Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Kamu Operasi Plastik?
Pagi setelah malam itu tidak membuat hidup Naomi berubah.
Kelvin Hartono tetap berada di tempat yang terlalu tinggi untuk disentuh. Naomi tetap bangun sebelum alarm kedua berbunyi, mencuci muka dengan air kamar mandi kos yang kadang terlalu dingin, lalu berangkat ke kampus sambil membawa roti tawar sisa semalam di dalam tas.
Satu-satunya yang berubah hanya kebiasaan kecil yang memalukan.
Setiap kali melewati minimarket kampus, matanya otomatis mencari rak minuman dingin.
Seolah satu kaleng es kola bisa muncul sendiri dan membawa kembali suara rendah seseorang yang berkata, Masuk.
Naomi menggeleng pelan, mengusir pikiran itu, lalu mempercepat langkah menuju gedung fakultas. Hari ini ia punya kelas pagi. Selain itu, Farel, mahasiswa dari kelas paralel yang pernah bekerja satu kelompok dengannya, mengirim pesan sejak subuh.
"Nao, tolong titip absen ya. Aku kejebak di Bekasi, dosennya suka panggil nama. Nanti aku transfer."
Naomi sebenarnya tidak suka titip absen. Aturan kampus jelas melarang, dan ia bukan orang yang nyaman berbohong di depan dosen. Tapi Farel pernah membantunya mencetak tugas saat printer kos mati, dan uang transport yang ia janjikan cukup untuk makan dua hari.
Ia membalas singkat.
"Sekali ini saja."
Begitu sampai di koridor, suara seseorang memanggilnya.
"Naomi."
Naomi menoleh.
Brandon Sutanto berdiri di dekat papan pengumuman BEM, memakai kemeja biru muda dengan lengan digulung rapi. Wajahnya selalu tampak bersih, seperti orang yang tidak pernah terlambat, tidak pernah berkeringat mengejar bus, dan tidak pernah salah memilih kata.
"Pagi, Kak Brandon," sapa Naomi.
Brandon tersenyum. "Kamu kelihatan capek. Masalah di kos sudah lebih baik?"
Pertanyaan itu membuat Naomi sedikit menurunkan pandangan.
Beberapa minggu lalu, saat Ibu kos mempermasalahkan pembayaran administrasi yang sebenarnya sudah Naomi lunasi, Brandon yang kebetulan berada di sekretariat BEM membantu menelepon pihak kampus untuk mengeluarkan surat keterangan beasiswa. Karena itu Ibu kos berhenti menekan Naomi untuk pindah, setidaknya untuk sementara.
"Sudah, Kak. Terima kasih waktu itu sudah bantu."
"Nggak perlu sungkan. Kamu kan teman fakultas." Brandon mengatakannya dengan mudah, seolah bantuan adalah hal kecil yang memang seharusnya ia berikan. "Tapi kalau kos itu masih bikin kamu nggak nyaman, bilang saja. Aku bisa carikan opsi lain."
Naomi cepat menggeleng. "Tidak apa-apa. Saya masih bisa."
Brandon menatapnya sebentar, lalu mengangguk, tidak memaksa. Itulah yang membuat Naomi merasa nyaman berbicara dengannya. Brandon tidak pernah terdengar seperti sedang memerintah. Ia menawarkan jalan, lalu membiarkan orang lain memilih.
"Oh ya," katanya kemudian, seperti baru ingat. "Kamu jurusan Sastra Jerman, kan?"
"Iya."
"Kebetulan ada kerja part-time. Tante kenalan keluargaku punya anjing Doberman. Katanya anjingnya dilatih pakai beberapa perintah bahasa Jerman, tapi pengurus lamanya pulang kampung. Mereka cari orang yang bisa bantu jaga dan latih ringan beberapa kali seminggu."
Naomi berkedip.
"Anjing?"
"Doberman. Besar, tapi katanya pintar." Brandon tersenyum kecil melihat wajah Naomi yang langsung tegang. "Honornya lumayan. Lebih besar dari kerja minimarket, mungkin."
Kalimat terakhir itu membuat Naomi tidak bisa langsung menolak.
"Tapi saya belum pernah merawat Doberman."
"Kamu bisa belajar. Yang penting kamu telaten. Dari yang aku lihat, kamu telaten." Brandon membuka ponselnya, lalu mengetik sesuatu. "Kalau kamu mau, nanti aku kirim alamat dan kontaknya. Hari Sabtu bisa interview."
Naomi menggigit bibir bawah. Kerja tambahan berarti waktu tidur berkurang. Tapi uang tambahan juga berarti ia bisa membayar cicilan berikutnya tanpa menunggu klien terjemahan yang selalu terlambat.
"Saya pikir dulu boleh?"
"Tentu." Brandon memasukkan ponselnya kembali ke saku. "Satu lagi. Akhir bulan ini aku ulang tahun. Cuma makan kecil sama beberapa teman BEM. Kalau kamu sempat, datang ya."
Naomi hampir menolak otomatis, tapi Brandon sudah tersenyum lebih dulu, hangat dan tidak menuntut.
"Nggak harus jawab sekarang."
Bel kelas berbunyi dari dalam ruangan.
Naomi tersentak. "Saya masuk kelas dulu, Kak."
"Silakan. Jangan telat."
Naomi mengangguk, lalu masuk ke ruang kuliah dengan napas sedikit terburu-buru.
Kelas sudah hampir penuh. Ia memilih kursi di tengah, cukup jauh dari dosen agar tidak terlalu mencolok, tapi cukup dekat untuk mendengar saat nama Farel dipanggil. Ruangan berbau spidol, kertas fotokopi, dan kopi sachet dari mahasiswa yang belum sarapan.
Dosen mulai mengabsen satu per satu.
Naomi menahan ponselnya di bawah meja, membaca pesan Farel lagi.
"Kalau dipanggil, jawab aja hadir. Suaranya dibuat agak berat kalau bisa."
Naomi hampir ingin membalas bahwa ia bukan aktor.
"Farel?"
Jantung Naomi melonjak.
Ia mengangkat tangan cepat. "Hadir, Bu."
Beberapa mahasiswa di dekatnya menoleh. Naomi menunduk, berharap dosen tidak memperhatikan terlalu lama. Untungnya dosen hanya memberi tanda di daftar absen dan lanjut memanggil nama lain.
Naomi baru saja mengembuskan napas lega ketika pintu belakang kelas terbuka.
Suara langkah yang masuk tidak keras, tapi entah bagaimana seluruh ruangan seperti menyadarinya.
Naomi tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Kelvin Hartono berjalan masuk terlambat dengan wajah seolah kelas inilah yang terlalu pagi, bukan ia yang terlambat. Ia memakai hoodie gelap, rambut sedikit berantakan, dan membawa satu buku tipis yang mungkin bahkan tidak akan dibuka.
Dosen meliriknya. "Kelvin, terlambat lagi?"
"Macet, Bu."
Tidak ada yang percaya.
Dosen hanya menghela napas. "Duduk."
Kursi kosong masih banyak.
Tentu saja Kelvin memilih kursi di sebelah Naomi.
Naomi langsung menegang.
Aroma sabun dingin yang samar itu datang lagi, bercampur sedikit bau hujan dari luar. Kelvin duduk dengan santai, meletakkan buku di meja, lalu menoleh ke arahnya.
Matanya turun ke daftar nama yang masih berada di layar ponsel Naomi.
Farel.
Naomi buru-buru menutup layar.
Terlambat.
Sudut bibir Kelvin bergerak.
"Farel," ucapnya pelan.
Naomi menatap papan tulis, pura-pura tidak mendengar.
Kelvin mendekat sedikit. Suaranya tidak cukup keras untuk didengar seluruh kelas, tapi cukup untuk membuat telinga Naomi panas.
"Kamu operasi plastik?"
Naomi hampir batuk.
Kelvin menatapnya dari samping dengan ekspresi malas yang menyebalkan. "Atau ganti kelamin?"
"Jangan bicara begitu," bisik Naomi panik.
"Kenapa? Aku cuma memastikan. Tadi dosen panggil Farel, yang jawab kamu."
"Saya... membantu teman."
"Dengan menjadi dia?"
Naomi tidak punya jawaban yang terdengar masuk akal.
Di depan, dosen mulai menjelaskan materi tentang perubahan makna dalam bahasa. Naomi mencoba menulis catatan, tapi tulisan tangannya kacau. Setiap kali Kelvin menggerakkan tangan atau menyandarkan siku di meja, konsentrasinya pecah.
"Dibayar berapa?" tanya Kelvin tiba-tiba.
Naomi menoleh. "Apa?"
"Jadi Farel."
"Bukan urusan kamu."
Kalimat itu keluar sebelum Naomi sempat menyaringnya.
Kelvin menatapnya.
Naomi langsung menyesal, tapi anehnya Kelvin tidak marah. Ia justru tampak sedikit tertarik.
"Bisa juga jawab."
Naomi menunduk lagi. Pipinya panas.
Sisa kelas berjalan sangat lambat. Saat dosen akhirnya menutup perkuliahan, Naomi langsung memasukkan buku ke tas.
"Naomi."
Ia berpura-pura tidak mendengar.
"Farel."
Langkah Naomi hampir tersandung kaki kursi.
Kelvin bersandar di kursinya, menatapnya dengan mata tenang yang terlalu tahu cara membuat orang gugup. "Lain kali kalau mau ganti identitas, pilih yang namanya lebih cocok."
Naomi memeluk tas ke dada. "Saya tidak akan titip absen lagi."
"Bagus."
"Dan saya permisi."
Ia keluar sebelum Kelvin sempat mengatakan apa pun lagi.
Di koridor, udara terasa lebih lega. Naomi berjalan cepat melewati papan pengumuman, melewati kantin kecil, melewati sekelompok mahasiswa yang sedang tertawa. Baru setelah sampai di tangga darurat, ia berhenti dan menyentuh pipinya yang masih panas.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Brandon masuk.
"Kalau kamu tertarik dengan pekerjaan jaga Doberman itu, Sabtu jam 10 bisa datang ke alamat ini. Rumah keluarga di Menteng. Aku sudah bilang kamu orangnya telaten."
Di bawahnya ada alamat lengkap, dengan nama jalan yang terdengar seperti milik rumah-rumah besar di berita properti.
Naomi membaca pesan itu dua kali.
Menteng.
Ia tidak tahu bahwa alamat itu akan membawanya kembali pada orang yang baru saja membuatnya kabur dari kelas dengan wajah panas.