32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Sean berdeham. "Aku mau nasi goreng."
Vivi menulis. "Oke."
Sean melanjutkan. "Sama roti bakar." Ditulis lagi. "Sama telur mata sapi." Ditulis lagi. "Sama sosis." Ditulis lagi. "Sama jus jeruk." Ditulis lagi. Sean mulai bingung. Kenapa wanita ini masih terlihat santai?
Giliran Yuan. "Aku mau pancake." Ditulis. "Kentang goreng." Ditulis. "Chicken nugget." Ditulis. "Susu cokelat." Ditulis. "Es krim."
Vivi mengangkat kepala. "Pagi-pagi?"
Yuan mengangguk polos. "Pagi-pagi." Ditulis juga.
Kini giliran Saka. Anak itu langsung bersemangat. "Aku mau mie goreng." Ditulis. "Bakso." Ditulis. "Donat." Ditulis. "Ayam goreng." Ditulis. "Sama puding." Ditulis.
Ella tidak mau kalah. "Aku mau bubur ayam." Ditulis. "Roti cokelat." Ditulis. "Strawberry." Ditulis. "Susu." Ditulis. "Sama kue." Ditulis.
Terakhir Lili. Dengan bantuan kakaknya ia berhasil menambahkan beberapa menu yang bahkan sulit dipahami. Ketika semuanya selesai, daftar itu hampir memenuhi satu halaman penuh. Anak-anak mulai saling melirik puas. Dapur bukan restoran. Mereka tahu itu. Tidak mungkin semua makanan itu bisa dibuat sekaligus. Apalagi oleh satu orang. Sean bersandar ke kursinya. Menunggu Vivi menyerah. Menunggu Vivi berkata, "Pilih satu saja." Atau, "Jangan macam-macam."
Tetapi Vivi justru menatap daftar itu cukup lama. Kemudian tersenyum. Senyum yang membuat Sean langsung waspada. Karena selama ini setiap kali wanita itu tersenyum seperti itu Biasanya mereka yang kalah. Vivi lalu berdiri. "Terima kasih."
Anak-anak berkedip bersamaan. "Untuk apa?"
"Sudah memberikan ide menu."
Sean mengernyit. "Tunggu."
Namun Vivi sudah mengambil spidol. Lalu berjalan ke papan tulis kecil yang ada di sudut dapur. Papan itu biasa dipakai mencatat belanja. Dan tiba-tiba Vivi menulis besar-besar, PROYEK SARAPAN KELUARGA
Anak-anak saling berpandangan. "Apa itu?"
Vivi bertepuk tangan. "Oke kelas."
Sean langsung memejamkan mata. Yuan menghela napas. Saka mulai punya firasat buruk. Karena nada suara itu Nada suara guru. Nada suara yang sangat mereka kenal.
"Kalian semua meminta total dua puluh lima menu." Vivi menulis angka besar. 25 MENU "Luar biasa."
Sean mulai sadar ke mana arah pembicaraan ini.
"Kalian kreatif." Anak-anak masih diam. "Masalahnya," Vivi menggambar jam. "kita cuma punya satu jam." Lalu menggambar satu orang. "dan cuma punya satu koki." Kemudian ia membalik badan. "Tapi tenang." Senyumnya semakin lebar. "Kita akan kerjakan bersama."
Sean langsung tegak. "Hah?"
Yuan juga terkejut. "Maksudnya?"
"Karena yang memilih menu adalah kalian." Vivi menunjuk daftar. "Maka kalian juga jadi tim dapur." Ruangan mendadak hening. Sangat hening. "Sean bagian roti."
"Wha,"
"Yuan bagian minuman."
"Tapi,"
"Saka bagian mencuci sayuran."
"Eh!"
"Ella bantu menyusun meja."
Ella berkedip bingung. "Lili tugasnya paling penting." Lili tersenyum. "Jadi pengawas." Lili langsung tertawa senang. Vivi menutup buku catatannya. "Nah. Kita mulai."
Anak-anak masih membeku. Karena rencana mereka sebenarnya sederhana. Membuat Vivi kerepotan. Membuat Vivi memasak sendirian. Membuat Vivi kewalahan. Tetapi entah bagaimana. Dalam waktu kurang dari lima menit Mereka justru berubah menjadi staf dapur. Dan lebih parahnya lagi Mereka tidak punya alasan logis untuk menolak. Karena semua berawal dari permintaan mereka sendiri.
Sean memandang Yuan. Yuan memandang Sean. Saka memandang keduanya. Lalu perlahan mereka menyadari kenyataan pahit. Wanita ini bukan hanya seorang guru. Wanita ini adalah guru yang sudah delapan tahun menghadapi murid-murid yang jauh lebih nakal daripada mereka.
Vivi mengikat celemek dapur. Lalu tersenyum puas. "Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di pelajaran pertama. Namanya kerja sama." Dan untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua belas jam Vivi kembali unggul. Skor sementara: Vivi 2 - 0 Anak-anak Baskara.
***
Sarapan pagi itu berakhir dengan perasaan yang sangat berbeda bagi setiap orang. Vivi cukup puas. Rumah tidak berantakan. Anak-anak makan dengan baik. Dan tanpa sadar mereka telah bekerja sama selama hampir satu jam.
Sementara di sisi lain meja, Sean merasa sedang mengalami kekalahan yang memalukan. Ia mengunyah roti panggangnya tanpa semangat. Matanya sesekali melirik ke arah Vivi yang sedang membereskan meja bersama Ella. Dua kali. Dalam waktu kurang dari satu malam. Dua kali mereka mencoba mengerjai wanita itu. Dua kali pula mereka berakhir menjadi pihak yang kalah. Dan yang paling menyebalkan, Vivi tidak pernah menang dengan marah. Tidak pernah membentak. Tidak pernah mengadu kepada Ayah. Justru sebaliknya. Ia menang dengan tenang. Seolah semua kenakalan mereka hanyalah soal matematika yang mudah diselesaikan. Sean tidak menyukai itu. Sama sekali tidak. Karena jika Vivi marah, ia tahu cara melawannya. Jika Vivi galak, ia tahu cara membencinya. Tetapi bagaimana cara melawan seseorang yang bahkan tidak mau bertengkar?
"Itu karena kamu kurang mikir." Yuan tiba-tiba berbisik. Mereka sedang membereskan piring masing-masing.
Sean menoleh. "Apa?"
"Kamu terlalu terburu-buru. Makanya kita kalah."
"Belum. Ini baru dua ronde." Sean menjawab. Matanya kembali mencari sosok Vivi. Wanita itu sedang menggendong Lili sambil mengelap mulut anak kecil tersebut yang belepotan selai. Lili tertawa. Vivi ikut tertawa. Pemandangan sederhana. Tetapi membuat Sean tidak nyaman. Karena rumah ini terasa berubah. Dan Sean tidak suka perubahan.
Setelah sarapan, Baskara berangkat bekerja. Rumah menjadi lebih tenang. Hanya ada Vivi dan anak-anak. Situasi yang sebenarnya cukup berbahaya. Karena Sean akhirnya memiliki waktu untuk berpikir. Sebagai anak tertua, ia bukan hanya pemimpin kelompok. Ia adalah orang yang paling mengingat ibunya. Paling memahami bagaimana ibunya berbicara. Bagaimana ibunya tersenyum. Bagaimana ibunya memeluk mereka. Dan karena itulah Sean merasa memiliki kewajiban. Jika ia gagal mengusir Vivi Bukankah itu berarti ia membiarkan posisi ibunya direbut? Pikiran itu membuat dadanya terasa berat.
Sean naik ke kamarnya. Menutup pintu. Lalu mengambil sebuah kotak dari bawah tempat tidur. Kotak kenangan. Di dalamnya ada foto-foto lama. Surat. Gambar yang pernah dibuatnya untuk ibunya. Dan sebuah buku kecil. Buku harian milik mendiang ibunya.
Sean membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang begitu dikenalnya menyambutnya. Air mukanya langsung berubah. Kerinduannya kembali menyeruak. "Ma..." Sean menunduk. Sudah dua tahun. Tetapi rasanya masih sama. Masih sakit. Masih sepi. Dan sekarang tiba-tiba ada wanita lain yang tinggal di rumah mereka. Memakai dapur yang dulu digunakan ibunya. Duduk di kursi makan yang dulu ditempati ibunya. Bahkan tidur di rumah yang sama.
Sean memejamkan mata. Lalu mengambil keputusan. Kalau cara-cara kecil tidak berhasil Maka ia harus menggunakan cara yang lebih besar. Sore harinya. Vivi sedang menyusun buku-buku di ruang keluarga ketika Sean muncul. Sendirian. Ini pertama kalinya anak itu mendatanginya tanpa adik-adiknya.
Vivi menoleh. "Sean?"
"Aku mau bicara." Nada suaranya serius. Sangat serius.
Vivi langsung menutup buku yang sedang dipegangnya. "Oke."
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik