Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
"Gila gue gak nyangka loh ternyata lo dari keluarga terpandang apalagi dari keluarga Parker. Bahkan rumah lo lebih besar dari rumah gue. Lihat, kamar lo aja lebih luas dari kamar gue." Valerie menatap kagum kamar merah muda milik Alleta, banyak sekali boneka yang terpajang rapi di dalam lemari besar. Berbeda sekali dengan kamarnya yang sangat membosankan, dia saja hanya memiliki satu boneka besar itu pun hadiah.
Bahkan Anna sendiri tidak bisa berhenti berdecak kagum memperhatikan sekeliling kamar Alleta dengan tatapan takjub.
"Ini bukan rumahku, tapi rumah Kakek,"ucap Alleta.
"Ck sama aja. Tapi kenapa lo nyembunyiin identitas lo dari semua orang?"tanya Valerie penasaran. Dia mendudukkan bokongnya di karpet lembut.
"Iya, mungkin jika semua orang mengetahui identitasmu mereka tidak akan berani meremehkanmu,"imbuh Anna.
"Sebenarnya… aku bukan dari keluarga ini."
"Apa?!"
"Maksudnya?"
Alleta mulai menceritakan asal usulnya dari mulai keluarga Camila dan berakhir diangkat menjadi keluarga Parker.
"Seperti itu, jadi aku sengaja menyembunyikan identitasku karena jika suatu hari aku membuat sesuatu yang mampu mempermalukan keluarga, keluargaku tidak akan terkena imbasnya. Bagaimanapun mereka adalah orang-orang terpandang aku tidak bisa mempermalukan mereka,"jelas Alleta.
"Oh jadi begitu. Tapi gue masih gak habis pikir sama keluarga biadab itu, bisa-bisanya mereka memperlakukan lo seperti itu. Apa mereka tidak memiliki hati nurani? Atau mereka bukan manusia tapi iblis yang menjelma menjadi manusia? Pantas saja Camila selalu natap lo penuh kebencian, pasti dia iri karena hidup lo jadi lebih baik,"kata Valerie menggebu-gebu.
"Iya, untungnya sekarang kamu memiliki keluarga yang baik dan selalu menyanyangimu."
"Iya aku juga sangat bersyukur mengenal mereka. Udah ah yuk mulai belajar entar kalian kemalaman pulangnya dan soal tadi tolong jangan cerita kan ke siapa pun, ya?"pinta Alleta.
"Tenang aja gue akan tutup mulut,"ucap Valerie tersenyum percaya diri, tangannya secara refleks merangkul Anna.
"Iya gak?"tanya Valerie menarik turunkan alisnya.
Anna tidak menjawab perkataan Valerie, tatapan jatuh pada tangan Valerie yang bertengger manis di pundaknya.
"Tanganmu."
"Akh sorry." Valerie segera menarik kembali tangannya dan mengusap ke lehernya.
"Ayo mulai belajarnya,"ujar Anna
"Oke." Mereka mulai belajar dengan serius setiap Alleta memiliki kesulitan dalam memecahkan masalah dia akan mencari solusi kepada Anna begitu pun Valerie.
Tok… Tok… Tok
"Siapa?"
"Ini Bibi, Bibi boleh masuk?"tanya Elena.
"Oh iya, pintunya gak dikunci kok Bibi bisa masuk,"sahut Alleta.
Cklek.
"Bibi gak ganggu, kan?"tanya Elena setelah masuk ke dalam.
"Gak kok, Bibi ada apa cari Alleta?"
"Oh Bibi cuma mau kasih cemilan buat dimakan kalian, ini kan pertama kalinya kamu bawa temen ke rumah,"ucap Elena seraya menyimpan sekantong penuh cemilan di atas meja.
Anna dan Valerie langsung berdiri dan memperkenalkan diri mereka masing-masing. Mereka tidak menyangka akan bertemu langsung dengan desainer ternama yang dikagumi semua orang.
"Halo Bibi, nama saya Valerie."
"Saya Anna."
"Halo saya Bibi Alleta, jika kalian butuh sesuatu jangan sungkan untuk memanggil pelayan. Kalau gitu Bibi pergi dulu,"pamit Elena.
"Iya."
Belum sempat Elena keluar bocah pembuat onar masuk ke dalam dengan wajah tengil.
"Wih ada apa nih lagi belajar ya, gue ikutan dong." Tanpa menunggu persetujuan Alleta Nathan langsung duduk bergabung bersama mereka.
"Apa sih sana pergi, aku tahu kamu pasti mau ganggu aku,"usir Alleta.
"Suudzon mulu lo sama gue bocah, gue juga kan mau ikut belajar." Nathan melempar penghapus berbentuk kelinci ke kening Alleta dengan akurat.
"Bibi…."adu Alleta seraya mengusap keningnya.
"Nathan keluar! Bukannya kamu mau main basket bersama temanmu, kenapa malah ganggu Alleta. Cepat keluar kalau gak Bibi aduin ke kakek,"ancam Elena.
"Ck iya-iya, gak seru ah, lo mainnya aduan,"gerutu Nathan.
"Biarin wlee, hus hus pergi." Alleta mengayunkan kedua tangannya seolah sedang mengusir Nathan.
Setelah mereka pergi Valerie tidak bisa menahan kakinya yang mulai jadi jelly dan jatuh terduduk di lantai.
"Gila, gue berasa mimpi bisa bertemu dengan idola gue secara langsung!"
"Kamu fans berat Bibi?"
"Banget! Asal lo tau setiap pakaian yang dirancang oleh Bibi lo itu sangat terbatas dan selalu terjual habis. Tidak semua orang bisa mendapatkannya termasuk gue." Ketika mengatakan kalimat terakhir Valerie tersenyum sedih.
"Duh sabar ya,"kekeh Anna.
°°°°
Sedangkan di sisi lain, suasana di kediaman Sabrina terasa sangat menegangkan, semua para pelayan, orang tua Sabrina berkumpul di depan pintu kamar Sabrina yang terkunci. Sally selaku ibu Sabrina terus menggedor pintu kamar putrinya.
"Nak buka pintunya jangan lakukan hal bodoh seperti itu! Jika kamu melakukan hal konyol itu karir yang udah kamu bangun akan hancur! Cepat buka pintunya kita akan memikirkan cara agar Axel tidak membatalkan pernikahan ini! Sayang buka pintunya!"teriak Sally cemas.
"Mas bagaimana ini? Axel bahkan tidak mau datang meski hanya untuk sekedar membujuknya. Padahal karena ulahnya Sabrina harus mengurung diri di kamar dan berencana bunuh diri."
"Mungkin Ayah bisa membantu kita, kau terus bujuk gadis itu aku akan menelpon ayah,"ucap Daniel.
Di dalam kamar, suasananya sangat suram tidak ada sedikit pun cahaya yang menyinari ruangan itu semua lampu dimatikan dan gorden di tutup.
Setelah pembatalan pernikahan yang dilakukan Axel secara sepihak Sabrina langsung mengurung diri di kamar. Dia tidak memiliki wajah untuk keluar, dia selalu membanggakan pertunangannya dengan Axel ke semua orang bahkan para penggemarnya sudah tahu.
Jika semua orang tahu kalau pernikahannya batal, mereka pasti akan menertawakannya apalagi orang-orang yang selalu dia rendahkan dan injak di dunia hiburan. Sudah pasti mereka akan tertawa terbahak-bahak.
"Gak, gak gue gak bisa biarin mereka tertawa di atas penderitaan gue," gumam Sabrina sambil menggigit kukunya.
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg