NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Darren Pergi

Darren menerima telepon dari Singapura ketika Naomi sedang berada di ruang duduk kecil Natalia, membandingkan dua lembar kain tule hijau muda.

Natalia ingin membuat kanopi ranjang bayi tanpa memakai satin emas pilihan Helena. Naomi sedang menunduk untuk melihat warna kain di bawah cahaya jendela ketika nama Darren menyala di layar ponselnya.

"Dar?"

"Kamu di mana?"

"Di kamar Natalia. Kenapa?"

Ada jeda singkat di seberang sana. Saat Darren bicara lagi, suaranya lebih rendah. "Aku harus ke Singapura malam ini."

Jari Naomi berhenti di atas kain.

Ia tahu Darren tidak mungkin selalu berada di sisinya. Wijaya Group tidak akan berhenti bergerak hanya karena mereka baru belajar bernapas bersama. Namun mengetahui itu berbeda dengan mendengar bahwa Darren akan meninggalkannya di Rumah Besar, tempat setiap lorong terasa menyimpan mata.

"Berapa lama?" tanyanya.

"Dua hari. Paling lambat tiga." Darren berhenti sejenak. "Aku sedang cari cara menundanya."

"Jangan."

"Nao."

"Kalau itu pekerjaan penting, pergi." Naomi melirik Natalia, yang dengan peka bangkit untuk mengambil air dan memberi mereka ruang. "Aku bukan anak kecil."

"Aku tahu kamu bukan anak kecil. Justru karena kamu pintar, kamu biasanya terlalu berani."

Naomi hampir tertawa. "Itu tuduhan?"

"Pengamatan suami."

Sore itu, koper Darren dibawa Billy ke mobil. Koper itu terlalu kecil untuk perjalanan bisnis seorang CEO, lebih mirip tas pria yang sudah berniat pulang sebelum pergi. Dua setelan jas, satu laptop, beberapa dokumen, dan sisanya adalah daftar pengaturan untuk Naomi.

"Dua pengawal di koridor," kata Darren sambil mengecek ponsel. "Satu di taman dalam kalau kamu keluar. Sopir standby. Makanan dan minuman hanya dari dapur utama yang sudah dicek Pak Jaya."

Naomi berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat. "Aku menikah denganmu, bukan masuk program perlindungan saksi."

"Beda tipis."

"Darren."

Ia langsung menurunkan ponsel dan berjalan ke depannya. "Baik. Kita negosiasi."

"Tidak ada pengawal yang menempel dalam jarak lima langkah."

"Sepuluh langkah terlalu jauh. Tujuh."

"Delapan."

"Setuju. Tapi kalau malam, kamu bangunkan aku lewat video call sebelum keluar kamar."

"Kamu di Singapura."

"Video call tetap bisa menatap galak."

Naomi akhirnya tertawa. Darren menunduk memandangnya, tatapannya lebih berat daripada leluconnya.

Ia mengambil ponsel Naomi, membuka pengaturan kontak darurat, lalu menunjukkan tiga nama yang sudah ia susun: Darren, Billy, dan pengawal utama bernama Arman.

"Tekan tombol samping lima kali kalau tidak bisa menelepon," katanya. "Lokasimu langsung terkirim ke kami."

Naomi menatap layar. "Kamu bahkan menyiapkan ini?"

"Sejak kita masuk Rumah Besar."

"Kamu benar-benar tidak percaya tempat ini."

Darren mengembalikan ponsel itu ke tangannya. "Aku percaya kamu. Tempat ini yang tidak."

Naomi ingin membalas, tetapi akhirnya hanya memasukkan ponsel itu ke saku cardigan. Untuk sekali ini, ia tidak menolak.

"Aku benci harus pergi," katanya.

"Aku tahu."

"Kalau ada apa pun, sekecil apa pun, telepon aku. Jangan pikir mengganggu."

"Aku tahu."

"Kalau Ethan muncul..."

"Aku tidak pergi sendirian dengannya, tidak menerima minuman, tidak percaya pesan aneh, dan kalau takut aku bilang." Naomi mengangkat alis. "Aku hafal."

Darren menariknya ke dalam pelukan. Gerakannya lebih erat dari biasa, tetapi tetap hati-hati. Naomi mendengar detak jantungnya di dada, cepat dan tidak setenang wajahnya.

"Aku akan pulang secepatnya," bisiknya.

"Aku akan tetap di sini saat kamu pulang."

Kalimat itu membuat Darren memejamkan mata.

Di dekat mobil, Billy menunduk melihat jam, berpura-pura tidak melihat apa pun. Jason menelepon dari Jakarta lewat speaker dan langsung berseru, "Dar, kalau lo batal terbang karena pelukan, kontrak Singapura bisa gue ambil alih tapi gue minta komisi!"

Darren menatap ponsel dengan dingin. "Tutup."

Naomi tertawa sambil mendorong lengannya. "Pergi."

Baru setelah lampu belakang mobil menghilang melewati gerbang Wijaya Estate, Naomi sadar jemarinya masih mencengkeram ujung cardigan.

Malam itu, Wijaya Estate terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Helena tidak muncul untuk menyindir. Felicia entah sibuk di mana. Naomi menemani Natalia makan malam, memastikan perempuan itu menelan vitamin dari dokter, lalu membantu memilih beberapa gambar referensi kamar bayi.

"Darren pasti sering video call nanti," kata Natalia sambil tersenyum.

"Mungkin sampai aku bosan."

"Itu bagus." Natalia mengusap perutnya. "Di rumah ini, orang yang mencemaskan kita sering lebih berguna daripada orang yang hanya sopan."

Naomi menatapnya, hampir bertanya apakah Ethan juga mencemaskannya seperti itu. Namun pertanyaan itu berhenti di lidahnya.

Pukul sepuluh malam, video call Darren datang tepat waktu.

Di layar, Darren duduk di meja kerja suite hotel, dasinya longgar, rambutnya sedikit berantakan. Lampu kota Singapura berkilau di belakangnya. Dari luar layar, suara Billy terdengar mengingatkan bahwa rapat daring akan dimulai sepuluh menit lagi.

"Kamu sudah makan?" tanya Darren.

"Sudah."

"Minum dari dapur utama?"

"Iya, Pak Pengawas."

"Pengawal berapa langkah?"

Naomi sengaja melirik pintu. "Sembilan."

Mata Darren langsung menyipit.

Ia tidak tahan dan tertawa. "Delapan. Aku bercanda."

Darren mengusap alis. "Jantungku tidak menerima candaan seperti itu."

Mereka berbicara dua puluh menit tentang hal-hal kecil: warna kanopi Natalia, Rainbow yang kabarnya dibuat gendut oleh Tiffany di penthouse, Jason yang mengganti nama grup menjadi lebih memalukan, dan Billy yang tidak menemukan bubur enak di Singapura. Justru hal-hal kecil itu membuat kamar asing di Rumah Besar terasa sedikit lebih mudah ditinggali.

"Aku harus rapat," kata Darren akhirnya, jelas enggan. "Tidur setelah ini?"

"Aku mau ambil air dulu."

Darren langsung duduk lebih tegak.

"Aku akan panggil pelayan," kata Naomi sebelum ia bicara. "Dan pengawal ada di luar."

"Video call tetap nyala."

"Kamu rapat."

"Mereka bisa menunggu."

Naomi tersenyum pasrah. "Lima menit. Aku kirim pesan setelah kembali."

Darren menatapnya beberapa detik sebelum menyerah. "Lima menit."

Setelah panggilan terputus, kamar mendadak sunyi.

Naomi mengambil gelas dan berjalan ke pintu. Namun begitu pintu terbuka, ia melihat seseorang berdiri di ujung koridor.

Ethan masih memakai kemeja putih. Di tangannya ada nampan kecil berisi segelas air hangat dan sepiring obat.

Ia tersenyum, suaranya halus tanpa cela.

"Adik ipar," katanya. "Darren memintaku memastikan kau tidak lupa minum vitamin."

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!