NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016

Surat Pengunduran Diri

Dia cuma teman biasa.

Kalimat itu turun bersama lift sampai ke lobby.

Saat pintu terbuka, Louisa hampir lupa bahwa ia masih berada di gedung Tanuwijaya Group. Lobby malam hari jauh lebih sepi daripada pagi. Kafe di sudut sudah tutup. Petugas keamanan duduk di dekat pintu putar, menunduk ke layar ponsel. Logo emas Tanuwijaya Group di dinding belakang tetap menyala, besar, angkuh, seperti tidak peduli berapa banyak orang yang lelah di bawahnya.

Louisa melangkah keluar.

Di luar pintu kaca, sedan hitam Nathanael berhenti di area drop-off.

Nathanael berdiri di samping mobil.

Ia masih memakai kemeja kerja, lengan digulung sampai siku. Sepertinya ia datang langsung dari kantor. Ketika melihat Louisa, ia tidak langsung bertanya. Ia hanya membuka pintu belakang, lalu berdiri menunggu.

Kebaikan yang tidak menuntut penjelasan kadang lebih berbahaya daripada pertanyaan.

Louisa berjalan mendekat.

"Kamu tahu aku lembur dari mana?" tanyanya.

"Stella bilang kamu belum balas pesannya. Aku cek dengan resepsionis gedung, namamu masih tercatat belum keluar."

"Kamu cek resepsionis?"

"Aku khawatir."

Jawaban itu pendek.

Tidak ada alasan berputar. Tidak ada nada membela diri.

Louisa memandang wajahnya di bawah lampu drop-off. Untuk sesaat, ia ingin berkata jangan terlalu baik. Jangan membuatku bingung. Jangan berdiri di tempat yang selama ini kuharapkan ditempati orang lain.

Yang keluar hanya, "Aku capek."

"Pulang?"

Louisa mengangguk.

Di dalam mobil, Jakarta malam bergerak seperti garis lampu panjang. Louisa duduk dengan tangan kosong di pangkuan. Hard copy sudah diberikan kepada Kevin. Map tidak ada lagi. Namun kalimat itu masih menempel di kulitnya.

Nathanael tidak meminta detail.

Setelah beberapa menit, ia hanya berkata, "Ada yang terjadi."

Bukan pertanyaan.

Louisa menoleh ke jendela. "Aku mendengar Kevin bicara."

Nathanael diam.

"Dia bilang aku cuma teman biasa."

Kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutnya sendiri. Aneh, saat ia mengucapkannya, sakitnya tidak bertambah. Justru menjadi lebih jelas bentuknya, seperti pecahan kaca yang akhirnya terlihat di lantai.

Tangan Nathanael yang berada di atas lutut mengepal pelan.

"Louisa."

"Aku nggak apa-apa."

"Tidak apa-apa bukan berarti tidak sakit."

Louisa menutup mata.

Kalimat itu terlalu tepat.

Ia tidak menangis di depan Kevin. Tidak menangis di lift. Tidak menangis ketika melihat pesan Nathanael. Tetapi di dalam mobil yang gelap, dengan seseorang yang tidak memintanya tetap kuat, tenggorokannya mulai panas.

"Aku sudah tahu dari lama," bisiknya. "Mungkin bukan kalimatnya, tapi artinya. Aku cuma... baru dengar langsung."

Nathanael tidak menyentuhnya.

Ia hanya mengambil kotak tisu dari konsol tengah dan meletakkannya di antara mereka.

"Aku mau resign," ucap Louisa.

Kali ini Nathanael menoleh.

"Dari Tanuwijaya Group?"

"Iya."

"Kapan?"

"Secepatnya."

"Kamu ingin aku bantu?"

Louisa membuka mata. "Bantu apa?"

"Baca kontrak kerja. Cek hakmu. Pastikan mereka tidak menahan gaji, bonus, atau dokumen."

Tidak ada kalimat akhirnya kamu keluar juga. Tidak ada kamu harus berhenti dari dulu. Tidak ada aku larang kamu balik ke sana.

Hanya hal-hal praktis yang bisa membuat keputusan itu berdiri di atas kaki sendiri.

Louisa mengangguk pelan. "Aku akan kirim kontrakku."

"Baik."

Mobil terus berjalan menuju SCBD.

Untuk pertama kalinya, gedung-gedung tinggi di sekitar Sudirman tidak terasa seperti dinding. Mereka hanya lampu. Banyak lampu. Dan di antara semuanya, Louisa merasa dirinya sangat kecil, tetapi tidak sepenuhnya hilang.

***

Di kamar SCBD, Louisa membuka laptop pukul 22.11.

Humidifier menyala pelan. Mawar putih melati di vas mulai sedikit menunduk, tetapi masih segar. Di meja, kotak teh melati tanpa gula berada di samping mug jeruk dari apartemen Kuningan. Dua benda dari dua dunia berbeda berdiri bersebelahan, tidak saling menolak.

Louisa membuka folder dokumen.

Kontrak kerja Tanuwijaya Group.

Slip gaji.

Surat penawaran kerja lama.

Ia mengirim semuanya ke email Nathanael, lalu membuka dokumen baru.

Kursor berkedip di halaman kosong.

Kepada Yth.

HR Department Tanuwijaya Group

dan Bapak Kevin Tanuwijaya

Louisa berhenti.

Nama Kevin di surat formal terasa berbeda dari nama Kevin yang ia simpan di hati selama sepuluh tahun. Di sini ia hanya atasan. Hanya pihak yang perlu diberi pemberitahuan.

Ponselnya bergetar.

Steven: Stella bilang kamu pulang malam. Kamu oke?

Louisa menatap layar. Rupanya jaringan perhatian baru di hidupnya bekerja lebih cepat daripada sistem kantor.

Louisa: Aku mau resign.

Steven menelepon dalam lima detik.

Louisa mengangkat.

"Akhirnya," kata Steven.

Louisa terdiam, lalu tertawa pendek. "Kamu bahkan tidak pura-pura kaget."

"Aku sudah menunggu kamu bilang itu dari lama. Tapi aku nggak mau memaksa."

"Semua orang menunggu aku sadar, ya?"

Steven menghela napas. "Tidak semua. Ada yang sibuk memanfaatkan kamu."

Kalimat itu tajam, tetapi tidak salah.

Louisa menatap kursor yang masih berkedip.

"Steve, kalau aku keluar sekarang, aku kelihatan kalah?"

"Kalah dari siapa?"

"Jessica. Kevin. Kantor itu."

"Lulu, keluar dari tempat yang tidak menghargai kamu bukan kalah. Itu berhenti membiarkan mereka memotong kamu sedikit-sedikit."

Louisa memejamkan mata.

Di seberang, suara Steven melembut. "Pastikan hakmu aman. Aku bisa baca suratnya kalau kamu mau."

"Nathanael juga mau baca kontrak."

Steven diam sebentar, lalu berkata, "Bagus. Setidaknya suamimu berguna."

"Steve."

"Apa? Aku masih menilai dia."

Louisa hampir tersenyum.

Setelah telepon selesai, ia kembali ke laptop. Kali ini jari-jarinya tidak terlalu dingin.

Dengan hormat,

Melalui surat ini, saya, Louisa Hartono, mengajukan pengunduran diri dari posisi saya di Tanuwijaya Group.

Ia berhenti setelah kalimat itu.

Tidak ada alasan panjang.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada kalimat yang berusaha membuat Kevin mengerti.

Ia menulis tanggal efektif, tawaran untuk menyelesaikan handover sesuai ketentuan, dan permintaan agar hak-hak karyawan diproses sesuai kontrak kerja. Bahasanya rapi. Datar. Jauh lebih tenang dari dadanya.

Pukul 23.04, email dari Nathanael masuk.

Nathanael: Kontrakmu aman. Notice period 30 hari, tapi bisa dinegosiasikan dengan sisa cuti dan handover. Jangan tanda tangan dokumen tambahan tanpa baca dulu. Kalau perlu, aku temani.

Louisa membaca pesan itu.

Lalu ia membuka printer kecil yang tadi sore disiapkan Bu Sari di ruang kerja bersama. Kertas pertama keluar perlahan, membawa kata-kata yang tidak pernah berani ia tulis selama bertahun-tahun.

Surat Pengunduran Diri.

Louisa memegangnya dengan dua tangan.

Di bagian bawah, tempat tanda tangan masih kosong.

Ia mengambil bolpoin hitam, menarik napas, lalu menulis namanya.

Louisa Hartono.

Tinta itu mengering lebih cepat daripada yang ia bayangkan.

Louisa menatap tanda tangannya sampai huruf-hurufnya berhenti terasa asing. Besok, kertas itu akan berpindah ke meja HR. Besok, Kevin akan melihatnya. Besok, untuk pertama kalinya, ia tidak datang ke kantor untuk menyelamatkan hari siapa pun.

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!