Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.
Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.
"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tigabelas
Matahari pagi bersinar cerah, menghangatkan pelataran batu marmer di taman belakang Istana Phoenix. Shen Ran berjalan perlahan, menikmati udara segar yang sudah lama tidak ia rasakan selama mendekam di Istana Dingin. Di belakangnya, Lian'er dan Mei'er berjalan dengan langkah teratur, menjaga jarak aman sambil membawa payung sutra dan kipas cendana.
Namun, kedamaian pagi itu terusik saat sekelompok pelayan dengan pakaian merah muda cerah muncul dari balik lorong bambu. Di tengah-tengah mereka, menandu sebuah kursi megah, duduklah Chu Xinyue.
Melihat keberadaan Permaisuri, Chu Xinyue memberi isyarat agar tandunya diturunkan. Ia melangkah turun dengan gerakan anggun yang sengaja dibuat lambat, satu tangannya dengan posesif bertumpu pada perutnya yang masih rata. Senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya yang jelita.
"Ah, hamba tidak menyangka akan bertemu dengan Yang Mulia Permaisuri di sini. Senang melihat Anda sudah bisa menghirup udara segar setelah sekian lama mengurung diri di tempat yang... kumal," ucap Chu Xinyue, memberikan penghormatan yang sangat dangkal, hanya menundukkan kepala sedikit tanpa menekuk lututnya. Tindakan yang sangat tidak sopan di hadapan istri sah Kaisar.
Lian'er dan Mei'er yang berdiri di belakang Shen Ran langsung menegang, wajah mereka memerah menahan amarah atas kelancangan sang selir. Namun, Shen Ran tetap tenang. Ia bahkan tidak menghentikan langkahnya sampai jarak mereka tersisa beberapa langkah.
Shen Ran menatap Chu Xinyue dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai, seolah-olah sedang memeriksa berkas tuntutan yang penuh cacat hukum.
"Tempat kumal bisa dibersihkan dalam hitungan jam, Selir Chu. Tetapi reputasi yang kotor akibat korupsi klan... tidak akan bersih bahkan jika kau mandi dengan air mawar seumur hidup," sahut Shen Ran, suaranya terdengar datar namun bergema kuat di koridor taman.
Senyum di wajah Chu Xinyue membeku sesaat. Kilat kebencian melintas di matanya, namun ia dengan cepat menguasai diri. Ia tertawa kecil, suara tawa yang dibuat-buat untuk menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Yang Mulia tampaknya masih suka bergurau. Bagaimanapun, badai telah berlalu. Kaisar sendiri yang telah membebaskan hamba karena beliau tahu... hamba tidak bersalah. Dan, menuduh clan Chu itu adalah perbuatan yang sangat berani, Yang mulia Permaisuri. Anda dapat keberanian darimana? Apakah Yang mulia Permaisuri tidak takut dengan resikonya?" kata Chu Xinyue, berniat mengancam Shen Ran.
Mendengar ancaman terbuka dari Chu Xinyue, keheningan instan menyelimuti pelataran taman belakang Istana Phoenix. Para pelayan berbaju merah muda di belakang sang selir menundukkan kepala, sementara Lian'er dan Mei'er menahan napas, menanti reaksi dari junjungan mereka. Namun, di luar dugaan Chu Xinyue, tidak ada ledakan amarah dari sang Permaisuri.
Shen Ran justru mengembuskan napas pendek, lalu sebuah tawa rendah yang terdengar sangat elegan namun sarat akan cemoohan lolos dari bibirnya. Ia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wewangian mahal Chu Xinyue tercium olehnya. Clara, dengan seluruh mentalitas pengacara korporat yang kini mendiami tubuh Shen Ran, menatap langsung ke sepasang mata sang selir dengan pandangan yang begitu mengintimidasi.
"Risiko?" bisik Shen Ran, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat percaya diri. "Selir Chu, dalam kamus hidupku, risiko adalah sesuatu yang sudah kuperhitungkan matang-matang sebelum aku melangkah ke lebih jauh. Meski gelarku sekarang adalah Permaisuri terbuang, tapi jangan lupakan identitasku, Selir Chu. Aku adalah putri sulung dari Jendral Agung Shen."
Shen Ran melangkah maju, memaksa Chu Xinyue mundur satu tapak karena dominasi aura yang begitu mencekik. Kilat di mata Shen Ran bukan lagi milik seorang wanita yang merajuk karena kehilangan cinta suaminya, melainkan sorot mata seorang yang baru saja bangkit dari kematian.
"Kau pikir dengan runtuhnya klan Chu di jalur birokrasi, kau masih bisa mengancamku dengan sisa-sisa pengaruh ayahmu? Jangan naif, Xinyue. Tiga puluh ribu pasukan di perbatasan utara masih setia di bawah keluarga Shen. Jika aku mau, satu surat rahasia dariku bisa membuat pasukan klanmu di selatan terputus dalam semalam. Menurutmu, mengapa Kaisar hanya berani mengurungku di Istana Dingin dan tidak berani mencabut gelarku?" cibir Shen Ran, matanya menyipit tajam.
Wajah Chu Xinyue yang tadinya memerah penuh amarah instan memucat. Fakta itu menghantamnya telak. Selama ini, ia mengira Shen Ran bisa ditindas hanya karena Long Tianqi tidak mencintainya. Ia lupa bahwa di balik tubuh rapuh ini, ada kekuatan militer raksasa yang membuat takhta Kaisar sendiri sebenarnya goyah.
"Kau... kau tidak akan berani memicu perang saudara! Dan terlebih lagi, ada sesuatu yang jauh lebih berharga di dalam rahim hamba sekarang. Keturunan kaisar. Anda tahu apa artinya itu, bukan?Istana Phoenix ini... mungkin tidak akan selamanya menjadi milik Anda," Chu Xinyue melangkah maju satu tapak, merendahkan suaranya agar hanya terdengar oleh Shen Ran.
Mendengar provokasi murahan itu, Shen Ran justru menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih marah atau panik seperti Shen Ran yang dulu, Clara di dalam tubuh itu justru merasa geli. Di dunia modern, klaim tanpa bukti medis yang sah di depan hukum hanyalah omong kosong.
"Keturunan Kaisar? Aku tidak yakin itu anak Kaisar," Shen Ran terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang membuat para pelayan Chu Xinyue merinding. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma dupa cendana dari tubuhnya mendominasi udara.
Kata-kata Shen Ran barusan bagaikan petir di siang bolong bagi Chu Xinyue. Wajah sang Selir Agung yang tadinya dipenuhi senyum kemenangan instan memucat, berganti menjadi ekspresi horor sebelum akhirnya memerah padam akibat murka yang tak tertahankan.
"Kau... berani-beraninya kau menuduhku?! Ini adalah darah daging Yang Mulia Kaisar! Berani sekali mulut kotormu menodai kesucian keturunan Kaisar!" desis Chu Xinyue, suaranya bergetar hebat menahan pekikan. Jantungnya berdegup kencang. Tuduhan tidak sah atas keturunan kekaisaran adalah pelanggaran berat yang bisa berujung pada hukuman penggal sembilan turunan.
Shen Ran tidak bergeming. Ia justru melipat tangan di depan dada dengan keanggunan yang mengintimidasi, menatap Chu Xinyue dengan pandangan penuh keremehan.
"Menodai?" Shen Ran melangkah satu tapak lagi, menundukkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan telinga Chu Xinyue yang kini mulai berkeringat dingin. Shen Ran kembali menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Chu Xinyue yang mulai bergerak gelisah. "Kaisar mungkin pria yang mudah dibodohi oleh air mata dan rayuan murahanmu di atas ranjang. Tapi hukum alam dan waktu tidak bisa kau suap, Chu Xinyue. Jika kau ingin menggunakan janin itu sebagai kartu AS-mu untuk merebut takhta Istana Phoenix, pastikan kau bisa menjaga rahasia itu tetap rapat sampai tabib kekaisaran yang memeriksa denyut nadimu."
Chu Xinyue mengepalkan tangannya begitu keras hingga kuku-kukunya yang panjang dan diwarnai indah hampir menembus kulit telapak tangannya. Ancaman tersirat Shen Ran mengenai 'tabib independen' benar-benar menghantam titik lemahnya. Memang benar, ia menggunakan taktik kilat demi bisa keluar dari Istana Barat, memanfaatkan manipulasi tabib pribadinya yang telah disuap oleh sisa-sisa dana klan Chu.
Tiba-tiba Chu Xinyue berlutut dibawah kaki Shen Ran dna berkata, "Maafkan hamba, Permaisuri. Tapi bukan hamba yang menyuruh orang untuk mengambil pasokan Yang mulia Permaisuri di istana dingin. Hamba difitnah. Saya tahu Yang mulia Permasuri cemburu dengan kehamilan hamba. Tapi, tolong pikirkan janin yang berada diperut hamba. Yang mulia Permaisuri tidak mau dituduh sebagai pembunuh berdarah dingin yang menyingkirkan darah daging suaminya sendiri, bukan?" Chu Xinyue mendongak dengan mata yang seketika digenangi air mata. Wajahnya yang semula memerah murka kini berubah menjadi topeng kerapuhan yang luar biasa.
Dari sudut koridor taman, terdengar langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa. Suara gesekan jubah naga yang familier terdengar mendekat. Shen Ran langsung paham situasinya. Ah, trik klasik teraniaya saat penonton tiba. Sangat klise. Long Tianqi melangkah masuk ke area taman dengan kening berkerut dalam, tepat saat Chu Xinyue mengeluarkan isakan kecil yang memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
"Apa yang terjadi di sini?!" seru Long Tianqi, suaranya menggelegar menembus keheningan taman.
Melihat kehadiran Kaisar, Chu Xinyue langsung menjatuhkan tubuhnya lebih rendah, seolah-olah ditekan oleh kekuatan yang tak kasat mata. "Yang Mulia... tolong hamba... Hamba tahu Permaisuri membenci hamba karena kesalahan klan Chu. Hamba rela dihukum, tapi hamba mohon... lindungi janin di perut hamba ini dari fitnah keji Permaisuri..."
Long Tianqi segera melangkah maju, melewati Shen Ran tanpa memandangnya, lalu berlutut untuk memapah Chu Xinyue berdiri. "Xinyue, bangunlah. Mengapa kau berlutut di tanah yang dingin ini? Ingat kondisimu!"
Kaisar kemudian berbalik, menatap Shen Ran dengan sorot mata penuh kilat kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Shen Ran! Baru kemarin aku memintamu untuk bersikap bijak, dan pagi ini kau sudah menindas selir Chu yang tengah hamil di depan umum? Apakah kebencian telah benar-benar membutakan hatimu?!"
Di belakang Shen Ran, Lian'er dan Mei'er sudah pucat pasi dan bersiap untuk berlutut ketakutan. Namun, Shen Ran menahan mereka dengan isyarat tangan yang santai. Shen Ran tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Di ruang sidang modern, taktik memanipulasi emosi seperti ini sering ia patahkan hanya dengan satu pertanyaan logis yang dingin. Ia menatap Long Tianqi, lalu beralih ke Chu Xinyue yang sedang menyembunyikan senyum kemenangan di balik dada Kaisar.
"Menindas, Yang Mulia?" Shen Ran bertanya, suaranya jernih, tenang, dan sama sekali tidak memiliki nada defensif. Ia melangkah perlahan mendekati pasangan itu, lalu berdiri dengan punggung tegak dan kepala terangkat tinggi.
"Saya hanya sedang berjalan-jalan menikmati pagi, ketika Selir Agung Chu menghadang jalan saya, menolak menekuk lutut sebagaimana mestinya kepada Permaisuri, dan dengan bangga memamerkan kehamilannya yang... teramat instan," ucap Shen Ran dengan penekanan yang elegan pada kata terakhir.
"Shen Ran! Dia sedang mengandung anakku!" potong Long Tianqi berang.
"Justru karena dia mengatakan itu adalah anak Anda, Yang Mulia, saya bertindak demi keselamatan Anda," sahut Shen Ran cepat, memotong balik kalimat Kaisar dengan ketegasan seorang jaksa. "Sebagai Permaisuri, adalah tugas saya untuk memastikan bahwa tidak ada darah kotor yang menyusup ke dalam silsilah suci kekaisaran. Jika Selir Chu merasa difitnah tentang pasokan di Istana Dingin, dan jika dia begitu yakin dengan kehamilannya, mengapa dia harus gemetar ketakutan saat saya menyarankan pemeriksaan ulang oleh seluruh Dewan Tabib Istana secara terbuka?"
Shen Ran mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke dalam mata Chu Xinyue yang tiba-tiba melebar panik di balik pelukan Kaisar. "Mari kita selesaikan ini sekarang juga, Yang Mulia. Panggil seluruh tabib senior. Jika denyut nadi Selir Chu terbukti benar dan hitungan waktunya tepat sejak malam terakhir Anda mengunjunginya sebelum dia dipenjara, saya sendiri yang akan berlutut meminta maaf di hadapan seluruh istana. Namun... Jika hasil pemeriksaan menyatakan sebaliknya, maka hari ini juga, Anda sedang memeluk seorang pengkhianat terbesar dalam sejarah Dinasti Yan."