Kirana adalah seorang gadis cantik yang memiliki kehidupan sempurna, tapi dia harus kehilangan segalanya ketika keluarganya mengetahui jika Kirana hamil di luar nikah tanpa mengetahui Ayah dari bayi yang dia kandung.
Kirana di usir dari rumahnya karena telah mencoreng nama baik keluarga. Akhirnya, Kirana berjuang sendiri menjadi Single Mom yang tegar dan mandiri untuk menghidupi Anaknya.
Akankah Kirana bertemu dengan lelaki yang telah menghamilinya?
Baca kisah selengkapnya dalam "Kesucian yang ternoda"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 ( Kehamilan Yolanda )
Radit dan Yolanda sengaja tinggal terpisah dari orangtua mereka, dan mereka memutuskan untuk menempati rumah yang sudah Radit beli supaya keluarga mereka tidak mengetahui tentang rumah tangga Radit dan Yolanda yang tidak harmonis.
Sebelumnya Radit dan Yolanda sudah sepakat bahwa mereka hanya akan hidup sebagai pasangan Suami Istri di atas kertas, bahkan mereka tidur di kamar yang terpisah.
Yolanda tersenyum kecut melihat rumah tangga yang ia jalani dengan Radit tidak seperti pada umumnya, padahal sebelum menikah dengan Radit Yolanda sangat mencintai Radit, bahkan dia begitu terobsesi untuk memilikinya, tapi setelah mereka menikah, rasa cinta itu hilang begitu saja setelah dia melewati one night stand dengan seorang lelaki yang bahkan namanya saja dia sendiri tidak tahu.
Setiap malam Yolanda selalu terbayang wajah tampan lelaki yang telah merenggut kesuciannya, begitu juga dengan Radit yang selalu membayangkan wajah Kirana.
Sejak kecil Yolanda selalu dimanjakan oleh orangtuanya, bahkan untuk sekedar mencuci piring saja dia tidak bisa apalagi memasak. Dan itu adalah salah satu penyebab orangtua Radit tidak suka dengan Yolanda, bahkan pada saat Radit meminta restu untuk menikahi Yolanda, kedua orangtua Radit tidak merestuinya. Namun, setelah Radit memberitahukan alasan sebenarnya jika Radit kasihan kepada Yolanda karena dia kurang kasih sayang dan mengancam akan mengakhiri hidupnya, dengan berat hati orangtua Radit merestuinya.
Radit dan Yolanda memutuskan untuk mencari jasa Asisten rumah tangga yang hanya datang tiga hari sekali, itu pun tidak menginap di sana, karena mereka tidak ingin ada yang mengetahui tentang keadaan rumah tangganya. Akan tetapi, sebelum berangkat kerja, terkadang Radit melakukan pekerjaan rumah terlebih dahulu.
"Dit, aku kayaknya malam ini gak bakalan pulang, soalnya ada jadwal piket," ujar Yolanda.
"No problem, aku juga hari ini sibuk karena harus mengunjungi keluarga Wijaya dan kedua orangtuaku," jawab Radit pada saat mereka berdua melakukan sarapan.
Pernikahan mereka saat ini sudah berjalan selama dua bulan, tapi mereka belum saling terbuka dengan kejadian yang telah membuat mereka berdua berubah. Meskipun Radit sudah mengetahui jika Yolanda telah melakukan malam pertama dengan lelaki lain, tapi Radit enggan menanyakannya karena dia sendiri pernah melakukan kesalahan yang sama dengan Kirana.
Tidak seperti biasanya, Yolanda merasakan gejolak yang hebat pada perutnya pada saat melakukan sarapan sehingga dia berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Radit yang melihat Yolanda berlari langsung saja menyusulnya, karena dia merasa khawatir, meskipun perasaannya terhadap Yolanda hanya sebatas rasa sayang terhadap teman dan mungkin lebih tepatnya kepada seorang Adik.
"Da, kamu tidak kenapa-napa kan? wajah kamu terlihat pucat, apa kamu sakit?" tanya Radit dengan membantu memapah Yolanda ke dalam kamarnya.
"Aku baik-baik saja Dit, mungkin aku hanya masuk angin saja," ujar Yolanda, padahal hatinya merasa ketakutan, karena dia mempunyai firasat kalau saat ini dia tengah hamil muda dan mengalami morning sicknes.
"Sebaiknya kamu tidak usah masuk kerja saja, nanti aku bisa izinin sama Papa," ujar Radit.
Yolanda nampak berpikir sejenak, kemudian menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu sekarang aku pergi dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku," ujar Radit, lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Yolanda.
Setelah kepergian Radit, Yolanda mengambil testpack, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.
Sebagai seorang Dokter kandungan, Yolanda tau betul tentang gejala yang saat ini sedang dia alami dan dia juga masih ingat tentang siklus bulanannya, karena saat dia melakukan cinta satu malam, dia sedang berada dalam fase masa subur.
"Ternyata benar dugaanku, kalau saat ini aku tengah hamil," ujar Yolanda ketika melihat garis dua pada testpack nya, ada rasa bahagia sekaligus bercampur sedih sehingga dia terus saja meneteskan airmata.
Seandainya itu adalah benih dari Suaminya, mungkin saat ini Yolanda akan langsung merayakannya dan memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada keluarganya, tapi itu adalah benih lelaki lain, bahkan dia tidak mengetahui siapa sebenarnya lelaki yang telah menghamilinya.
"Aku harus bagaimana sekarang, apa aku gugurkan saja kandunganku sebelum Radit mengetahuinya, Radit pasti semakin merasa jijik terhadapku, karena aku sudah bermain gila di belakangnya," gumam Yolanda yang saat ini berada dalam dilema.
"Maafkan Mama Nak, Mama memang sudah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Papamu, tapi namanya saja Mama tidak mengetahuinya. Mungkin ini yang terbaik untukmu, supaya nanti kamu tidak menjadi bahan bully oranglain karena pasti mereka akan mengatai kamu sebagai Anak haram," gumam Yolanda, kemudian dengan tubuh yang gemetaran meminum obat penggugur kandungan.
Saat ini Radit sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit, tapi pada saat Radit mencari handphonenya dia tidak menemukannya.
"Kenapa aku sampai lupa tidak membawa handphone," gumam Radit, kemudian memutarbalikkan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.
Pada saat Radit masuk ke dalam rumah, dia mendengar suara benda terjatuh di kamar Yolanda.
"Yolanda kamu kenapa?" tanya Radit yang panik, karena Yolanda terlihat kesakitan dengan memegangi perutnya, kemudian Yolanda tidak sadarkan diri.
Radit langsung saja membawa Yolanda ke klinik terdekat.
Yolanda langsung mendapat penanganan medis dari seorang Dokter Kandungan karena Radit yakin kalau saat ini Yolanda tengah hamil dan berusaha untuk menggugurkan kandungannya, karena Radit menemukan obat penggugur kandungan yang berada di tangan Yolanda.
"Bagaimana Istri saya Dok?" tanya Radit pada saat Dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Istri Anda baik-baik saja, tapi sepertinya dia sudah mengkonsumsi obat yang bisa membahayakan kandungannya saat ini. Untung saja kandungan Istri Anda sangat kuat, jadi dia tidak mengalami keguguran," jelas Dokter.
"Terimakasih banyak Dok," ucap Radit.
"Iya sama-sama Pak," jawab Dokter, kemudian meninggalkan Radit yang masih diam mematung di depan ruang perawatan Yolanda.
Radit termenung karena kembali mengingat Kirana.
Semoga saja Kirana tidak melakukan hal yang sama jika dia sampai hamil Anakku, batin Radit.
Radit sengaja tidak membawa Yolanda ke Rumah Sakit tempat mereka bekerja, karena dia tidak mau kalau oranglain tau dengan hal bodoh yang telah dilakukan oleh Yolanda.
Setelah menghela nafas panjang, Radit memutuskan untuk masuk ke dalam ruang perawatan Yolanda.
Yolanda masih belum sadarkan diri sehingga Radit memutuskan untuk menelpon Papanya terlebih dahulu, karena dia tidak mungkin meninggalkan Yolanda sendirian.
"Sebaiknya aku telpon Papa dulu untuk mengabari kalau aku dan Yolanda tidak bisa masuk kerja. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Yolanda pada saat kondisinya seperti ini, karena aku takut dia akan kembali berbuat nekad." gumam Radit.
📞"Assalamu'alaikum Pa," ucap Radit pada saat telponnya sudah tersambung.
📞"Wa'alaikumsalam Dit, ada apa?" tanya Dokter Farhan.
📞"Maaf Pa, sepertinya Radit dan Yolanda tidak dapat masuk kerja hari ini," ujar Radit.
📞"Memangnya apa yang telah terjadi?"
📞"Yolanda sedang tidak enak badan Pa, jadi Radit tidak bisa meninggalkannya."
📞"Baiklah kalau seperti itu, nanti Papa akan mencari Dokter pengganti untuk mengisi jadwal praktek kalian. Semoga Istri kamu cepat sembuh." ucap Dokter Farhan.
📞"Terimakasih Pa," kemudian Radit menutup telponnya setelah mengucapkan Salam.