Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan orang asing : 06
Dalam rangkulan orang asing, perasaan Helya bertambah kacau. Makanan belum sempat dicerna usus naik sampai tenggorokan.
Helya membungkuk di atas tong sampah semen. Muntah hebat sampai lututnya terasa lemas.
Sirine ambulans benar-benar melewati warung, dan sialnya Helya memalingkan muka melihat nyala lampu berkedip, kesadarannya terjun bebas nyaris membuatnya tersungkur.
Pria berjaket jeans menangkap badannya sebelum wajahnya masuk ke tong sampah bagian dinding berwarna kehitaman.
Dengan dibantu sang teman, mereka membopong wanita pendek tetapi bobot tubuh bukan main beratnya sampai urat-urat pelipis menonjol di bawah kulit.
Piring kotor sudah diangkat, Helya dibaringkan di tikar, cardigannya dilepaskan.
“Apa dia pingsan?” tanya pria pertama, bunyi napasnya seperti orang habis lari maraton.
“Sepertinya nggak, tapi badannya lemas sekali. Ambilkan tisu!” titah suara diantara tenor dan bass — bariton.
Kotak tisu pun disodorkan. Pria bercelana jeans mengambil beberapa lembar, lalu mengelap keringat membasahi wajah dan membuat lepek rambut di batas garis muka.
Ia juga menekan bagian sudut bibir yang basah dan berbau masam, kemudian membuang tisu ke sebelah tikar.
Deru napas Helya pendek-pendek, air matanya menetes. Sisa-sisa panik attack masih terasa — bayangan tiga mobil ambulans membawa jenazah para orang tersayang berputar-putar di kepalanya.
Tangisan berganti raungan, terlebih dia tidak diperbolehkan melihat wajah terakhir ayah, ibu dan adiknya yang kala itu terjangkit virus mematikan, terus menghantui hingga detik ini.
Terdengar suara isakan lirih. Pria yang tadi memapah Helya memperhatikan kedua tangan mengepal tinju.
“Apa gak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?” usul istri pemilik warung, dia panik sambil memegang segelas teh.
“Tunggu sebentar sampai dia bisa diajak komunikasi,” sahutnya masih berlutut di samping Helya.
Kelopak mata basah terasa berat memaksa terbuka. Helya tidak sanggup bangkit, selain lemas dikarenakan faktor bobot badan yang sering membuatnya sesak napas, ruang gerak juga terbatas.
“Izinkan saya membantu,” sebelum bertindak, dia permisi dulu. Terlebih melihat cincin polos di jari manis wanita beberapa kali gagal bangun.
Ditelannya rasa malu, Helya mengangguk menghindari bersitatap. Sikunya terasa pedih terlalu kuat menekan permukaan tikar plastik.
Sang pria pun menahan punggung si wanita seraya mengangkat sampai berhasil duduk sempurna.
“Terima kasih,” ucapnya pelan, lemah.
“Bu, apa gak sebaiknya ke rumah sakit?” tanya istri pemilik warung.
Helya menggeleng hampir tak kentara gerakannya. “Saya mulai baikan, bentar lagi juga hilang perasaan cemas dan lemas.”
”Yakin?” tanyanya lagi ingin memastikan, merasa kasihan.
“Iya, Bu. Saya pernah beberapa kali mengalami seperti ini. Terima kasih mau menolong, dan maaf udah buat khawatir.” Helya memandang sungkan.
“Gapapa. Kita gak bisa menyalahkan, namanya juga lagi ketakutan. Syukurlah kalau Ibu merasa baikan. Ini minum dulu teh hangatnya.”
Tangan Helya masih gemetaran, dengan dibantu si ibu, pelan-pelan dia meneguk teh menghangatkan kerongkongan turun ke perut.
“Terima kasih, Bu.” Helyara meraih tas tergeletak di lantai, lagi-lagi enggan menatap dua orang pria yang tadi membopong nya.
“Bu, ini saya bayar uang makan tadi sama ganti rugi udah buat suasana gak nyaman.” Lembaran uang biru sebanyak 7 lembar disodorkan.
“Gak, gak usah. Kerugian apa? barang-barang kami tidak ada yang rusak kok.” Si ibu menggeleng kuat, enggan menerima cuma mengambil satu lembar saja. Kemudian dia kembali ke tenda dikarenakan suaminya kerepotan.
Kembali Helya mengucapkan terima kasih. Dia masukkan lagi uang ke dalam tas.
Kedua pria tadi masih di sana, tetapi duduk sedikit jauh. Mereka bisa menebak gesture tidak nyaman dan menarik diri secara terang-terangan wanita mulai memakai cardigan.
“Anda mau pulang? Nyetir seorang diri?”
Helya mengangkat wajah dan langsung bertemu pandang dengan pria yang tadi memapahnya. “Iya. Rumah saya gak jauh dari sini.”
“Sebaiknya biar teman saya yang menyetir mobilmu, saya ikuti dari belakang menggunakan motor,” usulnya mengunci tatapan mereka.
“Gak perlu.” Helya otomatis menggeleng cepat, kepalanya masih terasa berat.
Pria tidak memakai topi mencoba menjelaskan. “Nama saya Yudis, ini rekan saya namanya Sakta. Kami pelanggan tetap warung pecel lele pak Amat. Niat kami murni ingin menolong, atau ibu perlu bantuan menghubungi keluarga?”
Helyara berusaha bangkit, tetapi langsung terduduk lagi. Kakinya masih lemas bahkan bergoyang pelan. Jelas dia belum bisa menyetir dalam keadaan kacau, yang ada mengundang bahaya atau lebih parahnya bisa mencelakai orang lain.
'Gak mungkin aku nelpon mas Alan, bakalan panjang nanti urusannya karena masih ada Mama di rumah,’ terpaksa dia menerima tawaran tersebut setelah diyakinkan pemilik warung.
Diberikannya kunci mobil, dan Helya kembali menekan rasa malu kala dibantu berdiri lalu dipapah sampai masuk ke dalam mobil.
Pria yang katanya bernama Sakta, berjalan ke motor skutik bongsor yang terparkir di depan mobil Helyara.
Ketika sudah duduk di kursi sebelah pengemudi, Helya menunjukkan jalan pulang.
Yudis mengangguk paham, dia melajukan mobil dengan kecepatan aman.
Perjalanan tidak memakan waktu lama itu benar-benar sunyi. Tak terdengar obrolan.
Helyara masih sedikit shock, dan dia tidak pintar memulai pembicaraan.
Lima belas menit kemudian, mobil Helyara berhenti di dekat pos keamanan komplek perumahan.
“Pak, eh Mas … harus bagaimana cara saya berterima kasih?” katanya terbata-bata.
“Gak perlu, Bu. Kami beneran ikhlas menolong. Saya permisi. Jika merasa belum juga baikan, sebaiknya pergi periksa ke klinik kesehatan terdekat.” Yudis langsung membuka pintu, membiarkan mesin mobil tetap menyala.
Sang penolong tidak ingin berlama-lama, dapat menebak karakter wanita yang terlihat jelas tidak nyaman berinteraksi dengan orang asing.
Sakta memperhatikan dari jarak satu meter di belakang mobil Helyara, dia tidak turun, tetap duduk di atas jok motor.
“Ayo balik!” Seru Yudis seraya menepuk pundak temannya.
“Gimana dia, beneran bisa nyetir sendiri?” tanyanya butuh kejelasan.
“Kelihatannya udah. Kita tunggu sebentar sampai mobilnya jalan.”
Pria memakai helm full face mengangguk, bertahan di sana sampai melihat wanita keluar dari pintu sebelah kemudi, melangkah pelan-pelan dan masuk lagi.
Mobil pun melaju lambat memasuki komplek, lajunya stabil tidak zig-zag.
Barulah kedua pria yang menolong Helyara, pergi dari sana.
.
.
“Kamu hebat Helya. Bisa mengendarai mobil setelah diserang panik dan gak pingsan.” Sepasang tangan gempalnya bertepuk, memuji diri sendiri.
Kemudian Helya turun, mobilnya tidak dimasukkan ke garasi. Langkah kakinya gontai, begitu naik ke teras dia berhenti sebentar bersandar di pilar.
Saat dirasa cukup kuat, kembali berjalan masuk ke dalam rumah.
“Mau jadi apa kamu? Malam-malam keluyuran. Atau jangan-jangan mau menggatal, mencoba dengan pria lain siapa tahu bisa hamil, iya?” Ganira langsung mencecar sang menantu yang baru saja memasuki ruang santai.
“Percuma, Helya! Yang mandul itu kamu bukan putraku! Mau tidur sampai obral diri pun gak bakalan bisa hamil. Rahimmu kering mirip tanah sawah tidak disirami — retak-retak. Ya ampun, dosa apa aku dulu punya menantu paket komplit minusnya ...?”
.
.
Bersambung.
sukuriiinnn..ketahuan yaaahhh..kalo habis maen kuda²an sama SiAlan....
pas ini untuk menyerang memojokkan
tapi gas tipis2 Heelll
blm waktunya membantai habis
aku suka..aku suka...
injek sekuat tenaga, Hel...
klo bisa, aku bantuin nginjeknya dah 🤭