Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Yohan sendiri bingung, tentang apa yang ada di dalam hati Violet sekarang ini.
Dia yang sudah tidak mau lagi menunda-nunda keinginannya lantas berkata.
"Aku melakukan hal sejauh itu karena aku mencintaimu, sudah lebih dari 10 tahun aku mencintaimu Violet?" Yohan akhirnya memberikan pengakuan.
Violet lagi-lagi memasang wajah bingung.
"Violet, apakah kamu benar-benar gak ingat aku. Aku adalah Kak Ohan mu, yang waktu kecil sering bermain denganmu. Bahkan dulu kamu yang memberikan aku permen rasa susu, Apakah kamu lupa?" Imbuh Yohan.
"Apa?" Kata Violet terkejut. "Ini gak mungkin?"
"Kenapa gak mungkin?" tanya Yohan penasaran.
"Bukankah waktu itu kamu sudah sembuh dari rehabilitasi dan kedua orang tuamu ... " Ucapan Violet terhenti.
"Aku sudah sembuh Vio, itu berkat kamu. Dan aku akan menepati janjiku, aku akan mencintaimu selamanya bahkan menjadi pacarmu," kata Yohan dengan senyuman manis.
Wajah Violet memerah, melihat wajah tampan Yohan yang sebelumnya nampak dingin menakutkan tersenyum lebar.
Sementara Romeo yang sedari tadi menguping dari celah pintu, kedua tangannya nampak mengepalkan erat.
Yasa yang baru sampai dirumah sakit menghampirinya.
"Apakah keadaan Nona Violet itu parah Tuan? Sampai Anda membatalkan semua jadwal rapat Anda hari ini?" tanya Yasa hati-hati.
Melihat wajah Romeo yang menakutkan, Yasa sedikit merasa takut.
Sebelumnya Romeo adalah orang yang gila kerja, bahkan saat sekarat pun dia tetap kerja.
Yasa sedikit bingung, melihat Romeo yang sekarang tampak sehat bugar tapi malah membatalkan rapat penting.
Yasa malah merasa kepo ingin melihat keadaan Violet.
"Mau kemana?" tanya Romeo.
"Mau lihat Nona Violet, apakah terluka parah?" Jawaban yang keluar dari bibir Yasa membuat Romeo mengernyit bingung.
"Terluka parah? Memangnya Violet kenapa? Apakah terjadi sesuatu yang buruk padanya? Atau selama ini dia ditindas?" Romeo mencerca asisten pribadinya dengan setumpuk pertanyaan.
Mengingat beberapa hari ini dia memang mempercayakan Violet disekolah kepada Yasa.
Bahkan badan Romeo sekarang ini berjalan mendekat ke arah Yasa.
Yasa malah dibuat bingung.
Dia yang bertanya tentang keadaan Violet, bukanya mendapatkan jawaban Romeo malah memberikan pertanyaan yang begitu banyak padanya.
Yasa hanya bisa menelan ludahnya yang kelu.
"Apa ada sesuatu tentang Violet yang tidak aku ketahui?" Pertanyaan Romeo langsung membuat Yasa bergidik.
Melihat wajah Romeo yang semakin menakutkan, Yasa hanya bisa memundurkan ditubuhnya.
Tapi langkah Romeo terus maju.
Yasa terus mundur, Romeo terus maju akhirnya membuat tubuh Yasa menghantam pada sisi tembok.
Wajah Romeo memerah, urat-urat di lehernya menonjol seolah-olah siap meledak.
Langkahnya yang cepat dan berat semakin mendekati Yasa yang terpojok di sudut ruangan.
Dengan tubuh yang gemetar, Yasa mencoba mengucapkan penjelasan namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Tuan ... Tadi saya ... " suaranya terbata, terhimpit oleh rasa takut yang memuncak.
Romeo, yang pikirannya dipenuhi kekhawatiran dan kemarahan tentang keadaan Violet yang terluka parah, tidak memperhatikan ketakutan yang melanda Yasa.
Setiap kata dari Yasa hanya menambah bara api dalam diri Romeo.
Tanpa menyadari, dorongan kuat dari Romeo membuat Yasa terhempas, punggungnya membentur dinding dengan keras.
Napas Yasa tersengal, matanya memandang takut pada majikannya yang seolah-olah telah menjadi orang lain, orang yang tidak dia kenal.
Di ambang pintu, Violet dan Yohan berdiri dengan raut muka yang bingung dan cemas.
Mereka berdua salah paham, mengira bahwa ketegangan yang terjadi adalah karena masalah yang lebih besar, tidak menyadari bahwa ini hanyalah akibat dari pertanyaan sederhana Yasa yang berakhir pada reaksi berlebihan dari Romeo.
Bahkan dia tidak menyadari, jika baik Violet dan Yohan sekarang ini berdiri diambang pintu dan mematung menatap aksi yang dilakukan oleh Romeo dan asisten pribadinya.
Sebelumnya Violet memang sedikit menyukai Romeo, tapi setelah melihat apa yang terjadi.