NovelToon NovelToon
Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Warisan Dewa Kematian: Naga Bintang & Hantu Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius
Popularitas:116.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.

Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.

Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang Harus Ditunda

Gao Rui sedikit terkejut lalu menoleh.

Di belakangnya berdiri seorang pria tua berjubah abu-abu sederhana. Tatapannya tenang, tetapi memancarkan kewibawaan yang sulit dijelaskan. Pria itu adalah pendekar terkuat yang dimiliki Kelompok Harta Langit, Hakim Langit, Yuang Dao.

Dahulu, nama Yuang Dao pernah mengguncang seluruh Kekaisaran Zhou. Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai pendekar nomor satu di kekaisaran ini sebelum akhirnya gelar tersebut berpindah kepada generasi berikutnya.

Kini, setelah berbagai peristiwa yang terjadi, Yuang Dao memilih bergabung dengan Harta Langit. Semua itu berawal dari campur tangan Gao Rui yang menyembuhkannya dari luka dalam yang lama ia derita.

Melihat orang yang bertanya adalah Yuang Dao, Gao Rui tanpa sadar menjadi sedikit gugup.

"Se-senior Dao."

Yuang Dao menganggukkan kepalanya pelan. Tatapannya kembali melirik ke arah lorong tempat Sha Nuo tadi menghilang sebelum akhirnya kembali kepada Gao Rui.

"Siapa pria itu?"

Gao Rui terdiam sesaat. Ia teringat janjinya kepada Sha Nuo untuk merahasiakan kedatangannya. Karena itu, setelah berpikir sejenak, ia menjawab dengan senyum canggung.

"Ia... kenalanku."

Jawaban itu memang terdengar sangat singkat. Namun Yuang Dao tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.

"Begitu."

Beberapa saat suasana menjadi hening. Kemudian Yuang Dao kembali membuka mulut.

"Nyonya Lan Suya sedang mencarimu."

Gao Rui sedikit terkejut.

"Bibi Ya?"

Yuang Dao mengangguk.

"Ia sedang menunggumu di ruang khusus Harta Langit di penginapan ini."

"Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan."

Gao Rui segera menangkupkan kedua tangannya.

"Baik, Senior Dao."

Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berjalan menuju bagian dalam penginapan. Langkah Gao Rui perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di balik lorong.

Yuang Dao tetap berdiri di tempat. Tatapannya perlahan kembali mengarah ke tangga yang sebelumnya dilalui Sha Nuo.

Beberapa saat ia hanya diam. Lalu ia membuka mulutnya.

"...orang itu kuat."

Suaranya sangat pelan.

Namun bagi seorang pendekar seperti Yuang Dao, satu pertemuan singkat sudah cukup untuk membuatnya menyadari sesuatu. Ia sama sekali tidak mampu melihat batas kekuatan pria bertubuh besar tersebut.

Bahkan nalurinya sebagai seorang pendekar justru memberikan peringatan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Pria itu sangat berbahaya.

Namun anehnya, Yuang Dao sama sekali tidak merasakan sedikit pun permusuhan darinya. Setelah memandang beberapa saat lagi, Yuang Dao akhirnya berbalik dan meninggalkan aula penginapan.

Sementara itu, Gao Rui telah tiba di sebuah ruangan khusus milik Harta Langit yang berada di lantai tiga Penginapan Kayu Mawar. Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi terlihat sangat elegan. Rak-rak kayu dipenuhi gulungan dokumen, peta jalur perdagangan, serta berbagai catatan keuangan.

Di tengah ruangan, seorang wanita cantik sedang duduk sambil membaca sebuah laporan. Wanita itu mengangkat kepalanya ketika pintu diketuk.

Senyum lembut langsung muncul di wajahnya.

"Rui’er."

Gao Rui segera menangkupkan kedua tangannya.

"Bibi Ya."

Wanita itu tentu saja adalah Lan Suya. Pemimpin Kelompok Harta Langit.

"Duduklah."

Gao Rui menurut tanpa banyak bertanya.

Begitu ia duduk, Lan Suya langsung meletakkan laporan yang sejak tadi dibacanya.

"Besok aku ingin mengajakmu keluar."

Gao Rui sedikit penasaran.

"Ke mana, Bibi Ya?"

Lan Suya menjawab dengan tenang.

"Kediaman Keluarga Guang."

Mata Gao Rui sedikit membesar. Ia tentu pernah mendengar nama itu.

Keluarga Guang merupakan keluarga penghasil gandum terbesar di seluruh Kekaisaran Zhou. Sebagian besar persediaan gandum yang beredar di berbagai kota berasal dari lahan pertanian milik mereka.

Lan Suya melanjutkan,

"Harta Langit sedang merencanakan kerja sama yang lebih besar dengan mereka. Kalau semuanya berjalan lancar, jaringan perdagangan kita akan berkembang jauh lebih cepat."

Ia kemudian menatap Gao Rui.

"Aku juga ingin memperkenalkanmu kepada mereka."

Gao Rui berkedip.

"Aku?"

Lan Suya mengangguk sambil tersenyum.

"Benar. Kau adalah salah satu pemilik Harta Langit."

"Sudah waktunya kau mengenal lebih banyak rekan dagang kita."

"Bukan hanya berlatih ilmu pedang. Kau juga harus belajar bagaimana menjalankan sebuah kelompok dagang."

Tatapannya berubah sedikit lebih serius.

"Mulai dari cara bernegosiasi, membaca peluang, hingga menjalin hubungan dengan para mitra. Itu semua akan sangat berguna untuk masa depanmu."

Gao Rui menganggukkan kepalanya dengan hormat. Ia tahu saat ini tidak berguna jika ia membantah Lan Suya.

"Aku mengerti, Bibi Ya."

Lan Suya tersenyum puas.

"Kita akan berangkat besok pagi. Perjalanan, pembicaraan, dan jamuan makan kemungkinan baru selesai menjelang sore."

Mendengar kalimat itu, senyum Gao Rui perlahan membeku.

"...!"

Matanya sedikit membelalak. Baru saat itulah ia teringat sesuatu. Besok siang, ia sudah berjanji akan menemani Paman Nuo makan siang di rumah makan paling enak di Kota Weiyang.

Gao Rui langsung terdiam.

"Celaka..." gumamnya pelan di dalam hati.

Lan Suya yang sejak tadi memperhatikan Gao Rui langsung menangkap perubahan ekspresi di wajahnya. Ia memiringkan kepalanya sedikit.

"Kenapa, Rui'er?"

Gao Rui tersadar dari lamunannya.

"...Eh?"

Lan Suya tersenyum tipis.

"Apa kau sudah punya acara besok?"

Gao Rui tampak sedikit ragu. Namun pada akhirnya ia menganggukkan kepala.

"Sebenarnya... aku memang sudah memiliki rencana lain."

Lan Suya tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengembuskan napas pelan.

"Begitu rupanya."

Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka mulut.

"Kalau memang bisa dipilih, tentu aku juga tidak ingin mengganggu rencanamu."

"Tapi pertemuan dengan Keluarga Guang benar-benar terjadi secara mendadak."

Tatapannya menjadi sedikit serius.

"Patriark Keluarga Guang adalah orang yang sangat sibuk. Ia hampir sepanjang tahun berada di berbagai wilayah untuk memeriksa ladang gandumnya."

"Kesempatan untuk bertemu dengannya sangat sedikit."

Lan Suya tersenyum pahit.

"Bahkan aku sendiri harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya mendapatkan jadwal besok. Kalau kita melewatkannya... bisa jadi kita harus menunggu beberapa bulan lagi."

Gao Rui perlahan menganggukkan kepalanya.

"Aku mengerti, Bibi Ya."

Ia benar-benar memahami keadaan itu. Dalam dunia perdagangan, kesempatan seperti ini memang tidak mudah didapatkan. Terlebih lagi, kerja sama dengan keluarga penghasil gandum terbesar di Kekaisaran Zhou tentu bukan urusan kecil.

Gao Rui pun mengembuskan napas pelan.

"Kalau begitu... aku akan ikut."

Lan Suya tersenyum lega.

"Bagus. Besok kita berangkat setelah sarapan."

"Jangan bangun terlalu siang."

Gao Rui tersenyum kecil.

"Baik, Bibi Ya."

Namun jauh di dalam hatinya, pikirannya masih tertuju pada seseorang.

"Paman Nuo..."

Ia menggenggam pelan cangkir teh di depannya.

"Kalau besok pagi aku bertemu dengannya saat sarapan... aku akan meminta maaf."

"Aku akan mengatakan agar makan siang kami ditunda ke lain hari."

Memikirkan itu, perasaannya akhirnya sedikit lebih tenang.

...******...

Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai memasuki aula utama Penginapan Kayu Mawar. Ruang makan sudah dipenuhi aroma bubur hangat, roti kukus, dan teh yang baru diseduh.

Namun, di salah satu meja dekat jendela, Gao Rui sama sekali tidak menikmati sarapannya. Tatapannya terus mengarah ke pintu masuk ruang makan.

Sesekali ia melihat ke tangga menuju lantai atas. Lalu kembali ke pintu.

"..."

"Paman Nuo belum datang..." gumamnya dalam hati.

Biasanya, orang dengan selera makan sebesar Sha Nuo pasti sudah berada di ruang makan sejak pagi. Namun hari ini, bayangan pria bertubuh tinggi besar itu sama sekali belum terlihat.

Waktu terus berlalu. Satu demi satu anggota Harta Langit mulai meninggalkan ruang makan.

Dari luar jendela, Gao Rui dapat melihat beberapa kereta kuda telah berjajar rapi di depan penginapan. Para pengawal sibuk memeriksa perlengkapan. Beberapa pelayan mengangkat peti-peti kecil berisi dokumen dan hadiah untuk Keluarga Guang. Rombongan mereka jelas hampir siap berangkat. Namun Sha Nuo masih belum muncul.

Gao Rui tanpa sadar menggenggam cangkir tehnya lebih erat.

"Ke mana Paman Nuo..."

Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria dengan pedang panjang di pinggang berhenti di samping meja Gao Rui.

"Tuan Muda."

Gao Rui mendongak.

Pria itu adalah Bai Kai, salah seorang pendekar kuat Harta Langit yang bertugas mengawal rombongan Lan Suya.

Wajah Bai Kai terlihat tenang. Ia kemudian berkata dengan hormat,

"Tuan Muda... kita harus berangkat sekarang."

1
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
Tosari Agung
thor next bab paman nuo coba suruh tanyain ke Gao Rui siapa gurunya biar pada gak penasaran
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz pokok'é 🔥🌽
Irfan tejo laksono
ahaiiii 👍👍👍
Akhmad Baihaki
👍👍👍👍👍👍
mbono keling
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
yayat
bantai jangn kash ampun tujukan pada paman nou rui murid dr boqin
Adek Darmansyah
udh mulai menyebalkan ni authorr...
Nanik S
Bantai semua dan ambil semua Cincin ruang musuh seperti biasanya
Nanik S
Rui... tunjukan pada Paman Nuo, bahwa mampu membantai mereka dan tidak selembut hatinya🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Ridwan Pasirjambu
😍😍😍😍
budiman
satu mawar 🌹
Raju
tiba dilokasi, bertatap muka, mengetahui tingkt kultivasi musuh, di izinkan bertarung seraya mencabut pedang... udah.... slsai....🤣🤣🤣
tariii
jangan remehkan bocil itu, wooooyyyyy.... jangan lihat tampangnya yg polos, dia itu monster kecil yg siap membant*i kalian para perampokk...🤭🤭🤭😂😂😂
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Muantebz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz 🔥🌽
kute
super seru enak alur ceritanya tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!