Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5 - Permainan Pertama
"Kamu... bukan orang yang sama, kan?"
Pertanyaan Calvin menggantung di antara mereka.
Koridor masih ramai, tetapi di sekitar Felicia dan Calvin, suara orang lain seperti terdorong menjauh. Siswi berambut bob yang tadi ketakutan bahkan lupa melarikan diri. Cowok bertubuh besar masih duduk di lantai sambil memegangi perut.
Felicia menatap Calvin.
"Kalau benar?" tanyanya.
Mata Calvin bergerak sedikit. Bukan takut. Bukan jijik. Lebih mirip seseorang yang menemukan warna baru di palet lamanya dan ingin segera mengurung warna itu di kanvas.
"Kalau benar," katanya pelan, "aku harus menggambar ulang semuanya."
Jawaban yang aneh.
Tapi Felicia tidak membencinya.
Ia melangkah melewati Calvin. "Kalau begitu, pastikan gambarmu bagus."
Calvin tidak menahan. Ia hanya menoleh mengikuti punggung Felicia, senyum kecilnya kembali muncul, kali ini lebih tajam dari sebelumnya.
Sis berbisik, "Tuan Rumah, itu tadi percakapan yang sangat tidak normal."
"Dia tidak normal."
"Tuan Rumah juga."
"Bagus. Berarti cocok untuk misi."
Sisa hari pertama Felicia di Akademi Bintang Mulia berjalan dengan kecepatan yang membuat gosip bekerja lebih keras daripada guru. Sebelum jam makan siang selesai, cerita tentang Felicia yang menjatuhkan siswa laki-laki di dekat gudang olahraga sudah berubah menjadi lima versi.
Ada yang bilang ia belajar bela diri rahasia.
Ada yang bilang F4 memberinya bodyguard tak terlihat.
Ada juga yang lebih bodoh, mengira ia kesurupan.
Felicia tidak peduli. Ia makan mie ayam di sudut kantin, menghabiskan es teh manis, lalu membiarkan tatapan orang-orang datang dan pergi seperti nyamuk.
Yang menarik justru pengumuman di papan digital dekat aula.
Turnamen Olahraga Antar-Kelas.
Cabang minggu ini: bulu tangkis.
Sis langsung membaca data. "Turnamen ini penting untuk poin kelas. Biasanya Kelas F selalu jadi bahan tertawaan. Kelas Olimpiade dan Kelas A mendominasi. F4 kadang datang menonton kalau ada sponsor keluarga."
"Ada hadiah?"
"Poin kelas, uang pembinaan, dan hak memakai lapangan utama selama satu bulan."
"Tidak buruk."
Belum sempat Felicia berjalan pergi, suara cempreng yang mulai ia kenali terdengar di belakang.
"Felicia!"
Siswi berambut bob datang bersama beberapa anak Kelas F. Kali ini ia tidak berdiri terlalu dekat. Wajahnya masih menyimpan takut, tetapi kebencian orang yang dipermalukan di depan umum jauh lebih keras kepala daripada naluri bertahan hidup.
"Kita kekurangan pemain tunggal putri," katanya. "Tadi kamu hebat banget banting orang. Harusnya bulu tangkis gampang, kan?"
Beberapa siswa di belakangnya tertawa kecil. Bukan tawa percaya diri, lebih seperti tawa orang yang ingin membalas tanpa harus turun tangan.
Felicia menatap formulir pendaftaran di tangan siswi itu.
"Kalian ingin aku kalah di depan satu sekolah."
Siswi itu tersenyum kaku. "Lho, kok nuduh? Ini demi Kelas F. Kamu bagian dari kelas kami, kan?"
Logika murahan.
Felicia mengambil pulpen dari meja informasi dan menuliskan namanya di kolom peserta.
Felicia Winarko.
Tunggal putri.
Sis hampir tersedak di kepalanya. "Tuan Rumah! Tangan kanan masih memar!"
"Bulu tangkis pakai raket."
"Tetap pakai tangan!"
"Maka aku pakai secukupnya."
Formulir itu cepat sekali sampai ke meja panitia, seolah anak-anak Kelas F takut Felicia berubah pikiran. Seorang siswa panitia memeriksa namanya, lalu melirik Felicia dengan ekspresi tidak yakin.
"Kamu belum pernah ikut seleksi olahraga, kan?"
"Belum."
"Kalau mundur setelah jadwal keluar, poin Kelas F dipotong."
Di belakang Felicia, siswi berambut bob langsung menyambung, "Dia nggak akan mundur. Tadi dia sendiri yang setuju."
Licik kecil.
Felicia menoleh.
Siswi itu langsung pura-pura merapikan rambut.
Panitia menunjukkan papan pertandingan. Nama Felicia ditempatkan di jalur yang lebih berat karena Kelas F terlambat mendaftar. Lawan pertamanya dari Kelas B. Jika menang, ia langsung bertemu unggulan dari Kelas A.
Beberapa siswa di sekitar meja tertawa pelan.
"Kasihan."
"Babak pertama aja sudah habis."
Felicia membaca bagan itu sampai selesai, lalu mengembalikan papan ke meja.
"Bagus," katanya.
Panitia berkedip. "Bagus?"
"Lebih sedikit waktu terbuang."
Turnamen babak awal dimulai sore itu di gedung olahraga indoor. Untuk ukuran sekolah, tempat itu terlalu mewah. Lantainya kayu mengilap, garis lapangan bersih, lampu putih terang tanpa bayangan mengganggu, dan tribun samping sudah diisi siswa yang datang bukan untuk mendukung, melainkan mencari bahan komentar.
Kelas F mendapat lapangan ketiga.
Lawan pertama Felicia berasal dari Kelas B, seorang siswi tinggi dengan sepatu olahraga mahal dan raket edisi terbatas. Ia menatap Felicia dari ujung lapangan, lalu tersenyum meremehkan.
"Kamu yakin bisa main?"
Felicia memutar raket di tangan kiri.
Tangan kanan masih sedikit nyeri. Jadi ia memakai tangan kiri.
Kerumunan langsung ribut.
"Dia kidal?"
"Setahuku nggak."
"Mau sok-sokan lagi."
Felicia menatap kok putih di tangan lawan. "Mulai."
Servis pertama datang tinggi, lambat, sengaja dibuat seperti memberi kesempatan. Felicia bergerak setengah langkah, memukul balik ke sudut kosong.
Poin pertama.
Lawan berkedip.
Servis kedua lebih cepat. Felicia membaca bahu, bukan kok. Sebelum kok melewati net, tubuh lawan sudah memberi tahu ke mana arahnya. Ia maju, pergelangan kiri memutar pendek, netting tipis jatuh tepat di depan.
Poin kedua.
Tribun mulai diam.
Setelah itu, permainan berubah menjadi pelajaran singkat tentang perbedaan olahraga sekolah dan naluri bertahan hidup.
Felicia tidak melompat berlebihan. Tidak mengejar dengan gaya indah. Ia hanya berada di tempat yang tepat sebelum kok datang. Kalau lawan memukul keras, ia mengalihkan tenaga. Kalau lawan mencoba menipu, ia membaca pinggulnya. Kalau lawan mulai panik, ia mempercepat tempo sampai napas gadis itu pecah.
Sebelas nol.
Wasit siswa menelan ludah sebelum menyebut skor.
Di sisi lapangan, anak-anak Kelas F yang awalnya ingin tertawa mulai berdiri satu per satu.
"Itu... tangan kiri?"
"Dia pakai tangan kiri dari awal?"
"Gila."
Lawan Felicia mengganti raket, meminta minum, lalu kembali dengan wajah memerah. Set kedua berlangsung lebih buruk.
Dua puluh satu tiga.
Tiga poin itu Felicia biarkan saat menguji jarak langkah tubuh barunya.
Saat pertandingan selesai, lawannya menatap papan skor seperti angka di sana menghina seluruh hidupnya.
Felicia keluar lapangan tanpa ekspresi.
Sis bersorak di kepalanya. "Menang! Tuan Rumah menang! Walau kekuatan nol persen, tetap menang!"
"Ini baru pemanasan."
"Pemanasan? Lawannya hampir nangis!"
"Berarti mentalnya kurang."
Felicia mengambil handuk kecil dari meja panitia. Saat mengeringkan keringat di leher, ia merasakan sesuatu. Bukan tatapan panik dari Kelas F. Bukan tatapan benci dari lawan. Tatapan ini lebih tenang, lebih berat, dan lebih rapi.
Ia menoleh ke tribun atas.
Di baris paling belakang, Nathan Salim berdiri sendirian.
Blazernya sudah dilepas, kemeja putihnya tetap rapi, dan mata emasnya mengikuti Felicia seolah baru pertama kali melihatnya dengan benar.