dia lihat pakaian nya, pria ini tidak terlihat seperti orang kaya. Apa mungkin bisa menghidupi empat istri?
Namun itu urusan nya, bukan urusan seorang petugas sepertinya.
"Terimakasih" Lin Chen memberikan sekantong kecil uang koin. "Anggap saja sebagai perayaan turut bahagia"
Petugas itu tertegun, kemudian melihat Lin Chen telah pergi dengan istri-istrinya. Dia melihat kantong uang itu dan membuka isinya dan menimang nya, sekitar 100 Wen tembaga.
"Terimakasih tuan, aku doa' kan kalian bahagia selalu!" Seru nya dengan tersenyum senang, dia tidak pernah mendapatkan uang perayaan pernikahan ini. Meskipun dia bertugas mencatat pernikahan, namun ini pertama kalinya ia mendapatkan hadiah. Hal ini benar-benar cukup membekas di hatinya.
Lin Chen berjalan sambil menggandeng keempat istrinya. 'anggap juga hadiah pertemanan, kemungkinan di masa depan aku akan sering datang satu tahun atau beberapa tahun sekali' Batin Lin Chen sambil mengulum senyumnya.
Sepanjang keluar dari kantor kabupaten, penampilan empat wanita itu sangat mencuri perhatian. Di tambah dengan penampilan gagah dan tampan Lin Chen, orang-orang hanya bisa menggelengkan kepala sambil merasa iri.
"Ayo ke toko kain, kita harus membeli pakaian baru untuk kalian"
"E-ehh... Suami, tunggu dulu" An Roro tiba-tiba berhenti.
Lin Chen. "Heu?"
"Suami, kita baru saja dari sana dan membeli banyak barang. Keranjang mu sudah penuh, aku membeli banyak pakaian baru. Berikan saja pada saudara yang lainnya untuk di pakai."
An Roro menatap suaminya dan memberikan penjelasan, dia pikir suaminya sudah sangat banyak mengeluarkan banyak tael hari ini. Dia tidak ingin membuat suaminya miskin di hari pertama sebagai istri.
"Lagipula kita membeli banyak kain linear dan kain kasar, juga alat menjahit. Kami bisa menjahit dan membuat pakaian kami sendiri"
Lin Chen terlihat berpikir dan menatap istri-istrinya yang lain, sebenarnya dia tidak merasa berat. Namun dia tahu niat dan kekhawatiran istrinya, jadi dia tidak langsung menolak.
"Apa yang di katakan Roro benar suami, kami bisa menjahit pakaian kami sendiri. Suami tidak perlu khawatir, matahari juga sudah hampir kebawah..." Chi Yao meyakinkan Lin Chen sambil akhirnya menatap matahari yang sudah ke bawah.
"Yah, benar... Matahari sudah mau kebawah. Apa artinya?" Lin Chen tiba-tiba menatap Zhi Zhilan yang entah kenapa terus menatap nya, mendapatkan pertanyaan tiba-tiba dari Lin Chen, Zhi Zhilan sedikit terkejut dan malu.
"A-apa?"
Lin Chen tersenyum, membuat Zhi Zhilan tiba-tiba merona malu.
"Artinya kita melewatkan makan malam, ayo! Aku ajak kalian makan di rumah makan Jingbey."
"A-apa? Suami, rumah makan itu mahal--"
"Eit, shuttt. Apapun yang kalian katakan, aku akan tetap membawa kalian makan enak di sana"
Membawa mereka ke rumah makan Jingbey, Lin Chen memesan banyak 4 hidangan daging dan tiga hidangan sayur.
"Ayo, ayo. Makan sampai kenyang, kalian bisa menambah sebanyak yang kalian inginkan."
"Suami, kamu memesan sebanyak ini. Apakah akan habis?" An Roro menatap hidangan di atas meja itu dengan pandangan sayang jika seandainya tidak habis.
Chi Yao tersenyum. "Roro, tenanglah. Kamu tidak melihat saudara Bai Xue bukan?"
An Roro dan Lin Chen. "???"
Saat Chi Yao melirik Bai Xue dan Lin Chen serta An Roro juga melihatnya lewat lirikan mata Chi Yao. Mereka tertegun, gadis itu sudah mulai makan tanpa sungkan. Bahkan nasi di piringnya sudah setengah habis, dia terus makan tanpa ekspresi.
An Roro tercengang, saudara Bai Xue ini makan nya begitu banyak?
Lin Chen terkekeh-- nyaris tertawa. "Sepertinya kita malah harus menambah hidangan."
Kurang lebih seperempat batang dupa (setengah jam) akhirnya mereka keluar dari rumah makan Jingbey.
Bai Xue mengusap perutnya dengan wajah puas-- meskipun tetap mempertahankan wajah dingin nya. Lin Chen hanya tersenyum pelan sambil geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka gadis bertubuh kecil ini akan menghabiskan lima mangkuk nasi dan hampir sebagian lauk seorang diri.
Bai Xue cukup peka, merasa di tatap seseorang. Dia dengan cepat menyadari jika itu Lin Chen. "Jangan salah paham, biasanya aku tidak makan sebanyak ini. Hanya beberapa hari ini tidak makan kenyang jadi aku kebablasan."
Ucap Bai Xue dengan wajah cuek dingin namun sebenarnya merasa agak malu dan canggung di lubuk hatinya.
Lin Chen malah tertawa lebar. "Tidak masalah, di rumah. Kamu bisa makan sebanyak apapun yang kamu mau, tidak akan ada yang melarang." Lagipula, sepertinya dia sudah tahu cara untuk mendekati istri dingin nya.
Bai Xue menatap lurus ke depan tak menanggapi, namun jauh di dalam hatinya dia merasa nyaman dengan ucapan Lin Chen.
Mereka berjalan menuju keluar gerbang. "Sepertinya kita hanya bisa menunggu sore hari sampai gerobak sapi paman Lao tiba."
"Suami, dimana rumah mu?" Tanya Chi Yao.
"Rumah kita, itu akan menjadi tempat tinggal kita. Jadi, sebut saja rumah kita." Lin Chen menatap mata Chi Yao dan wajah tersenyum tampan, membuat Chi Yao tidak menyangka dengan serangan binar mata yang begitu tiba-tiba.
"O-oke... Rumah kita" Chi Yao mengalihkan tatapannya nya, dengan canggung namun anehnya merasa malu.
"Rumah kita berada di desa Dahe, jaraknya kira-kira 2 jam dengan mengendarai kereta kuda dan 3 sampai 4 jam dengan berjalan kaki."
Chi Yao mengangguk, dia tidak menatap ataupun berbicara lagi. Hanya menunduk menjaga pandangan nya, dia bukan ukhti, tapi menjaga pandangan itu sangat sehat untuk dada. Karena entah kenapa dada nya jadi berdebar saat melihat Lin Chen.
"Hanya 4 jam? Kalau begitu jalan kaki saja! Daripada menunggu, itu akan lebih membosankan." Ucap Bai Xue mengangguk.
Bai Xue menatap yang lainnya, menanyai pendapat mereka dengan tatapan matanya. "Aku tidak keberatan" ucap Chi Yao.
"Aku juga, anggap saja olahraga setelah makan." Ucap Zhi Zhilan.
An Roro juga mengangguk, hitung-hitung olahraga memperkuat fisik. Dia baru sadar jika fisik nya itu benar-benar lemah setelah permainan beberapa ronde dengan suaminya dan langsung tepar. Dia sadar, jika ingin terus membuat suaminya baik dan puas padanya. Tubuhnya harus sehat dan kuat, barulah bisa melayani nya dengan benar.
Lin Chen menatap mereka satu persatu, ia akhirnya setuju. Namun pergi sebentar membeli topi anyaman untuk mereka pakai.
"Agar kalian tidak kepanasan" Alasan Lin Chen saat memberikan nya kepada mereka, membuat keempat nya semakin jatuh pada perhatian suami baru mereka.
***
Resapi dan baca dengan pelan-pelan alurnya...
Author tidak bisa menulis adegan yang di dominasi oleh adegan anu, karena bisa-bisa di takedown NT...
Tapi nanti akan tetap ada kok, saksikan ke Hot-an Sugar Daddy/Baby dunia kuno~