NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Dufan

Aturan baru diuji tiga hari kemudian.

Tempatnya bukan rumah.

Bukan mobil.

Bukan ruang aman yang sunyi.

Melainkan Dufan, hari Sabtu, dengan antrean panjang, anak-anak berteriak, pasangan berfoto, dan aroma popcorn bercampur panas Jakarta yang menempel di kulit.

Yu berdiri di depan gerbang Dunia Fantasi sambil memegang tiket digital, lalu menatap Zhen seolah pria itu baru saja mengajaknya bertarung.

"Ini tempat aman menurutmu?"

Zhen memakai kaus putih, overshirt biru gelap, dan topi hitam. Wajahnya tetap tenang walau di belakangnya ada maskot besar menari dengan musik terlalu keras.

"Aman karena ramai."

"Kamu bilang tidak di tempat ramai."

"Untuk sentuhan rutin. Ini latihan batas."

"Latihan batas kok di taman hiburan?"

"Kamu terlalu sering mengasosiasikan ramai dengan bahaya. Kita coba ubah sedikit."

Yu menatap bianglala di kejauhan. "Kamu terdengar seperti psikolog dengan tiket promo."

"Tiketnya tidak promo."

"Itu bukan poinnya."

Zhen mengangkat dua botol air dari tas kecilnya. "Kalau tidak nyaman, kita pulang."

Kalimat itu membuat Yu berhenti mengeluh.

Zhen tidak berkata, kamu sudah sampai jadi harus masuk. Tidak berkata, jangan lebay. Tidak berkata, semua orang juga bisa. Ia memberi pintu keluar sebelum Yu memintanya.

Dan justru karena ada pintu keluar, Yu bisa melangkah masuk.

"Oke," katanya. "Tapi kalau aku mati di wahana, Burger kamu rawat baik-baik."

"Burger memang anjingku."

"Maksudku, rawat atas namaku."

"Kamu belum punya hak waris atas Burger."

Yu memukul lengannya dengan peta Dufan.

Sentuhan itu spontan. Ringan. Tidak untuk haus sentuhan. Tidak untuk terapi. Hanya reaksi.

Mereka sama-sama menyadarinya.

Yu menarik peta cepat-cepat, wajah panas.

Zhen melihat lengannya, lalu Yu. "Itu melanggar aturan?"

"Itu peta."

"Peta menyentuhku."

"Peta tidak punya niat."

"Tanganmu yang memegang."

Yu menatapnya. "Kamu mau menulis laporan?"

"Belum perlu."

Aneh sekali. Setelah rahasia terbuka, dunia tidak langsung mudah. Yu masih malu meminta. Masih panik kalau jari mereka bersentuhan tiba-tiba. Tetapi ada ruang baru di antara mereka, ruang untuk mengakui kejadian tanpa pura-pura tidak terjadi.

Mereka mulai dari wahana ringan.

Istana Boneka membuat Zhen terlihat seperti orang yang salah masuk rapat. Sepanjang perahu bergerak melewati boneka-boneka bernyanyi, wajahnya tetap datar, tetapi Yu melihat ia memiringkan kepala sedikit saat satu boneka buaya membuka mulut terlalu lambat.

"Kamu menilai animatronik?" bisik Yu.

"Sinkronisasinya buruk."

"Ini wahana anak-anak."

"Anak-anak juga berhak mendapat sinkronisasi baik."

Yu tertawa sampai perahu di belakang mereka menoleh.

Setelah itu, mereka membeli es krim. Zhen memilih vanilla polos. Yu memilih cokelat dengan topping warna-warni. Saat es krim Yu hampir menetes ke tangan, Zhen menyodorkan tisu sebelum tetesnya jatuh.

"Kamu selalu siap tisu," kata Yu.

"Hidup penuh risiko lengket."

"Kamu membuatnya terdengar seperti bencana nasional."

"Untuk sebagian orang, iya."

Mereka berjalan di bawah matahari, kadang berhenti karena Yu ingin mengambil foto, kadang karena Zhen melihat kerumunan terlalu padat dan otomatis mencari jalur yang lebih longgar. Ia tidak menyentuh Yu kecuali perlu. Namun setiap kali orang hampir menabrak, tangannya naik sedikit, memberi tanda ada batas di dekat Yu.

Tubuh Yu memperhatikan semua itu.

Bukan hanya sentuhan.

Perhatian sebelum sentuhan.

Di dekat bianglala, seorang bapak dengan stroller berhenti di depan mereka. Istrinya sedang menggendong balita, sementara anak perempuan kecil di sampingnya memegang balon berbentuk lumba-lumba.

"Mbak, boleh tolong fotoin sebentar?" tanya bapak itu sopan sambil mengangkat ponsel.

Yu sempat melirik Zhen.

Zhen tidak mengambil alih. Ia hanya mundur setengah langkah, memberi ruang.

"Boleh, Pak."

Yu menerima ponsel itu. Keluarga kecil itu berbaris kikuk di depan pagar bianglala. Anak perempuan mereka langsung protes karena balonnya terpotong dari layar.

"Kak, balonnya kelihatan, kan?"

"Kelihatan," jawab Yu. "Kalau balonnya lebih maju dari ayahmu, nanti yang jadi tokoh utama malah lumba-lumba."

Anak itu tertawa. Bapaknya ikut tertawa, lalu merapatkan posisi. Yu mengambil tiga foto, memastikan semua wajah masuk, lalu mengembalikan ponsel.

"Makasih banyak, Mbak."

"Sama-sama."

Saat keluarga itu berbalik, anak kecil tadi tiba-tiba berlari mundur mengejar balonnya yang tertarik angin. Bahunya hampir menabrak pinggang Yu. Yu mundur cepat, tetapi dari belakang ada pengunjung lain lewat terlalu dekat. Siku orang itu menyenggol tasnya.

Tubuh Yu langsung kaku.

Bukan sakit. Bukan bahaya besar. Namun keramaian, suara musik, dan sentuhan tak terduga menyatu seperti percikan kecil di kulitnya.

Zhen sudah berdiri di sampingnya.

Tangannya terangkat sedikit, berhenti di udara.

"Butuh?"

Pertanyaan itu pendek, pelan, dan tidak membuat orang lain menoleh.

Yu menelan rasa malu yang naik sampai tenggorokan. Dulu ia pasti akan berpura-pura baik-baik saja, lalu mencari celah untuk menyentuhnya diam-diam. Sekarang Zhen menunggu jawabannya.

"Sebentar," katanya akhirnya. "Siku saja."

Zhen mengulurkan lengannya, tidak menggenggam. Yu menyentuhkan ujung jarinya ke lengan overshirt itu. Tiga detik. Empat. Napasnya turun perlahan.

"Cukup?"

Yu menarik tangan. "Cukup."

Bapak tadi, yang sempat menoleh karena anaknya hampir menabrak, mengangguk canggung. "Maaf ya, Mbak."

"Tidak apa-apa, Pak."

Yu menjawab itu tanpa memaksa senyum lebar. Tetapi kali ini suaranya tidak pecah.

Menjelang sore, Yu menunjuk roller coaster.

"Aku mau coba."

Zhen menatap lintasan yang menjulang. "Yakin?"

"Tidak."

"Jawaban jujur. Kemajuan."

"Tapi aku mau."

Mereka antre hampir empat puluh menit. Semakin dekat ke gerbang wahana, suara jeritan makin jelas. Yu mencoba terlihat santai. Gagal. Ia menggenggam strap tas kecilnya sampai kukunya menekan telapak.

Zhen melihat.

"Mau batal?"

"Tidak."

"Yu."

"Kalau batal sekarang, aku akan kepikiran seminggu."

"Kalau naik dan takut?"

"Aku juga akan kepikiran seminggu. Setidaknya ada pengalaman."

Zhen menatapnya, lalu mengangguk. "Oke."

Mereka duduk bersebelahan. Petugas memasang pengaman. Yu menelan ludah ketika besi penahan turun di depan dada. Tiba-tiba semua teori keberanian menguap.

"Zhen," panggilnya kecil.

"Hmm."

"Kalau aku teriak, jangan komentar."

"Tergantung teriakannya."

"Zhen."

"Aku tidak komentar."

Kereta mulai bergerak.

Pelan.

Terlalu pelan.

Justru pelan itulah yang membuat Yu makin takut. Roda berderak naik tanjakan pertama. Angin menerpa wajahnya. Di bawah, taman terlihat makin kecil. Jantung Yu memukul dada seperti ingin keluar duluan sebelum kereta turun.

Tangannya mencari pegangan di samping kursi.

Tidak cukup.

Kulitnya mulai berisik, bukan karena orang asing, tetapi karena tubuhnya salah membaca takut sebagai bahaya besar. Napasnya pendek.

Zhen menoleh.

"Yu."

"Aku tahu, aku tahu, aku yang mau naik."

Kereta hampir mencapai puncak.

Yu memejamkan mata.

Lalu tangan Zhen menutup tangannya.

Hangat.

Tegas.

Tidak mendadak merebut, hanya menggenggam seolah berkata, di sini.

Yu membuka mata.

Zhen menatap depan, rahangnya tenang, tetapi tangannya menggenggam tangan Yu dengan jelas. Bukan ujung jari. Bukan punggung tangan sepuluh detik. Genggaman penuh.

"Ini bukan karena haus sentuhan-mu," katanya, suaranya hampir tenggelam oleh suara roda di puncak lintasan.

Yu menahan napas.

Kereta berhenti sepersekian detik di atas.

Zhen menoleh sedikit.

"Ini karena aku mau."

Kereta meluncur turun.

Yu menjerit.

Angin menghantam wajahnya. Dunia terbalik, turun, naik, berputar dalam garis-garis warna. Tapi di tengah semua jeritan dan suara mesin, tangan Zhen tetap menggenggam tangannya.

Dan anehnya, bagian paling menakutkan dari roller coaster bukan turunannya.

Melainkan kalimat tadi yang terus berulang di dada Yu.

Karena aku mau.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!