"Dalam Tasbihku, ku langitkan doa atas namamu, meski aku tidak tahu apakah doaku yang akan pulang sebagai pemenangnya." ~ Hawaa
Hubungan persaudaraan tak sedarah yang sudah terjalin ternyata menumbuhkan cinta diantara Adam dan Hawaa, tapi semua itu harus terhalang, saat Adam memilih menganggap Hawaa hanya sebatas saudara.
Hawaa yang telah kecewa, kembali dibuat terluka saat Adam datang mengenalkan kekasihnya, Anissa yang ingin Adam ajak serius.
"Saat kamu melangitkan doa dengan nama orang lain, kamu harus siap menerima jawaban, dari doa itu." ~ Adam
Inikah jawaban, dari Doa yang Hawaa langitkan, ataukah ada jawaban lain yang belum kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat
Tangis Annisa akhirnya pecah. Adam ingin meraih tubuh wanita itu, tapi di tepisnya. Dia tak ingin dipeluk lagi, tak ingin dirayu lagi. Cukup sudah dia bertahan selama dua bulan ini.
Hawaa juga tak tahu harus berkata apa. Dia cukup terkejut dengan ucapan Annisa. Jika memang benar apa yang adik iparnya katakan berarti selama ini mereka saling cinta.
"Nisa, dari mana kamu bisa menyimpulkan itu semua. Sudah aku katakan, jangan berpikir terlalu jauh," ujar Adam.
"Aku tak berpikir terlalu jauh. Itu memang kenyataannya. Sekarang aku minta kalian berdua bersumpah di atas Al-Qur'an jika memang perasaan kalian selama ini hanya sebatas rasa adik kakak bukan perasaan sebagai lawan jenis," ucap Annisa terbata karena menahan tangis.
Hawaa merasa sangat bersalah melihat wajah sedih Annisa. Tapi dia harus bagaimana? Perasaan itu datang tanpa bisa dicegah. Semua itu datangnya dari Allah. Bukankah dia telah mencoba untuk menepis dan menghindar. Dia telah merelakan Adam dengan wanita lain.
Hawaa berdiri dari tempat duduknya. Dia tak mau terlibat dengan pertengkaran suami istri itu lagi.
"Sepertinya aku harus pergi. Lain kali saja kita bicara. Ini bukan waktu yang tepat," ucap Hawaa.
"Kenapa Kak Hawaa pergi? Ini semua ada kaitannya dengan Kakak dan menyangkut tentang kelanjutan hubungan pernikahanku dan Adam," ucap Annisa.
"Kenapa membawa Hawaa dalam masalah ini, Nisa? Semua salahku. Jika kamu ingin marah, silakan denganku!" ucap Adam.
Annisa tersenyum miring. Dia dan semua orang juga tahu, jika semua ini kesalahan Adam. Dia yang paling bertanggung jawab atas kerusakan rumah tangganya.
"Semua yang terjadi saat ini memang kesalahan kamu. Aku hanya ingin kamu tau, jika Kak Hawaa juga mencintai kamu. Dia pindah ke Batam hanya untuk menghindari kamu!" jawab Annisa.
"Sudahlah Annisa. Sepertinya aku memang tak sebaiknya ada di sini. Jika memang kamu dan Adam ada masalah, kenapa harus melibatkan aku. Kalaupun seperti katamu, semua ada hubungan denganku, apa selama ini aku ada melakukan hal yang membuat rumah tanggamu berantakan?" tanya Hawaa.
Hawaa mengakui jika dihatinya memang masih tersimpan nama Adam, tapi dia tak pernah menyatakan bahkan mengganggu hubungan dia dan sang istri. Bahkan dia rela tinggal terpisah hanya untuk menghilangkan perasaan itu. Dia juga tak pernah mengganggu Adam. Sehingga tak terima jika dikatakan mengganggu rumah tangga mereka.
"Aku hanya ingin meyakinkan hatiku, jika Kak Hawaa dan Adam memiliki perasaan yang sama sehingga aku bisa mundur dari pernikahan ini dengan ikhlas," ucap Annisa.
"Apa maumu, Nisa!" seru Adam.
"Aku ingin Kak Hawaa dan Adam bersumpah di atas Al-Qur'an jika memang tak memiliki perasaan apa pun!" ucap Annisa mengulangi permintaannya.
Adam dan Hawaa saling pandang. Dia tak mau bersumpah atas Al-Qur'an.
"Kak Hawaa tak berani 'kan? Ini sudah merupakan jawaban jika Kakak mencintai Adam, dan aku rasa begitu juga dengan Adam. Dia memiliki perasaan yang sama denganmu!" ucap Annisa.
Baik Adam dan Hawaa tidak ada yang berani bersumpah atas nama Al-Qur'an, membuat Annisa jadi semakin yakin jika keduanya memiliki perasaan yang sama.
"Tak ada yang berani bersumpah, berarti baik Kak Hawaa dan Adam tidak membantah ucapanku. Kalian berdua ini saling mencintai!" seru Annisa.
"Dengarkan ucapanku ini, Nisa! Perasaan suka, kagum dan cinta kepada seseorang itu adalah karunia dari Allah yang ditanamkan dalam hati kita. Namun, manusia diberikan kapasitas/kebebasan oleh-Nya untuk memilih dan melakukan perbuatan apa pun itu," ucap Hawaa.
Hawaa menghentikan ucapannya. Setelah beberapa saat dia kembali membuka suara.
"Aku tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan terlarang atas nama cinta. Aku tak pernah memaksakan hatiku untuk orang yang dicintai. Aku sudah mencoba menghilangkan semua rasa itu dengan menjauh, apa kah aku tetap dikatakan bersalah jika memang mencintai Adam?" tanya Hawaa.
Akhirnya dia mengakui jika mencintai saudara tirinya itu. Adam yang mendengarnya tampak sangat terkejut. Dia baru tahu kenyataan itu.
"Aku tidak salahkan? Kakak mencintai Adam. Bagaimana denganmu, apa kamu masih mau membantah?" tanya Annisa.
"Bagiku rasa cinta Kak Hawaa itu tetap salah. Orang-orang taunya kalian bersaudara. Kenapa bisa kamu jatuh cinta dengan saudara sendiri? Begitu juga dengan kamu, Adam. Jika kamu memang mencintai Kak Hawaa, kenapa menikahi ku! Semua sudah cukup, sekarang aku ingin kita bercerai!" seru Annisa dengan emosi.
Adam menarik napas dalam. Sudah sering istrinya itu minta pisah? Selalu saja begitu.
"Annisa, kamu memang benar. Aku memang mencintai Hawaa. Tapi aku sudah mencoba menahan semua rasa cinta ini. Aku berharap dengan menikahimu, aku bisa melupakan cinta ini. Namun, aku salah. Ternyata rasa cintaku makin tumbuh. Aku minta maaf karena telah menggoreskan luka dihatimu," ucap Adam.
Dia kembali menarik napas berulang kali. Mencoba memikirkan kata yang tepat agar tak makin menyakiti hati sang istri.
"Aku minta maaf, Nisa. Aku tau kesalahan ini sangat keterlaluan karena mempermainkan kamu. Sekali lagi maafkan, aku. Aku tau kata maaf tak cukup untuk mengobati hatimu. Tapi aku akan terus mengatakan kata maaf hingga keluar kata maaf dari bibir mu!" ucap Adam selanjutkan.
Hawaa masih tampak syok mendengar semuanya. Akhirnya dia tau, jika perasaan yang sama juga dirasakan Adam. Tapi bukan berarti dia senang. Dia jadi merasa bersalah, karena seperti kata Anissa, dia ikut andil dalam perceraian mereka.
"Setelah aku pikirkan semalam, sesuai permintaan kamu, aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Dari pada kita saling menyakiti lebih lama. Aku menceraikan kamu saat ini juga!" seru Adam.
...----------------...
badai menerjang rmh tanggaku yg ada tiap hari ribut perang bratayuda.
srasa dunia hancur&lelah.
hanya kesalah paham man.
mertua yg sllu ikut campur.
drama&ikut campur.
tp alhmdulillah..q ttp bertahan demi ank2..& dlm setiap doa dlm sujud ku.
badai itu berlalu...
skrg mlah tmbah cinta&harmonis.
tdk ada mslah yg tak bs d selesaikn baik2..bicara dr ht k ht slg terbuka.
& sllu ttp mmperthankn cinta qt.
dh tw pusat dunia adam hawa
knp msh bertahan?
kl gk cinta mosok mokso?
kl cinta pst dy yg jd prioritas utamanya.