Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Gosip
Pertanyaan itu sederhana, bahkan tidak terdengar kasar. Tapi, tetap saja menekan mental Mela.
Tapi, Mela berusaha tetap tenang. Ia menatap Darmi sebelum akhirnya menjawab, "Kami sudah bercerai, mbak."
Tidak ada penjelasan tambahan ataupun cerita panjang. Hanya satu kalimat yang cukup membuat Darmi terdiam.
Namun, detik berikutnya mata Darmi sedikit melebar, lalu cepat-cepat ia mengangguk, seolah seperti seseorang yang baru saja diberi informasi penting.
"Oh, begitu, ya."
Mela tersenyum tipis. "Saya masih harus beres-beres. Nanti saja kita ngobrol lagi." Tanpa menunggu jawaban, ia membawa peralatannya masuk ke dalam rumah.
Pintu tertutup pelan.
Di dalam, Mela berdiri sejenak di balik pintu dan menghela napas panjang.
Ia tahu, satu kalimat tadi tidak akan membuat Darmi berhenti. Tapi, justru akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.
Dia tidak berniat menjelaskan, berharap Darmi tahu batasan. Namun, sepertinya ia lupa di mana sekarang ia berada.
Keesokan paginya, suara riuh datang dari ujung jalan.
Tukang sayur keliling berhenti lebih lama dari biasanya. Beberapa ibu-ibu berkumpul, membawa keranjang dan mulai memilih sayuran. Obrolan mereka terdengar, bercampur dengan suara tawar-menawar.
Dan, topik gosip mereka adalah Mela.
"Serius, Mbak Dar? Si Mela itu pulang sendiri tanpa suami dan anaknya?" tanya Yati.
"Kamu tahu dari mana, mbak Dar?" sahut yang lain.
Darmi berdiri di tengah-tengah mereka, suaranya sedikit diturunkan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.
"Iya, aku sendiri yang tanya. Katanya mereka sudah bercerai."
"Bercerai?" seseorang berseru pelan, setengah kaget, tidak percaya.
"Ih, kasihan ya, padahal dulu hidupnya enak di kota."
"Kasihan apanya? Siapa tahu memang dia yang bermasalah," timpal yang lain.
"Iya, apalagi dia pulang sendirian, tanpa anak."
"Wah, berarti parah itu."
Tawa kecil terdengar. Ada yang menggeleng, ada yang berbisik, ada yang hanya diam tapi mendengarkan.
Di dalam rumah, Mela berdiri di dekat jendela. Ia tidak berniat menguping. Tapi, suara-suara itu terdengar cukup jelas.
Mela menatap keluar. Wajah-wajah yang dulu ia kenal, kini terasa asing, dan akan menjadi bagian dari hidupnya lagi.
Ia tidak marah apalagi tersinggung. Hanya saja, ia mulai mengerti.
Manusia selalu butuh cerita. Dan, ketika tidak tahu kebenarannya, mereka akan menciptakan versi sendiri.
Mela menarik napas pelan, lalu menjauh dari jendela. Ia kembali ke dapur, menuangkan air ke dalam teko, lalu menyalakan kompor kecilnya.
Di luar, gosip masih berlanjut tapi, Mela memilih tidak menjelaskan apa pun, karena tidak semua orang perlu tahu kebenarannya. Dan, tidak semua kebenaran perlu dibela. Tapi, apa ia bisa bertahan?
Dua hari berlalu, dan Mela masih menjadi topik hangat para tetangga.
Pagi itu, Mela berdiri lebih lama dari biasanya, di depan cermin kecil yang tergantung di dinding. Bukan untuk berdandan. Tapi, hanya memastikan dirinya siap.
Ia menarik napas pelan. Hidup di desa sangat berbeda dengan di kota.
Di kota, orang-orang hidup berdampingan tanpa benar-benar saling mengenal. Tidak ada yang peduli siapa pulang dengan siapa, siapa bertengkar dengan siapa.
Tapi di sini, berbeda. Setiap langkah bisa terlihat. Setiap perubahan bisa dibicarakan. Dan diam, tidak selalu menyelamatkan.
Mela mengambil dompet kecilnya, lalu melangkah keluar rumah. Hari ini, ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi.
Tukang sayur sudah berhenti di ujung jalan. Beberapa ibu-ibu berkumpul di sana. Mereka adalah Darmi, Yati, Surti, dan beberapa ibu lainnya.
Mereka berbincang, sambil menanyakan harga, menawar sayur yang hendak mereka beli. Dan, tentu saja masih membicarakan Mela.
Namun, begitu Mela mendekat, suara mereka menghilang. Obrolan yang tadi riuh, mendadak terputus.
Semua mata tertuju padanya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Mela berhenti sejenak. Lalu, tersenyum menyapa, "Selamat pagi ibu-ibu, mang Bejo," sapanya.
"Pagi, Mbak Mela," jawab Tejo cepat. Sementara, Ibu-ibu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Mau masak apa hari ini, mbak?" tanya Mang Tejo.
"Apa, ya?" Mela mulai memilih sayuran, bayam, cabai, dan beberapa tomat yang masih segar. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu.
Darmi dan ibu-ibu yang lain hanya diam, seolah keberadaannya mengubah suasana. Mela menoleh, lalu berkata ringan,
"Kenapa semua diam? Nggak jadi beli?"
Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar santai. Tapi, cukup untuk membuat suasana menjadi canggung.
"Oh—jadi, jadi." Yati langsung mengambil kangkung.
"Iya, ini lagi milih," sahut yang lain, sedikit terbata.
Suara kembali muncul, meski belum senyaman sebelumnya. Hingga, beberapa detik berlalu dan, Surti memberanikan diri untuk bertanya.
"Emmm... Mel!" panggilnya pelan. "Apa benar kamu sudah bercerai sama suamimu?"
Semua kembali diam. Menunggu sekaligus penasaran. Sedangkan, Mela berhenti memilih sayur. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis.
"Iya, mbak," jawabnya tenang. "Itu benar. Saya yang menceraikan Mas Rahman."
Hening!
Mereka saling pandang, seolah tidak percaya.
"Lho, kenapa, Mel?" Yati akhirnya bersuara. "Sudah enak hidup di kota sama suami kaya, kok malah cerai?"
Mela mengambil sayurannya, menyerahkannya ke Mang Tejo untuk di hitung total.
"Buat apa hidup bergelimang harta, mbak kalau kita tidak dianggap dan tidak dihargai," ucap Mela. Ia membayar, lalu menoleh pada mereka. "Kita sebagai wanita juga harus punya harga diri."
Tidak ada nada marah, apalagi pembelaan berlebihan. Hanya kalimat sederhana yang justru terasa berat.
"Kalau begitu, saya duluan, mbak!" Ia berbalik dan berjalan pulang.
Namun, begitu langkahnya menjauh, suara-suara itu kembali terdengar. Pelan, namun tajam.
"Pasti dia yang bermasalah," bisik Darmi.
"Tapi, tadi dia bilang, dia yang menceraikan suaminya," sahut Yati.
"Halah, alasan. Aku sih nggak percaya gitu aja."
Mela sudah sampai di depan rumahnya saat suara itu masih samar terdengar. Ia membuka pintu, masuk, lalu menutupnya perlahan.
Begitu punggungnya menyentuh daun pintu, napasnya terlepas, tidak beraturan. Ia memejamkan mata sejenak, mengetahui jika ternyata semua tidak semudah yang ia bayangkan.
Di kota, orang tidak peduli, tapi di desa, semua ingin tahu. Dan, semakin ia mencoba menjelaskan, semakin banyak yang ingin menilai.
Mela membuka matanya. Pandangannya jatuh pada halaman kecil di samping rumah, tanah yang mulai ia bersihkan.
Ia lalu menghembuskan napas pelan. "Mungkin, diam memang lebih baik," gumamnya lirih. Ia langsung menuju dapur untuk memasak, sebelum melanjutkan kegiatan barunya, menanam sayuran.
Siang hari terasa lebih panas dari biasanya.
Mela sedang berjongkok di halaman, menanam beberapa bibit sayur yang baru ia beli. Tangannya kotor oleh tanah, tapi gerakannya lebih cekatan dari sebelumnya.
Tapi tiba-tiba, ia di kejutkan dengan suara ribut yang terdengar dari arah rumah Darmi.
Suaranya keras dan tidak biasa.
Orang-orang mulai berlarian ke arah sana. Beberapa berhenti di depan rumah, tapi tidak berani masuk.
Mela mengangkat kepala, dengan kening yang mengernyit. Ia berdiri, lalu menghentikan salah satu tetangga yang berjalan dengan tergesa.
"Mbak Asih!" panggilnya. "Ada apa kok lari-lari?"
Asih menoleh, napasnya sedikit terengah. "Itu, Mel... Mbak Darmi lagi ribut sama suaminya."
Mela terdiam sejenak. Suara teriakan kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini lebih jelas dan terdengar kasar.
Dan entah kenapa, langkah Mela justru ikut bergerak mendekat ke rumah tersebut.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??