NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Gelombang Binatang Iblis

Langit di atas Pegunungan Seribu Bintang masih diselimuti kabut tipis ketika suara gemuruh mulai terdengar dari dalam hutan.

semakin lama tanah bergetar.

Di jalan setapak menuju pegunungan, belasan kultivator lepas berhenti bersamaan.

Mereka berasal dari kelompok yang berbeda,

Mereka disana karna mengabaikan larangan memasuki Pegunungan Seribu Bintang

Ada yang datang mencari tanaman spiritual.

Ada yang menerima misi berburu Binatang Iblis.

Ada pula yang berharap memperoleh Inti Binatang untuk dijual ke Kota ,

Seorang pria bertubuh kekar menggenggam golok besarnya.

"Apa kalian mendengarnya?"

Semua mengangguk.

Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun mencabut pedang dari pinggangnya.

"Suara itu berasal dari wilayah dalam."

Pria tua berjanggut putih menggeleng.

"Suara itu semakin mendekat."

Belum sempat ada yang menjawab...

Seekor rusa liar melompat keluar dari semak.

Rusa itu tidak berhenti sedikit pun.

Ia terus berlari melewati para kultivator, seolah ada sesuatu yang mengejarnya.

"Lihat!"

Teriak seorang pemuda.

Dari balik pepohonan, puluhan babi hutan liar juga lari membabi buta,

Disusul kawanan serigala biasa.

Lalu beruang liar.

Semua hewan berlari ke arah luar pegunungan.

Tidak ada yang saling menyerang.

Mereka hanya berusaha melarikan diri.

Ekspresi pria tua itu langsung berubah.

"Pergi dari sini!"

Auuuuuuuu—!

Raungan panjang menggema dari balik hutan.

Puluhan pasang mata merah menyala di antara pepohonan.

Sesaat kemudian...

Lebih dari lima puluh Serigala Taring Besi Tingkat 1 keluar dari balik semak.

Tubuh mereka lebih besar daripada serigala biasa.

Taring abu-abu yang mencuat dari mulutnya berkilau diterpa cahaya matahari.

Air liur menetes ke tanah.

Tatapan mereka dipenuhi haus darah.

Seorang kultivator muda menarik napas tajam.

"Banyak sekali..."

Pria bertubuh kekar segera mengangkat goloknya.

"Jangan panik!, Bentuk Formasi bertahan!"

Belasan kultivator bergerak cepat.

Mereka saling membelakangi.

Mereka sudah terbiasa menghadapi Binatang Iblis.

Namun belum pernah menghadapi jumlah sebanyak ini.

Seekor Serigala Taring Besi melangkah maju.

Lalu berhenti.

Tak lama kemudian, dua ekor lagi bergerak ke sisi kiri.

Empat ekor lainnya memutari sisi kanan.

Wanita berpakaian hijau mengerutkan kening.

"Mereka mengepung kita."

Pria tua menggertakkan giginya.

"Binatang Iblis Tingkat 1 tidak mungkin memiliki kecerdasan seperti ini."

Belum selesai ucapannya...

Seekor serigala melompat.

"Datang!"

Golok besar berayun.

Srett!

Darah menyembur.

Tubuh serigala itu terbelah dan jatuh ke tanah.

Namun kematiannya justru seperti lonceng bagi seluruh kawanan,, mereka bergerak serentak kearah kelompok kultivator,

"Awas!"

Dentang logam langsung memenuhi hutan.

Pedang menusuk leher seekor serigala.

Tombak menembus dada serigala lainnya.

Seorang pemanah melepaskan tiga anak panah berturut-turut.

Tiga Serigala Taring Besi roboh.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Seekor serigala berhasil menerobos dari sisi kiri.

Srakk!. Cakar Kanan Serigala merobek dada kultivator ,,

"Arghhhh ,, siall mati kau !!!

Slaassshh!!! Pedang menebas tepat di leher serigala itu,,

" hahhhh hahhhh hahhh, sial sial sial " cicit Kultivator tersebut

Pakaian pelindungnya robek.

perlahan darah mulai mewarnai baju pelindungnya .

Seorang rekannya segera membantu.

Namun saat perhatian mereka terpecah...

Dua ekor serigala lain melompat bersamaan.

"Tidak!"

Jeritan itu berakhir bersama dengan taring yang menembus tenggorokan.

Darah muncrat ke udara.

Tubuh pria itu jatuh tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

"Bertahan!"

Teriak pria bertubuh kekar.

Ia mengayunkan goloknya dengan seluruh tenaga.

Tebasan Qi memanjang hampir dua meter.

Dua Serigala Taring Besi terlempar.

Namun...

Tiga ekor lainnya langsung menggantikan posisi mereka.

Wanita berpakaian hijau menggigit bibir.

"Kalau begini terus kita semua pasti mati!"

Pria tua berjanggut berteriak,

"Serang buka jalan keluar!"

Empat kultivator terkuat segera maju bersamaan.

Pedang dan golok berkelebat.

Dalam beberapa tarikan napas, belasan Serigala Taring Besi tumbang.

celah akhirnya terbuka.

"Lari!"

Belasan kultivator berusaha menerobos keluar.

Namun, baru beberapa puluh langkah mereka berlari.

Buk... Buk... Buk...

Suara langkah berat terdengar dari depan.

Pepohonan berguncang.

Batang-batang pohon kecil patah satu demi satu.

Ekspresi pria tua langsung membeku.

"Demi langit..."

Dari balik pepohonan muncul seekor Beruang Kulit Baja Tingkat 2 Tahap Menengah.

Tingginya hampir empat meter.

Kedua lengannya sebesar batang pohon.

Lapisan kulit hitam di punggungnya memantulkan cahaya seperti besi.

Beruang itu mengangkat kepala,mengeluarkan raungan yang mengguncang seluruh hutan.

ROOOAAARRR!!

Raungan itu dijawab oleh puluhan Serigala Taring Besi dari belakang.

Para kultivator lepas mendadak terjebak.

Di depan...

Beruang Kulit Baja.

Di belakang...

Kawanan Serigala Taring Besi.

Wajah semua orang berubah pucat.

Tidak ada lagi jalan keluar.

Raungan Beruang Kulit Baja mengguncang seluruh hutan.

Daun-daun berguguran.

Burung yang belum sempat terbang langsung berhamburan ke langit.

Pria tua berjanggut menggertakkan giginya.

"Pembentukan Fondasi maju bersamaku! Pengumpul Qi cari celah untuk mundur!"

"Tidak ada yang lari sendiri!"

"Kalau formasi pecah, kita semua mati!"

Empat kultivator Pembentukan Fondasi segera berdiri di barisan depan.

Pria bertubuh kekar mengangkat goloknya.

Wanita berjubah hijau menggenggam pedangnya dengan kedua tangan.

Seorang pemanah memasang tiga anak panah sekaligus.

Pria tua itu sendiri mengangkat tombak panjang berwarna hitam.

Beruang Kulit Baja membanting tangan ke tanah,,.

Buk! Buk! Buk!

Raungannya kembali menggema.

Detik berikutnya...

Tubuh raksasa itu menerjang.

"Serang!"

Empat kultivator bergerak bersamaan.

Tiga anak panah berlapis Qi melesat lebih dulu.

Swus! Swus! Swus!

Beruang itu bahkan tidak melambat

Trang,,!! Anak panah itu terpental begitu menyentuh kulit Beruang,,

"Sial!" Dengus Pria bertubuh kekar sebelum melompat.

Golok besarnya ditebaskan lurus ke leher beruang.

Trang!

Percikan api menyala.

Tebasan Golok hanya meninggalkan goresan tipis.

Sebelum ia sempat menarik kembali senjatanya...

Cakar raksasa beruang sudah di depan matanya.

Bumm!

Pria sempat mengangkat golok sebagai tameng.

Namun benturan itu terlalu kuat.

Goloknya terpental.

Tubuhnya melayang puluhan meter sebelum menghantam batang pohon.

Brak!

Batang pohon retak.

Pria itu memuntahkan darah.

Tulang lengan kirinya patah.

"Ketua!"

Wanita berjubah hijau berteriak sambil menusukkan pedangnya ke mata beruang.

Namun Beruang itu menepis dengan cakar,,

Alhasil pedang hanya berhasil menggores pipinya.

Raungan marah terdengar.

Beruang mengayunkan kaki depan kearah wanita itu.

Melihat Beruang menyerang ke arahnya wanita itu buru-buru melompat mundur.

Namun, ujung cakar Beruang mengenai bahunya.

Sret!

Darah memercik.

Tubuh wanita itu terhuyung.

Belum sempat ia menstabilkan langkah...

Seekor Serigala Taring Besi tiba-tiba menerjang dari semak tinggi tepat di sampingnya.

"Tidak!"

Pria tua berjanggut yang tidak terlalu jauh dari wanita itu , spontan melempar tombaknya.

Swooosshhh,, Claaapp!

Tombak itu menembus tubuh serigala hingga terpaku di tanah.

"Awas belakangmu!" ucap pria tua berjanggut memperingatkan wanita itu

Wanita itu langsung membalikkan badan dengan menahan pedih luka cakar di pundaknya , ia menebaskan pedang kearah yang ditunjuk oleh kakek tua berjanggut

Pedangnya berkelebat.

Slaaaashhh!!!

Kepala seekor serigala terbang.

Namun serigala kedua sudah melompat.

Lalu yang ketiga.

Dalam sekejap...

Empat Serigala Taring Besi kini mengepungnya dari empat sisi sebelum ia sempat menjauh,,

Di sisi lain.

Para kultivator Pengumpul Qi mulai kehilangan formasi.

Jumlah Serigala Taring Besi terlalu banyak.

Seorang pemuda menusukkan pedangnya ke dada seekor serigala.

Ia berhasil membunuhnya.

Namun saat menarik pedangnya...

Seekor serigala lain langsung menggigit lengannya.

"Aaaah!"

Pemuda itu menjerit.

hingga pedangnya terlepas.

Saat itulah Serigala kedua menerkam tepat di leher pemuda itu.

Krak!

Jeritannya langsung terputus darah mengalir dari sela gigi Serigala itu.

Melihat rekannya mati...

Kepanikan mulai Terjadi di kelompok itu

"Tolong!"

"Arghhhh"

"Jangan kemari, ah siall "

Jeritan mulai terdengar dari berbagai arah.

Beberapa orang mulai nekat berlari meninggalkan kelompok.

Namun hanya beberapa langkah.

Dua Elang Angin Tingkat 1 menyambar dari langit.

Cakar tajam mereka mencengkeram kepala seorang kultivator.

"Arggghhhhhhhhh "

"Arrghhhhhhh"

Tubuh pria itu terangkat belasan meter Lalu di lepaskan oleh Elang Angin itu,,

Brakkk! Kedua Orang itu mati begitu saja dengan kepala berlubang dengan badan penuh tonjolan tulang akibat di jatuhkan dari ketinggian oleh kedua Elang angin tersebut,,

Pria tua berjanggut yang melihat semuanya.

Ia menggertakkan gigi.

"Semuaa,, dengar kita harus buka jalan menuju kota!"

Pria bertubuh kekar yang terluka parah kembali berdiri.

Darah terus mengalir dari sudut bibirnya.

Ia memungut goloknya.

"Lari?"

Ia menggeleng.

"Kalau tidak ada yang menahan beruang itu, tidak seorang pun bisa lolos."

Pria tua menatapnya.

"Kau gila."

Pria bertubuh kekar tersenyum tipis.

"Aku sudah hidup lebih dari lima puluh tahun."

"Cukup."

Ia mengangkat goloknya.

Qi di dalam tubuhnya berputar semakin cepat.

Pembuluh darah di kedua lengannya mulai menonjol.

Wanita berjubah hijau langsung membelalak.

"Jangan!"

Pria itu tertawa.

"Kalau aku mati tolong antarkan golok ini kepada anakku."

"Baiklah aku akan mulai " Pria Berotot mulai menggunakan tehnik terlarang pembakar darah,

Tanpa menunggu jawaban...

Ia melesat ke depan.

Goloknya memancarkan cahaya putih.

"Binatang sialan!! ,, Lawan aku!"

Ia melompat setinggi tiga meter.

Goloknya diangkat tinggi.

Lalu ditebaskan dengan seluruh kekuatannya.

BOOOM!!

Tebasan Qi menghantam kepala Beruang Kulit Baja.

Ledakan keras menggema.

Debu memenuhi udara.

Semua orang menahan napas.

Sesaat debu perlahan menghilang.

Pria bertubuh kekar masih berdiri.

Namun ,Goloknya telah patah menjadi dua.

Sementara Beruang Kulit Baja...

Hanya mengalami luka memanjang di dahinya.

Darah menetes perlahan.

Beruang itu menatap pria tersebut dengan penuh amarah,

GRROOOOOOAAARR"

Ia mengangkat kedua kaki depan dan menyerang Pria Kekar itu.

Tepat pada saat itu Pria tua berjanggut berteriak sekuat tenaga.

"Lariiiiii!!"

Teriakan pria tua berjanggut menggema di seluruh hutan.

Namun sudah terlambat.

Booom!

Kedua kaki Beruang Kulit Baja menghantam tanah.

Gelombang kejut menyapu segala arah.

Tanah retak.

Batu-batu terlempar ke udara.

Beruntung Pria Kekar telah menjauh menghindari serangan Beruang Kulit Baja tersebut,,

Dua kultivator Pengumpul Qi kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Sebelum mereka sempat bangkit...

Beruang itu sudah berada di depan mereka.

Buk!

Cakar Besar menghantam tubuhnya hingga hancur.

Darah dan serpihan tulang berhamburan ke segala arah.

Rekan yang berada di samping membeku.

Matanya membelalak.

Raungan Beruang Kulit Baja kembali menggema.

Cakar berikutnya menyapu ke samping.

Brak!

Pria itu terpental dengan luka robek besar di dadanya,,

Pria tua berjanggut mengayunkan tombak pendek yang baru dipungutnya dari tanah.

Menyerang kearah Serigala Taring Besi di dekatnya,,

Ia segera menarik seorang kultivator muda yang masih terpaku.

"Kalau kau ingin hidup, gerakkan kakimu!"

Pemuda itu mengangguk panik.

Mereka berlari menembus semak.

Namun kawanan Serigala Taring Besi terus mengejar.

Saat seekor serigala melompat menyerang.

Pria tua itu segera memutar tubuh.

jleeb!

Tombaknya menusuk tenggorokan serigala hingga tembus ke belakang.

Ia mencabut kembali tombaknya tanpa berhenti berlari.

"Terus lari!"

Di belakang mereka...

Pria bertubuh kekar masih berdiri menghadapi Beruang Kulit Baja.

Darah mengalir dari kedua lengannya.

Napasnya semakin berat.

Golok yang tersisa tinggal setengah bilah.

Beruang itu menatapnya beberapa saat.

Kemudian kembali menerjang.

Pria itu mengatupkan rahangnya.

"Kalau memang akan mati ,setidaknya aku membuatmu menderita kerugian besar."

Ia mengalirkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam golok.

Cahaya putih menyelimuti bilah yang sudah retak.

Dengan raungan keras, ia melompat.

"haaaaaaaaaargh!"

Goloknya menebas lurus ke arah leher Beruang Kulit Baja.

Craaang!

Golok itu akhirnya hancur berkeping-keping.

Namun tebasan terakhir berhasil meninggalkan luka yang lebih dalam.

Darah hitam mengalir dari leher beruang.

Raungan marah mengguncang hutan.

Beruang itu mengangkat kaki depannya.

Lalu menghantam tubuh pria tersebut.

Booom!

Tubuh pria bertubuh kekar melayang puluhan meter.

Ia menghantam batu besar hingga batu itu pecah.

Tubuhnya terkulai.

Tidak lagi bergerak.

Melihat pemimpin mereka gugur...

Semangat para kultivator yang tersisa runtuh.

Tidak ada lagi yang berpikir untuk bertarung.

Mereka hanya ingin keluar dari pegunungan.

Berlari sekuat tenaga namun kawanan Serigala Taring Besi mengejar tanpa henti.

Setiap kali terdengar teriakan seseorang yang di terkam,,

karna panik saat berlari ,seorang pemanah tanpa sengaja tersandung akar pohon.

Brukkk!!

"Ahh ,, sial sakit skali "" ucapnya sembari berusaha bangkit secepat mungkin

namun tiga Serigala Taring Besi telah tepat di belakangnya dan menerkamnya.

"aaaarrghhhhhhh"

Jeritannya hanya berlangsung sesaat.

Darah berceceran.

Pria tua berjanggut terus berlari,

Jumlah mereka yang semula lima belas orang...

kini hanya tinggal delapan.

Semua terluka.

Sebagian besar kehilangan senjata.

Mereka terus berlari tanpa berani menoleh.

tidak jauh di depan mereka terlihat perbatasan hutan,

"Itu jalan keluar!"

Seorang kultivator muda berteriak penuh harapan.

Mereka mengerahkan sisa tenaga.

Begitu keluar dari hutan dan cukup jauh...

Seluruh rombongan langsung terjatuh ke tanah.

Mereka terengah-engah.

Beberapa orang memuntahkan darah.

Pria tua berjanggut segera menoleh ke belakang.

Tidak ada seekor pun Binatang Iblis yang keluar dari hutan.

Puluhan Serigala Taring Besi hanya berdiri di balik pepohonan.

Mata merah mereka menatap para kultivator dengan dingin.

Tidak mengejar.

Tak lama mereka kembali berbalik.

Lalu menghilang kembali ke dalam Pegunungan Seribu Bintang.

Pemandangan itu membuat bulu kuduk semua orang berdiri.

Salah seorang kultivator bergumam dengan wajah pucat,

Mereka bertukar pandang.

Tanpa perlu diperintah lagi, Delapan orang yang selamat segera bangkit.

Mereka berlari menuju Kota Qinghe sekuat tenaga.

Tidak ada yang berbicara.

Di dalam hati mereka hanya ada satu pikiran.

Mereka harus segera memasuki gerbang kota ,

Pada saat itu ,,

Jauh di dalam Pegunungan Seribu Bintang...

Seekor Beruang Kulit Baja Tingkat 2 Tahap Menengah berdiri di atas bukit.

Darah masih menetes dari luka di lehernya.

Ia mengangkat kepalanya ke arah wilayah terdalam.

Kemudian perlahan menundukkan kepala.

Seolah sedang menerima perintah,

Di belakangnya...

Ratusan Binatang Iblis berkumpul dalam keheningan.

Dan jumlah mereka terus bertambah.

Langkah kaki delapan kultivator itu tidak lagi teratur.

Mereka berlari tanpa memedulikan luka di tubuh masing-masing.

Darah menetes sepanjang jalan.

Tidak seorang pun berhenti.

Tidak seorang pun menoleh ke belakang.

Gerbang Selatan Kota Qinghe mulai terlihat di kejauhan.

Dua penjaga yang berjaga di atas tembok segera menyadari kedatangan mereka.

Begitu jarak semakin dekat, wajah kedua penjaga berubah saat melihat kondisi kelompok itu.

Pakaian mereka compang-camping.

Tubuh penuh darah.

"Cepat buka gerbang!"

Teriak salah seorang penjaga.

Gerbang kayu perlahan terbuka.

Ketujuh kultivator langsung masuk tanpa sempat mengatur napas.

Pria tua berjanggut hampir terjatuh.

Dua penjaga segera menahannya.

"Apa yang terjadi?"

Pria tua itu mengangkat kepala.

Wajahnya pucat.

Matanya masih dipenuhi ketakutan.

""Tutup gerbangnya dulu..."

Penjaga itu mengernyit.

"Kenapa?"

Pria tua itu mencengkeram baju penjaga dengan tangan gemetar.

"cepat tutup ,, binatang iblis di pegunungan menggila ..."

Kalimat itu membuat seluruh penjaga membeku.

Tidak sampai setengah jam.

Berita tersebut telah sampai ke Istana Tuan Kota.

Luo Zhentian langsung berdiri.

"Berapa orang yang kembali?"

"Tujuh."

"Yang lain?"

"...Gugur."

Ruangan langsung sunyi.

Tetua Guo menarik napas panjang.

Ia sudah menduga akan ada korban.

Namun ia tidak menyangka sebanyak ini.

Luo Zhentian memandang Han Yue.

"Bawa mereka ke aula, aku ingin mendengar semuanya."

Beberapa saat kemudian.

Pria tua berjanggut duduk di tengah aula.

Tubuhnya telah dibalut perban.

Namun tangannya masih gemetar.

Luo Zhentian tidak membuang waktu.

"Ceritakan semuanya."

Pria tua itu mengangguk pelan.

"kami berjumlah lima belas orang, saat itu kami belum memasuki wilayah tengah, kami berada di wilayah tepian , namun kami sudah diserang ,lebih dari lima puluh Serigala Taring Besi Tingkat Satu."

Ruangan mulai gaduh.

Pria tua itu melanjutkan.

"Setelah kami mulai membuka jalan keluar ,,seekor Beruang Kulit Baja Tingkat Dua menghadang jalan dan menyerang kami, lebih tepatnya sudah menunggu"

Feng Jianhong mengerutkan kening.

"Menunggu?"

Pria tua itu mengangguk.

"Seolah-olah mereka tahu kami akan lari kearah sana."

Kalimat itu membuat seluruh tetua saling berpandangan.

Kalau benar demikian...

Berarti Binatang Iblis bertindak dengan teratur.

Hal seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Tetua Guo bertanya,

"Apakah kalian melihat Binatang Iblis Tingkat Tiga?"

Pria tua itu menggeleng.

"Tidak , kami melihat sesuatu yang lebih mengerikan."

Semua orang menatapnya.

"Seluruh Binatanng Iblis Seperti memiliki kesadadan ,"

Ruangan kembali hening.

Tidak ada lagi yang meragukan dugaan Feng Jianhong.

Penguasa Pegunungan Seribu Bintang...

Benar-benar telah membangunkan seluruh penghuni pegunungan.

Tiba-tiba...

DONG!

DONG!

DONG!

Suara lonceng besar menggema.

Semua orang spontan menoleh keluar

Lonceng darurat.

Wajah Luo Zhentian langsung berubah.

"Siapa yang membunyikan lonceng?"

Belum sempat ada yang menjawab.

Seorang penjaga berlari memasuki aula.

Wajahnya pucat.

"Tuan Kota! Pengintai di menara melihat Kawanan Binatang Iblis Menyerbu dari Pegunungan Seribu Bintang."

Luo Zhentian langsung melangkah keluar aula.

Semua tetua mengikuti dari belakang.

Begitu mereka naik ke atas tembok kota...

Seluruh wajah berubah pucat.

Di kejauhan...

Debu membumbung tinggi hingga menutupi langit.

Getaran tanah terasa seperti gempa kecil.

Buk...

Buk...

Buk...

Suara langkah kaki ribuan Binatang Iblis terdengar semakin jelas.

Tidak lama...

Siluet pertama muncul dari balik pepohonan.

Seekor Serigala Taring Besi.

Lalu sepuluh.

Seratus.

Lima ratus.

Di belakang mereka...

Puluhan Beruang Kulit Baja berjalan perlahan.

Setiap langkahnya membuat tanah bergetar.

Di langit...

Ratusan Elang Angin mulai berputar.

Luo Zhentian menggenggam gagang pedangnya.

Tatapannya tajam mengarah ke gelombang hitam yang terus mendekat.

Dengan suara tegas, ia memerintahkan,

"Tutup seluruh gerbang!"

"Seluruh kultivator Pembentukan Fondasi segera menuju tembok pertahanan!"

"Semua pemanah bersiap!"

"Kota Qinghe memasuki keadaan perang!"

Perintah itu menggema di seluruh kota.

langkah kaki para kultivator dan penjaga yang berlari menuju posisi masing-masing.

Sementara di kejauhan , terlihat sepasang mata merah, mengamati dari kejauhan

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!