Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mobil jip hitam tanpa atap yang dikendarai Kenzo melaju perlahan menyusuri jalan berbatu di tengah lebatnya pepohonan palem tropis. Angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan menyapu wajah Clara, mengibarkan helai-helai rambut panjangnya yang terurai. Di sekeliling mereka, hanya ada bentangan hutan pulau yang belum tersentuh dan gemuruh ombak samudera dari kejauhan. Tidak ada pemukiman warga, tidak ada jalur transportasi umum. Pulau ini adalah tanah pribadi yang sepenuhnya dikuasai oleh keluarga Kenzo.
Jip berhenti di depan sebuah pintu gerbang baja raksasa yang tertanam pada tebing batu alam. Dengan satu sentuhan tombol pada remote di kunci mobil Kenzo, gerbang itu bergeser terbuka secara otomatis, menyajikan pemandangan sebuah vila mewah berarsitektur modern minimalis yang berdiri megah di puncak tebing menghadap langsung ke Laut Karibia.
"Selamat datang di tempat tinggal abadi kita, Clara,"
ujar Kenzo seraya mematikan mesin jip.
Pria itu menoleh, menatap Clara yang tetap duduk membisu di kursi penumpang dengan pandangan kosong.
Vila itu hampir seluruhnya menggunakan dinding kaca tebal bermutu tinggi, menyuguhkan pemandangan lautan lepas seratus delapan puluh derajat. Di balik kemewahannya yang menyilaukan mata, vila tersebut adalah sebuah benteng teknologi. Kamera pengawas bersensor gerak terpasang di setiap sudut atap, dan panel-panel tenaga surya raksasa berderet di area belakang untuk memastikan pasokan listrik mandiri tanpa bergantung pada jaringan luar.
Kenzo melangkah turun, memutar ke sisi penumpang, lalu tanpa meminta izin langsung mengangkat tubuh Clara ke dalam dekapan hangatnya.
"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri!"
seru Clara, refleks memberontak halus dengan memukul dada bidang Kenzo.
Kenzo tidak mengindahkan rintihan itu. Pria itu justru mempererat dekapannya, membawa Clara melangkah melewati ambang pintu utama vila yang langsung mengunci secara otomatis begitu mereka melangkah masuk.
"Kondisi fisikmu belum pulih sepenuhnya dari kemarin,"
bisik Kenzo seraya mengecup singkat pipi Clara.
"Di tempat ini, aku yang akan membawamu ke mana pun kau ingin pergi."
Pria itu mendudukkan Clara di atas sofa kulit panjang di ruang tengah yang luas. Udara dingin dari pendingin ruangan menyapa kulit Clara yang hangat, memberikan rasa menggigil yang ganjil.
Clara menyapu pandangannya ke sekeliling interior vila. Ruang tengah itu terhubung langsung dengan dek kolam renang infinity yang seolah menyatu dengan garis horizon lautan lepas. Di bawah tebing tempat vila ini berdiri, terdapat pantai pasir putih yang curam dengan ombak besar yang menghantam gundukan batu karang tajam. Secara geografis, melarikan diri dari pulau ini sama saja dengan melompat ke dalam gulungan ombak pembunuh.
Kenzo meletakkan dua koper pakaian di dekat lorong kamar utama, lalu berjalan menuju dapur bersih. Pria itu menyalakan layar televisi pintar berukuran besar yang tertempel di dinding utama.
BZZZZT...
Siaran berita cuaca internasional langsung menggelegar memenuhi ruangan, menampilkan citra satelit berwarna merah tua yang berputar ganas di atas kawasan Laut Karibia.
"Peringatan darurat bagi seluruh wilayah kepulauan Karibia bagian barat. Badai Tropis Kategori 3 bernama Hecate diperkirakan akan menerjang daratan dalam waktu dua belas hingga delapan belas jam ke depan. Badai ini membawa angin berkecepatan lebih dari seratus enam puluh kilometer per jam disertai curah hujan ekstrem yang berpotensi memicu gelombang pasang dan kerusakan infrastruktur..."
Kenzo mematikan siaran televisi tersebut dengan raut wajah yang tetap tenang, seolah laporan badai dahsyat itu hanyalah pengumuman cuaca harian biasa. Ia mengambil dua gelas air dingin dan berjalan menghampiri Clara.
"Tampaknya alam menyambut kedatangan kita dengan sedikit kekacauan,"
ujar Kenzo santai, menyodorkan satu gelas ke tangan Clara yang gemetar.
Clara menatap layar televisi yang kini padam, lalu mengalihkan tatapannya pada pendaran lampu indikator sensor keamanan yang berkedip hijau di setiap sudut plafon vila. Sebuah pemikiran nekat mendadak melintas di benaknya, membakar sisa-sisa harapan yang nyaris mati di dalam dadanya.
Badai Kategori 3. Angin kencang, curah hujan ekstrem, dan potensi kerusakan infrastruktur.
Jika badai itu cukup besar untuk merusak panel tenaga surya atau memutus pemancar sinyal komunikasi di pulau ini, maka seluruh sistem keamanan otomatis milik Kenzo, termasuk sensor pada gelang perak di tangannya dan kamera pengawas bisa mengalami kelumpuhan total.
"Kau tidak terlihat takut,"
gumam Kenzo seraya mendaratkan duduknya di samping Clara.
Tangannya merayap naik, mengusap leher Clara yang kembali memamerkan tanda keunguan buatan bibirnya.
"Biasanya kau benci suara petir."
Clara dengan cepat menguasai raut wajahnya, memalingkan kepalanya agar sentuhan Kenzo terlepas.
"Aku lebih takut pada pria yang duduk di sampingku ini daripada badai apa pun di luar sana."
Kenzo terkekeh pelan, sebuah nada tawa yang sarat akan dominasi yang gelap. Pria itu merengkuh pinggang Clara, menarik tubuh gadis itu hingga terduduk di atas pangkuannya.
"Jawaban yang bagus,"
bisik Kenzo tepat di telinga Clara.
Pria itu menyelipkan jemari tangannya di balik gaun sutra hitam Clara, menikmati kulit mulus paha gadis itu yang mendadak menegang akibat kejut emosional.
"Tapi badai di luar sana justru akan memastikan tidak ada kapal atau helikopter yang bisa mendekati pulau ini selama beberapa hari ke depan. Kita akan benar-benar terisolasi dari peradaban, Clara. Hanya ada kau, aku, dan gemuruh angin di luar sana."
Kenzo menunduk, mengunci bibir Clara dalam sebuah ciuman posesif yang dalam. Clara memejamkan matanya rapat-rapat, mencengkeram bahu kemeja Kenzo seraya menahan luapan emosi yang bergolak di dadanya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak lagi meratapi nasibnya.
Di luar dinding kaca vila, pendaran langit biru Karibia perlahan-lahan mulai meredup, berganti menjadi awan kelabu tebal yang bergerak cepat menggulung lautan. Angin barat mulai bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon palem dengan deru yang kian menakutkan.
Gelombang badai pertama telah datang. Dan di dalam benak Clara yang terobsesi pada kebebasan, ia tahu bahwa di tengah kegelapan badai Hecate yang akan segera menghantam pulau inilah, kesempatan emasnya untuk melarikan diri dan menghancurkan sangkar emas Kenzo akhirnya tiba.
BLAAR!
Suara gemuruh petir pertama menyambar di atas lautan lepas, menggelegar dahsyat hingga membuat dinding kaca tebal vila bergetar hebat. Seketika itu pula, lampu-lampu utama di dalam ruangan berkedip redup sebelum akhirnya padam total, menyisakan pendaran lampu darurat berwarna merah yang suram.
Kenzo menghentikan ciumannya sejenak, menoleh ke arah panel keamanan di dekat pintu utama yang kini mengeluarkan bunyi bip berulang tanda gangguan daya.
Di atas pangkuan Kenzo, Clara mengepalkan jemarinya erat-erat di balik gaunnya. Di tengah kegelapan yang mulai mengepung vila dan lolongan angin badai yang makin ganas dari luar, Clara tahu bahwa detik-detik kehancuran sistem keamanan Kenzo telah dimulai dan ia tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk mempertaruhkan nyawanya demi meraih kebebasan.