Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Perhatian Diam-diam
Pagi setelah percakapan di ruang keluarga, Senja menemukan map biru PT Liem masih berada di laci meja riasnya.
Dia sengaja belum memberikannya kepada Rayhan.
Setiap kali melihat map itu, ada dua suara di kepalanya. Suara Papa Liem, mengingatkan siapa yang membesarkannya. Suara Rayhan, mengatakan bahwa masalah Liem tidak otomatis menjadi masalahnya.
Untuk pertama kalinya, suara kedua terdengar lebih masuk akal.
Senja mengambil map itu, turun ke lantai satu, lalu menyerahkannya kepada Pak Hadi.
"Pak, tolong simpan ini dulu. Jangan diberikan kepada Rayhan kecuali dia bertanya."
Pak Hadi menerima map itu dengan kedua tangan. "Nyonya yakin?"
"Aku tidak ingin menyembunyikan. Aku hanya ingin memilih waktu untuk menjelaskan sendiri."
"Baik, Nyonya."
"Kalau Papa Liem menelepon..."
"Saya akan mengatakan Nyonya sedang latihan."
Senja menatapnya.
Pak Hadi tersenyum tipis. "Itu bukan kebohongan jika Nyonya memang latihan."
Senyum Senja muncul sedikit. "Terima kasih."
Di sanggar, suasana jauh lebih ringan daripada beberapa hari terakhir. Ko Jefri mengurangi porsi putaran Senja, Lara memastikan dia makan sebelum musik dimulai, dan semua orang sengaja tidak membahas video Serena terlalu keras.
Namun gosip tetap masuk melalui celah-celah kecil.
"Katanya korban motor itu sudah dibayar mahal."
"Katanya keluarga Liem marah karena video menyebar."
"Katanya Nyonya Wijaya tidak mau bantu kakaknya."
Senja mendengar kalimat terakhir dari dua penari junior di ruang ganti. Mereka langsung terdiam saat menyadari Senja ada di belakang.
"Maaf, Bu Senja," salah satunya berkata gugup.
Senja mengikat rambutnya di depan cermin. "Tidak apa-apa. Tapi kalau mau membicarakan orang, pastikan korbannya tidak sedang berdiri di belakangmu."
Lara yang duduk di bangku langsung menepuk lutut. "Akhirnya. Itu baru sahabatku."
Penari junior itu meminta maaf lagi lalu kabur keluar.
Senja menatap Lara melalui cermin. "Aku terdengar galak?"
"Sedikit. Aku bangga."
"Aku tidak ingin jadi seperti Serena."
"Membela diri tidak sama dengan menindas orang." Lara berdiri, merapikan ikatan rambut Senja yang sedikit miring. "Kamu harus hafal bedanya."
Senja mengangguk pelan.
Latihan hari itu berjalan baik. Tubuhnya masih mudah lelah, tetapi tidak lagi kosong. Mungkin karena sarapan. Mungkin karena kotak makan. Mungkin karena untuk pertama kalinya, dia tidak merasa bersalah menghabiskan waktu untuk menjaga dirinya sendiri.
Ketika pulang sore, langit Jakarta sudah gelap oleh awan. Pak Hadi berdiri di dekat mobil dengan payung.
"Tuan muda meminta Nyonya langsung pulang. Hujan besar diperkirakan turun."
Senja hampir tertawa. "Dia memantau cuaca juga?"
"Tuan muda memantau banyak hal."
"Termasuk aku."
Pak Hadi tidak menjawab, tetapi senyumnya cukup.
Hujan turun deras sebelum mereka sampai Menteng. Air memukul kaca mobil, membuat jalanan melambat. Senja duduk dengan kotak makan kosong di pangkuan, mendengar suara hujan dan merasa aneh karena tidak sepenuhnya ingin menghindarinya.
Di Wijaya Mansion, Rayhan sedang menerima telepon di ruang kerja dengan pintu terbuka. Senja melewati koridor perlahan, tidak berniat menguping, tetapi satu kalimat terdengar jelas.
"Kalau keluarga Liem ingin menyalahkan Senja, minta mereka bicara langsung denganku."
Langkah Senja berhenti.
Rayhan melihatnya dari balik pintu.
Mata mereka bertemu.
Dia tidak menjelaskan apa pun. Hanya menutup telepon beberapa detik kemudian.
"Pulang basah?"
Senja melihat lengan cardigan-nya yang terkena sedikit hujan. "Sedikit."
"Ganti baju."
"Aku tahu."
"Setelah itu makan."
"Aku sudah makan kotak dari rumah."
"Kotak itu untuk setelah latihan. Makan malam tetap makan malam."
Senja menatapnya. "Kamu sadar kamu terdengar seperti Tante Lian?"
Rayhan tampak tidak senang. "Dia lebih cerewet."
"Kamu yakin?"
Pak Hadi yang baru masuk dari foyer mendadak berbalik pura-pura memeriksa payung.
Sudut bibir Senja bergerak.
Rayhan melihatnya, lalu berkata, "Jangan tertawa kalau belum makan."
"Itu aturan baru?"
"Kalau perlu."
Makan malam berlangsung lebih tenang. Tidak romantis, tidak hangat seperti keluarga dalam iklan. Tetapi Senja menghabiskan satu mangkuk sup dan setengah porsi nasi tanpa dipaksa tiga kali. Rayhan tidak memuji. Dia hanya melihat piringnya, lalu melanjutkan membaca pesan kerja.
Namun ketika Senja hendak berdiri untuk kembali ke kamar, Rayhan berkata, "Besok charity luncheon?"
"Iya."
"Dengan Serena?"
"Dia akan datang."
"Pak Hadi ikut sampai dalam gedung."
"Itu acara perempuan."
"Pak Hadi tidak perlu duduk di meja kalian. Dia hanya perlu ada di gedung."
Senja ingin membantah, lalu teringat Serena, Papa Liem, dan cara gosip bergerak lebih cepat daripada hujan.
"Baik," katanya.
"Kalau Serena membicarakan kasus itu, jangan jawab."
"Aku bisa mengurusnya."
"Aku tahu kamu bisa."
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Rayhan tidak menatapnya. "Tapi kamu tidak harus mengurus semuanya sendirian."
Hujan di luar terdengar lebih lembut setelah itu.
Malamnya, Senja menyiapkan pakaian untuk charity luncheon. Gaun hijau yang dia pilih sudah dikirim dari butik, digantung di depan lemari dengan plastik pelindung. Dia menyentuh kainnya sebentar, mengingat Serena yang berkata dia akan tenggelam.
Kali ini, Senja tidak merasa tenggelam.
Keesokan paginya, dia turun lebih awal. Charity luncheon dimulai pukul sebelas, tapi Serena meminta bertemu di hotel pukul sepuluh. Senja ingin berangkat sebelum Papa Liem menelepon lagi.
Di foyer, Pak Hadi sudah menunggu.
Rayhan juga ada di sana.
Pria itu berdiri di dekat meja konsol, mengenakan setelan kerja, satu tangan memegang gelas keramik bertutup. Uap tipis keluar dari celahnya.
Tatapannya turun sebentar ke gaun hijau yang dikenakan Senja.
Senja otomatis menahan napas. Komentar Serena dari butik kembali melintas di kepala: kamu akan tenggelam. Dia sudah siap jika Rayhan bertanya kenapa memilih warna itu, atau menyuruh stylist menggantinya dengan sesuatu yang lebih aman.
Namun Rayhan hanya berkata, "Warna itu membuatmu terlihat lebih hidup."
Senja mengangkat wajah.
Kalimat itu keluar datar, seperti dia sedang menilai laporan desain interior, bukan memuji istrinya. Justru karena datar, Senja tahu Rayhan tidak sedang berusaha menyenangkan hati siapa pun.
"Aku yang memilihnya," kata Senja.
"Bagus."
Satu kata.
Tetapi cukup untuk membuat tangan Senja yang memegang clutch berhenti mencengkeram terlalu kuat.
Senja berhenti di anak tangga terakhir. "Kamu belum berangkat?"
"Sebentar lagi."
"Aku juga harus pergi."
Rayhan mengambil gelas itu dan menyerahkannya kepada Senja.
Aroma jahe hangat langsung naik ke hidungnya, bercampur sedikit gula aren dan serai.
"Wedang jahe," katanya.
"Tante Lian bilang tenggorokanmu mudah gatal kalau kehujanan."
"Aku tidak kehujanan banyak."
"Kamu tetap minum."
Senja menerima gelas itu dengan kedua tangan. Keramiknya hangat, tetapi tidak panas. Suhunya tepat untuk diminum pelan tanpa membakar lidah.
Rayhan melihat jam, lalu menatapnya.
"Habiskan dulu, baru pergi."
Nada suaranya tetap seperti perintah.
Tetapi wedang jahe di tangannya memiliki panas yang pas.