Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
Sinar matahari siang yang terik terhalang oleh kaca jendela berstiker gelap di sebuah kafe remang-remang yang terletak di sudut sunyi pusat kota. Di dalam ruangan itu, udara terasa pengap, dipenuhi oleh kepulan asap rokok yang menggantung tebal di bawah lampu gantung berwarna kuning redup. Aroma kopi arabika yang diseduh terlalu pekat berbaur dengan wangi parfum melati yang menyengat dari bilik sofa paling pojok.
Kinara Inka duduk bersandar di sana, mengenakan kacamata hitam besar bermerek desainer terkenal dan syal sutra yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Jemari tangannya yang dilapisi kuteks merah menyala mengetuk-ngetuk layar ponsel pintar dengan ritme yang cepat dan tidak sabaran.
Pintu masuk kafe berdenting pelan ketika bel kuningan di atasnya terayun. Seorang pria bertubuh tegap dengan potongan rambut klimis dan jaket kulit hitam melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang sepi sebelum berjalan mantap menuju bilik pojok.
Heyden Ames mengambil posisi duduk tepat di hadapan Kinara, langsung melempar kunci mobilnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi berdenting yang cukup keras. Sisa-sisa kejayaan masa lalunya masih terlihat, namun gurat frustrasi akibat kehancuran finansial keluarga Ames pasca batalnya pernikahan dengan Nadine tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya yang kini tampak sedikit berantakan.
Kinara menurunkan kacamata hitamnya ke ujung hidung, menatap pria di hadapannya dengan seulas senyuman sinis yang meremehkan. "Kamu terlambat lima belas menit. Aku tidak suka membuang waktu luangku yang berharga hanya untuk menunggu orang yang sedang berada di ambang kebangkrutan sepertimu."
Heyden mendengus kasar, bersandar pada punggung sofa kulit yang sudah agak mengelupas di beberapa bagian. "Jaga bicaramu, Kinara. Kalau bukan karena informasi krusial mengenai Nadine yang kamu janjikan di telepon kemarin, aku tidak akan sudi mengotori kakiku untuk datang ke kafe murah di pinggiran kota seperti ini. Katakan cepat, di mana perempuan sialan yang sudah menghancurkan reputasiku itu sekarang?"
Kinara menarik sudut bibirnya ke atas, melepaskan kacamata hitamnya sepenuhnya lalu meletakkannya di atas meja. Sorot matanya berkilat penuh kelicikan yang kental saat ia memajukan tubuhnya ke depan. "Mantan tunangan anggunmu yang sok suci itu... Nadine Lavena. Dia sudah menemukan mangsa baru yang jauh lebih besar dan berkuasa daripada keluargamu yang hampir kolaps itu, Heyden."
Heyden mengernyitkan dahi rapat-rapat, rahangnya mengeras mendengar nama wanita yang paling ia benci sekaligus ia rindukan belakangan ini. "Apa maksudmu? Jangan berbelit-belit."
"Dia sudah mendaftarkan pernikahan kontrak secara diam-diam dengan Kyle Ernest CEO Ernest Group yang memiliki kekuasaan dan harta berlimpah di negara ini. Sekarang, Nadine tinggal bersamanya di sebuah rumah mewah di kawasan Menteng, berperan sebagai istri pajangan yang sangat manis demi bisa memeras uang ratusan juta setiap bulan dari saku Kyle."
"Apa?! Nadine menikah dengan Kyle Ernest?!"
Heyden setengah terlonjak dari kursinya, matanya melebar dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa bercampur dengan rasa tidak percaya. "Bagaimana bisa perempuan acuh yang sangat membenci komitmen itu mendadak menyerahkan dirinya kepada pria asing yang berkuasa seperti Ernest? Dia bahkan tidak pernah melirik pria lain saat masih bersamaku!"
"Itu karena mereka berdua melakukan transaksi bisnis kotor di atas kertas kontrak pernikahan, Heyden! Nadine hanya memanfaatkan posisi Kyle untuk mengamankan keuangannya setelah batal menikah denganmu, sementara Kyle membutuhkannya untuk mengelabui orang tuanya agar berhenti menjadwalkan kencan buta."
Kinara mengetuk permukaan meja kaca dengan ujung kuku merahnya yang tajam, menciptakan ketukan konstan yang mengintimidasi.
"Aku membutuhkan bantuan cerdikmu untuk menghancurkan reputasi Nadine di depan mata Kyle, Heyden. Aku ingin kamu membuat sebuah skenario fitnah yang memperlihatkan seolah-olah Nadine masih mencintaimu secara mendalam dan mencoba berselingkuh denganmu di belakang Kyle demi bisa memeras harta keluarga Ernest lebih banyak lagi."
Heyden terdiam selama beberapa saat. Otak liciknya mulai bekerja dengan cepat, menimbang-nimbang keuntungan materi dan kepuasan balas dendam yang bisa ia peroleh dari tawaran kerja sama kotor ini. Perlahan, seulas senyuman culas yang sangat menjijikkan terukir di wajah tampannya.
"Sebuah skenario perselingkuhan lama yang bersemi kembali di rumah pernikahan kontrak? Menarik sekali, Kinara. Nadine sudah menghancurkan masa depanku di depan keluarga besar Ames, jadi kurasa ini adalah waktu yang sangat adil bagiku untuk membalas seluruh rasa malu itu dan sekaligus meraup keuntungan dari kantong tebal seorang Kyle Ernest. Apa rencana pertamamu?"
Dua pasang mata yang dipenuhi keserakahan dan dendam membara itu saling bertatapan di tengah keremangan kafe. Mereka mulai merancang sebuah jebakan kotor, tanpa menyadari sedikit pun bahwa di balik dinding es ketidakpeduliannya, Nadine Lavena memiliki tingkat kecerdikan yang jauh lebih mematikan untuk membalikkan seluruh perangkap mereka menjadi bumerang yang menghancurkan.
****
Aroma harum dari kue bolu pandan yang baru saja dikeluarkan dari panggangan oven memenuhi seluruh penjuru ruangan dapur bersih lantai satu sore itu. Keharuman mentega manis berpadu daun pandan segar menciptakan suasana ketenangan rumahan yang sangat hangat, sangat kontras dengan ketegangan dingin yang selama ini tersembunyi di dalam rumah Menteng.
Nadine Lavena sedang berdiri di depan meja konter marmer, mengenakan celemek masak katun putihnya yang bersih. Dengan gerakan tangan yang sangat teratur dan cekatan, ia memotong kue bolu hijau yang masih mengepulkan asap tipis itu menjadi beberapa bagian rapi menggunakan pisau gerigi panjang.
Saat ia melangkah menuju lemari gantung di sudut koridor dekat ruang tengah untuk mengambil piring saji tambahan, telinganya yang tajam menangkap suara bisikan pelan yang datang dari balik sekat dinding pembatas kayu jati berukir.
Nadine menghentikan langkah kakinya seketika. Ia menahan napas dalam-dalam agar tidak menimbulkan suara gesekan sandal rumahnya di atas lantai marmer yang sunyi. Tubuh anggunnya memaju sedikit ke depan, menempelkan telinga kirinya ke dekat celah ukiran kayu jati kuno tersebut.
Itu adalah suara milik Kinara Inka. Wanita seksi itu tampaknya sedang melakukan sebuah panggilan telepon rahasia dengan seseorang di luar sana. Nadanya terdengar sangat terburu-buru, penuh kepanikan yang dipaksakan, namun tersirat kelicikan yang luar biasa kental.
"Aku sudah mengatur semuanya dengan sangat rapi dari dalam rumah ini, Heyden. Besok sore, Kyle dijadwalkan menghadiri rapat koordinasi proyek luar kota hingga larut malam. Itu adalah waktu luang terbaik bagimu untuk melancarkan aksi pertama kita. Aku akan sengaja meninggalkan pintu gerbang samping dalam kondisi tidak terkunci dari dalam, dan kamu harus menyelinap masuk langsung menuju area ruang tengah lantai satu."
Hening sejenak. Nadine mendengarkan dengan saksama, menanti kalimat lanjutan yang keluar dari mulut wanita parasit tersebut.
"Kamu tidak perlu khawatir mengenai bukti visualnya! Aku sudah memasang sebuah kamera tersembunyi berukuran mikro di sela-sela vas bunga meja ruang tengah siang tadi tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah ini. Tugas utamanya besok sore hanyalah menerobos masuk, langsung menarik tubuh Nadine ke dalam pelukanmu secara paksa, dan berakting seolah-olah kalian sedang melakukan pertemuan perselingkuhan rahasia yang penuh gairah di depan lensa kamera mikro tersebut!"
Terdengar suara tawa kecil yang sangat culas dan tertahan dari balik dinding pembatas sebelum Kinara melanjutkan ucapannya.
"Setelah rekaman video itu berhasil kita dapatkan, aku akan menyerahkannya langsung ke tangan Kyle malam harinya untuk membuktikan bahwa istri kontraknya hanyalah seorang wanita licik yang tidak tahu diri! Kita akan meraup dana puluhan miliar dari denda pembatalan kontraknya, Heyden! Jadi pastikan aktingmu besok sore tidak mengecewakan!"
Suara klik pelan menandakan sambungan telepon itu telah diputus secara sepihak oleh Kinara.
Nadine melangkah mundur perlahan dengan ketukan kaki yang teramat sunyi, menyerupai gerakan seekor kucing hutan yang sedang mengincar mangsanya di dalam kegelapan. Ia kembali ke area dapur bersih, meletakkan pisau pemotong kue dengan ketukan yang sangat tenang.
Wajah cantiknya yang berparas unik sama sekali tidak menunjukkan raut ketakutan, panik, atau gemetar setelah mendengar rencana jebakan fitnah yang teramat kotor dari Kinara dan mantan tunangannya itu. Sebaliknya, sebuah senyuman dingin yang sarat akan kelicikan tingkat tinggi dan kecerdikan yang mematikan perlahan-lahan terukir di bibir anggun Nadine.
{Heyden Ames dan Kinara Inka... dua makhluk parasit serakah yang bodoh. Kalian berdua benar-benar mengira bisa menjatuhkan diriku ke dalam lubang perangkap fitnah murahan seperti itu menggunakan kamera mikro?}
Naluri pertahanan diri dan kecerdikan murni Nadine seketika bangkit sepenuhnya, menyusun sebuah rencana serangan balik yang jauh lebih rapi, terstruktur, dan mematikan dalam waktu kurang dari lima menit di dalam kepalanya.
Nadine merogoh ponsel pintarnya dari saku celemek, melakukan sebuah panggilan telepon khusus ke nomor kontak pribadi asisten kepercayaan Kyle Ernest sosok profesional yang telah ia suap dengan sejumlah dana kompensasi tak resmi sebelumnya demi kenyamanan koordinasi domestik.
"Halo, Pak Sekretaris? Saya membutuhkan bantuan teknis kecil dari Anda sore ini. Tolong lakukan enkripsi ulang dan hubungkan seluruh rekaman dari sistem kamera CCTV utama rumah Menteng besok sore langsung menuju server penyimpanan pribadi milik saya dan tablet kerja milik Pak Kyle secara real-time tanpa ada jeda satu detik pun."
Nadine menjeda kalimatnya sejenak, mengusap permukaan meja konter dapur dengan ujung jarinya yang lentik sembari menatap vas bunga di ruang tengah dari kejauhan.
"Dan... tolong lacak frekuensi perangkat kamera mikro ilegal yang baru saja aktif di ruang tengah lantai satu, lalu hubungkan arusnya ke dalam sistem keamanan utama kita. Mari kita berikan sebuah pertunjukan film dokumenter kelicikan yang sesungguhnya kepada Tuan Ernest besok sore."
Nadine memutuskan sambungan telepon dengan gerakan anggun, sebelum kembali melanjutkan aktivitas memotong kue bolu pandannya yang masih hangat. Angin sore bertiup kencang di luar rumah Menteng, membawa dedaunan kering yang berputar-putar di udara, seolah sedang menandai dimulainya permainan catur takdir yang sesungguhnya di bawah atap rumah mewah tersebut.