Jia Li adalah seorang dokter genius dari modern. Meski begitu, keluarganya sendiri tidak pernah menghargainya dan lebih menyayangi kakak laki-laki nya yang menjadi pengangguran.
Tepat setelah Jia Li selesai melakukan operasi. Sebuah tamparan menantinya di pintu keluar. Awal dari segalanya.
Jiwa Jia Li terseret ke zaman kuno, lebih tepat nya memasuki raga Lin Jia. Lin Jia adalah putri dari Kaisar Lin Dong dan selir kedua. Diam - diam di belakang Kaisar. Lin Jia di remehkan karena tidak memiliki Elemen apapun dalam tubuhnya.
Namun semua berubah saat jiwa Jia Li menempati raga Lin Jia. Berkat bantuan sistem dan ruang ajaib. Jia Li akan mengubah takdir Lin Jia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Yang Sama
Langkah kaki Lin Jia yang tergesa namun tetap berusaha anggun menuju kamar pribadi Pangeran Lin Tian—sang Kakak. Di depan pintu kayu jati berukir naga, berdiri kokoh seorang prajurit pribadi yang kesetiaannya tidak perlu diragukan lagi. Begitu sosok Lin Jia tertangkap oleh netranya, ia langsung membungkuk hormat, sebuah gestur penghormatan yang lahir dari ketulusan hati yang mendalam.
"Putri Mahkota," sapanya dengan suara rendah penuh takzim sembari tetap menundukkan kepala.
Lin Jia menghentikan langkahnya tepat di depan nya. "Apa Kakak ada di dalam?" tanya Lin Jia, matanya menyiratkan ketegasan.
Wu Kevin segera mengangguk patuh, namun gurat kekhawatiran tidak dapat disembunyikan dari wajahnya yang tegas. "Benar, Putri Mahkota. Kondisi Pangeran saat ini sedang sangat lemah... tabib istana baru saja selesai mengobatinya dan beliau baru bisa beristirahat," lapornya dengan nada penuh penyesalan karena tidak bisa berbuat lebih untuk tuannya.
Lin Jia menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah pelayan setianya yang sejak tadi mengekor di belakang. "Mei Mei, kau tunggulah di luar. Jaga pintu ini bersamanya," titah Lin Jia dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Mei-Mei langsung mengangguk patuh, menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Baik, Nona. Hamba akan berjaga di sini," katanya dengan suara lembut.
Krek!
Pintu kayu berat itu terbuka perlahan, memperlihatkan atmosfer kamar yang redup dan aroma tajam dari ramuan obat herbal yang menyeruak. Lin Jia melangkah masuk dengan sangat hati-hati, memastikan pakaian nya tidak menimbulkan suara desiran yang berisik.
Matanya langsung tertuju pada ranjang mewah sutra emas tempat Pangeran Lin Tian terbaring pucat tanpa daya. Dengan gerakan perlahan, Lin Jia mendekat dan menempelkan telapak tangannya yang halus pada kening sang Kakak yang terasa dingin dan berkeringat.
"Aku harus tahu... apakah ini jenis racun yang sama? Atau... racun yang ada di dalam tubuh Selir Dua dan Pangeran Lin Tian sebenarnya berbeda?" bisik hati Lin Jia dalam pergolakan batin yang sengit. Sebagai seseorang yang membawa rahasia besar dari masa depan, naluri medisnya bergejolak.
Sentuhan dingin di keningnya membuat bola mata Pangeran Lin Tian bergerak lambat. Sang Pangeran merasa sedikit terusik dari tidur semunya.
Namun, saat netranya yang sayu terbuka dan menatap wajah sang adik yang familiar, ketegangan di wajahnya mencair. Bibir pucat Pangeran Lin Tian memaksakan sebuah senyuman tipis yang menyayat hati.
"Jia... 'er..." panggilnya dengan suara parau yang nyaris berupa bisikan lemah.
Lin Jia merasakan dadanya sesak melihat kondisi sang kakak, namun ia segera menguasai emosinya. "Tidurlah kembali, Kak. Aku di sini hanya ingin memastikan kondisi Kakak baik-baik saja. Jangan memaksakan dirimu untuk bicara," kata Lin Jia dengan nada selembut mungkin, berusaha menenangkan.
Pangeran Lin Tian tidak menjawab lagi. Tubuhnya yang terlampau lemah dan kesadarannya yang kian menipis memaksanya untuk kembali memejamkan mata. Merasa situasinya sudah aman, Lin Jia bergerak cepat.
Di balik lipatan hanfu nya, ia meraba sebuah benda asing—sebuah alat medis 'jarum suntik' steril yang hanya ada di dunia modern, tempat asalnya yang sebenarnya.
Dengan gerakan lihai dan terlatih, Lin Jia mencari pembuluh darah di lengan sang kakak, lalu menusukkannya dengan presisi tinggi untuk mengambil sampel darah. Pangeran Lin Tian sedikit meringis saat merasakan sesuatu yang tajam menembus kulitnya, seolah ada semut yang mengigit. Namun karena tubuhnya yang lemah dan lelah, sang Pangeran tidak mampu membuka matanya kembali.
Beberapa saat kemudian, setelah menyembunyikan kembali tabung sampel darah itu dengan aman, Lin Jia melangkah keluar dari kamar. Langkahnya kini terasa lebih berat sekaligus tegas. Ia berhenti tepat di depan Wu Kevin yang masih berdiri siaga.
"Dengar baik-baik, Wu Kevin... jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar ini tanpa izin dariku, termasuk Kaisar atau Permaisuri. Katakan kepada mereka jika itu adalah perintah mutlak dariku," kata Lin Jia dengan tatapan mata yang tajam dan intonasi suara yang penuh wibawa layaknya seorang penguasa.
Wu Kevin sempat tertegun sesaat, merasa asing dengan aura kepemimpinan yang begitu kuat dari sang Putri Mahkota yang biasanya bersikap gugup. Namun sebagai prajurit yang setia, dia tidak berani mempertanyakannya. Ia kembali membungkuk dalam. "Baik, Putri Mahkota. Hamba akan melaksanakan perintah Anda, taruhannya nyawa," katanya dengan tegas.
Lin Jia mengangguk sekilas memberi isyarat pada Mei Mei. Dengan langkah tegas dan pikiran yang berkecamuk penuh konspirasi medis, Lin Jia dan Mei Mei segera pergi meninggalkan koridor sunyi itu, melangkah cepat menembus kegelapan malam untuk kembali ke Paviliun Musim Semi, tempat di mana Lin Jia akan mengungkap misteri racun tersebut.
**********************
Dalam kamar yang remang-remang oleh pendar lilin, Lin Jia membalikkan tubuhnya perlahan. Matanya yang menyiratkan kelelahan mendalam tertuju pada pelayan setianya yang masih berdiri siaga di sudut ruangan.
"Kau bisa beristirahat sekarang, Mei Mei... Aku juga ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku malam ini," kata Lin Jia, suaranya terdengar lembut namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan.
Mei Mei mengangguk patuh, menyatukan kedua tangannya di depan dada sembari membungkuk dalam penuh hormat.
"Baik, Nona... Semoga malam Anda menyenangkan dan mimpi indah menyertai tidur Anda," kata Mei Mei dengan nada suara yang penuh perhatian sebelum melangkah mundur dan undur diri secara perlahan, menutup pintu kayu murni itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Begitu derit pintu benar-benar senyap dan memastikan Mei Mei telah pergi jauh dari paviliunnya, atmosfer di dalam kamar langsung berubah.
Lin Jia tidak lagi menonjolkan sikap nona muda dari zaman kuno. Sebagai seorang dokter genius dari dunia modern yang terlempar ke dimensi asing ini, dia jelas tahu persis apa yang harus dia lakukan demi bertahan hidup di tengah pusaran konspirasi istana yang mematikan.
Lin Jia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengibaskan tangan kanannya ke udara dengan satu gerakan anggun yang penuh penekanan. Detik itu juga, ruang dan waktu di sekitarnya seolah terdistorsi.
Kamar tidur itu senyap, tergantikan oleh dinding-dinding steril berwarna putih dengan pencahayaan neon yang terang benderang. Seketika, dia sudah berada di dalam ruang laboratorium canggih yang tersembunyi di dalam Ruang Ajaib miliknya.
Di kedua tangannya yang kini terbalut sarung tangan lateks transparan, sudah ada dua tabung reaksi kecil berbahan kaca khusus. Tabung-tabung itu berisi sampel darah merah pekat milik Selir Kedua dan Pangeran Lin Tian yang berhasil dia ambil secara rahasia sebelumnya.
Lin Jia melangkah mendekati sebuah meja stainless steel, menaruh sampel tersebut pada rak khusus, dan menyalakan mesin spektrometer massa serta mikroskop elektron tercanggih miliknya.
Dengan dahi berkerut dan fokus yang sepenuhnya terkunci, dia mulai mengecek jenis, struktur molekul, serta kadar racun yang ada di dalam darah itu menggunakan alat-alat laboratorium modernnya. Jarinya menari lincah di atas layar sentuh, menganalisis setiap data yang keluar.
"Ini bukan racun sembarangan. Ini racun kelas atas yang dirancang untuk bekerja secara perlahan, untuk membuat tubuh menjadi lemah tanpa meninggalkan jejak memar atau perubahan warna kulit.”
"Racun nya... sama."