Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002
Membuat Lo Hafeng jatuh cinta padanya ternyata terdengar lebih mudah ketika kalimat itu masih berada di dalam kepala.
Begitu Meiran berbelok dari koridor utama menuju gedung studio seni, denyut di telapak tangannya mulai terasa lebih tajam. Luka kecil itu mengingatkannya bahwa ia tidak sedang membaca ulang hidupnya dari jauh. Ia benar-benar kembali ke awal, dengan tubuh muda, reputasi buruk, dan seorang pria yang Nilai Cintanya berada di angka -80.
**【Sistem Predator】Saran awal: Host perlu menciptakan kontak intens dengan target untuk memetakan reaksi emosional.**
"Kontak intens?" Meiran berbisik sambil mempercepat langkah. "Sisi, kamu sadar dia baru saja menatapku seperti aku virus?"
**【Sistem Predator】Data awal menunjukkan target memiliki reaksi kuat terhadap Host. Reaksi kuat dapat digunakan.**
"Reaksi kuat tidak selalu berarti bagus."
**【Sistem Predator】Benar. Karena itu Host perlu mengujinya.**
Meiran hampir tertawa. Sistem ini tidak terdengar seperti penyelamat. Lebih mirip dosen pembimbing yang menyuruh mahasiswanya masuk ke ruang ujian tanpa memberi materi.
Ia masuk ke studio seni yang masih kosong. Ruangan itu luas, dengan jendela tinggi menghadap taman belakang kampus. Bau cat minyak, kayu basah, dan kain kanvas menyambutnya. Di sudut ruangan ada beberapa patung gipsum tertutup kain putih. Di sisi lain, lemari peralatan berdiri rapat, salah satunya berupa kabinet tinggi untuk menyimpan kanvas gulung, tripod, dan papan gambar.
Meiran menaruh map sketsanya di atas meja panjang.
Ia perlu berpikir.
Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, pagi ini seharusnya berlanjut dengan adegan memalukan lain. Ia akan mengejar Hafeng sampai ke studio, Wanyu akan menemukannya di sana, lalu gosip tentang Lim Meiran yang tidak tahu malu akan menyebar ke seluruh grup WhatsApp angkatan sebelum jam makan siang.
Kali ini ia tidak boleh mengikuti alur yang sama.
Ia mengambil tisu dari tas, menekan luka di telapak tangannya. Darah berhenti, tetapi panel sistem masih menggantung di tepi pandangannya seperti tagihan yang belum dibayar.
Target: Lo Hafeng.
Nilai Cinta: -80.
Nilai Kehancuran: 12.
"Kalau aku menjauh dari dia?" tanya Meiran dalam hati.
**【Sistem Predator】Nilai Cinta tidak naik. Kekuatan Takdir akan mencari jalur lain untuk mengembalikan alur asli.**
"Kalau aku membuat dia membenciku lebih dulu, lalu menariknya pelan-pelan?"
**【Sistem Predator】Risiko tinggi.**
"Tapi mungkin efektif."
Sistem diam satu detik.
**【Sistem Predator】Host memang cocok menjadi predator.**
Meiran baru akan menjawab ketika suara langkah terdengar dari luar studio.
Ia menoleh.
"Ko Hafeng, tunggu sebentar."
Suara Soe Wanyu.
Meiran langsung meraih mapnya. Ia bisa menghadapi Wanyu, tetapi bukan sekarang, bukan ketika isi kepalanya masih dipenuhi angka merah dan kematian kedua. Di kehidupan sebelumnya, Wanyu selalu menang karena Meiran terlalu mudah terpancing. Pagi ini, ia perlu mengubah ritme.
Pintu studio terbuka sedikit.
Tanpa banyak berpikir, Meiran menyelinap ke balik kabinet peralatan yang pintunya setengah terbuka. Ruang di dalamnya lebih sempit dari perkiraannya. Kanvas gulung menekan bahunya, dan papan gambar dingin menyentuh punggungnya. Ia menarik pintu hampir tertutup, menyisakan celah tipis untuk melihat keluar.
Langkah Hafeng masuk lebih dulu.
"Aku ada kelas," katanya.
Wanyu menyusul sampai ambang pintu. "Aku cuma mau memastikan kamu tidak salah paham soal Meiran tadi. Dia memang sering bersikap begitu, tapi mungkin hari ini dia sedang tidak enak badan."
Dari dalam kabinet, Meiran mengangkat alis.
Luar biasa.
Wanyu bisa menusuk orang sambil membungkus pisaunya dengan tisu.
Hafeng berdiri tidak jauh dari kabinet. Ia mengambil sebuah tabung gambar dari meja dekat pintu. "Aku tidak peduli."
"Kamu selalu bilang begitu." Wanyu tertawa kecil. "Tapi kalau dia terus mengganggumu, kamu bisa bilang padaku. Aku akan bicara baik-baik dengannya."
Meiran menggigit bagian dalam pipinya.
Bicara baik-baik, lalu membuat semua orang berpikir aku perempuan gila yang perlu dikasihani.
Hafeng tidak menjawab. Ia berbalik, langkahnya justru mengarah ke kabinet tempat Meiran bersembunyi.
Meiran menahan napas.
Di luar, Wanyu berkata lagi, "Ko Hafeng?"
Hafeng berhenti tepat di depan pintu kabinet. Mungkin ia hendak mengambil sesuatu. Mungkin ia melihat ujung sepatu Meiran dari celah bawah. Apa pun itu, matanya turun, lalu bertemu mata Meiran melalui celah sempit.
Satu detik.
Dua detik.
Meiran mengangkat telunjuk ke bibir.
Diam.
Sorot mata Hafeng langsung berubah.
Ia membuka mulut, jelas hendak membongkar tempat persembunyiannya.
Meiran tidak memberinya kesempatan.
Ia menarik pergelangan tangan Hafeng.
Tubuh pria itu terdorong masuk ke kabinet. Pintu tertutup pelan, nyaris tanpa suara, tetapi ruang di dalamnya mendadak menjadi terlalu kecil untuk dua orang yang saling membenci.
Punggung Meiran menempel pada papan gambar. Dada Hafeng hampir menyentuh bahunya. Satu tangannya masih tertahan di dekat kepala Meiran, sementara napasnya yang dingin jatuh di pelipisnya.
"Kamu sudah gila?" desis Hafeng.
"Bisa lebih pelan?" Meiran berbisik. "Kecuali kamu ingin Wanyu melihat kita sekabinet seperti ini."
Rahang Hafeng mengeras. Di ruang gelap itu, aroma sabun mahal dari tubuhnya bercampur dengan bau kayu dan cat. Meiran bisa merasakan panas tubuhnya walau mereka tidak benar-benar berpelukan. Terlalu dekat. Bahkan kain kemejanya sesekali menyentuh punggung tangan Meiran setiap kali ia bernapas.
Hafeng mencoba mundur, tetapi tumitnya membentur gulungan kanvas.
"Buka pintunya."
"Tidak."
"Lim Meiran."
"Kalau kamu keluar sekarang, Wanyu akan bertanya kenapa kamu masuk ke kabinet. Lalu dia akan melihatku. Setelah itu, seluruh kampus akan punya cerita baru sebelum jam sebelas."
"Itu salahmu."
"Benar. Tapi wajahmu juga akan masuk cerita."
Hafeng terdiam. Dalam gelap, Meiran hampir bisa mendengar kesabarannya retak.
Di luar, langkah Wanyu mendekat.
"Ko Hafeng?" panggilnya, kali ini lebih bingung. "Kamu masih di dalam?"
Meiran menahan napas. Hafeng menatapnya seperti ingin mencekik, tetapi ia juga tidak menjawab. Untuk pertama kalinya pagi itu, mereka berada di pihak yang sama, meski hanya karena sama-sama tidak ingin tertangkap dalam posisi konyol.
**【Sistem Predator】Kontak fisik intens terdeteksi.**
Panel merah muncul begitu dekat dengan wajah Hafeng sampai Meiran hampir lupa bahwa hanya ia yang bisa melihatnya.
Nilai Cinta: -85.
Meiran membeku.
Apa?
**【Sistem Predator】Reaksi target: penolakan ekstrem, peningkatan kewaspadaan, kemarahan.**
Nilai Cinta: -92.
Hafeng menunduk, suaranya hampir tidak terdengar. "Lepaskan tanganku."
Meiran baru sadar jarinya masih menggenggam pergelangan tangan Hafeng.
Kulit pria itu hangat. Denyut nadinya cepat, menghantam ujung jari Meiran dengan ritme yang tidak setenang wajahnya. Entah karena marah, jijik, atau karena ruang sempit membuat tubuh mereka tidak punya jarak aman.
Ia melepaskannya perlahan.
Nilai Cinta: -96.
Sial.
"Sisi," batin Meiran, "ini disebut memetakan reaksi atau menggali kuburan?"
**【Sistem Predator】Data sangat berharga.**
"Untuk siapa?"
**【Sistem Predator】Untuk misi Host, jika Host masih hidup setelah ini.**
Meiran menutup mata sebentar.
Hafeng salah paham pada keheningannya. "Kamu takut sekarang?"
Meiran membuka mata. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat garis rahang Hafeng, bulu matanya, dan kemarahan yang membuat pupilnya tampak lebih gelap.
"Tidak," jawabnya. "Aku sedang menghitung."
"Menghitung apa?"
"Seberapa besar kamu membenciku."
Hafeng mencibir tanpa suara. "Kalau kamu perlu angka, kuberi tahu. Sangat besar."
Seolah menanggapi ucapannya, panel sistem berkedip tajam.
Nilai Cinta: -100.
**【Sistem Predator】Peringatan: Nilai Cinta mencapai batas kebencian terendah. Fenomena balik ekstrem mungkin terjadi jika target terus menerima rangsangan emosional dari Host.**
Meiran menatap angka itu.
-100.
Bukannya naik, ia malah berhasil menjatuhkan target ke dasar jurang hanya dalam satu pagi.
Harusnya ia panik. Harusnya ia marah pada sistem, pada Hafeng, pada takdir yang membuatnya harus memulai dari angka semustahil ini. Namun entah kenapa, senyum tipis justru muncul di bibirnya.
Dasar hidup baru yang menarik.
Hafeng menatap senyum itu dengan curiga. "Apa yang lucu?"
"Kamu."
"Aku?"
"Kamu bilang sangat membenciku, tapi dari tadi kamu tetap berbisik."
Mata Hafeng berkilat. "Karena aku tidak mau terlihat bodoh."
"Tepat. Berarti kita punya satu kepentingan yang sama."
Di luar kabinet, Wanyu kembali melangkah. Kali ini suara sepatunya berhenti tepat di depan pintu kabinet.
Bayangan tipis jatuh melalui celah bawah.
Meiran dan Hafeng sama-sama diam.
Lalu suara Wanyu terdengar sangat dekat.
"Ko Hafeng... kamu di situ?"