"Apa?! Kak Rania kabur?!"
Surat di tangan Gladis bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya saat membaca tulisan tangan kakaknya untuk ketiga kalinya.
Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak aku cintai. Aku memilih hidupku sendiri. Jangan mencariku.
Tubuh Gladis mendadak lemas.
Malam itu seharusnya menjadi malam terakhir persiapan pernikahan kakaknya dengan seorang CEO ternama. Semua undangan telah disebar. Hotel mewah telah dipesan. Para relasi bisnis penting dijadwalkan hadir.
Namun sang calon pengantin justru menghilang.
"Ayah... bagaimana ini?" suara Gladis bergetar.
Di ruang keluarga yang megah namun terasa mencekam, wajah kedua orang tuanya tampak pucat.
Ayahnya terduduk lemah sambil memegangi dada.
"Kita tidak boleh membatalkan pernikahan ini."
"Tapi Kak Rania sudah pergi!"
"Kau tidak mengerti, Gladis!" bentak ibunya tiba-tiba.
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat ketakutan pada orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moon28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang ke rumah orang tua
Malam itu suasana rumah keluarga Wijaya terasa jauh lebih tenang dibanding minggu pertama Gladis tinggal di sana.
Rian sudah tertidur lebih awal setelah memaksa Gladis membacakan tiga cerita dinosaurus sekaligus.
Raka dan Raina sedang mengerjakan tugas sekolah di kamar masing-masing.
Sedangkan Arsen masih berada di ruang kerjanya.
Sementara Gladis duduk di balkon kamar sambil memegang ponsel.
Angin malam berhembus pelan.
Langit terlihat cerah.
Dan untuk pertama kalinya setelah satu minggu penuh kesibukan, ia memiliki sedikit waktu untuk dirinya sendiri.
Ia menekan tombol panggil.
Tak lama kemudian suara yang sangat dirindukannya terdengar.
"Assalamualaikum."
Mata Gladis langsung berkaca-kaca.
"Waalaikumsalam, Bu."
"Ibu lagi apa?"
"Ibu baru selesai beres-beres dapur."
Suara Bu Ranti terdengar hangat seperti biasa.
Membuat hati Gladis yang sejak tadi terasa lelah perlahan tenang.
"Kamu bagaimana, Nak?"
"Aku baik."
Benar-benar baik.
Meskipun hidupnya berubah drastis.
Meskipun masih banyak hal yang harus dipelajari.
Ia memang baik-baik saja.
Setelah berbincang beberapa menit, Gladis akhirnya menanyakan hal yang sejak lama mengganggu pikirannya.
"Bu..."
"Iya?"
"Kak Rania belum pulang?"
Di seberang sana terdengar keheningan sesaat.
Belum.
Jawaban itu sebenarnya sudah ia duga.
Namun tetap saja membuat dadanya terasa berat.
"Belum, Sayang."
Suara ibunya terdengar lirih.
"Ayah dapat kabar kalau dia kabur ke luar negeri."
Gladis menunduk.
Jemarinya menggenggam ujung gamis.
"Hmmm..."
Ia tidak tahu harus berkata apa.
Marah?
Tidak bisa.
Sedih?
Sudah terlalu sering.
Kecewa?
Tentu saja.
Bagaimanapun Rania adalah kakaknya.
Kakak yang selama ini selalu melindunginya.
Kakak yang tiba-tiba menghilang dan meninggalkan kekacauan besar.
"Kamu jangan terlalu memikirkannya."
Ucap ibunya pelan.
"Aku cuma berharap Kak Rania baik-baik saja."
Jawab Gladis jujur.
Karena meskipun kecewa, ia tetap menyayanginya.
Bagaimanapun juga mereka saudara.
"Aamiin."
Jawab ibunya.
"Aamiin."
Beberapa saat mereka kembali mengobrol.
Membahas kuliah.
Membahas Rian yang mulai dekat dengannya.
Membahas kehidupan baru Gladis.
Sampai akhirnya Bu Ranti teringat sesuatu.
"Oh iya."
"Hm?"
"Besok kamu pulang."
Gladis berkedip.
"Pulang?"
"Iya."
"Menurut orang-orang tua di sini, setelah satu bulan pernikahan biasanya anak perempuan harus pulang ke rumah orang tuanya."
"Oh..."
Gladis tersenyum kecil.
Ia pernah mendengar tradisi itu.
Hanya saja karena hidupnya berubah begitu cepat, ia hampir melupakannya.
"Ibu sudah masak makanan favoritmu."
Benar-benar kalimat yang membuatnya rindu rumah.
Mata Gladis langsung berkaca-kaca.
"Aku kangen masakan Ibu."
"Ibu juga kangen kamu."
Suasana menjadi hening beberapa saat.
Lalu Bu Ranti bertanya pelan.
"Arsen ikut?"
Gladis terdiam.
Kemudian tersenyum tipis.
"Sepertinya tidak, Bu."
"Kenapa?"
"Mas sangat sibuk."
Memang benar.
Dalam seminggu terakhir Arsen hampir selalu pulang malam.
Kadang setelah anak-anak tidur.
Kadang bahkan mendekati tengah malam.
Pria itu benar-benar hidup untuk pekerjaannya.
"Tak masalah."
Jawab Bu Ranti lembut.
"Kamu saja yang pulang."
"Ibu sudah senang."
Gladis mengangguk meski ibunya tidak bisa melihat.
"Iya, Bu."
Setelah telepon berakhir, Gladis masih duduk diam cukup lama.
Memandang langit malam.
Memikirkan banyak hal.
Tentang rumah.
Tentang keluarganya.
Tentang Rania.
Dan tanpa sadar...
Tentang Arsen.
Pria itu memang dingin.
Sulit ditebak.
Namun selama beberapa minggu ini ia tidak pernah sekalipun memperlakukannya buruk.
Bahkan beberapa kali diam-diam membantunya.
Seperti mengirim sopir ke kampus.
Membelikan buku kuliah yang sulit dicari.
Dan memastikan jadwal kuliahnya tidak terganggu.
Mungkin caranya memang berbeda.
Namun Gladis tahu.
Arsen sebenarnya memperhatikan.
Keesokan paginya.
Seperti biasa Gladis sudah berada di dapur sejak subuh.
Saat sarapan berlangsung, suasana meja makan jauh lebih baik dibanding minggu pertama.
Rian sibuk bercerita tentang dinosaurus baru yang ia pelajari.
Raka sesekali menanggapi.
Meski dengan wajah sok dingin.
Sedangkan Raina diam-diam mendengarkan.
Setelah sarapan selesai.
Gladis akhirnya memberanikan diri mendekati Arsen.
"Mas?"
Arsen yang sedang memeriksa ponselnya mengangkat kepala.
"Iya?"
"Aku mau izin."
"Izin?"
"Hari ini aku ingin pulang ke rumah orang tua."
Arsen terlihat berpikir sesaat.
"Lama?"
"Mungkin sampai sore."
Pria itu mengangguk.
"Tidak masalah."
Gladis tersenyum lega.
"Terima kasih."
Namun sebelum ia sempat pergi, Arsen kembali berbicara.
"Sopir akan mengantar."
"Oh, tidak perlu."
"Itu perlu."
Jawab Arsen datar.
"Keamanan."
Gladis akhirnya mengangguk pasrah.
"Baik."
Percakapan mereka sebenarnya sederhana.
Namun tidak luput dari perhatian seseorang.
Dimas.
Yang kebetulan sedang berdiri tidak jauh dari sana.
Pria itu langsung tersenyum geli.
Semakin hari hubungan bosnya dan Nyonya Gladis memang semakin menarik.
Bukan romantis.
Belum.
Tetapi sudah jauh lebih nyaman dibanding minggu pertama.
Sekitar pukul sembilan pagi.
Gladis bersiap berangkat.
Ia mengenakan gamis biru muda sederhana dan hijab senada.
Penampilannya anggun namun tetap sederhana.
Saat turun ke bawah.
Rian langsung berlari mendekat.
"Mama Gladis mau ke mana?"
"Aku mau ke rumah Nenek."
"Rian ikut?"
"Tidak hari ini."
Wajah bocah itu langsung sedih.
Membuat Gladis tertawa kecil.
"Nanti lain kali ya."
Rian akhirnya mengangguk meski masih terlihat kecewa.
Tak lama kemudian mobil sudah siap di depan rumah.
Gladis berpamitan kepada semua orang.
Bahkan Raka dan Raina ikut mengangguk saat ia mengucapkan salam.
Kemajuan kecil yang membuat Bibik tersenyum bahagia.
Saat mobil mulai keluar gerbang.
Dimas yang berdiri di dekat mobil Arsen berbisik pelan kepada atasannya.
"Kalau dipikir-pikir..."
Arsen tidak menoleh.
"Hm?"
"Nyonya memang berbeda."
Arsen tetap diam.
Namun Dimas melanjutkan.
"Dulu saya kira rumah ini akan semakin dingin setelah ada pernikahan mendadak."
"Nyatanya malah sebaliknya."
Arsen menatap mobil yang membawa Gladis pergi.
Untuk sesaat.
Rumah itu memang terasa lebih sepi.
Aneh.
Padahal Gladis baru pergi beberapa menit.
"Kerja saja."
Jawab Arsen singkat.
Dimas langsung tertawa.
"Siap, Tuan."
Namun ketika mereka masuk ke mobil.
Dimas masih tersenyum sendiri.
Karena selama bertahun-tahun bekerja dengan Arsen.
Ia tahu satu hal.
Bosnya mungkin belum menyadarinya.
Tetapi perlahan-lahan...
Kehadiran Gladis sudah mulai menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Dan mungkin.
Suatu hari nanti.
Bukan hanya Rian yang membuka pintu hatinya.
Bukan hanya Raka dan Raina yang belajar menerima.
Melainkan juga Arsen sendiri.
Pria yang selama dua tahun terakhir hidup dalam kesedihan dan kesepian.
Sementara itu.
Di dalam mobil menuju rumah orang tuanya.
Gladis menatap jalanan sambil tersenyum kecil.
Hatinya hangat.
Karena untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi.
Ia merasa memiliki dua tempat yang bisa disebut rumah.
Rumah tempat ia dibesarkan.
Dan rumah tempat ia sedang belajar menjadi bagian dari sebuah keluarga baru.