Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17: Rina Si Sepupu Galak
*Round berikutnya, Mama? Silakan.*
Felicia menyesali tantangan batin itu keesokan paginya ketika Adi melaporkan bahwa Madam Liem benar-benar menyiapkan ronde berikutnya.
"Mbah Suryo dijadwalkan datang ke Surya Mansion sore ini," kata Adi di ruang makan The Residence. "Alasannya pemeriksaan feng shui keluarga setelah beberapa insiden."
Felicia mengangkat alis. "Feng shui?"
Kevin menatap Adi. "Alasan asli."
"Madam Liem ingin beliau melihat apakah ada pengaruh buruk di sekitar Pak Kevin dan Bu Felicia."
Felicia meletakkan sendok. "Pengaruh buruk?"
*Maksudnya aku? Wah, dari menantu jadi hantu dalam satu minggu. Karierku naik cepat.*
Kevin berkata datar, "Tidak perlu datang."
"Pak Hendrik juga diundang," tambah Adi.
Kevin diam.
Felicia menyesap teh. "Kalau kita tidak datang, Madam Liem akan bilang kita takut."
"Kamu tidak perlu membuktikan apa pun."
"Saya tahu. Tapi kadang orang seperti Madam Liem tidak berhenti hanya karena kita diam."
Sebelum Kevin menjawab, suara klakson pendek terdengar dari gerbang. Bukan klakson sopan tamu elite. Ini klakson yang seperti berkata buka pintu sebelum aku dobrak.
Pak Budi masuk dengan ekspresi bingung. "Bu Felicia, ada tamu. Katanya sepupu Ibu dari Surabaya."
Felicia belum sempat bereaksi ketika suara perempuan terdengar dari foyer.
"Cia! Kalau kamu masih hidup, keluar! Kalau diculik keluarga Surya, kedip dua kali!"
Felicia berdiri.
Kevin juga berdiri, refleks protektif.
Seorang perempuan muda berambut sebahu masuk dengan langkah cepat, memakai blazer merah bata, jeans gelap, dan ekspresi siap berkelahi dengan seluruh dunia. Matanya tajam, bibirnya tidak sabaran, dan begitu melihat Felicia, wajahnya langsung berubah.
"Astaga." Perempuan itu menarik Felicia ke pelukan kuat. "Kamu benar-benar berubah."
Tubuh Felicia membeku sebentar, lalu ingatan sisa pemilik tubuh mengalir. Aroma parfum citrus. Suara tawa keras. Tangan yang dulu pernah menyeret Felicia keluar dari kamar saat Linda menguncinya setelah pertengkaran kecil.
Rina Hartono.
Sepupu dari pihak ibu.
Satu-satunya orang yang pernah marah untuk Felicia lama.
Felicia membalas pelukan itu pelan. "Rina."
Rina melepasnya, memegang kedua bahu Felicia, lalu menatap wajahnya. "Nah. Ini baru wajah asli kamu. Aku dari dulu bilang, makeup badut itu harus dibuang ke laut."
*Aku suka dia.*
Kevin mendengar, dan menilai Rina dalam diam.
Rina menoleh padanya. "Kamu Kevin?"
Pak Budi terlihat hampir pingsan mendengar nada itu.
Kevin menjawab, "Ya."
"Aku Rina Hartono. Kalau kamu bikin Cia nangis, aku tidak peduli kamu punya gedung berapa, aku tetap akan datang."
Felicia menutup mata.
*Ya Tuhan, dia langsung lempar bom di foyer.*
Kevin menatap Rina tanpa marah. "Diterima."
Rina berkedip. "Hah?"
"Peringatanmu diterima."
Felicia hampir tertawa.
Rina memandang Kevin dari ujung rambut sampai sepatu, lalu kembali ke Felicia. "Oke. Dia aneh, tapi tidak langsung menyebalkan."
"Terima kasih?" kata Felicia.
Mereka pindah ke ruang keluarga. Pak Budi menyajikan teh dan kue kecil. Rina makan dua potong tanpa basa-basi, lalu menatap Felicia lebih serius.
"Aku lihat video Brandon semalam."
Felicia tersedak teh.
"Video itu sampai Surabaya?"
"Cia, video itu sampai grup alumni sekolahku. Ada yang bikin remix."
Kevin menutup mata sebentar.
"Jangan khawatir," kata Rina. "Aku tidak datang karena itu. Aku datang karena Mama Wina dapat kabar kamu mulai melawan keluarga Surya dan Santoso. Dia takut kamu sendirian."
Mama Wina adalah adik mendiang ibu Felicia, ibu Rina. Nama itu membuat dada Felicia hangat sekaligus sedih.
"Aku tidak sendirian," kata Felicia.
Rina melirik Kevin, lalu cincin di tangan Felicia. "Hmm. Semoga."
***"Host, Rina Hartono: loyalitas tinggi, temperamen tinggi, kemampuan bertengkar level profesional."***
*Si Kepo, aku tahu tanpa scan.*
Rina mencondongkan tubuh. "Cia, ada hal yang harus kamu tahu. Ini soal keluarga Hartono."
Suasana berubah.
Kevin duduk lebih tegak.
Felicia menatap Rina. "Apa?"
"Kamu ingat perusahaan kakek kita di Surabaya? Yang katanya bangkrut karena salah investasi dan utang bank?"
Ingatan sisa Felicia memberi gambaran kabur. Pak Hartono, kakek dari pihak ibu, dulu punya bisnis logistik dan distribusi di Jawa Timur. Setelah beliau meninggal, perusahaan runtuh, aset dijual, dan keluarga Hartono kehilangan pengaruh.
"Sedikit."
Rina mengeluarkan amplop cokelat dari tas. "Aku dan Papa menemukan dokumen lama. Ternyata beberapa kontrak yang membuat perusahaan jatuh itu dipalsukan. Ada pengalihan barang, invoice fiktif, dan tanda tangan direksi yang bukan tanda tangan asli."
Felicia mengambil dokumen itu. Matanya bergerak cepat membaca nama perusahaan perantara.
PT Bintang Samudra.
Kevin melihat nama itu dan wajahnya berubah sedikit.
Felicia menangkapnya. "Mas Kevin tahu?"
Kevin tidak langsung menjawab. "Perusahaan cangkang lama. Pernah muncul di data Phoenix."
"Terkait siapa?"
Kevin menatap dokumen lagi. "Kemungkinan jaringan Wijaya."
Udara di ruang keluarga seolah berhenti.
Rina menggebrak meja kecil. "Aku tahu! Dari awal aku bilang ini bukan bangkrut biasa. Kakek kita dijatuhkan."
Pak Budi yang lewat di belakang hampir menjatuhkan nampan.
Felicia meremas kertas itu.
Wijaya lagi.
Nama itu seperti benang hitam yang muncul di setiap luka.
*Mereka menyakiti Kevin. Mereka menjatuhkan keluarga ibuku. Mereka benar-benar pikir dunia ini papan monopoli pribadi?*
Kevin mendengar, dan untuk pertama kalinya tidak menyuruhnya berhenti berpikir.
Rina menatap Kevin. "Kalau kamu punya data soal perusahaan ini, aku mau lihat."
"Tidak semudah itu," kata Kevin.
"Kenapa? Karena rahasia?"
"Karena kalau benar terkait Wijaya, orang yang menggali bisa diserang."
Rina tertawa pendek. "Keluarga Hartono sudah diserang bertahun-tahun lalu. Kami hanya baru sadar."
Felicia meletakkan dokumen di meja. "Rina."
"Apa?"
"Kita akan bongkar. Tapi tidak dengan kepala panas."
Rina membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menatap Felicia seolah baru menyadari sepupunya yang dulu mudah dipatahkan kini bicara seperti orang yang memegang kendali.
"Kamu benar-benar berubah," katanya pelan.
Felicia tersenyum. "Semoga ke arah yang berguna."
Kevin berkata, "Tinggalkan salinan dokumen. Aku minta Phoenix cek."
Rina menyipit. "Aku harus percaya kamu?"
"Tidak." Kevin berdiri. "Percaya Felicia."
Kalimat itu membuat Rina diam.
Felicia juga diam.
*Dia tidak bilang percaya aku padanya. Dia bilang Rina bisa percaya aku. Bedanya kecil, tapi kok...*
***"Love Meter stabil, tapi trust indicator naik."***
Felicia memelototi udara kosong.
Kevin pura-pura tidak mendengar.
Sore menjelang ketika Rina akhirnya bersedia tinggal untuk makan. Ia bahkan memaksa melihat Bola dari jauh dan langsung jatuh cinta pada anak anjing itu.
"Namanya Bola? Cia, selera namamu parah."
"Dia bulat."
"Memang, tapi tetap parah."
Dari lantai atas, Kevin mendengar suara tawa dua sepupu itu bercampur gonggongan kecil Bola. Untuk beberapa menit, The Residence terdengar seperti rumah sungguhan, bukan benteng.
Lalu ponselnya bergetar.
Pesan dari Adi.
Pak Kevin, Mbah Suryo sudah tiba di Surya Mansion. Madam Liem meminta kehadiran Anda dan Bu Felicia malam ini.
Kevin menatap layar, lalu turun ke ruang keluarga.
Felicia melihat wajahnya dan langsung tahu.
"Ronde berikutnya?"
Kevin mengangguk.
Rina berdiri. "Aku ikut."
Kevin berkata, "Tidak."
Rina menatapnya. "Aku tidak tanya izin."
Felicia memegang dokumen Hartono di satu tangan dan cincin Kevin di tangan lain.
Malam itu, ia menyadari satu hal.
Medan perang mereka tidak lagi hanya keluarga Surya.
Luka lama keluarga Hartono juga mulai terbuka.